
Kanaya pun melangkah pergi ke kamarnya dan tak lupa menutup pintu, sehingga Arka tidak dapat melihat apa yang ada di dalam sana karena Kanaya memang ingin berganti pakaian. Arka hanya bisa menunggu di ruang tamu kali ini, pria itu duduk-duduk santai sambil menatap sekeliling dan tersenyum sendiri. Kemudian, suara ketukan pintu dari arah luar mengejutkannya.
TOK TOK TOK...
"Permisi, neng Kanaya!!" terdengar teriakan seorang wanita dari luar sana, yang sontak membuat Arka bingung tak tahu harus apa.
"Waduh, siapa tuh? Gimana ini ya? Kalau tuh orang tahu Kanaya bawa cowok ke kostnya, kira-kira Kanaya bakal dimarahin gak ya?" gumam Arka merasa cemas dan bingung.
Akhirnya Arka bangkit dari duduknya, berjalan ke dekat pintu untuk mencari tahu siapa yang datang itu. Matanya membulat lebar begitu mengintip melalui jendela tempat kost itu, rupanya ada seorang wanita berdiri di luar sana dengan memakai daster merah dan rambut yang dikuncir. Dari rupanya, Arka dapat menebak kalau wanita itu adalah ibu pemilik kost tempat Kanaya tinggal.
"Ah ini sih gawat banget! Kayaknya gue harus lapor Kanaya aja deh, nanti yang ada gue dimarahin sama dia kalau salah buat keputusan. Siapa tahu kan tuh ibu-ibu mau tagih duit kost," ujar Arka lirih.
Langsung saja Arka bergerak menghampiri kamar Kanaya dan mengetuk-ngetuk pintu dengan keras memanggil nama gadis itu, sontak Kanaya merasa kesal karena aktivitasnya diganggu oleh Arka sehingga memaksa Kanaya membuka pintu. Arka pun melongok lebar melihat Kanaya saat ini yang hanya mengenakan tanktop, meski bagian bawah gadis itu masih tertutupi rok abu-abu.
"Ish, apaan sih Arka? Sabar dulu napa, gue tuh baru aja mau buka baju terus cuci muka!" sentak Kanaya.
"Hehe, iya maaf ya Nay? Itu tuh di depan ada tamu, tapi gue gak tahu siapa orangnya. Lu mending cek dulu deh ke depan sana!" ucap Arka.
"Hah? Terus lu nyuruh gue keluar temuin orang itu dalam keadaan kayak gini gitu?" ucap Kanaya.
"Eee ya enggak juga lah, walaupun itu orangnya cewek tapi tetap aja gue gak bakal bolehin lu buat keluar kayak gini. Minimal lu pake jaket atau apa kek gitu buat tutupin tubuh lu!" ucap Arka.
Kanaya tersentak kaget, "Lu kenapa mendadak jadi perduli banget sama gue? Padahal waktu itu aja lu jual tubuh gue ke teman-teman lu," ucapnya.
"Ayolah, yang lalu gausah diungkit-ungkit lagi! Sekarang mending buruan lu cari penutup buat atasan lu, supaya tubuh lu gak dilihat sama orang-orang di luar!" ucap Arka.
"Iya iya, kalo gitu lu diem aja disini jangan keluar! Gue gak mau sampai ada yang lihat lu, nanti gue dikira ngapa-ngapain," ucap Kanaya.
"Okay!" ucap Arka patuh.
Kanaya pun mengambil outer miliknya dan berjalan keluar menemui wanita yang tadi dikatakan Arka, sedangkan Arka sendiri tetap di dalam kamar itu sesuai perintah Kanaya. Arka pun tersenyum dan berjalan mengelilingi kamar gadis yang ia sukai itu, sungguh Arka sangat senang berada disana karena ia ingin sekali melihat isi kamar tersebut.
"Waw Kanaya ternyata suka boneka juga, koleksinya sampai sebanyak ini! Gue kira cewek galak kayak dia tuh mainnya bukan boneka, eh ternyata gue salah. Kalo gitu kapan-kapan gue beliin boneka deh buat dia," ucap Arka lirih.
Akhirnya pria itu terduduk di pinggir ranjang, mengusapnya lembut sambil terus senyum dan memandangi langit-langit kamar itu. Arka tak percaya jika saat ini dirinya bisa berada di kamar gadis itu, setelah sempat saling berkelahi justru kali ini malah sepertinya Arka berhasil menemukan sosok gadis yang ia sayangi.
Saat sedang asyik melihat-lihat sekeliling, Arka tak sengaja menemukan sebuah buku diary yang tergeletak di atas meja. Sepertinya itu adalah milik Kanaya karena memang semua barang disana pastinya dimiliki oleh gadis itu, tapi Arka yang penasaran mencoba untuk melihat apa isi dari buku diary tersebut. Meski Arka agak ragu saat membukanya, namun rasa penasaran yang memuncak membuatnya tak perduli lagi.
•
•
Sementara itu, Kanaya baru selesai menemui seseorang di luar sana yang ternyata merupakan tetangga kostnya yang ingin meminjam pengering rambut. Namun, karena Kanaya tak mempunyai alat itu akhirnya tetangganya pun pergi dan mencari pinjaman ke tempat lain. Kini Kanaya melepas outer nya sembari berjalan kembali ke kamar untuk menemui Arka, ia membuka pintu dan kemudian terkejut melihat Arka berdiri di dekat mejanya.
Arka sendiri juga dibuat kaget ketika mendengar suara pintu terbuka, apalagi ia melihat Kanaya yang ternyata sudah berdiri disana. Sontak Arka bingung harus menjelaskan apa, untungnya ia sudah menaruh kembali buku diary itu ke tempat semula. Dan kini Arka berharap Kanaya tidak menyadari kalau tadi ia sempat mengambil buku itu, karena pasti Kanaya tidak akan terima.
"Lo lagi ngapain, Ka? Kok berdiri di dekat meja gue?" tanya Kanaya mengintimidasi.
"Eee gue lagi lihat-lihat aja, kamar lu lumayan menarik ya! Btw itu koleksi boneka lu banyak juga, mau gue tambahin gak?" ucap Arka mendekati Kanaya sambil mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Gak perlu, gue bisa beli sendiri. Lu sekarang keluar gih, gue pengen lanjut ganti baju terus bikinin minuman buat lu!" ucap Kanaya ketus.
"Oh okay, omong-omong tadi yang datang itu siapa? Bener kan ibu kost lu yang mau nagih duit?" tanya Arka disertai kekehan kecil.
Kanaya menggeleng pelan, "Bukan Ka, itu tuh mbak Hani. Dia tetangga kost gue yang mau minjam pengering rambut, tapi karena gue gak punya ya jadi dia pergi deh," jelasnya.
"Ohh, yaudah nanti gue beliin buat lu yang banyak. Sekarang gue keluar ya?" ucap Arka.
Kanaya terkejut dengan perkataan sekaligus perbuatan pria itu, ya apalagi Arka mengusap serta mengecup pipinya saat ini. Bahkan setelah itu, Arka tanpa memikirkan perasaannya langsung pergi begitu saja membuka pintu dan keluar dari kamar tersebut. Tentu Kanaya dibuat jengkel padanya, gadis itu terus memegangi pipinya yang tadi dicium Arka dan entah kenapa mulai memerah.
"Si Arka bisa juga berlaku manis kayak gitu, bikin gue baper aja deh. Tapi, gue gak boleh terlena sama kemanisan tuh cowok!" batin Kanaya.
Setelahnya, Kanaya kembali melanjutkan aktivitas yang tadi sempat tertunda. Ya ia mengganti pakaiannya lalu sedikit berdandan karena tak ingin tampil jelek di hadapan Arka, meski ia tidak tahu apa alasannya melakukan itu. Kanaya pun juga mencuci wajahnya agar bersih, dan barulah ia keluar dari kamar untuk membuatkan minuman bagi Arkana.
Sedangkan Arka sendiri tampak tengah duduk di sofa ruang tamu, ia melirik Kanaya yang keluar dari kamarnya dan langsung berjalan ke dapur tanpa menyapanya. Arka tersenyum, kemudian beranjak dari kursi untuk menyusul gadis itu. Arka tampak terpesona dengan penampilan Kanaya kali ini, menurutnya gadis itu benar-benar cantik dan ia tak sabar ingin berdekatan dengannya lagi.
"Naya, lu cantik banget sih!" gadis itu sontak terkejut saat tiba-tiba Arka sudah berada di belakangnya dan memeluknya dengan erat sembari menempelkan wajahnya pada bahu gadis itu.
"Umm lu apa-apaan sih Arka? Please jangan kayak gini, gue gak suka!" sentak Kanaya.
"Kenapa sih Nay? Lu kok kayaknya gak suka banget dipeluk sama gue? Padahal enak tau dan bikin nyaman, apalagi lu wangi banget!" ucap Arka.
"Arka, gue mohon lepasin! Gue lagi buat minuman ini, katanya lu haus!" ujar Kanaya.
"Ya gapapa kali, kan bisa bikin minuman sambil gue peluk gini. Abisnya tubuh lu emang enak buat dipeluk sih," ucap Arka.
Karena tak ingin gadisnya bertambah emosi, akhirnya Arka terpaksa melepaskan tubuh Kanaya dan beralih berdiri di sampingnya sambil tersenyum menggoda gadis itu. Pria itu sesekali mencolek pipi gadis di sebelahnya dan membuat sang empu merasa risih, tapi lama-kelamaan juga Kanaya merasa senang dengan perlakuan Arka padanya itu.
"Nih udah jadi, yuk kita ke depan!" ucap Kanaya sesaat setelah minumannya selesai dibuat.
"Bagus, kayaknya enak tuh!" ujar Arka.
"Pasti enak lah, kan gue yang buat. Lo mau sekalian makan apa enggak? Gue kebetulan masih ada bahan makanan, jadi gue bisa masak buat kita berdua," ucap Kanaya menawarkan.
"Oh boleh, kalau gak ngerepotin. Gue juga pengen nyobain rasa masakan lu," ucap Arka.
"Yaudah, kita ke depan dulu terus baru abis itu gue masak buat lu ya?" ucap Kanaya.
"Siap sayang!" ucap Arka sambil mengecup pipi Kanaya kembali.
Lagi-lagi Kanaya harus menahan malu karena itu, pipinya yang mendadak memerah membuat Arka justru tertawa dan merasa bangga. Setidaknya Arka berhasil membuat gadis itu senang padanya dengan pipi yang memerah, kemudian Arka juga merangkul pundak Kanaya dan berjalan bersama ke luar untuk berbincang sambil minum.
•
•
Besoknya, Kanaya kembali dibuat kaget karena begitu ia keluar dari kostnya tiba-tiba saja sudah ada Arka yang berdiri disana menatap ke arahnya sambil tersenyum dan memegang sesuatu di tangannya. Sontak Kanaya terheran-heran dibuatnya, ia tak mengira Arka akan datang lagi kesana pagi ini. Sedangkan Arka masih tampak tersenyum lebar seraya menyembunyikan sesuatu dibalik tubuhnya.
Kanaya pun menghela nafasnya berusaha menenangkan diri, karena tadi ia benar-benar terkejut saat melihat keberadaan Arka disana. Namun, kemudian Arka melangkah semakin mendekatinya hingga membuat Kanaya gugup dan terus berjalan mundur untuk menjauhinya. Langkah Kanaya terhenti saat tubuhnya menyentuh pintu, ia tidak bisa bergerak kemana-mana lagi dan pasrah dengan Arka yang terus mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Good morning, Kanaya! Lo pagi ini nambah cantik deh, gue senang lihatnya! Apalagi wangi tubuh lu udah kecium dari jauh tadi, lu sempurna banget Nay!" ucap Arka memujinya.
Kanaya mengernyit dibuatnya, "Apaan sih? Gombalan lu itu gak mempan buat gue, lagian ngapain coba lu datang kesini?" ujarnya.
"Eee ya gue pengen jemput lu sayang, mulai hari ini kan gue bakal antar jemput lu setiap hari. Jadi, lu jangan kaget kalau gue nantinya bakal ada di depan rumah lu tiap pagi!" ucap Arka santai.
"Hah? Ya ampun, gausah pake begitu segala lah Arka!" ucap Kanaya menolak.
Arka tersenyum lalu menaruh satu tangannya di dinding bermaksud mengungkung tubuh Kanaya, ya tidak ada yang bisa dilakukan Kanaya selain diam pasrah karena memang sudah tak ada jalan lagi untuk menghindar dari pria itu. Kanaya pun menatap wajah Arka sambil diiringi detak jantung yang tak karuan, tentunya berada dalam posisi seperti ini amat membuat Kanaya merasa gugup.
"Nay, lu jangan tolak gue dong! Gue ini kan mau buktiin ke lu, kalau gue bisa berubah dan jadi lebih baik buat lu!" ucap Arka lembut.
"Ngapain lu harus buktiin itu ke gue? Emangnya gue siapa lu?" tanya Kanaya.
"Pake ditanya lagi, kan sebentar lagi lu bakal jadi pacar gue. Eh bukan cuma pacar sih, istri sekalian biar kita bisa hidup bareng terus," jawab Arka.
"Ngaco aja lu! Khayalan lu itu terlalu tinggi tau gak!" sentak Kanaya.
Arka langsung membungkam mulut Kanaya dengan jari telunjuknya, "Sssttt, bicaranya jangan kasar begitu sama calon pacar! Lo mulai sekarang harus lembut sama gue, ngerti?" ucapnya lirih.
Kanaya pun menyingkirkan jadi Arka itu dari mulutnya dengan kasar, "Udah deh Arka, kalo emang lu mau anterin gue yaudah ayo!" ucapnya kesal.
"Sabar, gue ada sesuatu buat lu!" ucap Arka.
Kanaya mengernyitkan dahinya penasaran, lalu Arka tampak mengeluarkan tangannya yang lain dan memperlihatkan sebuah boneka beruang warna pink yang dihiasi pita merah serta satu buah coklat turut menempel disana. Tentu saja Kanaya terbelalak melihatnya, sungguh ia tak menyangka Arka benar-benar menepati janjinya kemarin.
"Sayang, ini boneka buat kamu. Aku sengaja beliin yang agak kecilan, supaya bisa dibawa sama kamu kemana-mana. Jadi, kamu selalu ingat terus deh sama aku!" ucap Arka menyodorkan boneka itu pada Kanaya sambil tersenyum lebar.
"Umm, lu apaan sih Ka? Ngapain coba pake beliin gue boneka segala? Kemarin gue kira lu cuma bercanda," heran Kanaya.
"Mana pernah aku bercanda sama kamu sayang? Diterima ya, abis itu dimasukin ke tas kamu biar bisa dibawa ke sekolah!" ucap Arka.
Kanaya menggeleng menolaknya, "Enggak ah, nanti gue dimarahin lagi sama guru kalau ketahuan bawa boneka ke sekolah!" ucapnya tegas.
"Gak bakal, lu bilang aja boneka ini dari gue! Pasti guru siapapun itu gak akan marahin lu kok, percaya deh sama gue!" ucap Arka.
Kanaya terdiam sesaat, memandangi boneka di tangan Arka yang memang cantik itu. Sejujurnya Kanaya sangat ingin memiliki boneka itu dan mengambilnya dari tangan pria itu, namun ia masih ragu-ragu untuk menerimanya karena khawatir ini hanyalah suatu rencana darinya. Akibatnya, Kanaya pun terus berpikir keras apakah ia harus menerima boneka itu atau menolaknya.
"Kenapa malah diam? Buruan diambil, gue yakin lu pasti suka kan sama boneka ini! Atau menurut lu ini kurang gede? Tenang, nanti gue beliin yang lebih gede dari ini buat lu!" ucap Arka.
Baru selesai Arka bicara, Kanaya sudah langsung mengambil boneka itu dari tangannya dan memeluknya erat.
"Eh gausah, ini aja udah cukup kok. Yaudah, thanks ya buat bonekanya!" ucap Kanaya gugup.
Arka tersenyum dibuatnya, "Sama-sama sayang, gue senang deh lu mau terima hadiah dari gue! Semoga lu suka ya sama bonekanya dan lu gak benci sama gue lagi!" ucapnya dengan manis.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1