Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Bulan Madu


__ADS_3

"Hehe, aku lihat dulu ya Nek," ucap Agra beranjak dari tempat duduknya, dia pergi ke kamar Bintang berniat untuk membangunkannya karena dia yakin wanita itu masih tidur dengan nyenyak.


"Bangun..!" Ucap Agra seraya menggoyangkan tubuh wanita itu, namun Bintang mengabaikannya, ini hari libur, mengganggu saja, batin Bintang.


"Bangunlah..! Di rumah ada nenek yang datang berkunjung, apa kau mau dicap sebagai wanita pemalas?" Bisik Agra di telinga Bintang.


Apa, nenek katanya? Astaga, pikir Bintang.


Wanita itu langsung bangun, bahkan bangun dengan tiba-tiba dan tak sengaja membentur kepala Agra.


"Aw…," keluh Agra kesakitan, namun dia diabaikan Bintang, wanita itu bergegas mencuci muka dan mengganti pakaiannya, mengoleskan sedikit bedak di wajahnya, tak lupa lipstik agar dia terlihat fresh.


Agra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tidak percaya jika istrinya itu akan berusaha menjaga image nya di depan neneknya, berusaha tampil cantik.


"Ayo…!" Ucap Bintang.


"Kemana?" Agra bingung.


"Menemui nenekmu lah," jawab Bintang berlalu menghampiri sang nenek.


Bintang menyapa Nenek Gina, menyambutnya dengan senyuman, dia juga membuatkan sarapan untuk mereka bertiga.


Bintang sudah pernah bertemu nenek Gina saat di pesta pernikahannya, nenek Gina adalah satu-satunya keluarga Agra yang terbaik menurut wanita itu, Bintang sangat menyukai sifat nenek Gina yang penyayang meski terkadang diungkapkan dengan kata-kata kasar atau sindiran.


Bintang yakin nenek Agra itu sebenarnya baik, dan Bintang seperti menemukan keluarga baru dengan kehadirannya.


Agra menatap kedua wanita yang ada di hadapannya dengan tatapan aneh, Sejak kapan mereka sedekat itu? Bukannya nenek selalu tidak suka dengan wanita pilihanku, bahkan Nadia sekalipun, batin Agra.


"Sayang, kamu jangan terlalu capek ya..! Biarkan Agra saja yang bekerja dan melakukan pekerjaan rumah, iya kan Ga?" Tanya nenek menatap cucu lelakinya itu.


"Kenapa aku Nek? Aku sudah lelah bekerja masa harus bekerja lagi di rumah?" Protes Agra.


"Biar Bintang cepat hamil dia gak boleh kecapean." Nenek Gina


"Apa?" Ucap Bintang dan Agra kompak, mereka tampak kaget.


"Ih, ada apa dengan kalian? Apa kalian ingin menunda momongan? Tidak! Nenek mau ada bayi lucu yang bisa nenek ajak main, ini tiket untuk kalian berdua, nenek sudah menyiapkan segalanya, berbulan madulah kalian selama seminggu disana..!" Ucap Nenek Gina memberikan dua tiket pesawat dan juga paspor.


"Apa?" Ucap mereka lagi dengan kompak.

__ADS_1


"Ya ampun kalian memang jodoh yang serasi, kompak sekali, haha… sudah jangan terkejut begitu, nenek kan sangat pengertian, jadi kalian berterima kasihlah pada nenek yang cantik ini..!" Ucap nenek Gina yang salah mengartikan eksfresi mereka.


"Hehe, makasih Nek," ucap Bintang lalu memeluk nenek Agra, bagaimana ini? Bulan madu?, Pikir Bintang.


Sementara Agra nampak melamun, dia ingin sekali menolak karena banyak alasan yang membuatnya tidak mau pergi, apalagi meninggalkan pekerjaannya hanya untuk bulan madu pura-pura, tapi dia tidak mau membuat neneknya sedih.


***


Keesokan harinya mereka benar-benar pergi dengan nenek Gina yang mengantar mereka sampai ke Bandara dan memastikan cucunya benar-benar pergi.


Setelah sekian lama berada dipesawat akhirnya pesawat itu pun mendarat, mereka meneruskan perjalanan dengan mobil yang bahkan telah disiapkan sang nenek, mereka sampai dan mereka siap berbulan madu di sebuah pulau yang indah.


"Indah sekali, tapi kenapa tidak banyak orang disini?" Tanya Bintang heran.


"Tidak, karena ini hanya milik keluargaku, ini bukan tempat umum." Agra


"Apa? Jadi cuma kita berdua?" Tanya Bintang.


"Tidak juga, di dalam ada orang yang akan melayani kita, makanan juga pasti sudah tersedia," jawab Agra malas, karena Bintang sangat cerewet dengan banyak pertanyaan.


Mereka masuk ke sebuah rumah yang memang hanya ada satu di pulau itu. Rumah yang luas dan juga megah, membuat Bintang sangat nyaman karena dekorasinya juga membuat mata Bintang takjub. Kenapa aku tidak pernah berpikir untuk menggunakan uangku membeli pulau dan rumah seperti ini, batinnya.


Ternyata benar, disana sudah ada beberapa orang yang melayani mereka, Bintang yang lelah memilih langsung pergi ke kamar dan membaringkan tubuhnya sejenak, dia mengabaikan bunga yang bertaburan di ranjang.


Agra ikut bergabung, dia menghempaskan tubuhnya diatas ranjang dengan cukup keras, membuat Bintang merasa terganggu.


"Kau ini, pelan-pelan dong!" Keluh Bintang.


"Suka-suka, kenapa mereka cuma menyiapkan satu kamar dan satu ranjang?" Keluh Agra menatap langit-langit kamar itu.


"Benar, bukankah rumah ini besar?" Jawab Bintang, yang sama ingin memiliki kamar terpisah.


"Haha, entahlah… nenek mengunci semua kamar kecuali yang ini," jawab Agra sambil tertawa mengingat kelakuan neneknya.


Andai nenek bersikap seperti ini padaku dan Nadia dulu, pikir Agra.


Entah apa yang membuat nenek bahkan menentang hubungannya dengan Nadia dulu, itu menjadi misteri samapi sekarang.


Bintang tersenyum membelakangi lelaki itu, dia senang diperlakukan seperti ini oleh sang nenek, perhatian yang baru dia dapatkan selama di bumi.

__ADS_1


***


 


Saat sore tiba Agra mengajak Bintang berkeliling, karena Agra memang sudah beberapa kali datang ketempat ini, kaki polos mereka berjalan menyusuri pasir putih yang dingin karena terkena air.


Bintang baru menyadari kalau di bumi banyak tempat indah, dan selama ini dia melewatkannya.


Karena lapar, mereka pun kembali dan makan di sebuah tempat yang romantis yang disiapkan sang nenek, Bintang sangat menikmatinya.


Ketika malam tiba, mereka tidur bersama dengan saling berpegangan tangan namun dengan seperti biasa ada guling di antara mereka, ya... karena malam ini Bintang memerlukan energi.


Agra yang bangun lebih dulu, dia menatap wanita yang kini tidur disampingnya. Aku begitu penasaran siapa sebenarnya dirimu? Dan apakah genggaman tanganku membuatmu merasa lebih baik? Apa ini yang kamu maksud energi?


Agra lalu bangkit, dia memilih pergi ke kamar mandi, melepaskan genggaman tangannya dengan perlahan, dia mandi dan berjemur pagi menikmati secangkir teh hangat.


"Kamu bersantai sendirian?" Tanya Bintang yang datang dengan baju yang sudah diganti.


"Haha, tentu saja, apa kau tidak lihat?" Ucap Agra ketus.


"Pagi-pagi sudah marah-marah," keluh Bintang lalu duduk ikut bergabung di sana, dia menikmati secangkir teh hangat juga.


Pagi itu mereka berjalan-jalan bersama, lebih tepatnya Bintang mengikuti Agra, tiba-tiba ada dahan pohon besar yang tumbang tepat diatas kepala Agra, namun Bintang berhasil menghentikan waktu.


Kini dahan itu berjarak 5cm saja diatas kepala Agra, Agra memang kaget namun sebisa mungkin dia menenangkan dirinya dan berpura-pura menjadi patung.


"Syukurlah…," ucap Bintang lalu menyingkirkan dahan itu dengan kekuatannya.


Namun Bintang enggan mengembalikan waktu, dia memilih berbicara mengeluarkan isi hatinya agar dia merasa lebih baik.


"Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan, aku bergantung pada sentuhan-sentuhan tubuhmu, aku pun tidak tahu kenapa harus kamu, karena jika aku bisa memilih aku pasti memilih orang lain saja yang bisa memperlakukanku lebih baik."


"Aku hanya berharap aku bisa bertahan hidup sampai saatnya nanti aku kembali ke planetku, terimakasih karena kamu memberikanku kehidupan dengan energi yang kamu berikan," ucap Bintang sambil menatap lautan lalu dia berbalik menatap Agra, dia tersenyum dengan senyuman termanisnya.


Deg


Agra sangat terpesona melihat senyum indah Bintang, dia baru menyadari kalau Bintang itu benar-benar, sangat… cantik.


Bintang bersiap di depan Agra, dia membuat waktu berjalan seperti semula dan mendorong Agra ke samping seolah dia membantu Agra menghindar dari dahan pohon yang jatuh tadi.

__ADS_1


Mereka jatuh di atas pasir putih dengan saling berpelukan. Tanpa sadar Agra tersenyum menatap Bintang, menampilkan senyuman termanisnya yang belum pernah dilihat Bintang sebelumnya.


Bersambung …


__ADS_2