Arkana

Arkana
Bab 37. Calon mantu


__ADS_3

Arka kini berniat pergi ke toilet untuk menuntaskan keinginannya, namun tiba-tiba seorang wanita muncul meneriakinya dan memanggil namanya dari arah depan. Sontak Arka mengurungkan niatnya, ia berhenti sejenak di depan toilet menunggu sampai wanita itu datang ke dekatnya. Ya mata Arka membulat lebar, setelah ia menyadari kalau yang memanggilnya itu adalah Zee.


Saat ini Zee sudah berada di dekatnya, gadis itu terlihat terengah-engah dan tersenyum lebar ke arah Arka dengan satu tangan memegang ponsel. Arka pun menatap bingung ke wajah gadis itu, ia tak mengerti apa maksud Zee menghampirinya sampai harus berlari keras dan kesulitan bernafas. Karena penasaran, Arka terpaksa menanggapi Zee walau ia masih memendam rasa benci pada gadis itu.


"Kenapa sih Zee? Baru aja gue mau ke toilet, eh lu udah manggil gue aja. Gue kebelet tau nih, buruan dah ngomong!" ucap Arka menahan dirinya.


"Eee gue ada sesuatu yang mau ditunjukin ke lu, gue yakin banget lu pasti bakal kaget waktu lihat ini! Cewek yang selama ini lu kira baik dan manis, ternyata gak jauh beda sama cewek-cewek yang lain tau," ucap Zee.


Sontak Arka mengernyit tanda heran, "Lu lagi ngomongin siapa sih, ha?" tanyanya penasaran.


Zee tersenyum, kemudian dengan pedenya ia menunjukkan foto hasil jepretannya dari ponsel miliknya itu kepada Arka. Disitu terdapat sosok Kanaya yang tengah berpegangan tangan dengan Wahyu dan berjalan ke arah kantin, namun Arka tak merasa ada sesuatu yang aneh dari foto tersebut. Arka pun beralih menatap Zee disertai senyuman serta gelengan kepala.


"Biar apa sih lu nunjukin gue foto begini, hm? Lu mau adu domba gue sama sohib gue, iya? Udah lah Zee, cukup! Jangan dilanjutin permainan gila lu ini! Percuma aja, gue gak akan terpancing!" ucap Arka.


"Kok lu bilangnya begitu sih, Ka? Ini beneran loh gue ambil sendiri tadi, gue gak bohong. Foto ini bukan editan, Kanaya tuh emang jalan berdua sama Wahyu di lorong tadi. Mana pake pegangan tangan segala, lu gak cemburu gitu?" ujar Zee.


"Buat apa? Status gue sama Kanaya aja belum ada, kita cuma sebatas teman. Jadi, terserah dia lah mau dekat sama siapa aja," ucap Arka santai.


Zee yang mendengarnya pun terkejut, tak menyangka jika reaksi Arka akan seperti itu. Padahal tadinya ia mengharapkan pria itu untuk marah dan melabrak Kanaya di kantin, tapi nyatanya justru Arka malah bersikap biasa saja seolah tidak ada yang terjadi. Zee pun menggeram kesal, rencananya kali ini telah gagal dan membuat ia benar-benar bingung harus melakukan apa lagi nantinya.


"Sekarang lu mending pergi deh, gue lama-lama lihat muka lu bisa gila! Dan lu jangan pernah coba-coba buat adu domba gue sama Wahyu, okay!" ucap Arka.


"Ka, gue gak ada niatan buat adu domba lu. Gue ini cuma kasihan sama lu, masa cewek yang lagi lu deketin malah sekarang asyik jalan sama sahabat lu sendiri? Apa lu gak marah gitu?" ucap Zee.


Arka menggeleng santai, "Enggak, ngapain gue marah? Kanaya itu belum jadi pacar gue, sah-sah aja dong dia mau jalan sama siapa," ucapnya.


"Ya tapi kan, lu lagi deketin dia. Harusnya dia paham dong dan jangan dekat sama laki-laki lain! Kalau kayak gitu, tandanya dia sama aja gak menghargai lu. Emang dasar cewek murahan!" cibir Zee.


Deg!


"Heh! Lo jaga omongan lu ya! Jangan pernah bilang Kanaya murahan!" sentak Arka penuh emosi.


Zee benar-benar terkejut kali ini dengan reaksi Arka yang begitu marah ketika mendengar dirinya menyebut Kanaya sebagai wanita murahan, tampaknya Arka memang tulus untuk mendekati Kanaya, sehingga siapapun yang merendahkan gadis itu akan dibuat ciut olehnya. Termasuk apa yang terjadi pada Zee saat ini, sungguh ia tak percaya dengan semua itu.




Kanaya kini tiba di kantin bersama Wahyu, keduanya duduk berhadapan pada sebuah kursi yang tersedia dan masih kosong. Wahyu langsung saja menawarkan pada Kanaya untuk memesan sesuatu, dan gadis itu tidak malu-malu karena dia memang mulai merasa haus dan lapar. Setelahnya, mereka pun sama-sama memesan sesuatu disana.


Sembari menunggu pesanan mereka datang, Wahyu kembali fokus menatap wajah gadis di hadapannya itu dengan satu tangan berusaha meraih lengan Kanaya dan menggenggamnya. Kanaya terkejut dibuatnya, ia spontan memandang ke arah Wahyu begitu merasakan sesuatu menyentuh tangannya. Saat itu juga Wahyu tersenyum, membuat Kanaya justru reflek ikut tersenyum bersamanya.


"Nay, gapapa kan kalo gue pegang tangan lu kayak gini? Gue rasa cuma cara ini yang bisa bikin lu mau cerita sama gue, karena gue yakin Nay kalau lu lagi sembunyiin sesuatu," ucap Wahyu.


Kanaya mengangguk tanpa berbicara, mulutnya terkatup rapat seolah tak ingin mengatakan apapun. Namun, Wahyu justru semakin penasaran dan ingin segera mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya pada gadis itu. Wahyu yakin sekali jika Kanaya pasti baru mengalami sesuatu, karena terlihat dari ekspresi gadis itu saat bertemu dengannya tadi.


"Sekarang lu tolong jujur sama gue, apa yang Arka udah lakuin ke lu sampai lu jadi kayak gini!" pinta Wahyu.


Kanaya tersenyum lebar sembari menundukkan kepala, lagi-lagi gadis itu tak menjawab pertanyaan dari Wahyu dan membuat Wahyu kehilangan kesabaran menghadapinya. Tiba-tiba pria itu berdiri, bangkit dari duduknya lalu menatap dingin ke arah Kanaya yang masih terduduk. Sontak Kanaya mendongak, merasa heran sebab Wahyu justru berdiri dan terlihat kesal padanya.


"Bisa gak sih Nay? Please, jujur aja sama gue sekarang! Gue butuh keseriusan dari lu, kasih tahu ke gue apa yang udah dilakuin Arka ke lu! Lu tahu kan gue khawatir sama lu?" ucap Wahyu.


"Wahyu, udah sih santai aja! Lu gak perlu sampai emosi kayak gitu gara-gara gue," ucap Kanaya.


"Gimana gue gak emosi coba? Lu aja gue tanya bukan jawab malah diam aja, kadang senyum lah terus tadi malah nunduk!" kesal Wahyu.


"Ahaha, iya gue minta maaf. Gue cuma gak mau cerita aja sama lu, gapapa kan?" ucap Kanaya.

__ADS_1


"Emang kenapa sih Nay? Lu gak percaya lagi sama gue? Gue ini sahabat lu juga, gue cemas kalau sampai lu kenapa-kenapa!" ucap Wahyu.


"Terus si Arka itu bukan sahabat lu?" tanya Kanaya.


"Hah? Ya dia tetap sohib gue lah, pake nanya lagi!" jawab Wahyu tegas.


"Yaudah, kenapa lu gak yakin kalau dia gak akan ngelakuin apa-apa ke gue? Kan dia sahabat lu juga, harusnya lu percaya dong sama dia! Atau jangan-jangan lu tahu kalau dia sering mainin cewek?" heran Kanaya.


"Gak gitu Nay, kan gue cuma mastiin aja. Lo tahu sendiri kan Arka gimana kalau disini?" ucap Wahyu.


Kanaya manggut-manggut paham, dan Wahyu pun kembali duduk di hadapannya sembari menggaruk wajahnya karena kesal tak mendapat jawaban apa-apa darinya. Lalu, pesanan mereka pun tiba dan tanpa basa-basi Kanaya langsung melahap makanan yang ia pesan itu dengan cepat. Wahyu yang melihatnya dibuat geleng kepala, tak menyangka jika Kanaya bisa makan sangat lahap.


"Lo laper banget ya Nay? Santai aja kali, bel masih lama kok! Lo bisa puas-puasin dulu tuh makan makanan lu, jangan buru-buru!" ucap Wahyu.


"Ah resek lu! Sekarang kan gue jadi malu gara-gara lu tegur gue!" ujar Kanaya.


Wahyu justru terkekeh mendengar ocehan gadis di hadapannya itu, sedangkan Kanaya yang kesal langsung mencubit lengan Wahyu berkali-kali sampai membuat pria itu merintih kesakitan. Namun, entah kenapa Wahyu merasa jika apa yang dilakukan Kanaya saat ini membuat dirinya gugup dan semakin jatuh hati pada gadis itu.


Tanpa mereka sadari, dari jauh tampaknya Arka tengah memperhatikan kebersamaan mereka. Pria itu terlihat berdiri menatap ke arah Wahyu serta Kanaya yang sedang asyik berbincang, ada sedikit rasa cemburu di hatinya saat melihat kedekatan mereka berdua. Namun, Arka belum bisa memarahi Wahyu untuk saat ini karena ia juga belum resmi menyatakan cintanya pada Kanaya.




Saat jam istirahat tiba, Kanaya ditemani Cempaka datang ke ruang guru untuk menemui salah satu pengajar disana yang tadi sempat memanggil Kanaya dan memintanya bertemu. Tanpa ragu, Kanaya pun masuk ke dalam sana untuk mencari guru bernama Sofi itu dan menanyakan apa yang hendak dibicarakan oleh beliau kepadanya.


Setelah berhasil menemui sang guru, kini Kanaya diminta duduk menghadapnya. Sedangkan Cempaka yang tadi menemaninya tetap berada di luar menunggu sampai Kanaya selesai bicara dengan bu Sofi di dalam sana, ya meski Cempaka sangat penasaran dan ingin tahu apa sebenarnya yang akan dibicarakan oleh bu Sofi kepada Kanaya disana.


"Kanaya, maksud ibu minta kamu kesini itu karena ini." bu Sofi tampak memberikan selebaran pada Kanaya dan membuat gadis itu bingung.


"Acara olimpiade matematika tingkat nasional? Ini maksudnya apa ya bu? Hubungannya kertas ini sama ibu manggil saya kesini, apa ya?" tanya Kanaya yang masih heran dan penasaran.


Deg!


Kanaya tersentak kaget, sampai-sampai matanya membulat lebar dan nyaris terlepas dari tempatnya. Fokus gadis itu terhadap kertas pengumuman tadi pun teralihkan, ia kembali menatap wajah sang guru dan terlihat tak percaya dengan perkataannya barusan. Kanaya sungguh tidak yakin jika pihak sekolah akan mengurusnya, pasalnya ia terhitung masih sebagai murid baru disana.


"Bu, ini serius pihak sekolah ngutus saya? Kan saya masih baru disini, saya mana bisa wakilin sekolah di ajang ini? Apalagi ini olimpiade tingkat nasional, yang ada saya bakal malu-maluin," ucap Kanaya.


Bu Sofi tersenyum santai menanggapinya, "Itu sudah kami pikirkan matang-matang Kanaya, karena kami melihat dari prestasi kamu di sekolah sebelumnya. Kamu juga sudah pernah meraih juara satu di olimpiade yang sama bukan?" ucapnya.


"Eee ya itu sih iya bu, tapi kan beda tingkatan. Saya mana bisa kalau harus ikut ke ajang nasional ini," ucap Kanaya grogi.


"Kenapa tidak bisa? Cuma beda satu tingkat kan? Ibu yakin kamu bisa kok Kanaya, karena dari segi nilai sekarang juga kamu punya kemampuan dan banyak kenaikan loh dibanding yang lain!" ucap bu Sofi meyakinkan Kanaya.


Kanaya tertunduk lesu dibuatnya, "Tapi bu, gimana dengan murid yang lain? Apa mereka tidak akan jealous jika tahu saya yang akan mewakili sekolah nantinya?" ucapnya mengajukan pertanyaan.


"Kamu tidak perlu khawatir, semua ini kan sudah keputusan bersama!" jawab bu Sofi.


Gadis itu pun terdiam dan kebingungan kali ini, ia tidak tahu harus bagaimana selanjutnya karena situasi ini amat membuatnya bingung. Kanaya memang senang diminta sebagai wakil sekolah dalam olimpiade matematika itu, namun dilain sisi juga Kanaya khawatir kalau ia hanya akan membuat malu nama sekolah di ajang itu nantinya.


"Jadi bagaimana Kanaya? Apa kamu mau menerima tawaran ini dan bersedia menjadi wakil sekolah di ajang olimpiade matematika ini?" tanya bu Sofi.


"Umm baik bu, saya bersedia!" jawab Kanaya pelan.


"Ah syukurlah! Ibu senang banget dengarnya, terimakasih ya Kanaya atas pengertiannya! Ibu bangga sekali dengan kamu, semoga kamu berhasil ya Kanaya!" ucap bu Sofi begitu bahagia.


"I-i-iya bu, kalau gitu saya sudah boleh pergi kan? Gak enak soalnya sama teman saya nungguin di luar," ucap Kanaya pamit.

__ADS_1


"Oh iya, silahkan! Nanti mengenai kelanjutannya akan ibu kabarkan ke kamu secara langsung, okay?" ucap bu Sofi.


Kanaya mengangguk sambil tersenyum, "Baik bu!" ucapnya lirih.


Setelah itu, Kanaya memutuskan pamit dari sana dan berdiri mencium tangan gurunya itu. Lalu, ia bergegas keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan gugup dan detak jantung yang berdetak tak karuan. Ia benar-benar tidak dapat mengontrol dirinya saat ini, sungguh semua perasaannya sedang campur aduk kali ini akibat permintaan bu Sofi tadi.


Cempaka yang setia menunggu pun terkejut dibuatnya, gadis itu beranjak dari tempat duduk lalu bergegas menghampiri Kanaya. Ia terlihat amat penasaran, apalagi saat menyadari Kanaya keluar dengan kondisi lesu seperti itu. Cempaka yakin kalau apa yang dibicarakan bu Sofi di dalam sana menyangkut hal yang penting, karena berhasil sampai membuat Kanaya begitu khawatir.


"Eh Nay, gimana? Tadi bu Sofi ngomong apaan aja sama lu di dalam? Kok lu bisa sampai kebingungan kayak gini? Pasti penting banget ya?" tanya Cempaka.


"Eee duh gue juga bingung jelasinnya, ini aja gue masih gak percaya tau. Gue syok banget gila!" ucap Kanaya berdebar-debar.


"Hah? Emang soal apa sih? Ish sumpah, gue makin kepo tau jadinya!" ujar Cempaka.


Kanaya tersenyum sembari mengusap pundak sahabatnya, "Iya Cempaka, jadi bu Sofi dan pihak sekolah minta gue buat wakilin sekolah ini di ajang olimpiade matematika nanti," jelasnya.


"Hah? Apa??" Cempaka terkejut bukan main mendengar jawaban sahabatnya itu.


Kanaya sendiri hanya manggut-manggut saja ketika Cempaka bertanya demikian, tak lupa Kanaya juga menunjukkan brosur olimpiade tersebut yang tadi diberikan bu Sofi padanya. Tentu saja Cempaka semakin terkejut dibuatnya, Cempaka masih tak percaya jika dirinya bisa berteman dengan orang sepintar Kanaya yang akan menjadi wakil sekolah di ajang olimpiade tingkat nasional itu.




Singkat cerita, Kanaya yang baru dari toilet justru tak sengaja berpapasan dengan Topan di lorong saat ia hendak kembali ke kantin. Tentu saja Kanaya menyapa pria itu dengan ramah, dan dibalas senyum tipis oleh Topan yang juga menghentikan langkahnya. Akhirnya Kanaya terpaksa turut mencium tangan Topan kali ini setelah melihat pria itu berhenti, padahal tadinya ia hanya ingin menyapa lalu kembali melangkah menuju kantin.


Tampaknya Topan memang sengaja melakukan itu, sebab ia sangat ingin berdekatan dengan Kanaya dan berbincang bersama gadis itu baik sebentar ataupun lama. Entah mengapa ketika ia sedang berdua dengan Kanaya, bayangan mengenai wajah Cahaya selalu menghantui kepalanya. Hal itu membuat Topan merasa nyaman saat berada di dekat Kanaya, dan seolah tidak ingin pergi.


"Kanaya, kamu sudah dengar kan kabar dari pihak sekolah yang ingin mendaftarkan kamu sebagai peserta olimpiade matematika?" tanya Topan.


Kanaya tersentak kaget, "Eee i-i-iya sudah pak, jadi bapak juga tahu soal itu?" ujarnya.


Topan mengangguk disertai senyuman, "Iya dong Kanaya, saya tahu semua yang terjadi di sekolah ini. Karena kan saya pemilik sah tempat kamu belajar ini, jadi saya bisa tahu deh," ucapnya.


"Oh iya ya, wajar sih kalau bapak tahu. Tapi pak, kenapa mesti saya yang dipilih ya? Saya kan terhitung masih murid baru disini," ujar Kanaya.


"Loh memangnya kenapa sih? Kamu tidak suka atau tidak berkenan untuk mewakili sekolah, hm? Kalau memang begitu, biar nanti saya sampaikan ke yang lain deh untuk mengganti kamu," ucap Topan.


"Eh eh, bu-bukan begitu pak. Maksudnya tuh saya mau tanya aja gitu, kenapa pihak sekolah bisa sampai memilih saya?" ucap Kanaya gugup.


"Ahaha, memangnya bu Sofi tidak jelaskan tadi?" tanya Topan balik.


"Ya udah sih pak, bu Sofi udah jelasin alasannya," jawab Kanaya menunduk.


Topan mendekat ke arahnya lalu mengusap puncak kepalanya, "Itu artinya saya tidak perlu lagi dong menjelaskan alasannya? Aduh, lucu banget sih calon menantu saya ini!" ucapnya terkekeh.


Deg!


Mata Kanaya membulat seketika, bisa-bisanya Topan mengatakan jika dirinya adalah calon menantunya. Padahal kedekatan Kanaya dan Arka hanya sebatas teman, namun sepertinya Topan berharap lebih dari hubungan mereka. Kanaya pun sungguh bingung saat ini, dirinya malu dan juga tak tahu harus mengatakan apa.


"Duh, apa katanya tadi? Calon mantu? Yang benar aja deh, masa iya pak Topan berharap kalau gue bakal jadi menantunya? Ya sebenarnya gue sih gak masalah, asalkan anak pak Topan ini bukan si Arka yang nyebelin dan mesum itu!" batin Kanaya.


Topan tak merasa heran dengan reaksi Kanaya, karena saat ini Kanaya kembali menatapnya dan tersenyum lebar. Topan pun menebak jika memang Kanaya senang dianggap sebagai calon menantu, padahal nyatanya Kanaya sangat-sangat tidak suka dan ingin protes saat itu juga. Hanya saja tak mungkin Kanaya berani melakukannya, sebab Topan usianya lebih tua darinya dan ia harus hormat padanya selaku pemilik sekolah itu.


Sementara dari arah lain, tampak Arka berhenti melangkah begitu melihat Kanaya tengah bersama papanya di depan sana. Pria itu amat penasaran melihatnya, ia bingung apa yang sedang dibicarakan oleh papanya bersama Kanaya. Karena khawatir Kanaya akan menceritakan yang terjadi tadi pagi dan juga mengenai sikap buruknya, maka Arka bergegas melangkah menghampiri mereka dan berteriak keras memanggil nama Kanaya serta papanya itu.


"KANAYA!!" teriakan Arka itu sontak membuat Kanaya maupun Topan menoleh bersamaan.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2