Arkana

Arkana
Bab 14. Ikut campur


__ADS_3

Bruuukkk


Kanaya dibuat terkejut begitu mendengar suara orang terjatuh, ia reflek menoleh ke arah samping dan menemukan seseorang tersungkur di tanah akibat dorongan dari teman-teman Arka. Tentu saja Kanaya tak terima, ia sungguh kesal melihat tingkah laku orang-orang itu yang suka menindas kaum lemah. Kanaya pun spontan bangkit dari duduknya dan mengepalkan kedua tangan menahan emosi.


Cempaka serta Fathur yang melihat itu sontak terheran-heran, mereka sama-sama mendongak menatap wajah Kanaya dengan bingung. Cempaka pun ikut beranjak dari kursinya, lalu mencoba mendekati Kanaya untuk memastikan gadis itu baik-baik saja, tetapi Kanaya hanya diam dengan tubuh gemetar sembari menatap ke arah Arka.


"Nay, lu kenapa sih? Kok tiba-tiba lu bangun gitu terus kelihatan emosi? Lu mau ngapain, Nay?" tanya Cempaka penuh khawatir.


"Iya nona Kanaya, sebenarnya nona kenapa? Jangan bikin saya cemas dong nona!" sahut Fathur.


"Ih lu diem dulu deh Tur! Gue lagi bicara sama Naya, lu gausah ikut campur dong!" sentak Cempaka.


Fathur memutar bola matanya dan memilih mengalah, sedangkan Cempaka kembali menatap Kanaya untuk menanyakan apa yang menyebabkan gadis itu begitu emosi. Namun, bukannya menjawab Kanaya malah berjalan ke arah meja Arka dengan kondisi kedua tangan yang masih terkepal kuat.


"Eh eh Nay, lu mau ngapain Nay? Kanaya!" Cempaka berteriak untuk coba menahan Kanaya, tetapi tidak berhasil karena gadis itu sudah melangkah jauh darinya.


Sontak Cempaka merasa panik, ia khawatir kalau Kanaya berbuat nekat dengan menegur Arkana dan teman-temannya disana. Tentunya Cempaka sangat tahu seperti apa sikap Arka, pria itu tak pandang bulu dan akan berlaku kejam pada siapapun yang menentangnya, termasuk perempuan.


"Aduh! Gimana ini dong? Tur, lu bantu gue mikir kek jangan diam aja!" ujar Cempaka.


"Lah nona ini bagaimana? Tadi saya disuruh diam, kenapa sekarang nona malah marah-marah ke saya?" heran Fathur.


"Ah tau ah, pusing gue ngomong sama lu!" kesal Cempaka yang kembali duduk di tempatnya.




"Heh kalian!" ya suara barusan berasal dari mulut Kanaya, gadis itu dengan lantang dan berani melangkah menghampiri meja tempat Arka serta teman-temannya berada saat ini.


Sontak saja Arka beserta ketiga temannya menoleh secara bersamaan ke asal suara, mereka terkejut melihat Kanaya sudah berdiri di dekat mereka dan terlihat memberikan tatapan tajam penuh emosi. Bahkan gadis itu juga dengan berani mengacungkan telunjuknya ke arah wajah Arka, membuat Fajri dan yang lainnya cukup terkejut.

__ADS_1


"Kanaya?" lirih Arka yang masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Kenapa? Kaget lu lihat gue berani datengin lu kesini? Dengar ya, gue gak terima sama apa yang baru teman-teman lu lakuin tadi!" sentak Kanaya.


"Apa urusannya sama lu?" ujar Arka santai.


"Tau nih cewek, datang-datang sok jadi pahlawan! Lu itu cuma murid baru disini, lu gak pantas buat bicara kayak gitu di depan kita!" ucap Fajri.


"Gue gak perduli, walaupun gue cuma murid baru tapi gue tetap berhak buat larang kalian bertindak sesuka hati seperti tadi. Gue gak mau kalian terus menindas yang lemah!" ucap Kanaya.


"Kanaya, lu mending balik deh ke tempat duduk lu sekarang!" suruh Arka.


Namun, gadis itu tak mau mendengarkan perkataan Arka dan malah berdiam diri disana sembari menatap tajam ke arahnya. Akhirnya Fajri yang merasa jengkel dengan kelakuan Kanaya langsung beranjak dari tempat duduknya dan mendekati gadis itu sambil tersenyum seringai.


"Lu itu sok jagoan banget sih jadi cewek, belum tahu lu kita bertiga ini siapa?!" geram Fajri.


"Empat woi!" Kunto menyela ucapan Fajri karena merasa tidak dianggap.


"Hah? Terus lu pikir gue bakal takut gitu sama kalian berempat? Enggak ya!" tantang Kanaya.


"Wah lu benar-benar cari masalah ya sama kita!" Fajri semakin kesal dibuatnya, ia mendekat ke arah Kanaya dan bersiap memukulnya.


"Cukup!" namun, suara teriakan lantang dari Arka menghentikan semua itu.


Arka kini juga bangkit dari tempat duduknya dan mendorong tubuh Fajri menjauh dari Kanaya, tampak Fajri terheran-heran melihatnya sikap Arka yang seolah malah membela gadis itu. Tentu saja Fajri melayangkan protesnya kepada Arka, karena ia sudah dibuat sangat kesal oleh sikap Kanaya tadi.


"Arka, lu kenapa malah halangi gue buat hajar nih cewek? Dia tuh harus dikasih pelajaran, supaya dia gak seenaknya jadi orang!" geram Fajri.


"Diem lu! Cewek ini urusan gue, mending lu balik ke tempat duduk sama yang lain!" perintah Arka.


"Tapi Ka—"

__ADS_1


Arka menatap tajam ke arah Fajri, yang membuat sahabatnya itu ketakutan dan memilih pergi menurut dengan perkataan Arka barusan. Kini Arka tinggal berhadapan dengan Kanaya, ia tersenyum menatap gadis itu dan meraih satu tangan sang gadis lalu menggenggamnya kuat. Sontak Kanaya terkejut dan berusaha melepaskan diri, akan tetapi tenaganya kalah kuat jika dibandingkan dengan Arka.


"Ih lepasin! Lu apa-apaan sih? Jangan kurang ajar ya!" kesal Kanaya.


"Ikut sama gue!" pinta Arka dengan tegas dan dingin, membuat Kanaya tak bisa apa-apa.


Akhirnya Kanaya dibawa pergi secara paksa oleh Arkana menjauh dari kantin, gadis itu masih terus coba berontak, namun usahanya tetap gagal karena Arka malah menguatkan cengkeramannya. Kanaya sungguh merasa takut, sebab ia tak tahu akan dibawa kemana oleh pria itu saat ini.


Sementara Cempaka dan Fathur terlihat panik ketika Kanaya dibawa pergi oleh Arka dari sana, mereka berdua sangat khawatir pada kondisi Kanaya karena mereka tahu kalau Arka adalah orang yang jahat dan paling kejam di sekolah itu. Sontak Cempaka berniat menyusul Kanaya, tetapi Fathur yang ada di sebelahnya malah menahan niatnya.


"Eh eh eh, kamu mau kemana nona Cempaka?" tanya Fathur sembari memegang tangan gadis itu.


"Haish, lu ngapain sih pegang-pegang gue? Lepasin gak! Gue tuh pengen susulin Kanaya, gue khawatir dia kenapa-napa!" sentak Cempaka.


"Ah nona ini terlalu gegabah, tahan dulu dan jangan cepat-cepat begitu!" ucap Fathur.


"Emangnya kenapa Tur? Gue pengen selamatin sohib gue, ya biar gue sama Kanaya baru temenan, tapi gue tetap gak bisa biarin dia dibawa sama Arka gitu aja!" ucap Cempaka.


"Iya saya mengerti, tetapi kalau kamu menyusul nona Kanaya sekarang, itu malah membahayakan kamu juga Cempaka," ucap Fathur.


"Terus gue harus gimana?" tanya Cempaka.


"Eee kita duduk saja dulu, biarkan mereka mengurus urusan mereka sendiri!" jawab Fathur.


"Ih gila lu ya!" sentak Cempaka.


Gadis itu langsung menghentak tangannya lepas dari genggaman Fathur, setelahnya ia pun pergi dari sana untuk menyusul Kanaya tanpa perduli dengan ucapan Fathur yang berusaha menahannya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2