Alien Cantik Penakluk Hati

Alien Cantik Penakluk Hati
Perjuangan Mendapatkan Maaf


__ADS_3

Agra menatap punggung sang istri dengan perasaan kecewa, ya… kecewa pada dirinya sendiri, kenapa dia sampai bisa mengeluarkan kata-kata itu, namun penyesalan tidak ada gunanya lagi sekarang karena itu telah terjadi, yang dilakukan Agra sekarang hanya berusaha membuat Bintang mempercayai ketulusannya lagi.


Agra memutuskan tinggal di mansion sang nenek, dia memerintahkan beberapa asistennya untuk membawakan barang-barangnya dari Apartemen, membuat sang nenek dan tantenya menatap tak percaya.


"Apa maksud semua ini Ga?" Tanya Tante Bella.


"Ini tentu baju-bajuku lah Tan," jawab Agra santai.


"Memangnya kamu mau menginap disini? Setau nenek kamu begitu enggan tinggal di Mansion nenek yang jelek ini," ucap Nenek Gina menyindir sang cucu.


"Nenek, jangan kejam begitu, biarkan aku tinggal untuk menemani istriku..!," ucap Agra memohon.


"Hmm, dasar… jika ada maunya saja baru mau menemani nenek mu ini disini, tinggallah disini dan temani istrimu, jangan buat dia sedih lagi..!" Ucap nenek Gina memperingatkan cucunya yang nakal itu.


Agra tersenyum lalu memeluk sang nenek dengan girangnya, seperti anak kecil yang sedang bahagia mendapatkan mainan baru.


Tante Bella hanya tersenyum kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan keponakannya itu.


"Lepaskan..! Apa kau mau nenekmu mati kehilangan nafas," ucap nenek Gina sambil mendorong sang cucu karena pelukan itu terlalu erat, sebenarnya dia senang mendapatkan pelukan hangat dari Agra yang sulit didapatkan, nenek Gina tersenyum disaat Agra tidak memperhatikannya.


***


Bintang masih enggan berbicara dengan sang suami, dia sebenarnya ingin pindah ke Apartemennya lagi saat tahu Agra ternyata ikut pindah kemari.


"Sayang cobalah ini..! Ini enak sekali, ini khusus aku buatkan untukmu, jus Alpukat kesukaanmu," ucap Agra yang memberikan segelas jus itu.


Sepertinya itu enak, tapi aku belum ingin berdamai dengannya, batin Bintang.


"Aku tidak mau, habiskan saja sendiri..!" Ucap Bintang yang berlalu pergi ke dapur, dia memesan jus Alpukat pada Bi Nada salah satu asisten di Mansion itu.


Agra terpaksa menghabiskan jus itu, meski sebenarnya dia tidak terlalu suka, namun dia sepertinya sedang membiasakan diri untuk menyukai semua hal yang disukai istrinya.

__ADS_1


Saat dia ingin menyimpan gelas itu, dia melihat Bintang duduk bersantai dengan jus alpukatnya, "tadi katanya gak mau?" Tanya Agra lalu mendekati Bintang.


"Iya memang aku gak mau, gak mau kalau kamu yang bikinin, aku merasa ngerepotin kamu, lebih baik aku nyuruh Bi Nada aja," jawab Bintang sambil menyedot jusnya.


"Aku gak merasa direpotin, apalagi buat kamu dan calon anakku," jawab Agra.


"Aku hanya sadar diri aja, kalau aku bukan makhluk yang sejenis denganmu dan aku itu aneh," ucap Bintang yang berlalu pergi, meninggalkan suaminya yang diam terpaku.


Dia masih saja mengungkit masalah itu, apa wanita memang begitu ya? Padahal itu kejadian sudah lama, dan buktinya aku masih ada untuknya, masih peduli, dan sayang sama dia, batin Agra.


"Ck, jelas aku masih ingat, karena itu menyakitkan," gumam Bintang yang masih bisa mendengar isi hati suaminya itu, dia menuju taman belakang, berniat menyiram tanaman di sore hari.


"Bunga cantik itu memiliki duri, mungkin aku seharusnya bersikap begitu untuk melindungi diriku sendiri, tapi bunga itu ternyata tetap saja membutuhkan air dan cahaya matahari, seperti aku yang membutuhkan energi darinya," gumam Bintang sambil menyirami bunga-bunga itu.


Agra cuma memperhatikan Bintang dari jauh, dia tidak ingin mengganggu waktu sang istri, karena jika dia mendekat pasti istrinya itu akan pergi dan meninggalkan aktivitas menyiramnya.


***


Dengan berjalannya waktu, Agra juga rutin menemani Bintang tidur sambil menggenggam tangannya agar dia tetap sehat dan berenergi.


Devan juga akan datang memeriksa kehamilan Bintang, hingga wanita itu menyadari sesuatu, dia tidak mungkin melahirkan di Mansion nenek Gina, jika keadaan mendesak pasti dia akan dibawa ke Rumah Sakit dan nantinya pasti akan menimbulkan masalah, Bintang tidak mau jika itu sampai terjadi.


Bintang memilih pulang ke Apartemen bersama Agra, dia tidak punya pilihan lain.


Hubungan mereka semakin baik, Bintang mulai bisa memaafkan perkataan Agra dulu, dia juga tidak memungkiri jika dia sangat membutuhkan kehadiran Agra selama dia hamil, dan entah mengapa dia selalu nyaman mencium parfum yang menempel pada baju sang suami.


Apalagi calon anaknya itu, selalu saja ingin mendamaikan kedua orang tuanya.


Disaat Bintang enggan dekat dengan suaminya, tiba-tiba dia ingin makan disuapi Agra, bahkan mandi bersama, masih jelas teringat saat Bintang malu-malu mengatakan jika ingin mandi air hangat bersama.


"Hmm...," Bintang berdehem agar suaminya menengok.

__ADS_1


"Aku ingin mandi," ucap Bintang pelan saat Agra mulai fokus padanya.


"Apa kau mau aku sediakan air hangat?" tanya Agra yang berusaha melayani sang istri.


Bintang mengangguk pelan, Agra pun dengan cepat menyiapkan semuanya.


"Sudah siap sayang, kamu boleh mandi sekarang, bahkan aku membersihkan kamar mandi agar tidak licin dan membuatmu terjatuh," ucap Agra sambil tersenyum.


Bintang dengan segera mengambil handuknya, namun dia malah duduk disamping Agra, menghalangi televisi yang dia sedang tonton.


Apa lagi? bukannya dia ingin mandi, kenapa tidak jadi? batin Agra.


"Hmm, apakah kamu mau mandi juga?" tanya Bintang.


"Aku? sepertinya nanti saja, aku masih mau menonton," jawab Agra.


"Sekarang saja, kalau nanti keburu malam..!" ucap Bintang.


"Iya, aku akan mandi setelah kau mandi," jawab Agra.


kenapa dia tidak peka sih? batin Bintang kesal.


Akhirnya Bintang mandi sambil marah-marah, terdengar banyak suara bising didalam sana, gayung dan sikat gigi yang dilempar kesembarang arah.


Tok


Tok


Tok


"Sayang kamu kenapa? kamu gak apa-apa kan?" teriak Agra yang khawatir.

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2