Arkana

Arkana
Bab 27. Pertemuan kembali


__ADS_3

Akhirnya Kanaya mengurungkan niatnya untuk menemui Topan, sebab ia memang merasakan kalau kondisinya saat ini belum pulih benar. Lagipun, Cempaka pastinya tidak akan membiarkan Kanaya pergi begitu saja dari sana. Maka dari itu, Kanaya memilih kembali merebahkan tubuhnya dan bersantai di atas ranjang UKS yang dingin itu.


"KANAYA!!"


Tiba-tiba saja, keduanya dikejutkan dengan suara teriakan seorang laki-laki dari arah luar. Sontak mereka menatap secara bersamaan ke asal suara tersebut untuk memastikan siapa yang datang, dan saat itu juga mereka langsung terkejut, bahkan mata dua gadis itu kompak melotot lebar karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Ya laki-laki yang berteriak barusan adalah Arka, dia kini mendekat ke arah Kanaya dan menggeser tubuh Cempaka begitu saja karena panik. Arka juga sedikit membungkuk demi bisa lebih dekat dengan Kanaya, pria itu menatap wajah serta seluruh tubuh Kanaya dan tampak begitu mencemaskannya. Sedangkan gadis itu sendiri malah terdiam kebingungan.


"Kanaya, lu gapapa kan? Kenapa kondisi lu bisa begini? Duh, terus ini kepala lu kok diperban begini sih? Ada apa?" tanya Arka begitu geger.


"Eee ehem ehem, lu kenapa panik banget kayak gitu sama gue?" ucap Kanaya sambil tersenyum.


"Hah??" seketika Arka baru sadar kalau dirinya terlalu lebay tadi, ia pun menjauh dan wajahnya mulai memerah akibat kelakuannya sendir.


"Cie cie, ada yang khawatir banget nih sama Kanaya. Jangan-jangan lu suka ya kak sama si Kanaya?" ucap Cempaka ikut meledeknya.


Deg!


Arka pun menatap wajah Cempaka dan Kanaya secara bergantian, ia tak menyangka bisa melakukan semua itu tadi tanpa kesadarannya. Sungguh Arka merasa sangat malu kali ini, karena ia sudah menjadi bahan ledekan dari Cempaka maupun Kanaya. Sontak pria itu jadi salah tingkah, rasanya ia ingin segera pergi saja dari tempat tersebut.


"Lo bicara apa sih? Siapa yang suka sama cewek model begini coba? Udah galak, terus lemah lagi!" ucap Arka mengelak keras.


"Yeh sembarangan lu ngatain gue lemah, kata siapa gue kayak gitu?!" sentak Kanaya.


"Emang iya kan? Buktinya ini lu terbaring disini, itu tandanya lu lemah. Lo tuh abis kenapa sih? Kok bisa sampe luka kayak gini?" ujar Arka keheranan.


"Tanya aja sana sama cewek lu yang sok senior itu!" cibir Kanaya tampak kesal.


Arka mengernyitkan dahinya kebingungan, "Cewek gue? Maksudnya siapa? Selama ini gue single, gue gak punya cewek," ucapnya.


"Yah elah, itu loh si Zee. Dia yang ngelakuin ini semua ke gue karena dia cemburu sama gue," ucap Kanaya menjelaskan.


Arka terkejut mendengarnya, kekehan kecil terdengar dari mulutnya saat Kanaya mengatakan itu. Bisa-bisanya Zee yang selama ini ia anggap hanya sebagai teman, justru merasa cemburu pada Kanaya. Padahal kedekatan antara dirinya dengan gadis itu saja baru-baru ini terjadi, sungguh Arka tak mengerti dengan sikap Zee yang seperti itu.

__ADS_1


"Aneh banget tuh cewek, dia tuh emang suka gak jelas gitu dan demen menindas cewek yang lemah kayak lu! Udah ya lu tenang aja, gausah mikirin dia terus!" ucap Arka sambil tersenyum.


"Ya pantas lah, lu aja kan juga suka menindas yang lemah. Jadi, cewek lu pastinya bakal sama kayak lu sifatnya," ucap Kanaya mencibir.


"Apa lu bilang? Zee itu bukan cewek gue, jangan ngaco deh lu! Kalo dia ngaku kayak gitu, ya gausah didengerin lah! Dia tuh cuma halu doang kepengen jadian sama gue, tapi gak kesampaian!" ucap Arka.


"Iya iya.." Kanaya yang malas hanya memutar bola matanya dan menatap ke arah lain.


Lalu, Arka kembali membungkukkan tubuhnya mendekati Kanaya serta bergerak lebih maju agar bisa lebih dekat ke wajah gadis itu. Sontak Cempaka terperangah melihatnya, ia sampai menutup mulut seolah tak percaya kalau saat ini Arkana berada sangat dekat dengan sahabatnya, yakni Kanaya.


"Nay, tapi lu beneran gapapa? Luka lu kayaknya parah, terus kata bokap gue tadi lu juga disiram di toilet dengan kondisi baju lu terbuka. Apa lu gak mau dibawa ke rumah sakit aja biar lebih aman?" ucap Arka tampak khawatir.


Kanaya kembali menatap wajah Arka dan sedikit terkejut, "Gu-gue gapapa kok, ini buktinya gue udah baikan dan gak sakit lagi," ucapnya.


"Serius? Kalau emang lu masih sakit, bilang aja kali sama gue! Lu gak perlu malu-malu begitu dan sok kuat di depan gue, karena lu itu lemah Kanaya!" ucap Arka dengan nada meledek.


"Ish, gue gak lemah ya! Kalau tadi si Zee itu sendiri, gue juga bisa lawan dia. Ya sayang aja dia cemen dan ajak temannya buat bully gue," ucap Kanaya.


Kanaya menggeleng pelan, sontak Arka keheranan lantaran Kanaya ternyata belum memberitahu keluarganya mengenai kondisinya saat ini. Padahal Arka yakin pasti keluarga gadis itu akan sangat khawatir jika mengetahui semuanya, namun ia memilih diam dan tak membahas kembali soal itu karena melihat wajah Kanaya yang berubah.


"Yaudah, lu cepat sembuh ya! Kalau lu disini terus, gue jadi gak punya cewek yang bisa gue gangguin lagi," ucap Arka sembari mengusap rambut Kanaya.


Kanaya benar-benar dibuat gugup saat Arka menatapnya dari jarak dekat dengan satu tangannya yang terus mengusap lembut bagian wajah sampai rambutnya, baru kali ini Arka bersikap seperti itu padanya dan Kanaya sangat tidak menyangka kalau pria seperti Arka ternyata bisa juga memperlakukan wanita dengan lembut.




Sementara itu, Kinara serta Cahaya tiba di sekolah untuk mengecek kondisi Kanaya. Ya sebelumnya mereka mendapat kabar dari pihak sekolah kalau Kanaya dilarikan ke UKS setelah mengalami kejadian buruk saat di toilet, tentu Kinara sangat panik dan langsung mengajak Cahaya untuk sama-sama melihat Kanaya disana.


Kini mereka berdua pun memasuki area sekolah dan melangkah tergesa-gesa menuju ruang UKS, mereka tidak tenang jika belum tahu pasti bahwa Kanaya baik-baik saja. Maka dari itu, mereka sampai tidak perduli pada pekerjaan masing-masing demi bisa melihat secara langsung kondisi Kanaya. Ya meski belum diketahui apakah Cahaya akan mau menemui Kanaya kali ini, atau tetap melihatnya dari jauh.


"Cahaya, kita harus cepat-cepat ke UKS sekarang! Aku beneran khawatir loh sama Kanaya, aku takut dia kenapa-napa!" ucap Kinara cemas sambil terus berjalan cepat.

__ADS_1


"Iya Kinara, aku juga gak kalah cemasnya dari kamu. Biar gimanapun, Kanaya kan keponakan aku juga," ucap Cahaya ikut panik.


Mereka terus melangkah secepat mungkin, namun tanpa diduga Cahaya merasa kaget saat berpapasan dengan seorang pria berpakaian rapih yang tengah menelpon seseorang juga sambil melangkah. Wanita itu pun menghentikan langkahnya, karena ia merasa tidak asing dengan sosok pria tersebut. Tak hanya Cahaya, bahkan si pria yang tak lain ialah Topan ikut berhenti karena ada yang tidak beres.


"Cowok itu kok kayak Topan ya? Tapi, apa iya dia ada disini? Ngapain coba?" batin Cahaya.


Karena penasaran, perlahan Cahaya menolehkan wajahnya ke arah pria itu untuk memastikan dugaannya benar atau tidak. Dan ternyata Topan juga ikut menoleh menatapnya, tentu saja mereka kini saling bertatapan dan sama-sama terbelalak kaget saat melihat wajah masing-masing. Cahaya tak menyangka kalau ia akan bertemu kembali dengan Topan setelah belasan tahun berpisah, begitu juga dengan Topan.


"Cahaya?"


"Topan?"


Keduanya mengucap lirih dengan mulut terbuka dan mata yang melotot lebar, bahkan Topan sampai melupakan panggilannya karena terlalu fokus menatap wajah sang wanita yang telah sekian lama berpisah darinya itu. Topan pun membalikkan tubuhnya secara sempurna ke arah wanita itu, ia berniat mendekati Cahaya dan memastikan semua.


Cahaya sendiri juga tak beranjak dari tempatnya, ia pun lupa dengan niat awalnya datang kesini. Ya Cahaya sungguh tidak menyangka, kalau ternyata selama ini pria yang pernah ia cintai itu ada di dekatnya. Hanya saja mereka berdua sama-sama tidak menyadari hal itu, mungkin karena sudah tidak ada perasaan lagi diantara mereka.


Dan kini Topan sudah berada tepat di hadapannya, menatap sendu wajah sang mantan kekasih yang dulu pernah sangat ia cintai. Bahkan di lubuk hatinya yang paling dalam, masih terukir nama Cahaya. Pria itu memberanikan diri menggerakkan tangannya menyentuh wajah wanita itu, rasanya masih sama seperti saat dulu ia menyentuhnya dan seolah tidak ada yang berubah dari Cahaya saat ini.


"Cahaya, ini beneran kamu? A-apa aku gak salah lihat? Syahra Elonica Cahaya, is that you?" ujar Topan dengan tangan terus mengusap wajah wanita itu sembari menahan air matanya.


"Umm..." Cahaya dibuat luluh dan terlena dengan usapan lembut yang diberikan pria itu padanya.


"Cahaya!" tiba-tiba saja, teriakan Kinara membuyarkan momen keduanya dan membuat Cahaya reflek menyingkirkan tangan Topan dari wajahnya.


"Maaf mister, anda salah orang. Saya permisi!" Cahaya langsung berbalik dan melangkah menemui Kinara dengan cepat, ia tak perduli lagi dengan Topan yang masih terdiam menatapnya.


"Enggak, gak mungkin saya salah orang! Itu pasti kamu Cahaya, tapi kenapa kamu menghindari saya dan gak mau mengakui diri kamu?" batin Topan.


Tidak hanya Topan, bahkan Cahaya sendiri pun ikut bersedih dengan pertemuan mereka kali ini. Jujur Cahaya amat merindukan pria itu, sejak terakhir kali mereka bertemu beberapa tahun yang lalu. Namun, Cahaya sudah tidak ingin berharap pada pria itu dan memilih melupakan dia selamanya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2