
Setelah mereka selesai berbelanja, mereka pun pulang. Bintang merasa kesal karena selama di supermarket dia seperti melakukan penyamaran, bahkan dirinya ditutupi jaket besar agar tidak dikenali Meira oleh Agra.
Sesampainya di Apartemen Bintang mulai bertanya pada suami kontraknya itu, "Apa kamu takut padanya?" Tanya Bintang.
"Tidak, aku hanya malas berurusan dengan wanita itu." Agra
"Kalau tidak takut, seharusnya kita tidak perlu bersembunyi seperti tadi," keluh Bintang.
Aku bisa menjaga diriku sendiri, tapi aku takut kamu yang terluka , karena kamu yang diincar dia. Batin Agra
"Sudahlah tidak usah dibahas lagi, lebih baik kita memasak saja," ucap Agra sambil menarik lengan Bintang menuju dapur.
Sejak kejadian penculikan itu, kenapa aku merasa dia bersikap lebih baik padaku? Bukannya dia masih merajuk gara-gara aku menolaknya. Pikir Bintang
Mereka makan bersama dengan hasil masakan mereka berdua, "rasanya lumayan enak," ucap Agra mencoba satu suapan, lalu dia menyuapi Bintang.
Disatu sisi Bintang senang karena pada akhirnya Agra bersikap lembut padanya, perhatian padanya, namun kebaikan itu membuat Bintang semakin berharap tinggi, dia ingin memiliki Agra seutuhnya, tapi masih ada rasa takut di hatinya kalau Agra pada akhirnya akan pergi meninggalkannya karena mengetahui jika dia bukan manusia.
"Terima kasih…," ucap Bintang.
"Untuk apa?" Agra
"Untuk semuanya, untuk semua yang kamu lakukan untukku." Bintang
"Hmm, aku masih penasaran, apakah aku dimatamu ini sangatlah jelek?" Tanya Agra yang kini menyudahi acara makannya.
"Hahaha, memangnya kenapa?" Bintang merasa lucu dengan pertanyaan Agra, sudah jelas jika dia tampan, mengapa bertanya begitu?
"Aku ingin tahu apakah itu alasanmu menolakku, apakah pernikahan kontrak lebih baik untukmu?" Tanya Agra sambil menunduk.
"Aku hanya belum yakin saja, sudahlah tidak usah dibahas..!" Bintang berlalu pergi untuk mencuci piring kotor.
Belum yakin? bukannya aku ini tampan, kaya dan dikagumi banyak wanita, kenapa dia masih meragukan aku? dia pasti akan hidup seperti ratu jika bersamaku, batin Agra dengan percaya diri.
Agra yang tiba-tiba mengingat kejadian saat dimana dia melihat, Meira dia memilih pergi ke kamarnya untuk mengurus semuanya, jika Meira tidak bisa dipenjara maka dia akan fokus pada Bintang.
"Jika ingin menjerat wanita itu harus ada kasus yang sangat berat, sepertinya lebih baik aku memperketat pengawasan Bintang saja, apalagi saat aku bekerja. aku tidak ingin kecolongan lagi," gumam Agra.
Dia mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang.
***
__ADS_1
Ketika malam datang, Agra memilih tidur bersama Bintang meski ini bukan jadwal mengisi energi istrinya.
Dia melihat Bintang yang sudah terlelap dengan posisi menyamping, dia menghampirinya, dia ikut merebahkan tubuhnya di ranjang, memeluk istrinya dari belakang, dia memeluk punggung istrinya itu hingga dia terlelap.
Bintang yang semakin nyaman, dia sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran Agra malam itu, malah semakin membuat tubuhnya lebih baik karena mendapat banyak energi.
Saat pagi datang, Bintang yang bangun lebih dulu itu merasa terkejut karena melihat cahaya matahari sudah masuk melalui jendela kamarnya namun Agra masih dalam posisi memeluknya.
"Ga bangun..! Kamu tidak berangkat kerja hari ini?" Tanya Bintang sambil berusaha melepaskan pelukan lelaki itu.
"Aku masih ngantuk," jawab Agra dengan masih menutup matanya.
Ponsel Agra berdering beberapa kali, membuat pria itu terpaksa bangun.
"Ya, hallo…," Agra menjawabnya dengan malas.
"Bos kapan sampai? Semua orang sedang menunggu, bukankah hari ini ada rapat bulanan? Bahkan Pak Darmaja sudah ada disini menunggu Bos datang." Maxim
"Apa? Aku lupa, tunggu aku 15 menit..!" Agra langsung melempar ponselnya ke atas ranjang, dia bergegas mandi yang hanya beberapa menit itu, lalu berpakaian yang untungnya sudah disiapkan Bintang.
Bintang hanya memperhatikan Agra dengan berbagai macam pemikirannya, dia merasa lucu melihat tingkah Agra yang berlarian kesana kemari, namun dia juga kasihan karena keterlambatan suaminya itu.
"Aku berangkat ya..!" Teriak Agra pada Bintang, bahkan pria itu tidak sempat sarapan.
Saat bel pintu berbunyi dan Bintang berniat mengambil pesanan makanannya, dia melihat dua lelaki berjas hitam di depan pintu apartemennya.
"Siapa kalian?" Tanya Bintang.
"Perkenalkan saya Ben dan dia Boy, kita pengawal pribadi anda nyonya, kami diperintahkan oleh tuan Agra," jawab salah satu pengawal itu.
"Apa? Hmm.. baiklah, selamat bekerja," ucap Bintang berlalu masuk ke dalam apartemennya dengan perasaan kesal, dia seakan seperti burung yang dikurung dalam sangkar.
Bintang bahkan memakan makanannya dengan perasaan kesal, baru saja dia berniat membereskan Apartemen, dia mendapatkan tamu spesial pagi ini.
Nenek Gina datang dengan senyumannya seraya memeluk Bintang, "sayang, apa kabar? Bagaimana bulan madu kemarin?"
"Hmm, menyenangkan Nek," jawab Bintang, mereka berjalan menuju ruangan tengah, duduk disana dan melanjutkan obrolan mereka.
Nenek Gina menyuruh Boy dan Ben membersihkan Apartemen Bintang, membuat dua wanita itu tertawa melihat sang bodyguard kekar mengepel lantai bahkan mencuci piring.
Nenek Gina mengajak Bintang untuk memanjakan diri, dia mengajak istri cucunya itu melakukan SPA.
__ADS_1
Meski nenek Gina sudah berumur, namun masih sangat terlihat sehat dan bugar, bahkan terlihat cantik dan dia suka sekali merawat tubuhnya.
Mereka menghabiskan waktu bersama hingga sore hari, bahkan Agra duduk menunggu istrinya dengan bosan. Handphone Bintang bahkan ditinggalkan begitu saja, tapi sudahlah karena Boy dan Ben sepertinya ikut pergi maka aku tidak usah mencemaskannya, batin Agra.
Hingga terdengar suara pintu terbuka, Agra berlari mendekati pintu. "Dari mana saja ka—, eh Nenek, nenek pergi bersama Bintang?"
"Iya, apa tidak boleh?" Tanya nenek Gina.
"Boleh kok Nek, masa tidak boleh, hehe…," jawab Agra dengan sedikit merayu sang nenek.
"Lalu kenapa kamu marah-marah?" Nenek Gina
"Siapa Nek, aku?, Aku tidak marah kok, hanya saja aku mengkhawatirkan istriku," Agra beralasan.
"Khawatir tapi bertanya dengan nada tinggi," protes Nenek yang kemudian berlalu melewati Agra dan segera duduk di sofa.
Sementara Bintang menahan tawanya, "ffftttt….,"
Agra menatap Bintang dengan tatapan permusuhan, namun jauh di lubuk hatinya dia lega karena Bintang pulang dengan selamat.
"Ini bingkisan untuk kalian, apa sudah ada tanda-tanda?" Tanya Nenek Gina pada sepasang pengantin baru itu, dia hampir melupakan Bingkisan yang dia bawa tadi pagi.
Mereka saling memandang satu sama lain karena tidak mengerti apa yang dibicarakan sang nenek, namun saat nenek Gina mengeluarkan beberapa vitamin, bahkan susu ibu hamil, sontak Bintang terkejut, hamil? Siapa yang hamil, aku? Mana mungkin, pikir Bintang.
"Belum lah Nek, menikah baru beberapa Minggu, nenek ini," keluh Agra.
"Baiklah, Nenek menunggu kabar baik dari kalian. Kalau begitu Nenek pulang dulu ya..!" Ucap Nenek Gina lalu bangkit menuju pintu.
Bintang dan Agra mengantar Nenek sampai ke lantai bawah menggunakan lift, lalu mereka naik lagi ke Apartemen mereka.
Bintang dan Agra diam menatap bingkisan dari sang Nenek, Kalau suatu saat nanti Bintang hamil, apakah aku perlu membawanya ke dokter? Apakah dia bisa mengandung anakku? Batin Agra.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" Tanya Bintang yang kini bangkit dari tempat duduknya, dia seperti mendengar suara Agra namun sangat pelan sekali.
"Aku tidak mengatakan apapun," jawab Agra.
Bintang merasa bingung, dia berpikir jika itu hanya halusinasinya karena bingkisan yang ada didepannya sangat mengganggu pikirannya.
Namun saat beranjak pergi berniat merebahkan tubuhnya di kamar, dia tiba-tiba mendengar bisikan lagi, dia menoleh ke arah Agra namun lelaki itu hanya diam dengan masih menatap bingkisan itu.
Apa aku sakit? Pikir Bintang.
__ADS_1
Bersambung…