Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Kecelakaan


__ADS_3

Farhan tersenyum mengejek pada Agra, dia berjalan lebih mendekat pada pria itu, "apa kau kaget melihatku disini? Apa kau kira aku sedang di dalam penjara? Hmm…jangan harap kamu bisa melakukan itu!" 


"Hmm, aku tidak peduli, kamu sendiri pasti lebih tahu kelakuanmu sendiri, aku tidak perlu menyalahkanmu terus menerus, karma juga pasti nanti akan berlaku juga," ucap Agra, dia mengajak Bintang untuk segera pergi menjauh dari mereka.


"Hahaha, kamu masih percaya karma? lucu sekali," Farhan tertawa mengejek Agra.


Namun Agra langsung menarik tangan Bintang dan membawanya pergi menjauh dari mereka berdua.


Sementara Meira masih melihat betapa lucunya anak Agra dan Bintang, matanya mengekor mengikuti arah kemana mereka pergi, dia menunduk, dia hampir saja meneteskan air matanya, namun dia mencoba menahan air matanya, dia tidak mau memperlihatkan kesedihannya pada yang lain terutama Farhan, hatinya begitu sakit saat dia dipaksa menggugurkan kandungannya yang masih berumur beberapa minggu.


Mereka disana untuk membuat badan Meira tetap terlihat menarik dan cantik, Meira diantar Farhan untuk merawat wajah dan tubuhnya, suaminya memang terlalu perfeksionis membuat Meira tidak bisa bebas melakukan apapun, tidak bisa memakan apa yang dia mau makan, dan dia juga tidak bisa menggugat cerai karena surat perjanjian yang dilakukan sang Ayah dengan Farhan.


***


Agra dan Bintang mencari tempat makan yang lumayan nyaman untuk mereka bertiga, terutama yang sangat nyaman bagi bayinya.


Mereka makan bergantian, saat Agra menggendong dan mengasuh Langit, maka giliran Bintang yang makan, begitupun sebaliknya karena mereka keluarga yang kompak dan saling mengerti satu sama lain dan itulah kerja sama dalam berumah tangga.


"Sayang, sepertinya Langit buang air besar, aku akan membawanya ke toilet," ucap Bintang.


"Iya, aku akan menunggu kalian disini," jawab Agra yang melanjutkan aktivitasnya menyeruput jus sambil melihat ponselnya.


Bintang bergegas ke toilet karena tak tahan mencium aroma tidak sedap.


"Untung saja kamu melakukannya setelah kami makan, kalau tidak maka selera makan ibumu ini akan hilang," ucap Bintang pada Langit, bayi itu menatap tak mengerti.


Setelah selesai, Bintang yang beranjak keluar, dia tak sengaja bertabrakan dengan Meira.

__ADS_1


"Ah, maaf…," ucap Meira sambil menunduk.


Tentu saja Bintang merasa terkejut dengan kata maaf yang diucapkan seorang Meira, namun Bintang ingat jika suaminya telah menunggu lama, dia bergegas keluar tanpa mempedulikan Meira.


Kenapa aku merasa Meira sangatlah berbeda ya? Apa dia bahagia menikah dengan seorang Farhan? Tapi dari sifat mereka, aku yakin mereka cocok, batin Bintang.


"Sudah?" Tanya Agra.


"Iya sudah, kurasa Langit sudah merasa nyaman sekarang, kita melanjutkan acara belanja kita kan?" Tanya Bintang.


"Hmm, sepertinya kita pulang sekarang karena mamah dan papah sudah berada di Mansion menunggu kedatangan kita, lebih tepatnya mereka menunggu Langit, hmm…," jawab Agra.


Mereka pun akhirnya pulang, karena mereka tidak mau membuat orang tua menunggu lama.


***


Lolita mengalami luka cukup parah, dia banyak kehilangan darah dan saat ini dia koma.


Agra datang bersama nenek Gina, karena Bintang harus menjaga Langit di Mansion, stok darah dengan golongan darah yang dimiliki Lolita tinggal sedikit, mereka diminta untuk segera mencari pendonor darah.


Agra yang memiliki golongan darah yang sama dengan sang ayah dia tidak bisa melakukan apapun, dia hanya mampu berusaha mencari.


"Bagaimana ini Pah?" Tanya Agra.


"Papah juga gak tahu Ga, kita memang tidak punya kerabat dekat, nenek cuma punya satu anak yaitu ayah, ibumu mungkin punya saudara yang bergolongan darah yang sama, golongan darah ibumu memang langka dan susah dicari," ucap Darmaja yang sedang berbaring di ranjang pasien.


Agra mulai mencari informasi, menghubungi satu persatu diantara mereka.

__ADS_1


"Maaf Ga, golongan darah Tante tidak sama dengan ya, kalau pun sama aku tidak rela memberikannya pada ibumu."


Tut


Sambungan telepon terputus.


Agra mencoba menghubungi yang lain, terdengar jawaban dari seberang sana, "Maaf Ga, sepertinya om tidak bisa, om lagi diluar kota dan sangat membutuhkan waktu untuk sampai disana."


Tut


Mereka seakan tak peduli, mungkin karena sikap Lolita yang memang menyebalkan sehingga dia tidak mempunyai kerabat dekat yang bisa saling membantu disaat kesulitan seperti ini.


Agra mencari lewat sosmed milik Maxim khusus kalangan menengah ke atas, dia akan memberikan imbalan untuk pendonor darah yang bersedia mendonorkan darah.


"Ya dengan uang kurasa akan banyak yang tertarik," guamam Agra.


Ternyata benar, banyak yang bersedia karena bayaran yang fantastik, dan Agra memilih 3 orang dari mereka dan itu berdasarkan data-data yang Maxim berikan, data bagi mereka yang sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit sebelumnya.


Dia menunggu ketiga orang itu datang di Rumah Sakit, dia menunggu hampir dua jam, kenapa mereka belum sampai juga? Pikir Agra


Agra menghubungi Maxim dan meminta asistennya itu untuk mencari 3 pendonor lagi, sebagai cadangan.


Dua jam kini Agra menunggu namun tidak ada kabar lagi dari mereka, hingga pesan dari Maxim datang mengejutkannya.


(Tiga orang pertama tadi mengatakan kalau mereka tidak bisa dan membatalkannya Bos, kita tunggu tiga orang yang lainnya, jika masih tetap begini, aku merasa curiga jika ini ada unsur kesengajaan Bos) Maxim


"Apa?" Gumam Agra sambil menatap ponselnya.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2