
Fadli dan Dolly tengah berjalan di lorong sekolah sembari membawa minuman di tangannya, kedua pria itu tampak terkejut lalu kompak berhenti melangkah ketika melihat gadis yang kemarin mereka temui di angkot itu ada di hadapan mereka saat ini. Mereka juga bertambah kaget begitu menyadari Kanaya sedang bersama Arka serta papanya, tentu saja Fadli tak percaya melihat itu.
Rasanya baik Fadli maupun Dolly, mereka sama-sama syok karena mengira Kanaya adalah pacar Arkana. Seketika mereka pun merasa kesal dan tak terima, tapi saat ini mereka tak bisa melakukan apapun selain memperhatikan dari jauh. Meski hati mereka seolah ingin menghampiri Kanaya dan merebut paksa gadis itu dari tangan Arka, ya namun Fadli masih dapat menahan dirinya.
"Fad, gimana nih? Kayaknya tuh cewek emang bener pacarnya Arka deh, kalau kita deketin dia bisa-bisa si Arka bakalan hajar kita! Lo kan tahu dia tuh ketua geng yang kejam itu," bisik Dolly.
"Sssttt, lu gausah berisik Dol! Gue gak takut sama si Arka, mau dia ketua geng atau apapun itu bakal gue libas!" ucap Fadli penuh yakin.
"Yeh serius lu bro?" tanya Dolly tak percaya.
"Lu lihat aja nanti, gue bakal rebut tuh Kanaya dari si Arka yang sok jagoan itu! Gue yakin dia sebenarnya gak bisa apa-apa, dia cuma menang disini karena dia itu anaknya pak Topan. Kalau gue duel sama dia di luar sekolah, pasti gue bakal menang mudah!" jawab Fadli percaya diri.
"Yaudah, kapan-kapan kita atur aja buat lu bisa rematch duel sama dia. Dan kita bikin taruhan, yang menang bakal dapetin si Kanaya!" usul Dolly.
"Bener juga lu, tapi gue harus latihan dulu karena Arka juga gak bisa dianggap remeh!" ucap Fadli.
Dolly mengangguk saja disertai senyum seringai, mata mereka terus tertuju ke arah Kanaya dan Arka yang masih berada disana bersama Topan. Satu tangan Fadli mengepal kuat dan terangkat ke atas, rasanya dia sudah tidak sabar ingin segera menghajar Arka menggunakan telapak tangannya itu dan memiliki Kanaya seutuhnya.
"Kalian bilang apa tadi?" tiba-tiba saja, suara seorang lelaki terdengar dari belakang mereka.
Keduanya sama-sama kaget, rupanya Wahyu lah yang tadi bersuara dan muncul di hadapan mereka saat ini. Tentu saja kali ini mereka kebingungan, mereka khawatir kalau Wahyu mendengar semua obrolan mereka tadi dan akan membocorkan itu kepada Arkana. Apalagi terlihat jelas di wajah Wahyu, saat ini pria itu memandang mereka dengan emosi disertai tangan yang terkepal kuat.
"Jawab pertanyaan gue! Apa tadi yang kalian bilang, ha? Coba ulangin lagi di depan gue sekarang, cepat!" sentak Wahyu.
"Apaan sih lu? Kita gak bilang apa-apa, lu pergi deh sana!" ujar Dolly.
"Gausah ngelak lu, jelas-jelas gue denger lu lagi ngerencanain sesuatu sama temen lu ini. Mending lu jelasin semua ke gue sekarang, sebelum gue seret kalian ke depan Arka!" ancam Wahyu.
Dolly dan Fadli saling bertatapan satu sama lain, mereka dibuat kebingungan dan tak tahu harus menjawab apa saat ini. Terlebih Wahyu yang terus saja mencecar mereka kali ini, sepertinya Wahyu yakin sekali kalau kedua pria itu sedang merencanakan sesuatu terhadap Arka, sehingga Wahyu tak ingin membiarkan mereka berdua menjalankan rencana buruk mereka itu.
"Banyak omong lu!" bukannya menjawab, Dolly justru langsung menyerang Wahyu dan terjadilah perkelahian disana yang tidak bisa dihindarkan.
•
•
Arka dan Kanaya yang masih bersama Topan pun dibuat kaget saat mendengar suara keributan yang tak jauh dari sana, kedua pun menoleh mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Ya mata Arka terbelalak lebar saat melihat ada dua orang yang sedang berkelahi disana, meski ia masih belum dapat memastikan siapa dua orang tersebut karena terhalangi oleh kerumunan yang berusaha memisahkan perkelahian tersebut.
Topan juga tampak penasaran dengan perkelahian itu, sontak ia meminta Arka untuk ikut dengannya mengecek siapa yang berkelahi disana. Karena tak ingin Kanaya terkena bahaya, Arka menyuruh gadis itu tetap di tempat dan jangan ikut ke depan. Namun, Kanaya tak mau menuruti permintaan pria itu dan malah mengikuti keduanya melangkah untuk mencari tahu siapa yang berkelahi itu.
"Eh eh eh, stop woi stop!!" Arka langsung datang bak pahlawan dan memisahkan Wahyu serta Dolly dari perkelahian itu.
Tampak wajah Dolly yang sudah lebam serta darah mengalir di bagian hidungnya akibat pukulan dari Wahyu, sedangkan Wahyu masih terlihat segar bugar tanpa ada luka sedikitpun. Dan Fadli tentunya yang sedari tadi hanya menonton, terkejut melihat kedatangan Arka serta Topan disana. Topan pun bergerak mendekat, menatap wajah Dolly dan Wahyu secara bergantian dengan emosi.
"Apa-apaan ini, ha? Kenapa kalian berkelahi di area sekolah? Mau jadi jagoan kalian, iya?" sentak Topan.
"Bukan saya om, orang ini nih yang mukul saya duluan. Saksinya banyak kok, tanya aja mereka kalau gak percaya!" ucap Wahyu
"Bohong! Kalau lu gak mancing, gue gak bakal serang lu!" sela Dolly.
"Kenyataannya emang gitu,"
"Heh sudah sudah, jangan bertengkar lagi! Kalian berdua ikut saya sekarang ke ruang BK, ayo!" ucap Topan dengan tegas dan lantang.
Mau tidak mau, Wahyu pun terpaksa menuruti perkataan Topan itu dan pergi mengikutinya. Begitu juga dengan Dolly, sebab Dolly memang terlibat dalam perkelahian tadi dan merupakan aktor utamanya. Namun, Fadli tampak tersenyum saja dengan santai sambil bersandar pada tembok dan memperhatikan langkah Dolly dari sana.
__ADS_1
"Hadeh, ada-ada aja sih masih pagi udah pada ribut!" ujar Arka geleng-geleng kepala.
Disaat Arka berbalik, tiba-tiba saja tubuhnya nyaris menabrak Kanaya yang ternyata berdiri di belakangnya sedari tadi. Tentu saja Arka terkejut, apalagi tadi ia sudah mengatakan pada gadis itu untuk menunggu dan jangan menyusul, tetapi Kanaya malah tidak menurut dengannya. Kanaya pun tersenyum saja menatapnya, bertingkah manis bermaksud agar Arka tidak memarahinya.
"Nay, ngapain lu malah ikut kesini? Lu gak mau nurut sama gue buat diem di tempat tadi, hm? Kalo lu kenapa-kenapa gimana?" sentak Arka.
"Eee gue cuma kepo aja, kan gue juga pengen tahu siapa yang ribut," ucap Kanaya.
"Alasan aja lu, udah ayo ikut sama gue!" ucap Arka dengan tegas sembari mencengkeram kuat lengan mulus gadis itu.
"Ih tunggu! Lu mau bawa gue kemana?" tanya Kanaya menahan langkah Arka karena penasaran.
"Banyak tanya deh lu, pokoknya lu ikut gue karena gue pengen bicara sesuatu sama lu yang penting dan cuma berdua!" ucap Arka memaksa.
"Ta-tapi..."
Belum sempat Kanaya selesai bicara, Arka sudah langsung menarik tangan gadis itu dan membawanya pergi dari sana. Tampak Fadli begitu kesal melihatnya, dia tak terima dengan tindakan Arka yang seenaknya pada Kanaya. Jika saja tidak karena dirinya menghormati sosok Topan, pasti Fadli sudah menghajar Arka saat itu juga.
•
•
Singkat cerita, Arka tiba di rooftop sekolah bersama Kanaya. Pria itu pun melepaskan tangan Kanaya dan meminta Kanaya duduk disana bersamanya, karena tak ingin berdebat Kanaya akhirnya terpaksa menurut dan terduduk di samping Arka. Terlihat Arka melebarkan senyumnya sambil terus menatap wajah Kanaya, satu tangannya juga bergerak mengelus wajah cantik sang gadis yang ada di sebelahnya itu.
Sampai kemudian tindakan Arka semakin menjadi-jadi, pria itu mengecup pipi Kanaya dan menghirup aroma tubuhnya melalui leher gadis itu. Tampak Kanaya menahan geli saat kulitnya bersentuhan dengan bibir Arka, namun ia hanya bisa memejamkan mata sembari menaikkan bahunya untuk mencegah tindakan berlebih dari Arka. Ya Kanaya memang menikmati itu, tetapi ia tidak ingin Arka bertindak semakin kurang ajar padanya.
"Tubuh lu mulus banget Nay, wangi juga lagi! Gue jadi suka ciumnya," ucap Arka sensual.
"Ka, jadi lu mau ngomong apa sama gue? Tadi katanya lu ajak gue kesini karena ada yang pengen diomongin kan? Nah, yaudah buru lu ngomong!" ucap Kanaya menyela.
"Arka ish!" Kanaya yang kesal langsung mendorong kepala pria itu menjauh dari lehernya dan memberikan tatapan tajam ke arahnya.
"Lo jangan kurang ajar deh!" ucap Kanaya lagi.
"Iya iya, lu gitu aja galak amat sih Nay! Gue ini kan bakal jadi suami lu nanti, lu harus belajar hormat dong sama gue!" ucap Arka cemberut.
"Hah? Gue hormat sama lu? No way!" ketus Kanaya.
"Eh Nay, lu jangan begitu sama calon imam! Lama-lama gue kawinin paksa lu!" ujar Arka.
"Dih ogah! Lu kawinin aja tuh kambing!" ucap Kanaya mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha, masa cowok setampan gue suruh nikah sama kambing? Ada-ada aja deh lu Nay, udah cantik terus lucu lagi!" ucap Arka menggodanya seraya mencolek dagu gadis itu.
"Gausah colek-colek, emang gue sabun colek apa?" protes Kanaya.
"Lo bukan sabun colek, Nay. Lu itu kesayangan gue dan selamanya lu akan jadi milik gue!" ucap Arka dengan serius.
"Apaan sih? Basi lu dasar buaya!" cibir Kanaya.
"Gue bukan buaya Nay, gue calon suami lu. Nih gini deh biar resmi, sekarang lu mau gak jadi pacar gue?" ucap Arka mendadak lebih serius dari sebelumnya.
Kanaya membulatkan matanya lebar-lebar mendengar ucapan Arka, gadis itu terdiam dengan hati yang berdebar-debar karena tak tahu harus menjawab apa. Sedangkan Arka kini kembali mendekat dan menggenggam erat kedua tangannya, membuat tubuh Kanaya makin tidak bisa dikontrol. Akibatnya, Kanaya pun menunduk menghindar dari tatapan dingin Arka yang menggodanya.
"Kok diem sih Nay? Lu mau kan jadi pacar gue? Pertanyaan ini gak akan gue ulang lagi loh, kalau lu diem tandanya lu mau!" ucap Arka.
__ADS_1
"Ih kok maksa? Mana ada pacaran maksa kayak gitu?" ujar Kanaya.
"Yaudah, makanya lu jawab dong Kanaya! Lu mau apa enggak jadi pacar gue, hm? Jawabnya harus jujur loh, jangan bohong!" ucap Arka.
"Eee...."
"Iya, gue mau."
Arka yang mendengarnya langsung terperanjat kaget seolah tak percaya, ia benar-benar merasa bahagia karena ternyata Kanaya mau menerimanya sebagai kekasih. Sedangkan Kanaya sendiri tampak malu-malu setelah mengatakan itu, wajahnya bersemu memerah dan dengan cepat dia segera tutupi menggunakan dua tangannya. Namun, Arka malah menarik tangan Kanaya lalu memeluk erat tubuh gadis itu sambil sedikit mengangkatnya sebagai tanda kalau ia sangat bahagia kali ini.
•
•
Kriiingg Kriiingg...
Bel istirahat sudah berbunyi, Kanaya bersiap pergi ke kantin bersama Cempaka karena perut mereka sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Ya sedari tadi mereka menahan lapar, akhirnya kini keduanya pun bisa segera menikmati makanan yang tersedia di kantin untuk menghilangkan rasa lapar itu. Mereka pun berjalan bergandengan keluar dari kelas.
Akan tetapi, di luar dugaan ternyata Arka sudah berdiri tepat di depan kelas mereka. Pria itu tersenyum menatap Kanaya sembari menyimpan satu tangan di saku celananya, lalu kemudian Arka mengulurkan tangannya yang lain ke arah Kanaya seolah mengajak gadis itu bersamanya. Respon Kanaya hanya diam saja, dia tak mengerti apa maksud Arka dan juga tampak kebingungan.
"Arka, lu ngapain di depan kelas gue? Gu-gue mau ke kantin sama Cempaka, tolong minggir dong!" ucap Kanaya terlihat gugup dan gemetar.
"Sama pacar sendiri kok masih pake lu-gue sih bicaranya? Yang bener dong sayang!" ujar Arka.
Kanaya terbelalak mendengar ucapan pria itu, padahal tadi pagi ia sudah meminta pada Arka untuk merahasiakan hubungan mereka ketika di sekolah. Namun, laki-laki itu malah dengan seenaknya berkata demikian di hadapan Cempaka kali ini. Tentunya hal itu membuat Cempaka sangat terkejut, dia tak menyangka kalau ternyata sahabatnya sudah berpacaran dengan Arkana.
"Apa? Jadi, lu udah pacaran beneran sama kak Arka, Nay?" tanya Cempaka menyela.
"Eee i-itu kak Arka tuh bercanda, Cempaka. Lu jangan percaya sama ucapan dia, kan lu tahu sendiri kalau dia itu gak jelas orangnya!" jawab Kanaya.
"Masa sih?" Cempaka masih tak mempercayainya.
"I-i-iya Cempaka, masa lu gak percaya sama gue? Kak Arka mah gausah didengerin, dia tuh suka aneh!" ucap Kanaya.
Arka terkekeh saja mendengarnya dan langsung meraih satu tangan gadisnya, "Kamu gausah pake malu-malu gitu sayang, bilang aja ke teman kamu ini kalau kita udah jadian tadi pagi!" ucapnya pelan.
"Ih apa sih kak? Gue tuh malu!" sentak Kanaya.
"Malu? Berarti bener dong kalau kalian emang udah pacaran?" tanya Cempaka lagi.
"Umm..."
"Udah lah sayang, akui aja di depan Cempaka! Aku juga gak masalah kalau semua orang tahu hubungan kita, malahan bagus. Jadinya gak ada lagi tuh cowok yang berharap sama kamu," sela Arka.
"Apaan sih? Sana deh lu pergi, gue mau makan sama Cempaka!" ketus Kanaya.
Arka tampak memberikan kode pada Cempaka melalui matanya, Cempaka yang mengerti langsung menganggukkan kepalanya dan melepas tangan Kanaya dari genggamannya. Tentu saja Kanaya dibuat heran dengan sikap Cempaka, ia menoleh ke arah sahabatnya itu dan bertanya kebingungan. Namun, Cempaka hanya senyum-senyum saja seolah menggoda Kanaya.
"Lo kenapa sih Cempaka? Ayo kita ke kantin sekarang!" ucap Kanaya.
"Nay, lu sama kak Arka aja gih! Kasihan dong masa baru pacaran tadi pagi terus kak Arka gak ditemenin!" ucap Cempaka.
"Hah??" Kanaya tersentak mendengarnya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...