
Hari berganti, Kanaya memutuskan tetap berangkat ke sekolah meski kedua tantenya sudah meminta ia untuk tetap di rumah dan beristirahat terlebih dulu. Ya kemarin rupanya Cahaya telah memberanikan diri untuk menemui Kanaya, lalu mereka pun saling berkenalan dan memeluk satu sama lain. Tak lupa Cahaya juga menceritakan semua kenangan mengenai mendiang Tiffany yang tidak diketahui oleh Kanaya, tentu saja Kanaya amat bahagia karena ternyata masih ada keluarga dari mendiang ibunya yang bisa ia temui saat ini.
Kanaya pun tiba di sekolahnya bersama Cahaya yang mengantar menggunakan mobil, lalu setelah berpamitan dan mencium tangan tantenya itu, Kanaya pun bergegas melangkah ke dalam lorong sekolah sambil tersenyum bahagia. Tampak di keningnya masih menempel perban bekas luka kemarin, sebab memang ia belum diperbolehkan membuka perban tersebut meski Kanaya sudah merasa risih dan tidak nyaman dengan itu.
Namun, baru saja Kanaya hendak melangkah lebih jauh, tanpa diduga Topan memanggilnya dan mencegat gadis itu dari samping. Sontak Kanaya menghentikan langkahnya, ia menatap pria itu dengan senyumnya yang manis dan tak lupa mencium tangannya. Sebagai seorang murid, hal itu merupakan kewajiban walaupun ia tahu kalau Topan tidak bekerja disana sebagai guru atau kepala sekolah. Ya tetapi Kanaya tahu bahwa Topan adalah pemilik sekolah yang tetap harus dihormati.
"Eh pak Topan, pagi pak! Maaf ya, tadi saya mau bablas aja karena saya gak dengar?" ucap Kanaya dengan lembut.
"Ya gapapa, gimana kondisi kamu Kanaya? Sudah baikan?" tanya Topan.
Gadis itu menganggukkan kepalanya, "Iya pak, ini udah gak kerasa sakit lagi kok. Ya lagian saya kan gak boleh jadi cewek yang lemah pak, nanti saya malah dibully terus," jawabnya.
"Baguslah, saya senang dengarnya. Tapi, harusnya kamu gausah masuk sekolah dulu juga gapapa. Kamu kan harus istirahat banyak," ucap Topan.
"Saya mah udah cukup kok istirahatnya, pak. Lagian masa iya saya gak sekolah cuma gara-gara ini? Yang ada saya nanti ketinggalan pelajaran, walau cuma satu hari itu juga berat tau pak," ucap Kanaya.
"Ahaha, ya kamu benar Kanaya. Oh ya, tadi itu kamu diantar sama siapa?" tanya Topan.
"Eee itu tante saya, pak. Kami baru ketemu kemarin, saya juga baru tau kalau ternyata saya masih punya keluarga dari mendiang ibu saya," jawab Kanaya.
"Ohh," Topan ber-oh ria sembari manggut-manggut perlahan.
"Jadi ternyata Cahaya itu tantenya Kanaya? Pantas aja begitu saya lihat Kanaya, wajah Cahaya langsung terlintas di benak saya. Kalian memang sama-sama cantik dan manis," gumam Topan dalam hati.
Melihat Topan terdiam sambil senyum-senyum sendiri, sontak membuat Kanaya heran dan menggaruk kepalanya. Gadis itu pun sedikit berjinjit dan mengipas-ngipaskan tangannya di depan wajah Topan bermaksud menyadarkan pria itu, sebab ia tak mengerti apa yang lucu dan sampai membuat Topan tersenyum seperti itu.
"Pak, pak Topan? Ada apa ya pak, kok bapak senyum-senyum gitu?" tegur Kanaya.
"Eh iya Kanaya, ma-maaf saya tadi gak fokus. Yasudah, kamu bisa langsung masuk kelas aja! Saya juga ini mau pulang kok," ucap Topan gugup.
__ADS_1
"Tunggu pak, saya mau bilang makasih dulu sama bapak karena kemarin bapak udah tolongin saya!" ucap Kanaya.
"Sama-sama, itu sudah jadi tugas saya. Kamu juga gak perlu takut lagi ya, karena Zee dan semua temannya sudah saya kasih hukuman," ucap Topan.
Kanaya tersentak mendengarnya, "Hukuman pak? Apa hukumannya?" tanyanya penasaran.
"Iya, jadi kemarin saya dan pihak sekolah sepakat untuk memberikan surat teguran pada mereka. Jika mereka mengulangi perbuatan itu lagi, maka mereka akan langsung dikeluarkan dari sekolah ini dan diblacklist selamanya," jelas Topan.
"Apa??" Kanaya sungguh terkejut, ia tak menyangka kejadian kemarin akan berakibat separah itu pada karir Zee dan teman-temannya.
Namun, tentu Kanaya sangat senang mendengar kabar tersebut. Meskipun ada sedikit rasa kasihan di dalam hatinya, tapi memang setiap pelaku bullying harus diberi hukuman berat agar jera dan tidak mau lagi mengulangi kesalahan yang sama. Hanya saja Kanaya merasa ini tidak adil, sebab Arka hingga kini masih sering merundung orang-orang disana.
•
•
Singkat cerita, Kanaya yang hendak masuk ke kelasnya justru ditarik oleh seseorang dan membuat ia amat terkejut. Saat gadis itu ingin berontak dan melayangkan pukulan, ternyata orang yang menarik tangannya itu adalah Wahyu alias sahabat Arka yang baru saja keluar dari rumah sakit dan kembali bersekolah seperti biasa meski dengan wajah penuh perban akibat luka pukulan yang dideritanya.
"Hehe, iya maaf ya Kanaya yang cantik? Gue tuh cuma mau ngobrol sama lu, ikut gue yuk ke kantin! Lagian jam pelajaran masih lama kali, santai aja gausah buru-buru gitu!" ucap Wahyu sambil nyengir.
"Hm, yaudah gue mau. Tapi disana gak ada Arka kan? Gue males berurusan sama dia," ucap Kanaya.
"Loh kenapa? Bukannya kalian waktu itu jalan berdua ya?" tanya Wahyu heran.
"Udah gausah dibahas, atau gue berubah pikiran nih gak mau ikut sama lu!" kesal Kanaya.
"Eh iya iya, disana gak ada Arka kok. Yah elah lu gitu amat sih sama gue, Nay! Udah yuk kita ke kantin sekarang!" ucap Wahyu kembali menggenggam tangan gadis itu.
Namun, seperti biasa tentunya Kanaya tak ingin bagian tubuhnya disentuh oleh lelaki siapapun itu. Akhirnya Kanaya meminta Wahyu melepaskan tangannya dan untung pria itu mengerti, lalu melepas genggamannya. Barulah mereka berjalan menuruni tangga untuk pergi ke kantin, meski sebenarnya Kanaya merasa malas sekali.
__ADS_1
Di tengah perjalanan, Kanaya baru menyadari ada perbedaan di tubuh lelaki itu. Terlebih langkah kaki Wahyu terasa berbeda karena dia berjalan seperti sedang pincang dan menahan sakit, selain itu kondisi wajahnya juga dipenuhi oleh perban dan ada beberapa lebam yang tak tertutupi di bagian tangan serta bibirnya. Sontak Kanaya langsung berhenti melangkah dan fokus menatap pria itu.
"Eh, kenapa Nay? Kantinnya masih jauh tau, ngapain lu malah berhenti di tangga kayak gini? Ntar kalo ada yang lewat terus marah-marah ke kita gimana?" tanya Wahyu keheranan.
"Bentar dulu, gue penasaran deh sama tampilan lu. Kok lu kayak orang abis kecelakaan gini? Lu kenapa dah?" ujar Kanaya.
Wahyu justru terkekeh mendengarnya, "Ahaha, lu baru sadar sekarang Nay? Daritadi kemana aja sih mata lu, hm? Pasti yang dipikirin Arka terus kan?" ucapnya menggoda.
"Ih apa sih? Gue serius nanya tau, udah lu jawab buru sebelum gue kesel nih!" geram Kanaya.
"Iya iya, kemarin kan gue emang abis dari rumah sakit. Gue dirawat tuh satu hari, makanya gue gak sekolah. Lo gak tahu soal itu?" jelas Wahyu.
Kanaya menggeleng, "Enggak tuh, emang kenapa lu bisa masuk rumah sakit?" tanyanya penasaran.
"Eee ya gitu deh, namanya laki-laki suka terjadi salah paham di jalanan. Ya jadinya gue digebukin dan berakhir kayak gini," jawab Wahyu.
"Hah? Lo digebukin? Sama siapa?" kaget Kanaya.
Wahyu tersenyum lebar dan menggerakkan tangannya mengusap pipi gadis itu, "Lo gak perlu khawatir kali, gue baik-baik aja kok. Jangan cemas kayak gitu!" ucapnya kepedean.
Kanaya mengernyitkan dahinya, kemudian menepis tangan Wahyu dari wajahnya dengan kasar.
"Awhh!!" reflek Wahyu meringis memegangi tangannya yang memang masih sakit, ditambah baru saja ia dipukul oleh gadis itu.
"Eh eh, duh sorry sorry! Masih sakit ya?" ujar Kanaya panik dan langsung menghampiri Wahyu karena merasa bersalah.
Sedangkan Wahyu tersenyum saja melihatnya, ia senang melihat Kanaya mencemaskan dirinya seperti itu. Meski niat awalnya adalah ingin menjodohkan Kanaya dengan Arka, tapi entah kenapa semakin lama justru Wahyu merasa nyaman saat berada di dekat Kanaya dan seolah tidak ingin berpisah darinya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...