
Kanaya kembali dibuat kaget karena begitu ia keluar dari kostnya tiba-tiba saja sudah ada Arka yang berdiri disana menatap ke arahnya sambil tersenyum dan memegang sesuatu di tangannya. Sontak Kanaya terheran-heran dibuatnya, ia tak mengira Arka akan datang lagi kesana pagi ini. Sedangkan Arka masih tampak tersenyum lebar seraya menyembunyikan sesuatu dibalik tubuhnya.
Kanaya pun menghela nafasnya berusaha menenangkan diri, karena tadi ia benar-benar terkejut saat melihat keberadaan Arka disana. Namun, kemudian Arka melangkah semakin mendekatinya hingga membuat Kanaya gugup dan terus berjalan mundur untuk menjauhinya. Langkah Kanaya terhenti saat tubuhnya menyentuh pintu, ia tidak bisa bergerak kemana-mana lagi dan pasrah dengan Arka yang terus mendekat ke arahnya.
"Good morning, Kanaya! Lo pagi ini nambah cantik deh, gue senang lihatnya! Apalagi wangi tubuh lu udah kecium dari jauh tadi, lu sempurna banget Nay!" ucap Arka memujinya.
Kanaya mengernyit dibuatnya, "Apaan sih? Gombalan lu itu gak mempan buat gue, lagian ngapain coba lu datang kesini?" ujarnya.
"Eee ya gue pengen jemput lu sayang, mulai hari ini kan gue bakal antar jemput lu setiap hari. Jadi, lu jangan kaget kalau gue nantinya bakal ada di depan rumah lu tiap pagi!" ucap Arka santai.
"Hah? Ya ampun, gausah pake begitu segala lah Arka!" ucap Kanaya menolak.
Arka tersenyum lalu menaruh satu tangannya di dinding bermaksud mengungkung tubuh Kanaya, ya tidak ada yang bisa dilakukan Kanaya selain diam pasrah karena memang sudah tak ada jalan lagi untuk menghindar dari pria itu. Kanaya pun menatap wajah Arka sambil diiringi detak jantung yang tak karuan, tentunya berada dalam posisi seperti ini amat membuat Kanaya merasa gugup.
"Nay, lu jangan tolak gue dong! Gue ini kan mau buktiin ke lu, kalau gue bisa berubah dan jadi lebih baik buat lu!" ucap Arka lembut.
"Ngapain lu harus buktiin itu ke gue? Emangnya gue siapa lu?" tanya Kanaya.
"Pake ditanya lagi, kan sebentar lagi lu bakal jadi pacar gue. Eh bukan cuma pacar sih, istri sekalian biar kita bisa hidup bareng terus," jawab Arka.
"Ngaco aja lu! Khayalan lu itu terlalu tinggi tau gak!" sentak Kanaya.
Arka langsung membungkam mulut Kanaya dengan jari telunjuknya, "Sssttt, bicaranya jangan kasar begitu sama calon pacar! Lo mulai sekarang harus lembut sama gue, ngerti?" ucapnya lirih.
Kanaya pun menyingkirkan jadi Arka itu dari mulutnya dengan kasar, "Udah deh Arka, kalo emang lu mau anterin gue yaudah ayo!" ucapnya kesal.
"Sabar, gue ada sesuatu buat lu!" ucap Arka.
Kanaya mengernyitkan dahinya penasaran, lalu Arka tampak mengeluarkan tangannya yang lain dan memperlihatkan sebuah boneka beruang warna pink yang dihiasi pita merah serta satu buah coklat turut menempel disana. Tentu saja Kanaya terbelalak melihatnya, sungguh ia tak menyangka Arka benar-benar menepati janjinya kemarin.
"Sayang, ini boneka buat kamu. Aku sengaja beliin yang agak kecilan, supaya bisa dibawa sama kamu kemana-mana. Jadi, kamu selalu ingat terus deh sama aku!" ucap Arka menyodorkan boneka itu pada Kanaya sambil tersenyum lebar.
"Umm, lu apaan sih Ka? Ngapain coba pake beliin gue boneka segala? Kemarin gue kira lu cuma bercanda," heran Kanaya.
"Mana pernah aku bercanda sama kamu sayang? Diterima ya, abis itu dimasukin ke tas kamu biar bisa dibawa ke sekolah!" ucap Arka.
Kanaya menggeleng menolaknya, "Enggak ah, nanti gue dimarahin lagi sama guru kalau ketahuan bawa boneka ke sekolah!" ucapnya tegas.
"Gak bakal, lu bilang aja boneka ini dari gue! Pasti guru siapapun itu gak akan marahin lu kok, percaya deh sama gue!" ucap Arka.
Kanaya terdiam sesaat, memandangi boneka di tangan Arka yang memang cantik itu. Sejujurnya Kanaya sangat ingin memiliki boneka itu dan mengambilnya dari tangan pria itu, namun ia masih ragu-ragu untuk menerimanya karena khawatir ini hanyalah suatu rencana darinya. Akibatnya, Kanaya pun terus berpikir keras apakah ia harus menerima boneka itu atau menolaknya.
"Kenapa malah diam? Buruan diambil, gue yakin lu pasti suka kan sama boneka ini! Atau menurut lu ini kurang gede? Tenang, nanti gue beliin yang lebih gede dari ini buat lu!" ucap Arka.
Baru selesai Arka bicara, Kanaya sudah langsung mengambil boneka itu dari tangannya dan memeluknya erat.
"Eh gausah, ini aja udah cukup kok. Yaudah, thanks ya buat bonekanya!" ucap Kanaya gugup.
Arka tersenyum dibuatnya, "Sama-sama sayang, gue senang deh lu mau terima hadiah dari gue! Semoga lu suka ya sama bonekanya dan lu gak benci sama gue lagi!" ucapnya dengan manis.
__ADS_1
"Okay, terus ini coklatnya buat gue juga atau cuma ditempelin aja?" tanya Kanaya.
"Ahaha, ya buat lu lah sayang. Masih aja ditanya lagi, masa iya gue taruh coklat disitu terus mau gue ambil lagi? Lu bisa makan coklat itu, kalau kurang nanti gue beliin lagi di sekolah," jawab Arka.
"Iya makasih, yaudah yuk berangkat sekarang aja! Gue takut kita telat terus malah gak dibolehin buat masuk," ucap Kanaya.
"Gapapa kali, kalo telat kan malah lebih bagus. Jadinya kita bisa punya waktu banyak buat berduaan, misalnya jalan-jalan berdua gitu," ucap Arka terkekeh.
"Hadeh, gue mau sekolah bukan jalan-jalan. Lo serius gak sih pengen anterin gue?" ucap Kanaya.
"Eh ya serius dong sayang, ngapain juga gue bercanda? Yuk deh kita ke mobil gue sekarang, sini gue gandeng!" ucap Arka.
"Gausah!" Kanaya langsung menepis tangan Arka dengan kasar saat pria itu hendak menggandengnya.
Arka pun pasrah saja dan tak memaksa, lalu Kanaya mulai melangkah melewati tubuh pria itu dan berjalan keluar dari wilayah kostnya. Sedangkan Arka terpaku sejenak disana memandangi tubuh Kanaya, sebelum akhirnya ia juga ikut melangkah mengejar sang gadis ke mobilnya.
•
•
Begitu sampai di sekolah, Arka bersama Kanaya langsung turun dari mobil tanpa menunggu lama. Ya kali ini Arka tak memperdulikan lagi apa kata orang yang melihatnya, karena baginya memiliki Kanaya adalah sebuah keharusan dan ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bisa terus bersama gadis itu. Namun, tampak sekali kalau Kanaya masih belum terlalu yakin untuk berdekatan dengan Arka.
Mereka berdua terus berjalan memasuki area sekolah, lambat laun tubuh Arka semakin mendekat ke arah Kanaya dan tangannya bergerak meraih satu tangan gadis itu untuk digenggam. Kanaya sedikit kaget dengan kelakuan Arka saat ini, tapi dirinya hanya bisa diam karena hendak protes pun percuma mengingat Arka adalah tipe laki-laki yang tidak ingin dibantah apapun keadaannya.
Akhirnya mereka melangkah melalui lobi dengan tangan saling menggandeng, para guru serta siswa disana terus memandang ke arah mereka sampai tak bisa berkedip. Terutama wanita-wanita yang mengincar Arka untuk dijadikan kekasih, mereka semua disana merasa patah hati saat melihat kedekatan antara Arka dan Kanaya. Bahkan, ada yang sampai menangis di tempat begitu Arka melintas di depannya bersama Kanaya.
"Nay, gandengan sama lu kayak gini tuh bikin gue nyaman tau. Jangan dilepas ya, biarin aja terus begini!" ucap Arka menggoda gadisnya sambil sesekali mengecup cuping telinganya.
"Wah wah wah, jadi kalian berdua udah go public nih? Sampai gandengan tangan begitu, berarti benar dong dugaan papa kemarin?" ujar Topan.
"Eee ki-kita..."
"Iya pa, kan udah dibilang kemarin kalau aku sama Kanaya ini emang pacaran. Ya kan sayang?" Arka menyela sembari merangkul Kanaya di hadapan papanya.
"Ah baguslah, karena kalian itu memang cocok sekali loh untuk jadi pasangan! Kanaya, semoga kamu bahagia ya sama Arka! Kalau dia apa-apain kamu, bilang aja sama saya okay!" ujar Topan.
"I-i-iya pak," ucap Kanaya dengan gugup.
"Loh jangan pak deh manggilnya, mending sekalian aja langsung panggil papa! Toh kamu bakal jadi menantu saya juga nantinya," kekeh Topan.
Kanaya sampai melongok mendengarnya, sedangkan Arka justru tertawa terbahak-bahak seolah senang dengan apa yang dikatakan papanya barusan. Topan memang cukup bahagia dan merestui hubungan putranya itu, sebab ia ingin lebih dekat dengan Cahaya bila nanti Arka menikahi Kanaya. Ya terkesan aneh memang, tapi hingga kini Memang Topan belum bisa melupakan Cahaya yang merupakan mantan kekasih tercintanya itu.
"Bapak bilang apa sih? Belum tentu juga saya sama Arka bakal berjodoh, kita kan gak tahu ke depannya bakal seperti apa," ujar Kanaya.
"Nay, kok kamu bilangnya gitu sih? Kamu emang pengen kalau kita gak berjodoh, hm? Gak boleh tau kayak gitu, nanti kenyataan aja nangis-nangis kamu!" seru Arka sambil mencubit hidung gadis itu.
"Iya betul Kanaya, kamu harus percaya dan yakin dong! Kamu cinta kan sama anak saya?" sahut Topan ikut menasehati Kanaya.
"Eee saya..."
__ADS_1
"Ya pasti cinta lah pa, kalo enggak kenapa Kanaya terima aku jadi pacarnya coba?" lagi-lagi Arka menyela dan menjawab pertanyaan papanya tadi dengan sesuka hati.
Sontak Kanaya melirik ke arahnya dengan emosi, ia masih menahan diri untuk tidak meluapkan itu karena memandang Topan saat ini. Namun, lambat laun pastinya emosi di dalam dirinya akan terus memuncak karena kelakuan Arka yang seenak jidat. Bahkan saat ini pria itu terus merangkulnya dan menempelkan tubuh mereka, sesekali juga Arka mencuri kecupan di pipi serta keningnya.
"Betul begitu Kanaya?" Topan kembali bertanya, namun kali ini dikhususkan kepada Kanaya.
"Aduh pa! Kenapa mesti ditanya lagi sih? Aku kan udah bilang tadi, Kanaya pasti cinta banget sama aku!" ucap Arka menyela.
"Arka, papa tanyanya sama Kanaya bukan kamu. Kamu diam dulu deh!" tegur Topan.
Topan terpaksa mengalah dan terdiam sesaat, tapi pria itu menatap sekilas Kanaya seolah meminta gadis itu untuk menjawab sesuai perintah nya di hadapan papanya. Akhirnya Kanaya beralih menatap Topan dengan gugup, gadis itu tak memiliki pilihan lain selain menuruti kemauan Arka dan menjawab kalau dirinya memang mencintai pria itu.
"Bagaimana Kanaya, apa kamu suka sama anak saya? Kamu jujur aja ya, biar saya tahu kamu itu terpaksa atau enggak pacaran sama dia!" ucap Topan lagi.
"Umm i-i-iya pak..." Kanaya menjawab dengan lirih sambil menunduk menahan takut.
•
•
Fadli dan Dolly tengah berjalan di lorong sekolah sembari membawa minuman di tangannya, kedua pria itu tampak terkejut lalu kompak berhenti melangkah ketika melihat gadis yang kemarin mereka temui di angkot itu ada di hadapan mereka saat ini. Mereka juga bertambah kaget begitu menyadari Kanaya sedang bersama Arka serta papanya, tentu saja Fadli tak percaya melihat itu.
Rasanya baik Fadli maupun Dolly, mereka sama-sama syok karena mengira Kanaya adalah pacar Arkana. Seketika mereka pun merasa kesal dan tak terima, tapi saat ini mereka tak bisa melakukan apapun selain memperhatikan dari jauh. Meski hati mereka seolah ingin menghampiri Kanaya dan merebut paksa gadis itu dari tangan Arka, ya namun Fadli masih dapat menahan dirinya.
"Fad, gimana nih? Kayaknya tuh cewek emang bener pacarnya Arka deh, kalau kita deketin dia bisa-bisa si Arka bakalan hajar kita! Lo kan tahu dia tuh ketua geng yang kejam itu," bisik Dolly.
"Sssttt, lu gausah berisik Dol! Gue gak takut sama si Arka, mau dia ketua geng atau apapun itu bakal gue libas!" ucap Fadli penuh yakin.
"Yeh serius lu bro?" tanya Dolly tak percaya.
"Lu lihat aja nanti, gue bakal rebut tuh Kanaya dari si Arka yang sok jagoan itu! Gue yakin dia sebenarnya gak bisa apa-apa, dia cuma menang disini karena dia itu anaknya pak Topan. Kalau gue duel sama dia di luar sekolah, pasti gue bakal menang mudah!" jawab Fadli percaya diri.
"Yaudah, kapan-kapan kita atur aja buat lu bisa rematch duel sama dia. Dan kita bikin taruhan, yang menang bakal dapetin si Kanaya!" usul Dolly.
"Bener juga lu, tapi gue harus latihan dulu karena Arka juga gak bisa dianggap remeh!" ucap Fadli.
Dolly mengangguk saja disertai senyum seringai, mata mereka terus tertuju ke arah Kanaya dan Arka yang masih berada disana bersama Topan. Satu tangan Fadli mengepal kuat dan terangkat ke atas, rasanya dia sudah tidak sabar ingin segera menghajar Arka menggunakan telapak tangannya itu dan memiliki Kanaya seutuhnya.
"Kalian bilang apa tadi?" tiba-tiba saja, suara seorang lelaki terdengar dari belakang mereka.
Keduanya sama-sama kaget, rupanya Wahyu lah yang tadi bersuara dan muncul di hadapan mereka saat ini. Tentu saja kali ini mereka kebingungan, mereka khawatir kalau Wahyu mendengar semua obrolan mereka tadi dan akan membocorkan itu kepada Arkana. Apalagi terlihat jelas di wajah Wahyu, saat ini pria itu memandang mereka dengan emosi disertai tangan yang terkepal kuat.
"Jawab pertanyaan gue! Apa tadi yang kalian bilang, ha? Coba ulangin lagi di depan gue sekarang, cepat!" sentak Wahyu.
"Apaan sih lu? Kita gak bilang apa-apa, lu pergi deh sana!" ujar Dolly.
"Gausah ngelak lu, jelas-jelas gue denger lu lagi ngerencanain sesuatu sama temen lu ini. Mending lu jelasin semua ke gue sekarang, sebelum gue seret kalian ke depan Arka!" ancam Wahyu.
Dolly dan Fadli saling bertatapan satu sama lain, mereka dibuat kebingungan dan tak tahu harus menjawab apa saat ini. Terlebih Wahyu yang terus saja mencecar mereka kali ini, sepertinya Wahyu yakin sekali kalau kedua pria itu sedang merencanakan sesuatu terhadap Arka, sehingga Wahyu tak ingin membiarkan mereka berdua menjalankan rencana buruk mereka itu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...