Arkana

Arkana
Bab 11. Dikerjain


__ADS_3

Kanaya merasa heran saat jalanan yang mereka lalui kini berbeda dengan jalan menuju kostnya, sontak Kanaya pun menatap ke sekeliling untuk memastikan dan memang benar kalau jalan ini bukanlah jalan yang tadi pagi ia lalui bersama tantenya. Padahal Kanaya sudah memberitahu pada Arkana dimana lokasi kostnya, tapi pria itu malah melalui jalan yang entah dimana saat ini.


Tentu saja Kanaya tampak khawatir, ia hendak protes dan memaki-maki Arkana sambil terus memukuli punggungnya karena kesal. Namun, Arka diam saja seolah tak perduli dan malah menambah kecepatan laju motornya, hingga membuat Kanaya ketakutan dan reflek memeluk erat pinggang Arka agar tidak terjatuh dari atas motor.


"Ih Arka, sialan banget sih lu! Lu sengaja ya ngebut gitu biar gue peluk lu? Dasar modus!" geram Kanaya.


"Udah lu diam aja Kanaya! Gausah protes deh kalo sama gue, tahuan siapa sih emang tentang jalanan di Jakarta? Gue kan lebih lama tinggal disini dibanding lu," ucap Arka santai.


"Ish, ya tapi ini bukan jalan ke kostan gue tau. Lu jangan coba-coba ngerjain gue ya, turunin gue disini atau gue loncat!" ujar Kanaya.


"Silahkan, loncat aja kalau lu berani! Paling minimal kaki lu patah, terus tangan-tangan lu itu juga luka dan gak bisa buat mukul gue lagi. Sana loncat gih!" ucap Arka menantang.


Kanaya menelan saliva nya, ia menjadi ragu setelah mendengar kata-kata Arka barusan. Benar saja memang tak mungkin ia bisa loncat dari motor yang tengah melaju sangat kencang itu, akhirnya Kanaya pun pasrah dan mengikuti saja apa yang Arka lakukan. Ya meski Kanaya masih belum yakin kalau pria itu akan benar-benar membawanya pulang.


"Kenapa diem? Gak jadi loncatnya, hm?" tanya Arka dengan nada meledek.


Kanaya terdiam saja tak menggubris ucapan Arkana barusan, ia juga masih melingkarkan tangannya di pinggang lelaki itu walau sudah sedikit renggang. Kanaya terus berharap agar dirinya baik-baik saja dan tidak akan dibawa ke tempat yang aneh oleh Arka, meski sulit untuk meyakinkan dirinya sendiri saat ini kalau itu tak akan terjadi.


Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah tempat yang sangat asing bagi Kanaya. Arka menghentikan motornya, lalu meminta Kanaya untuk turun. Sontak Kanaya menurut dan turun dari motor dengan terus celingak-celinguk menatap sekitar, ia melihat banyak sekali rombongan lelaki tengah duduk santai di depan sana sambil berbincang riang.


"Arka, ini lu bawa gue kemana? Lo gak mau macam-macam kan sama gue? Please, jelasin ke gue!" ucap Kanaya panik.


"Lo kenapa panik banget gitu sih? Santai aja kali, gue cuma bawa lu ke markas geng gue kok! Udah ayo lu ikut sama gue, biar gue kenalin lu sama yang lainnya disana!" ucap Arka sembari melepas helmnya.


"Geng lu? Jadi lu itu anak geng motor yang berandalan?" kaget Kanaya.

__ADS_1


Arka menatap wajah Kanaya dan mendekatinya, "Bukan, gue anak geng baik-baik kok. Kalau lu gak percaya, ayo lu ikut sama gue kesana!" ucapnya.


Kanaya menggeleng menghindari tangan Arka yang hendak menyentuhnya, "Gak ah, gue mau balik aja. Males banget gue berhubungan sama anak geng motor!" ucapnya ketus.


"Eh Kanaya tunggu!" Arka berhasil mencekal lengan gadis itu dan menahannya tetap disana. "Lo itu kenapa sih? Ayolah, ikut sama gue!" sambungnya.


"Ih lepas, gue gak mau!" sentak Kanaya.


"Sebentar aja, ayo please!" Arka terus berusaha membujuknya untuk ikut dengannya.


Namun, Kanaya terus berontak dan berusaha melepaskan diri dari genggaman pria itu. Kanaya memang tidak ingin berkenalan dengan siapapun yang berurusan atau malah bergabung ke dalam geng motor, sebab ia sangat membenci geng motor dan bertekad akan membalas dendam pada mereka.


"Please Kanaya, sebentar aja kok gak lama! Gue cuma pengen kenalin lu ke mereka," bujuk Arka.


Sontak Arka serta Kanaya menoleh secara bersamaan ke arah orang-orang itu, tampak sekitar puluhan pria ada disana dan tengah memandangi mereka dengan bingung. Kanaya pun terlihat ketakutan dibuatnya, ia ingin segera pergi dari sana dan tidak mau berlama-lama disana.


"Ka, lu kok kesini sama cewek? Siapa tuh dia? Perasaan kita belum pernah lihat dia deh sebelumnya," tanya salah seorang dari mereka.


"Eee iya kenalin guys, ini calon penghibur kita yang baru, namanya Kanaya!" jawab Arka sambil tersenyum menatap wajah gadis itu.


Tentu saja Kanaya yang mendengar itu pun tak terima, ia terlihat emosi dan sudah mengepalkan tangannya seolah hendak memukul pria itu saat ini juga. Sedangkan Arkana malah tampak santai saja dan terus tersenyum seperti meledek gadis di dekatnya itu, membuat Kanaya tentunya semakin kesal dan emosi.


Plaaakk


Benar saja, tak butuh waktu lama akhirnya Kanaya menampar pipi Arkana dengan telapak tangannya secara langsung. Gadis itu benar-benar emosi, sampai Arka pun terkejut dengan apa yang dilakukan Kanaya barusan. Bahkan teman-temannya yang ada disana juga tampak syok melihatnya.

__ADS_1


"Heh! Lo gila ya, Naya? Kenapa lu tampar gue kayak gitu?" geram Arka.


"Lo yang gila! Sembarangan aja kalo ngomong, emang lu pikir gue ini cewek apaan?! Gue bukan perempuan begitu, jadi lu jangan ngaco deh!" sentak Kanaya penuh emosi.


Setelahnya, Kanaya pun melangkah pergi meninggalkan markas geng motor itu dengan perasaan kesal dan kecewa. Arka hanya terdiam menatap kepergian gadis itu, ia tidak berniat untuk mengejar atau menahan Kanaya agar tetap disana, karena memang ia sengaja melakukannya.


"Eh Ka, tuh cewek sebenarnya siapa sih?" tanya salah satu temannya yang kini menghampiri Arka dengan bingung.


"Seperti yang tadi gue bilang, dia penghibur baru kita. Tungguin aja, mulai besok dia bakal hibur kita kok!" jawab Arka santai.


"Lo serius bro? Kok tadi dia malah marah begitu kayak gak terima dibilang perempuan penghibur?" tanya Seto, teman satu geng Arka.


"Tenang aja, nanti dia juga bakal terima kok. Mungkin sekarang dia masih malu aja dan belum mau ngakuin itu," ucap Arka.


"Ah lu emang parah bro, cewek secakep itu masa lu kerjain sih! Kenapa gak lu pacarin aja? Gue lihat-lihat dia kayaknya cocok buat jadi pengganti Isyana di hati lu," ucap Brandon.


Arka menggeleng sambil terkekeh, "Udah lah guys, jangan bahas soal itu lagi di depan gue! Kanaya bukan pacar gue, justru gue mau bikin dia nyesel karena udah bertindak seenaknya ke gue!" ucapnya.


"Ya terserah lu deh bro, yang penting kita mah gak mau ikut campur. Yuk mending kita duduk disana santai-santai!" ucap Seto.


Arka mengangguk setuju, kemudian berjalan menuju tempat duduk bersama teman-temannya. Namun, entah mengapa Arka tiba-tiba memikirkan Kanaya dan merasa khawatir pada gadis itu. Apalagi Arka tahu kalau Kanaya baru pertama kali tinggal di Jakarta dan belum hafal jalan disana.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2