
Kanaya yang baru dari toilet justru tak sengaja berpapasan dengan Topan di lorong saat ia hendak kembali ke kantin. Tentu saja Kanaya menyapa pria itu dengan ramah, dan dibalas senyum tipis oleh Topan yang juga menghentikan langkahnya. Akhirnya Kanaya terpaksa turut mencium tangan Topan kali ini setelah melihat pria itu berhenti, padahal tadinya ia hanya ingin menyapa lalu kembali melangkah menuju kantin.
Tampaknya Topan memang sengaja melakukan itu, sebab ia sangat ingin berdekatan dengan Kanaya dan berbincang bersama gadis itu baik sebentar ataupun lama. Entah mengapa ketika ia sedang berdua dengan Kanaya, bayangan mengenai wajah Cahaya selalu menghantui kepalanya. Hal itu membuat Topan merasa nyaman saat berada di dekat Kanaya, dan seolah tidak ingin pergi.
"Kanaya, kamu sudah dengar kan kabar dari pihak sekolah yang ingin mendaftarkan kamu sebagai peserta olimpiade matematika?" tanya Topan.
Kanaya tersentak kaget, "Eee i-i-iya sudah pak, jadi bapak juga tahu soal itu?" ujarnya.
Topan mengangguk disertai senyuman, "Iya dong Kanaya, saya tahu semua yang terjadi di sekolah ini. Karena kan saya pemilik sah tempat kamu belajar ini, jadi saya bisa tahu deh," ucapnya.
"Oh iya ya, wajar sih kalau bapak tahu. Tapi pak, kenapa mesti saya yang dipilih ya? Saya kan terhitung masih murid baru disini," ujar Kanaya.
"Loh memangnya kenapa sih? Kamu tidak suka atau tidak berkenan untuk mewakili sekolah, hm? Kalau memang begitu, biar nanti saya sampaikan ke yang lain deh untuk mengganti kamu," ucap Topan.
"Eh eh, bu-bukan begitu pak. Maksudnya tuh saya mau tanya aja gitu, kenapa pihak sekolah bisa sampai memilih saya?" ucap Kanaya gugup.
"Ahaha, memangnya bu Sofi tidak jelaskan tadi?" tanya Topan balik.
"Ya udah sih pak, bu Sofi udah jelasin alasannya," jawab Kanaya menunduk.
Topan mendekat ke arahnya lalu mengusap puncak kepalanya, "Itu artinya saya tidak perlu lagi dong menjelaskan alasannya? Aduh, lucu banget sih calon menantu saya ini!" ucapnya terkekeh.
Deg!
Mata Kanaya membulat seketika, bisa-bisanya Topan mengatakan jika dirinya adalah calon menantunya. Padahal kedekatan Kanaya dan Arka hanya sebatas teman, namun sepertinya Topan berharap lebih dari hubungan mereka. Kanaya pun sungguh bingung saat ini, dirinya malu dan juga tak tahu harus mengatakan apa.
"Duh, apa katanya tadi? Calon mantu? Yang benar aja deh, masa iya pak Topan berharap kalau gue bakal jadi menantunya? Ya sebenarnya gue sih gak masalah, asalkan anak pak Topan ini bukan si Arka yang nyebelin dan mesum itu!" batin Kanaya.
Topan tak merasa heran dengan reaksi Kanaya, karena saat ini Kanaya kembali menatapnya dan tersenyum lebar. Topan pun menebak jika memang Kanaya senang dianggap sebagai calon menantu, padahal nyatanya Kanaya sangat-sangat tidak suka dan ingin protes saat itu juga. Hanya saja tak mungkin Kanaya berani melakukannya, sebab Topan usianya lebih tua darinya dan ia harus hormat padanya selaku pemilik sekolah itu.
Sementara dari arah lain, tampak Arka berhenti melangkah begitu melihat Kanaya tengah bersama papanya di depan sana. Pria itu amat penasaran melihatnya, ia bingung apa yang sedang dibicarakan oleh papanya bersama Kanaya. Karena khawatir Kanaya akan menceritakan yang terjadi tadi pagi dan juga mengenai sikap buruknya, maka Arka bergegas melangkah menghampiri mereka dan berteriak keras memanggil nama Kanaya serta papanya itu.
"Ck, itu papa ngapain sih sama Kanaya disana? Gawat nih kalau sampai Kanaya bongkar semuanya di depan papa, bisa dihukum gue!" gumam Arka dalam hati.
"KANAYA!!" teriakan Arka itu sontak membuat Kanaya maupun Topan menoleh bersamaan ke arahnya dan tampak kebingungan.
Tanpa banyak bicara, Arka yang sudah berada di dekat mereka langsung merangkul pundak Kanaya dan mengecup pipinya dengan lembut tepat di hadapan papanya. Tentu saja Kanaya terkejut, karena tak biasanya Arka melakukan hal seperti itu padanya. Sedangkan Topan yang melihat itu hanya tersenyum saja, dirinya jadi teringat pada momen dimana ia berpacaran dengan Cahaya dulu.
"Hey, kamu dicariin kemana-mana ternyata malah disini. Kemana aja sih kamu, hm? Gak tahu apa kalau aku tuh kangen banget sama kamu? Aku kan pengen selalu ada di dekat kamu Naya," ucap Arka dengan lembut dan menggoda.
"Hah? Ap—" baru saja Kanaya hendak berbicara, tapi terlebih dahulu Arka membungkamnya.
"Eh ternyata ada papa, pantas aja Kanaya aku tungguin gak datang-datang. Papa ini pasti yang bikin Kanaya lama kan? Ngapain sih pa, pake gangguin Kanaya segala?" ujar Arka ke papanya.
"Siapa yang gangguin Kanaya? Papa cuma mau tanya-tanya aja kok ke dia, kamu udah tahu belum kalau Kanaya dipilih buat jadi wakil sekolah di olimpiade matematika nanti? Pacar kamu ini hebat banget loh!" ucap Topan.
"Oh ya? Waw bagus dong kalo gitu! Tapi, kok kamu gak bilang sama aku Naya? Kamu gak anggap aku lagi ya?" ujar Arka.
Kanaya tampak geleng-geleng heran dengan ucapan Arka barusan, ia sungguh tak mengerti apa maksud pria itu mengatakannya di hadapan Topan saat ini. Apalagi tindakan Arka juga benar-benar meresahkan, dia dengan sengaja memeluk serta mencium Kanaya seolah-olah menunjukkan kalau mereka adalah pasangan kekasih.
"Nay, jawab dong! Apa kamu sengaja gak mau kasih tahu aku soal ini, hm? Parah banget sih kamu, gak anggap aku ya?" goda Arka.
"Ah gak gitu, gue kan daritadi belum ketemu sama lu. Niatnya abis dari sini mau cari lu gitu, udah deh gausah lebay. Lepasin ah risih tau di depan pak Topan!" ucap Kanaya coba berontak.
"Sssttt, udah gapapa. Papa juga pasti ngerti kok, kan papa pernah muda dulu," ucap Arka menahannya.
Topan tersenyum melihatnya, "Iya Kanaya, udah kamu tenang aja saya gak akan protes kok! Justru saya senang ngeliat kalian begini," ucapnya.
__ADS_1
"Tuh kan, aku bilang juga apa. Santai aja kalau di depan papa mah," ucap Arka tersenyum lebar.
Kanaya memutar bola matanya, mendengus pelan sambil berusaha menenangkan diri walau saat ini ia amat merasa risih berada dalam rangkulan Arka. Sedangkan Arka tampak tak ada niatan untuk melepas rangkulannya, sepertinya pria itu nyaman sekali merangkul gadis tersebut dan seolah ingin terus seperti itu.
"Tapi, kamu sudah tembak Kanaya nih ceritanya? Perasaan kemarin waktu ke rumah, Kanaya bilang kalau kalian gak pacaran," tanya Topan tiba-tiba.
"Eee itu dia pa, sebetulnya kita udah pacaran dari lama sih. Ya cuma Kanaya ini masih malu-malu kalo di depan orang, jadi dia begini deh. Aslinya mah kalo cuma sama aku, Kanaya manja banget pa dan minta dipeluk terus," jawab Arka asal.
Sontak Kanaya melotot ke arah Arka, ia tak terima dengan perkataan pria itu barusan. Rasanya ia ingin protes dan mengatakan yang sebenarnya, namun ia tidak cukup berani untuk melakukannya karena pasti Arka akan menghalanginya atau bahkan mengancam dirinya. Akhirnya Kanaya memilih diam dan pasrah, meski perasaannya sangat kesal pada apa yang dilakukan Arkana itu.
•
•
Setelah Topan pergi, kini Arka membawa Kanaya ke markasnya yang mana tempat itu sering dijadikan Arka untuk berkumpul bersama teman-temannya. Kanaya hanya bisa pasrah saat Arka mengajaknya datang kesana, dan saat ini gadis itu juga diminta untuk duduk santai bersamanya. Tampak di sekitar mereka ada cukup banyak orang-orang yang sedang asyik melakukan aktivitas mereka masing-masing, tentunya Kanaya merasa sangat resah kali ini.
Tak lupa Arka memberikan minuman pada Kanaya beserta cemilan yang sudah ia sediakan, sontak Kanaya kebingungan dan terpaksa mengambil makan serta minuman itu. Sejujurnya Kanaya ingin segera pergi dari sana dan menyusul Cempaka di kantin, namun ia yakin kalau Arka tidak mungkin akan melepaskan dirinya. Apalagi terlihat Arka sangat berhasrat untuk berbincang dengannya.
"Lu ngapain bawa gue kesini? Mana isinya cowok semua lagi, lu pengen bikin gue deg-degan? Please lah, minimal lu jangan ajak gue ke markas lu ini kek!" ucap Kanaya melayangkan protesnya.
Arka malah tersenyum dan mendekati gadis itu, ia menggenggam tangan Kanaya dengan erat sembari mengusapnya lembut. Kanaya yang merasa risih langsung saja menarik tangannya itu, tetapi Arka tak terima dan malah mendekap tubuh Kanaya dari samping. Akhirnya tubuh gadis itu telah dikuasai oleh Arka, tampak sekali kalau Arka memang ingin melakukan itu dan terlihat sangat nyaman.
"Gausah protes Nay, lu diam aja dan nikmati pelukan gue! Lagian gue sengaja bawa lu kesini, biar lu gak berani tolak gue," ucap Arka menyeringai.
"Ish, lu udah gak waras ya? Ayolah Arka, gue gak nyaman diginiin sama cowok! Apalagi cowoknya itu kayak lu, lepasin gue ah! Emang lu mau kalau gue laporin ini ke pak Topan?" kesal Kanaya.
"Laporin aja, paling reaksi papa ya biasa aja. Papa kan taunya kita ini pacaran, jadi wajar dong kalau gue peluk lu begini," ucap Arka santai.
"Ka, lepas ah gue gak suka!" pinta Kanaya.
"Bentar bentar, gue mau tanya sama lu. Sebenarnya kenapa sih lu selalu gak suka tiap kali dekat sama gue? Apa coba salah gue ke lu?" ujar Arka.
Kanaya mengernyit dengan tatapan kejutnya, "Lu masih nanya begitu ke gue? Eh Arka, lu lupa ya apa yang lu lakuin ke gue waktu itu? Lo udah bikin gue malu di depan teman-teman lu, dan sekarang lu minta gue buat dekat sama lu?" ujarnya kesal.
"Ohh, yah elah lu masih ingat-ingat aja sih soal itu. Gue kan udah hapus videonya, lagian gue juga gak pernah bawa lu ke markas the flash lagi. Ayolah, lupain itu ya!" ucap Arka membujuknya.
"Gimana bisa gue lupain? Yang lu lakuin itu tuh bikin gue sakit tau, lepas ah!" sentak Kanaya.
"Gue gak akan lepasin lu, gue itu mau buktiin ke lu kalau gue sayang sama lu! Lu harus percaya sama gue, gue udah berubah Nay!" ucap Arka memaksa.
"Gue gak percaya sama orang kayak lu, paling lu deketin gue cuma penasaran aja kan! Atau lu emang pengen tubuh gue aja," ucap Kanaya tegas.
"Hahaha, kepedean banget sih lu! Emang lu kira tubuh lu bagus apa? Hih!" elak Arka.
Kanaya menggerutu kesal dibuatnya, ia terus memukul-mukul tubuh Arka yang memeluknya itu dan meminta dilepaskan. Namun, Arka tetap bersikeras ingin memeluk gadis itu dan tak mau melepasnya. Kali ini bahkan Arka dengan berani mencium leher Kanaya, membuat sang empu bergidik dan semakin gelisah tak karuan.
"Emang iya Nay, tubuh lu itu bagus banget dan bikin gue penasaran. Seandainya lu mau jadi pacar gue, pasti gue bakal beruntung banget!" gumam Arka di dalam hatinya.
Kanaya semakin tidak dapat berbuat apa-apa, kelakuan Arka sudah di luar batas dan ia ingin segera mengakhiri itu. Akan tetapi, Arka sangat pandai mengunci tiap anggota tubuhnya sehingga Kanaya tak bisa berbuat apa-apa. Ya Arka memang sudah terbiasa menyentuh wanita, meski baru satu kali ada yang berhasil menjadi kekasihnya.
Tiba-tiba saja, Fajri yang kebetulan ada disana merasa heran melihat Arka terus berpelukan dengan Kanaya dan tampak sangat akrab. Padahal Arka sendiri lah yang sebelumnya membuat peraturan di antara mereka tidak boleh ada yang berpacaran atau menjalin hubungan dengan para junior, tapi kali ini justru Arka sendiri yang mengingkari itu.
"Eh Ka, buset deh lu demen amat peluk si Kanaya! Katanya kita gak boleh pacaran sama dekel, terus ini lu apa ha?" tegur Fajri.
Arka tersentak tapi tak melepaskan pelukannya, "Yah elah lu ganggu momen gue sama Kanaya aja sih, udah deh lu gausah banyak omong! Gue itu cuma temanan sama Kanaya," ucapnya mengelak.
"Halah alasan aja lu, mending lu ngaku sekarang kalau lu suka sama Kanaya! Jadi, gue juga bisa deketin si Cempaka deh," ucap Fajri.
__ADS_1
"Yeh enak aja lu! Peraturan tetap peraturan, kita gak boleh pacaran sama adik kelas kita sendiri! Kalau lu melanggar, lu siap-siap bakal dikeluarin dari kelompok kita!" cibir Arka.
"Iya iya..."
Iqbal yang kebetulan ada disana tak sengaja mendengar perkataan Fajri tadi, rahangnya langsung mengeras dan tangannya terkepal kuat karena emosi. Tentu Iqbal tak terima jika Fajri ingin mendekati Cempaka, sebab gadis itu adalah miliknya dan tidak ada yang boleh mendekati Cempaka selain dirinya. Namun, kali ini Iqbal harus menahan emosi karena tidak ingin semua rahasianya terbongkar di depan Arka.
Sementara Arka semakin mendekap erat tubuh Kanaya, menciumi wajah serta lehernya berkali-kali tanpa mau berhenti. Sepertinya Arka sengaja memamerkan kedekatannya dengan Kanaya itu di depan Fajri sohibnya, tentu agar Fajri semakin kesal dan panas dibuatnya. Hingga akhirnya Fajri memilih pergi dari sana, membiarkan Arka berbuat sesuka hatinya pada Kanaya tanpa perduli lagi.
"Nay, lu wangi banget sih! Gue jadi gak bisa berhenti ciumin tubuh lu," gumam Arka yang tak diperdulikan oleh Kanaya.
•
•
Sepulang sekolah, Kanaya yang tak memiliki cukup uang untuk memanggil taksi pun terpaksa menaiki angkot dari depan sekolahnya. Kanaya duduk di kursi paling pojok tepat sebelah seorang wanita dewasa yang sepertinya habis berbelanja, dan tempat yang lain terlihat masih kosong. Namun, tak lama kemudian rombongan laki-laki murid SMA harapan indah naik ke dalam angkot tersebut dan membuat penuh suasana disana. Kanaya pun sedikit gugup dibuatnya, tapi ia memilih bersikap santai.
Awalnya semua biasa-biasa saja, karena masih ada satu orang wanita dewasa duduk di sebelahnya. Lalu, para lelaki itu juga terlihat bersikap santai dan saling mengobrol satu sama lain tanpa perduli dengannya. Namun, semua berubah ketika si ibu penumpang itu turun dan menyisakan Kanaya saja sebagai satu-satunya wanita disana. Sontak salah seorang lelaki menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat dengan Kanaya dan tersenyum ke arahnya disertai siulan menggoda.
"Cantik amat dek, lu anak harapan indah juga kan? Kelas berapa sih, kok gue baru lihat lu ya? Mana montok lagi," goda pria bernama Fadli.
Kanaya memilih diam dan membuang muka, kebetulan saat ini ia duduk di pojok sambil memeluk tas miliknya di pangkuan. Akan tetapi, tindakan Fadli semakin membuatnya geram. Ya pria itu dengan sengaja menempelkan tubuhnya sehingga diantara mereka tidak ada jarak, bahkan sesekali Fadli juga berupaya menggodanya dengan membelai rambut milik gadis itu.
"Lo jangan kurang ajar bisa gak!" Kanaya yang kesal pun membentak pria itu dengan keras.
"Wuih galak amat nih cewek! Eh dek, asal lu tahu ya kita ini senior lu di sekolah dan harusnya lu takut sama kita! Bukan malah berani bentak kayak gitu, dasar cewek aneh!" cibir Fadil.
"Tau, lagian lu emang kelas berapa? Sepuluh ya? Nama lu siapa sih? Gak kelihatan tuh name tag ketutupan sama tas lu," timpal Dolly.
"Gue anak baru, pindahan dari Bandung dan sekarang gue kelas sebelas. Tolong kalian jangan gangguin gue, gue cuma pengen pulang!" ucap Kanaya gemetar menahan takut.
"Hahaha.." dirinya malah ditertawakan oleh Fadli beserta rombongannya itu, sontak Kanaya pun semakin ketakutan kali ini.
"Duh, gimana ini ya? Nyesel deh gue naik angkot, mending tadi gue terima aja tawaran Arka buat pulang bareng dia!" batin Kanaya.
"Heh dek cantik, mukanya lihat kesini dong jangan kesana mulu! Kita kan pada disini tau, udah santai aja gausah takut!" ucap Fadli berusaha menarik wajah Kanaya agar menatap ke arahnya.
"Ish, jangan kurang ajar ya!" sentak Kanaya.
"Buset tenang dong, kalem! Makanya kalau gak mau dipegang, lu ngeliat kesini dong! Kita cuma mau kenalan sama lu kok," ucap Fadli.
"Apa sih? Gue gak mau!" tolak Kanaya.
"Eits, sombong amat nih cewek! Untung cantik, kalo enggak udah kita hajar lu rame-rame!" ucap Dolly.
"Gak jelas!" cibir Kanaya.
"Nama lu siapa sih, hm? Kasih tahu lah, nanti kita semua juga bakal kasih tahu nama kita masing-masing deh," pinta Fadli.
"Iya, lu tenang aja karena kita gak bakal apa-apain lu kok!" sahut Dolly.
Kanaya terdiam bingung, menatap sekeliling yang mana saat ini dirinya sudah dikepung oleh tujuh orang pria sekaligus di dalam sana. Meski ia tahu ketujuh pria itu adalah kakak kelasnya di sekolah, namun tetap saja Kanaya khawatir karena tampaknya para pria itu ingin melakukan sesuatu yang buruk padanya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...♥️♥️♥️...
__ADS_1