
Ketika pagi hari datang, mereka akhirnya pulang, melewati jalan yang begitu sulit untuk dilewati, mereka ditemani oleh pak Haru agar tidak tersesat, sesekali Bintang akan digendong di punggung Agra agar tidak terlalu lelah, membuat Devan iri dan begitu fokus menatap mereka dari belakang.
"Apa kamu mau digendong juga?" Tanya pak Haru yang mampu membuat Devan sedikit geli.
"Tidak usah pak, bapak ini ada-ada saja," jawab Devan.
Mereka beristirahat beberapa kali untuk mengisi perut mereka, membuat tenaga mereka kembali. Setelah melakukan perjalanan yang lumayan lama akhirnya mereka dapat terlihat mobil Agra disana, mobil hitam yang terlihat kusam, padahal hanya ditinggal untuk waktu yang sebentar.
"Terimakasih Pak karena telah merawat istri saya saat sedang sakit dan terluka, lain kali saya akan datang berkunjung, sekali lagi terima kasih," ucap Agra
"Sama-sama, kita harus saling membantu sebagai sesama makhluk hidup," jawab Pak Heru sambil tersenyum.
Mereka berpamitan dan langsung menaiki mobil, namun Devan malah duduk di kursi belakang.
"Kenapa kamu disini? Kamu didepan saja!" Perintah Agra.
"Ini kan mobil kamu Ga, kamu yang bawalah!" Devan tak mau kalah, dia sedang malas menyetir dan ingin tidur saja di kursi belakang.
"Ya udah aku aja yang nyetir kalau kalian gak mau," ucap Bintang.
"Jangan!" Ucap Devan dan Agra kompak, mereka tidak mau jika Bintang kenapa-kenapa.
Mereka berdua melakukan suit dan akhirnya Agra duduk didepan bersama Bintang, sementara Devan menikmati perjalanan di kursi belakang, Devan tersenyum saat Agra melihatnya melalui kaca spion, namun Agra memalingkan wajahnya karena kesal.
Agra mengantar Devan terlebih dahulu, seperti seorang sopir yang mengantarkan tuannya, bahkan Agra bis amelihat senyuman puas diwajah Devan, lalu dia melanjutkan perjalanannya menuju Apartemen dengan perasaan kesal.
"Kita menghilang saja sayang..! kamu bisa kan membuat kita langsung sampai di Apartemen?" Keluh Agra.
"Lalu mobilnya? Apa kita tinggalkan disini?" Tanya Bintang.
"Emm, biar aku parkirkan di sana, nanti orang suruhanku yang akan mengambilnya." Agra
"Baiklah," jawab Bintang setuju.
__ADS_1
Setelah siap, Agra menggenggam tangan Bintang, "aktifkan teleportasi, aku ingin tiba di Apartemenku, lebih tepatnya di kamarku, diatas ranjangku yang empuk," ucap Bintang.
Ting
Mereka pun menghilang.
"Aw.. sakit," keluh Agra yang mendarat di pinggir ranjang lalu terjatuh ke bawah.
"Hahaha…," Bintang tertawa puas melihat suaminya menderita.
"Sayang, apa kamu sengaja membuat aku mendarat disini? Tega sekali…," keluh Agra.
"Tidak, mana mungkin aku begitu," jawab Bintang dengan serius, dia memang tidak tahu kalau pendaratan sang suami tidak mulus seperti dirinya.
Agra bangkit, dia menggeser tubuh Bintang dan duduk disebelah istrinya, memeluknya dengan lembut, "aku merindukanmu…," bisik Agra.
"Aku juga, anak kita juga merindukan ayahnya," ucap Bintang yang membuat Agra ingat tentang calon bayi, dia melepaskan pelukan Bintang dan mulai mengelus perut yang masih rata itu.
"Maafkan papah yang tidak bisa menjaga mamamu," ucap Agra.
Bintang menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir, dia benar-benar tidak tahu pelakunya karena dia dalam keadaan tidak sadar, dia juga menyayangkan kekuatannya yang tidak bisa digunakan semaksimal mungkin di saat dalam bahaya.
"Aku akan menyelidiki kasus ini sampai tuntas meski memakan banyak waktu, tenaga dan uangku," ucap Agra.
"Iya, terimakasih…," jawab Bintang sambil menyentuh punggung tangan suaminya dengan lembut.
"Kamu sepertinya tidak bisa jauh dariku, keadaanmu semakin lemah disaat hamil," ucap Agra pada Bintang.
Bintang mengangguk, dia akan seperti biasanya yang mengikuti suaminya bekerja, agar suaminya bisa bekerja dengan normal dikantor dan dia pun mendapatkan energi terus menerus.
***
"Sayang, kenapa dia masih bekerja disini?" Tanya Bintang pada suaminya sambil melihat ke arah Meira.
__ADS_1
"Aku sebenarnya ingin memecatnya tapi ibuku melarangku terus, aku malas berbedat dengannya" jawab Agra.
"Kalau aku mengerjainya bagaimana? Biar dia ketakutan dan mengundurkan diri," usul Bintang.
"Haha… kamu memang nakal, kamu cocok jadi istriku, ya… kamu boleh melakukannya," jawab Agra sambil mencolek hidung istrinya itu.
Sejak hamil Bintang lebih sensitif, dia cemburuan sekali dan entah mengapa calon bayinya itu sangat membenci Meira.
Meira yang masuk ke ruangan kerja Agra tanpa mengetuk pintu, membuat Bintang kesal. Pakaian Meira yang terbuka juga membuat Bintang kesal, dia benci sekali pada wanita yang kini di hadapannya itu.
"Wah ada istri kamu juga Ga, kemarin katanya hilang, hmmm… apa pura-pura hilang?" Sindir Meira yang seolah bertanya pada Agra.
"Memangnya orang hilang itu lelucon apa?" Tanya Bintang dengan kesal.
"Aneh aja, kemarin hilang sampai disebarin kan foto kamu dan yang nemuin bakal dikasih hadiah, eh ternyata pulang sendiri, mungkin kabur ya bukan hilang? Hmm…," Meira terus saja memojokan Bintang, memebuat alien itu benar-benar murka.
Bintang menghentikan waktu, membuat semua benda dan waktu berhenti seketika, namun Agra yang memang tidak mempan dengan kekuatan Bintang, dia kaget.
"Sayang, kamu mau apa? Kamu sabar dulu, Jangan sampai kamu nanti yang mendapatkan masalah..!" Ucap Agra.
"Ternyata benar ya, kamu bisa bergerak disaat semua diam. Kamu tenang aja sayang, aku cuma mengerjainya saja, aku tidak akan membuatnya celaka," jawab Bintang.
"Mengerjai bagaimana maksudnya?" Tanya Agra penasaran, namun istrinya itu enggan menjawab dan malah membuat Meira menghilang entah kemana.
Tring
"Sayang, kamu memindahkannya kemana?" Tanya Agra dengan serius, dia tidak mau istrinya sampai melakukan hal jahat.
"Ssttt…, nanti juga kamu tahu, hehehe…," jawab Bintang yang tampak senang bahkan dia tak berhenti tersenyum sambil mengelus perutnya.
Agra hanya diam menunggu sang istri menjawab pertanyaannya karena mood wanita hamil sangat menyeramkan bagi Agra.
Sebaiknya aku membiarkannya, sepertinya dia senang, kalau aku mengganggu kesenangannya, bisa-bisa aku kena imbasnya, pikir Agra.
__ADS_1
Bersambung…