Arkana

Arkana
Bab 7. Gabung atau tidak


__ADS_3

"Heh stop!" sesampainya di depan kursi yang diduduki oleh Arka, gadis itu pun langsung menegur mereka semua disana dengan suara kerasnya.


Arkana cukup terkejut mendengarnya, ia mulai mengarahkan pandangan ke asal suara dan menemukan sosok gadis cantik tengah berdiri di dekatnya sambil menatap penuh kesal. Tentu saja Arka terlihat tak percaya dengan kehadiran Kanaya disana, ia langsung bangkit dari tempat duduknya dan berupaya menghampiri gadis itu.


"Loh lu?" lirih Arka dengan tangan menunjuk tubuh Kanaya masih sambil terkejut.


"Ternyata benar dugaan gue, Arka ini orang yang sama dengan yang udah tolongin gue tadi. Tapi, kenapa dia bisa sejahat ini ya?" gumam Kanaya dalam hati.


"Eh Arka," tiba-tiba saja Wahyu datang menyela disertai senyum lebarnya dan mendekati mereka.


Sontak Arka beralih menatap sahabatnya itu, "Wahyu, ngapain lu kesini?" tanyanya bingung.


"Loh kok kenapa? Ini gue tepati janji gue buat bawa cewek yang gue maksud tadi, dan ini dia orangnya!" jawab Wahyu dengan santai.


"Apa??" Arka tersentak kaget dan tak percaya.


"Lah lu ngapa sih bro? Kaget ya karena sangking cantiknya? Kan gue bilang tadi bro, murid barunya itu luar biasa cantik. Lu sih gak percaya sama gue," ujar Wahyu.


Arka mengacungkan jari telunjuk ke arah Wahyu seolah memintanya berhenti bicara, "Diam dulu, gue mau bicara sama nih cewek!" ucapnya.


"Ah siap!" Wahyu menurut dan mundur perlahan.


Sementara Arka kini kembali menatap gadis di depannya itu dan perlahan mendekatinya, sedangkan Kanaya tetap pada ekspresi pertamanya, yakni tegas dan berani, meski di dalam hatinya ia sangat merasa takut karena ia tahu kalau Arka adalah laki-laki yang kejam dan sadis.


Namun, Kanaya paling tidak bisa melihat penindasan seperti itu dilakukan oleh siapapun. Kanaya pun berniat menghentikan semuanya dan meminta Arka untuk tidak lagi bertindak seenaknya pada kaum yang lemah, apalagi karena memanfaatkan kekayaannya.


"Kita ketemu lagi, cewek songong. Ngapain lu datang ke markas gue?" ujar Arka.


Gleekk


Kanaya sampai harus susah payah menelan saliva nya, lantaran Arka kini menatap tajam ke arahnya dari jarak yang tak terlalu jauh. Suasana hening disana menambah kegugupan Kanaya, gadis itu seketika lupa akan tujuannya untuk menghentikan tindakan keji Arkana.


"Gu-gue..."


"Kenapa? Lo kok jadi gugup banget sekarang? Takut ya sama gue? Tadi aja di lapangan lu sok banget marahin gue," Arka langsung memotong ucapan Kanaya sembari melangkah semakin dekat.


"Gak gitu, gue kan udah minta maaf tadi. Apa lu masih belum maafin gue?" ucap Kanaya berusaha tetap tenang.


Arka menggeleng sambil terus mengunyah permen karet di mulutnya, "Enggak, sampai kapanpun gue gak akan maafin lu. Gue gak terima sama apa yang udah lu lakuin ke gue tadi," ucapnya.

__ADS_1


"Oh yaudah, gue juga gak perduli dan gak butuh maaf dari lu kok," ucap Kanaya menantang.


"Okay, terus mau apa lu kesini? Mau cari gara-gara lagi sama gue?" tanya Arka.


"Dih ngapain? Tuh temen lu yang maksa-maksa gue buat ikut sama dia kesini, jadi lu jangan salahin gue dong!" sentak Kanaya.


"Ya kalau emang lu gak mau, kan lu bisa pergi sekarang. Gampang kan?" ucap Arka santai.


"Ya ini gue mau pergi, tapi bentar dulu ada yang mau gue omongin sama lu. Please lu stop ini semua dan jangan malakin orang-orang di sekolah ini lagi!" ucap Kanaya dengan lantang dan berani.


Arka mengernyitkan dahinya seraya tersenyum penuh arti, "Siapa lu berani ngatur-ngatur gue? Lu itu cuma murid baru disini, jadi gausah sok deh!" ucapnya sembari mencolek dagu Kanaya yang membuat gadis itu makin tersulut.


"Lu jangan kurang ajar ya!" Kanaya terpancing emosi dan langsung menunjuk wajah Arka menggunakan telunjuknya.


"Bukan gue yang kurang ajar, tapi lu. Berani banget lu bicara begitu sama gue!" ujar Arka.


"Apa salahnya? Gue cuma minta lu berhenti lakuin semua ini, kasihan mereka yang gak bersalah!" tegas Kanaya.


"Kenapa lu jadi ikut campur urusan gue? Lu itu anak baru disini, mending lu gausah sok deh!" ucap Arka.


Disaat Arka berbalik dan hendak pergi, Kanaya malah menahan tubuh lelaki itu dengan tangannya sehingga Arka pun tidak jadi kemana-mana. Kanaya kini melangkah kembali ke hadapan Arka dan menatapnya serius, membuat Arka semakin tersulut namun masih berusaha menahan diri.


"Apaan lagi sih? Lu mending pergi deh, sebelum gue kehilangan kesabaran dan ngelukain lu!" ucap Arka.


"Daripada gue yang turutin lu, gimana kalau lu aja yang turutin gue? Kan gue tadi udah tolongin lu tuh, jadi sekarang lu harus nurut sama gue!" ucap Arka.


"Hah? Maksud lu?" tanya Kanaya tak mengerti.


"Ayo sini!" bukannya menjawab, Arka malah menggenggam tangan Kanaya dan membawa gadis itu pergi menjauh dari sana.


Sontak Kanaya yang tak terima tangannya dipegang begitu saja oleh Arka pun melakukan protes dan terus berontak, tetapi Arka yang tak perduli malah diam saja dan terus memaksanya pergi. Wahyu serta yang lainnya pun terlihat bingung melihat Arka pergi bersama Kanaya, namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa.




Akhirnya Kanaya bisa bernafas lega setelah Arka melepaskan tangannya, gadis itu langsung reflek memegangi tangannya yang kemerahan akibat cengkraman kuat Arka tadi sambil menatap penuh kecewa ke wajah pria itu. Sedangkan Arka diam saja dengan kedua tangan ia lipat ke belakang dan berjalan perlahan menjauhi Kanaya.


Kanaya menggeleng tak mengerti melihat kelakuan pria itu saat ini, ada niatan untuk kabur dari sana dan pergi menjauh, namun Kanaya kesampingkan niat itu karena ia pikir akan sia-sia saja kabur dari seorang seperti Arka. Kanaya pun memilih tetap disana, meski ia sangat khawatir jika Arka akan melakukan hal yang tidak-tidak.

__ADS_1


"Lo ngapain bawa gue kesini? Ini tempat apa?" tanya Kanaya sembari melihat ke sekelilingnya, ia merasa cemas lantaran tempat itu cukup sepi.


"Heh, takut ya lu? Tenang aja, gue gak bakal apa-apain lu kok!" ucap Arka santai.


"Maksud lu apa? Terus kenapa lu bawa gue ke tempat gak jelas kayak gini? Buruan deh, sebelum bel bunyi dan kita harus ke lapangan!" sentak Kanaya.


"Eits, bel gak akan bunyi kali tanpa seizin gue. Udah mending lu diem dulu, gue mau bicara sesuatu sama lu sekarang!" ucap Arka.


"Apa?" tanya Kanaya penasaran.


Arka membalikkan badannya kembali menatap ke arah Kanaya, "Gue minta lu jadi salah satu anggota geng gue, dan lu harus tunduk sama gue seperti yang lainnya!" ucapnya santai.


"Hah? Lo bilang apa barusan? Gue, gabung ke geng lu? Idih yakali, ogah banget gue!" tegas Kanaya.


"Hahaha, lu yakin mau nolak gue? Masih untung lu gue tawarin gabung, daripada lu jadi korban seperti yang lainnya," ucap Arka terkekeh.


"Gue gak mau gabung sama lu, atau tunduk sama lu!" ucap Kanaya.


Arka tersenyum seringai mendengarnya, "Sekali lagi gue tawarin sama lu, lu gabung ke geng gue dan lu bakal aman, atau lu menolak dan jadi korban gue selanjutnya?" ucapnya.


Kanaya tetap kekeuh menggeleng dan menolak ajakan pria itu, baginya bergabung dengan Arkana justru akan membuatnya menjadi wanita yang paling buruk di dunia ini. Meskipun nantinya Kanaya harus menjadi korban, tetapi itu lebih baik dibanding ia harus bergabung dengan kelompok Arkana.


"Gue udah bilang sama lu, gue gak mau! Lu gak bisa paksa gue, jadi biarin gue pergi dari sini!" sentak Kanaya.


"It's okay," singkat Arka sembari menaikkan kedua alis serta bahunya bersamaan.


Setelah itu, Kanaya pergi dengan perasaan jengkel meninggalkan tempat tersebut. Ia tak perduli lagi pada apa yang dilakukan Arka saat ini, karena gadis itu lebih memilih untuk tidak ikut campur dan diam saja. Namun, tentunya Arka tidak akan melepaskan Kanaya begitu saja. Ya pastinya Arka memiliki rencana tersendiri yang akan ia lakukan untuk Kanaya, tanpa diketahui oleh gadis itu.


Tak lama kemudian, Wahyu yang menyusul mereka kini tampak menghampiri sahabatnya itu dengan gelagat bingung. Ia heran lantaran melihat Arka tengah senyum-senyum seorang diri sambil memandangi punggung Kanaya yang menjauh, tapi di lain sisi ia juga senang dan mengira kalau Arka sudah tertarik pada Kanaya.


"Cie cie yang senyum-senyum sendiri ngeliatin si Kanaya, uhuy!" goda Wahyu yang membuat Arka terkejut mendengarnya.


"Anjir lu ngagetin aja! Siapa juga coba yang ngeliatin Kanaya? Lu gausah sok tahu deh, orang gue lagi lihat arah lain!" elak Arka.


"Ahaha, yah elah pake ngelak segala lu. Eh ya, tadi lu ngobrolin apa aja sama Kanaya? Jangan-jangan lu tembak dia ya tadi? Mantap bro, gue dukung lu seratus persen buat jadian sama dia!" ucap Wahyu.


"Apaan sih? Ya enggak lah! Dah ah gue mau cabut!" kesal Arka yang langsung pergi begitu saja.


"Yeh dia malah pergi, tunggu woi!" teriak Wahyu merasa jengkel pada sahabatnya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2