Arkana

Arkana
Bab 8. Kelas baru


__ADS_3

...Visual...


...ARKANA PUTRA ARMANDO...




Nama : Arkana Putra Armando


Umur : 18 tahun (kelas 3 SMA)


Tempat, tanggal lahir : Seoul, 25 Februari 2024


Hobi : Balapan liar


Cita-cita : Menguasai dunia


Pesan hidup : Manfaatkanlah kekuasaan orang tua kalian, jangan disia-siakan!


>>>


Arkana, sosok pria tampan berusia 18 tahun yang dikenal nakal dan suka membuat onar ini adalah putra pertama dari usahawan terkenal, Thaufan Armando atau yang biasa dikenal sebagai Topan. Ya Arkana ialah putra tersayang dari Topan, sehingga Arkana diberikan segalanya oleh Topan dan membuat pria itu hilang akal dan berbuat sesukanya.


Arkana memiliki kenangan yang buruk tentang wanita, dahulu sekitar 3 tahun lalu dirinya sempat memiliki seorang kekasih yang sangat ia cintai, namun sayang wanita itu malah meninggalkannya dengan alasan yang kurang jelas dan menurutnya itu tidak masuk akal. Akhirnya sampai sekarang, Arka pun berubah menjadi pria nakal pembenci setiap wanita.


...•...


...•...


Kriiingg... Kriiingg...


Begitu bel berbunyi, seluruh siswa yang telah selesai melaksanakan upacara pun diminta masuk ke dalam kelas masing-masing sesuai aturan. Tentu saja hal itu juga dilakukan oleh Kanaya, si murid baru yang akan memulai kehidupan barunya di sekolah tersebut sebagai murid kelas sebelas. Kanaya pun ditemani oleh wali kelasnya menuju tempat dimana ia akan belajar nantinya.


Sesampainya disana, sang wali kelas bernama bu Tati itu pun masuk lebih dulu. Ia menyapa para murid yang ada di kelas dan kemudian meminta Kanaya menyusul masuk, sontak saja saat melihat kehadiran Kanaya, seketika semua murid disana cukup terkejut dan tak percaya kalau ternyata Kanaya satu kelas dengan mereka saat ini.


"Nah semuanya, ini dia murid baru yang ibu maksud. Pasti diantara kalian ada yang udah lihat dia tadi kan di lapangan? Ya mulai sekarang, dia akan jadi teman kalian dan satu kelas dengan kalian. Ayo Kanaya, silahkan perkenalkan diri kamu!" ucap Bu Tati.

__ADS_1


"Iya Bu." Kanaya melangkahkan kakinya sedikit lebih maju mendekat ke arah murid-murid yang sedang terduduk di kursinya masing-masing.


"Eee halo semua! Nama gue Kanaya Nur Elonica, umur gue tujuh belas tahun dan gue pindahan dari Bandung. Semoga kita bisa jadi teman baik ya nanti!" ucap Kanaya memperkenalkan diri.


Prok prok prok...


Suara tepuk tangan bergema di dalam ruangan itu sesaat setelah Kanaya mengenalkan dirinya, tentu saja mereka semua senang karena dapat satu kelas dengan Kanaya, terutama para lelaki hidung belang yang seringkali menggoda wanita-wanita cantik di sekolah tersebut.


"Yasudah, Kanaya kamu bisa duduk di samping Cempaka ya! Dia itu yang duduk di pojok belakang itu," ucap Bu Tati.


Kanaya manggut-manggut seraya memandang ke arah yang ditunjuk Bu Tati, dan ia menemukan sosok gadis cantik duduk disana sambil tersenyum menatapnya. Kanaya merasa senang karena ia disambut dengan positif oleh teman-teman barunya disana, sehingga ia bisa lebih lega dan tidak perlu secemas sebelumnya.


"Baik Bu, terimakasih!" ucap Kanaya pada sang guru dengan ramah dan lembut.


Setelah Bu Tati pergi dari kelas, Kanaya langsung berjalan menuju kursi kosong yang ditunjuk Bu Tati tadi untuk mendudukkan dirinya. Namun, para lelaki buaya disana pun bangkit dari tempat mereka masing-masing dan mulai mendekati Kanaya dengan godaan khas mereka yang membuat Kanaya merasa risih dan jengkel.


"Ehem ehem, cewek Bandung ternyata emang benar cantik-cantik ya? Gak salah deh kalau banyak orang yang bilang begitu, helo Kanaya manis!" ucap salah seorang dari mereka.


"Hehe iya bener lu bro, hai salam kenal ya Kanaya!" sahut yang lainnya.


Sikap Kanaya cuek saja pada laki-laki tersebut dan memilih tak menggubrisnya, gadis itu malah terus melangkah mendekati Cempaka yang juga sudah berdiri menyambutnya dan seolah mempersilahkan Kanaya untuk duduk di sampingnya. Kanaya pun tersenyum menatap wajah Cempaka seraya mengulurkan tangannya ke gadis itu.


"Hai juga! Gue Cempaka, teman sebangku lu yang baru. Semoga kita bisa jadi sahabat sejati ya!" balas Cempaka sembari meraih tangan Kanaya.


"Iya gue juga maunya begitu," ucap Kanaya.


"Ehem ehem, masa cuma Cempaka aja sih yang disalamin? Ini kita semua nungguin juga loh daritadi," ujar salah seorang lelaki di belakangnya.


"Yeh jangan modus lu jadi orang! Udah udah sana pada duduk, nanti keburu ada guru masuk loh!" sentak Cempaka mengusir mereka semua.


"Hehe iya iya.." untungnya rombongan lelaki buaya itu menurut dan kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.


Sementara Kanaya bersama Cempaka kini juga duduk di tempat mereka, tampak Cempaka sangat senang karena akhirnya ia kembali mendapatkan teman sebangku setelah yang lama pergi. Begitu juga Kanaya yang merasa senang lantaran kehadirannya disambut baik oleh teman-teman sekelasnya disana.



__ADS_1


Disisi lain, Kinara alias tante Kanaya terlihat tengah berdiri seorang diri seperti menunggu seseorang di sebuah tempat. Wanita itu terus celingak-celinguk ke kanan dan kiri secara bergantian sembari berharap agar orang yang ditunggunya cepat datang, karena Kinara sungguh tidak sabar ingin menemuinya.


Benar saja, tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di dekatnya dan seorang wanita cantik turun dari mobil tersebut lalu melangkah menghampirinya. Sontak Kinara langsung tersenyum serta berjalan mendekati wanita itu, Kinara tampak begitu senang dengan kehadiran sosok wanita tersebut.


"Cahaya?" Kinara pun menjabat tangan wanita yang ternyata ialah Cahaya, (jika kalian ingin tahu, baca novelku "Topan & Cahaya" ya!).


"Hai Kinara! Kamu apa kabar? Lama ya kita gak ketemu seperti ini? Kamu makin cantik aja deh, aku sampe pangling tadi waktu pertama lihat kamu!" ucap Cahaya memuji.


"Ahaha, kamu bisa aja Cahaya. Aku baik kok, kamu sendiri gimana? Makin sukses kan?" ujar Kinara.


"Ya gini-gini aja sih, seperti yang bisa kamu lihat. Aku masih belum ada perubahan yang signifikan," ucap Cahaya tersenyum.


"Gapapa, segini juga udah bagus untuk ukuran wanita karir seperti kamu," ucap Kinara.


"Iya makasih, oh ya kamu udah bawa Kanaya ke Jakarta belum?" tanya Cahaya.


"Oh udah dong, baru aja kemarin aku anterin dia kesini," jawab Kinara.


"Syukurlah, aku senang dengarnya. Semoga dia bisa betah tinggal disini, jadinya dia gak akan merepotkan orang tua kamu lagi!" ucap Cahaya.


"Iya Aya, aku juga heran kenapa mama sama papa segitunya ke Kanaya. Padahal Kanaya itu amanah dari kak Joshua yang harus kami jaga loh," ucap Kinara cemberut.


Cahaya tersenyum sembari menaruh tangan di pundak Kinara, "Sabar aja, mungkin orang tua kamu masih belum bisa terima dengan kepergian Joshua. Makanya mereka terus menyalahkan Kanaya atas semua itu," ucapnya.


"Eee yaudah, kamu mau ketemu Kanaya kan? Yuk aku antar kamu ke sekolahnya, kebetulan bentar lagi jam pulang tau!" ucap Kinara.


Tiba-tiba saja, Cahaya tampak murung dan berbalik menjauhi Kinara. Wanita itu sepertinya belum siap jika harus bertemu dengan Kanaya saat ini, sebab ia pasti akan kembali teringat pada sosok Tiffany, kakak sepupunya yang telah meninggal beberapa tahun lalu karena peristiwa tragis yang dialaminya.


Cahaya pun menggeleng serta kembali menatap wajah Kinara, "Enggak dulu Nara, aku belum siap buat ketemu sama Kanaya. Aku takut kalau nantinya aku gak kuat," ucapnya pelan.


"Ohh, iya sih aku ngerti sama kesedihan kamu. Pasti kamu masih keinget sama kak Tiffany ya? Sama sih aku juga, jujur aja aku gak nyangka kalau kak Tiffany dulu akan mengalami nasib seburuk itu," ucap Kinara turut bersedih.


"Ya itu dia alasannya, mungkin untuk sekarang ini aku percayakan Kanaya ke kamu, Kinara. Tolong jaga dia dengan baik, jangan sampai dia terluka seperti mendiang ibunya dulu!" ucap Cahaya.


Kinara mengangguk disertai senyuman, "Iya Cahaya, aku pasti akan jaga Kanaya!" ucapnya tegas.


"Terimakasih." Cahaya tersenyum dan memeluk tubuh Kinara secara tiba-tiba untuk melepas kerinduan diantara mereka berdua.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2