Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Semangat Baru


__ADS_3

Sejak Bintang hilang entah kemana, Agra seperti orang yang patah hati, dia tidak mau makan sebelum dipaksa oleh sang nenek, dia terus saja diam di dalam kamarnya, terkadang hanya berpindah ke ruangan kerjanya untuk menandatangani berkas yang dikirimkan oleh Maxim.


Langit juga menjadi anak yang pendiam, dulu dia ceria namun setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri jika sang ibu menghilang, dia merasa ditinggalkan, dia sama halnya dengan papanya yang merasa patah hati.


Semua anggota keluarga merasa kewalahan menghadapi dua laki-laki yang memiliki sifat sama dan sekarang mereka melakukan hal yang sama.


"Mah, sebenarnya Bintang kemana? Kasihan kan mereka," tanya Lolita.


"Bintang hanya pergi sementara, dia sedang berobat, waktu itu ada orang tua Bintang datang dan membawanya pergi ke luar negeri agar Bintang sembuh," jawab nenek Gina.


"Tapi kata Langit , ibunya menghilang Mah," ucap Lolita bingung.


"Iya karena ketika Langit datang, dia sudah melihat ranjang itu kosong karena ibunya telah dibawa pergi, keluarganya sangat marah karena Agra tidak bisa menjaga Bintang dengan baik, mereka membawanya pergi tanpa memberi kabar lagi," nenek Gina menjelaskan, seperti itulah penjelasan yang Agra maupun nenek Gina katakan kepada orang yang bertanya tentang Bintang.


"Apa Agra sudah mencoba mencarinya? apa sudah ketemu dimana dia dirawat Mah?" tanya Lolita lagi.


"Tentu Agra mencarinya, dan sekarang pun masih mencari keberadaannya," jawab nenek Gina berbohong.


Nenek Gina juga selalu memberi pemahaman kepada Langit kalau sang ibu tidak menghilang, dia sedang berobat di suatu tempat dan pasti akan kembali, namun anak kecil itu memang pintar, meski dia mengangguk mengerti namun didalam hatinya dia percaya apa yang dia lihat.


Ya .. ibunya benar-benar menghilang seperti hantu.


***


Nenek Gina menghampiri Agra, "Ga, kamu harus kuat demi Langit, kamu jangan seperti ini terus..!"


"Aku juga tidak ingin seperti ini Nek, tapi aku memang tidak ingin melakukan apapun, terasa hampa dan kosong Nek," jawab Agra.


"Berkorbanlah demi Langit, dan buat dia percaya kalau ibunya akan kembali, dan buat dia ceria seperti dulu lagi..!" Ucap nenek Gina.

__ADS_1


Agra mulai berpikir jika dia harus memikirkan Langit juga, dia tidak boleh egois, jika dia tidak bisa menjadi suami yang baik yang bisa menjaga istrinya, setidaknya dia harus bisa menjaga Langit anaknya.


"Iya Nek, terima kasih karena sudah mengingatkan Agra," ucap Agra memeluk sang nenek.


Keesokan harinya Agra mulai keluar kamar, dia sarapan seperti biasanya, dia bahkan membangunkan Langit yang terlambat bangun.


Ceklek


"Langit, bangun Nak..! Ayo mandi dan bersiaplah, papah akan anterin kamu ke sekolah hari ini," ucap Agra sambil menggoyangkan tubuh sang anak.


Langit terbangun, dia bangkit dan kini duduk diatas ranjang, dia merasa heran dengan kehadiran ayahnya yang tiba-tiba, karena tidak biasanya seperti ini.


"Ada apa Pah?" Tanya Langit yang baru bangun.


"Cepat mandi..! Bukannya kamu mau berangkat sekolah, apa kamu mau dimandiin papah?" Tanya Agra sambil tersenyum.


"Langit sudah besar Pah, bisa mandi sendiri kok," jawabnya.


Langit menatap punggung sang ayah, dia menatap dengan tatapan aneh. Ada apa dengan papah? Batin Langit.


Anak itu bergegas mandi dan berpakaian, pakaian yang sudah disediakan sang pelayan rumah, Langit yang berusia hampir 8 tahun itu selalu mencoba mandiri, melakukan apapun sendiri, dia hanya mau disuapi oleh ibunya, dan setelah Bintang tidak ada dia tidak mau dianggap anak kecil, dan dia lebih suka menyendiri.


Sikap Langit kini tidak jauh berbeda dengan ayahnya, penyendiri, dan bersikap dingin.


Mereka Pun makan bersama, nenek Gina senang melihat mereka kini sudah mau melakukan aktivitas seperti biasanya, Agra yang berangkat kerja dan Langit yang pergi ke sekolah.


Setelah sarapan, mereka pun berangkat ke sekolah, Agra berniat mengantarkan Langit sampai ke kelasnya, namun ada salah satu guru yang mengajak ayah Langit ini berbicara empat mata.


Agra mengikuti guru itu hingga sampai ke ruangannya, "ada apa ya Bu?" Tanya Agra.

__ADS_1


"Anda ayah dari Langit? Perkenalkan saya Naima, wali kelas Langit," ucap Bu Naima.


Agra mengangguk.


"Saya hanya ingin menyampaikan jika prestasi Langit menurun, dia tidak seceria biasanya, jika istirahat tiba dia hanya diam di kelas sendirian, saya sudah mencoba mendekati Langit tapi sangat sulit sekali, saya harap Bapak lebih memperhatikan Langit dan mengetahui penyebab perubahan dari Langit," ucap Bu Naima.


"Iya Bu saya akan mengusahakan yang terbaik, sepertinya Langit merindukan ibunya yang pergi berobat keluar negeri, dia belum bertemu ibunya lagi," jawab Agra.


"Oh seperti itu, ya sebaiknya Langit dialihkan pemikirannya agar tidak selalu sedih..! atau bapak bisa mempertemukannya dengan ibunya, Langit bisa mengambil izin," Ucap bu Naima.


"Iya Bu saya mengerti, sekali lagi terimakasih untuk semuanya, saya permisi," ucap Agra berlalu pergi.


Selama perjalanan menuju kantor, Agra begitu menyesali sikapnya yang egois, andai saja dia menyembunyikan kesedihannya dan mementingkan Langit, menjadi ayah yang selalu ada untuk Langit mungkin semuanya tidak akan seperti ini.


***


Sesampainya di kantor, Maxim menyambut kedatangan Agra, dia begitu merindukan Bosnya, tentu saja dia senang karena dengan kehadiran Bos nya dikantor maka pekerjaanya tidak akan sebanyak hari-hari kemarin.


Maxim juga mempekerjakan sekretaris baru untuk membantu pekerjaanya yang menumpuk karena ketidakhadiran Agra.


"Selamat datang Bos, saya senang Bos bisa kembali bekerja lagi," ucap Maxim sambil tersenyum.


"Iya, aku tahu kenapa kamu senang, padahal aku menggajimu berkali-kali lipat saat aku tidak ada," keluh Agra.


"Hehehe…, tapi aku lebih senang jika ada Bos disini," jawab Maxim dengan jujur, dia lebih memilih gajinya berkurang daripada pekerjaan yang tiada habisnya.


Ceklek


"Permisi Pak," ucap wanita cantik yang membuka pintu.

__ADS_1


"Siapa dia?" Tanya Agra pada Maxim.


Bersambung…


__ADS_2