Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Menyembunyikannya


__ADS_3

"Sebenarnya apa?" Tanya nenek Gina.


"Kalau aku jujur, memang nenek akan percaya padaku Nek?" Tanya Bintang.


"Tergantung, nenek gak mau kalau cucu nenek dibohongi juga sama kamu," jawab nenek Gina.


"Emm, ya sudah nanti kita bicarakan hal ini dengan Agra saja ya Nek, saat dia pulang kerja agar tidak ada kesalahpahaman diantara kita semua," ucap Bintang dengan keputusan akhirnya.


Nenek Gina mengangguk setuju, dia tidak akan pulang sebelum mendapatkan kejelasan dari permasalahan ini semua.


Bintang merasa gelisah di dalam kamarnya, dia berusaha menelepon Agra namun tidak diangkat, dia mencoba mengirim pesan namun belum dibaca juga.


Apakah aku harus jujur kalau aku bukan manusia? Pikir Bintang yang bingung. Dia berusaha menenangkan pikirannya, dia pergi ke taman belakang untuk melihat bunga yang dirawat selama ini, bunga yang kini sudah bermekaran.


"Langit, mamah harap kamu itu seperti papamu, agar kamu tidak dikucilkan di bumi ini, mamah harap kamu manusia biasa yang bisa bertahan hidup di bumi ini," ucap bintang pada baby L yang dia gendong.


Balita Itu sudah mulai belajar melangkah, Bintang menemaninya belajar, kebetulan disana juga ada tempat khusus bersantai, bisa digunakan untuk piknik juga, dengan alas rumput sintetis yang bersih dan hijau, Langit menapakkan kakinya disana dengan dibantu Bintang, Langit memegang tangan ibunya dengan erat, bayi itu masih takut dan ragu untuk melangkah.


Dengan sabar Bintang berusaha melatih Langit meski itu hanya beberapa langkah, "Aku merasa kamu tumbuh terlalu cepat sayang? Rasanya baru kemarin Mamah melahirkanmu" ucap Bintang menatap langit.


Balita itu tersenyum, "mam-mam-mah…," 


"Anak Mamah memang pintar," puji Bintang sambil tersenyum, dia mencolek hidung mancung Langit.


***

__ADS_1


Sore itu Langit begitu gembira saat melihat sang ayah sudah pulang, dia sudah bisa menyambut kepulangan sang ayah dengan memeluk erat pria itu.


"Langit, baju ayah kotor sayang.., ayah ganti baju dulu ya…," ucap Agra, dia mencium kening istrinya lalu pergi ke kamar untuk berganti pakaian.


Bintang menyiapkan makan sore untuk suaminya, dia menunggu Agra dengan hati yang gelisah, dia tidak mau kalau sampai identitasnya diketahui nenek Gina, Bintang yang merasa berbeda dengan makhluk di bumi, dia takut tidak diterima oleh keluarga besar Agra.


Mereka makan bersama, nenek Gina tak banyak bicara, dia fokus dengan makanannya, setelah selesai dia memberi tahu Agra kalau ada hal penting yang harus dibicarakan.


Mereka berpindah ke ruang kerja milik Agra, sementara Langit bermain bersama Fitri agar tidak mengganggu pembicaraan serius mereka.


"Ada apa Nek?" Tanya Agra yang memang tidak tahu masalah ini.


"Nenek mau membahas istrimu, kalian pertama kali bertemu dimana? Lalu tidak adakah keluarga Bintang, setidaknya kalau memang tidak ada orang tua, mungkin ada om, Tante, keponakan, nenek, kakek atau kerabatnya?," tanya nenek Gina yang mampu membuat Agra bingung.


"Nek, Bintang memang sebatangkara, aku tidak peduli dia itu siapa dari keluarga mana, yang penting aku mencintai dia dan dia telah memberikanku kebahagian, salah satunya kehadiran Langit," jawab Agra.


"Hahaha … , Nenek ini, memang Nenek percaya kalau kita menghilang? Nenek mendengar ini darimana?" Agra bertanya sambil tertawa.


"Ini tidak lucu Agra, nenek punya saksi yang melihat kalian menghilang, mobil kalian juga semuanya ada disini, kalian pergi naik apa?" Tanya sang nenek dengan serius.


Deg


Ternyata nenek serius sekali membahas hal ini, batin Agra.


"Nek, aku kan CEO yang sukses, aku bisa naik apa aja, bisa naik helikopter juga kan bisa agar lebih cepat sampai ke Mansion ayah, nenek ini… hmm," jawab Agra masih mengelak.

__ADS_1


"Ga, ini gak lucu, Fitri melihat sendiri kalian menghilang, kalain tidak mungkin kan repot-repot pergi dengan helikopter? Apalagi jarak Mansion Darmaja tidak terlalu jauh," sang nenek mulai ingin berdebat.


Kamu sih sayang, pake acara menghilang segala, jadi repot kan?, Keluh Agra didalam hatinya sengaja agar didengar oleh Bintang.


Bintang hanya melirik sekilas pada suaminya, dia kemudian menunduk, dia menyesali kecerobohannya itu.


"Nek, Nenek jangan memikirkan hal-hal yang aneh begini, ini tidak masuk akal Nek, daripada kesehatan Nenek terganggu ya kan? Ini itu hal yang gak penting, yang penting aku dan Bintang datang ke acara itu, dan aku bahagia dengan Bintang juga Langit, bukankah Nenek selalu ingin aku berkeluarga?" Tanya Agra sambil memegang punggung tangan sang nenek.


"Kamu memang benar, seharusnya nenek tidak memikirkan hal konyol ini, tapi entah kenapa Nenek takut kalau kamu menikahi seseorang yang bukan manusia, atau manusia yang luar biasa dan mempunyai kekuatan aneh, nenek khawatir kamu kenapa-kenapa dan Langit, nenek takut cicit nenek tidak normal," jawab nenek Gina.


Deg


Bintang merasa kecewa dan terluka, dia tahu dia memang bukan manusia seeprti mereka, dia sendiri juga khawatir jika Langit bukan manusia normal, dia merasa kalau keluarga Agra memang tidak akan menerimanya dengan baik jika tahu kebenarannya.


"Nek jangan begitu, jangan berpikir yang aneh-aneh lagi oke..! Aku yakin Fitri cuman salah lihat Nek," jawab Agra meyakinkan neneknya.


"Ah, sepertinya memang begitu, Nenek akan pulang sore ini, nenek sepertinya akan merasa lebih baik jika berada di Mansion Nenek sendiri," ucap Nenek Gina lalu keluar dari ruangan itu tanpa melirik Bintang.


Aku tetap merasa jika Bintang wanita yang bermasalah, aku belum bisa mempercayainya, biarlah untuk saat ini aku istirahat lebih dulu di Mansionku, batin nenek Gina.


"Sayang, maafkan Nenek ya? Dia tidak tahu betapa baiknya kamu, meskipun kamu berbeda, aku tidak akan menganggapku orang asing, kamu tetaplah istriku," ucap Agra memeluk Bintang yang terdiam, diam dalam lamunannya.


Bintang merasa dia sudah terlalu jauh berbaur dengan manusia, bahkan memiliki anak manusia, dia tidak memikirkan resiko lainnya, tapi ini sudah terlanjur terjadi.


Nenek Gina pun pergi, Agra mengantar sang nenek sampai dia naik ke dalam mobilnya, melambaikan tangannya, begitu pula dengan Langit yang tangannya digerakan oleh Agra, sementara Bintang hanya menatap sekilas sambil tersenyum lalu menunduk lagi.

__ADS_1


Aku hanya ingin tahu dia yang sebenarnya, aku bisa melihat jika dia memang sedang gelisah karena menyembunyikan sesuatu, aku yakin itu, dan aku pasti mengetahui semuanya, batin nenek Gina.


Bersambung ….


__ADS_2