
Begitu jam pulang tiba, Kanaya beserta Cempaka keluar bersamaan dari kelas mereka sembari mengobrol dengan ceria. Kanaya sungguh merasa senang, sebab di hari pertama ia sekolah dirinya sudah mendapat cukup banyak teman dekat dan tak ada satupun yang memusuhinya. Bahkan bisa dibilang, Kanaya menjadi siswi yang populer di sekolah itu, amat berbeda dengan ketika Kanaya masih bersekolah di Bandung sebelumnya.
Namun, keceriaan gadis itu berhenti seketika saat di depannya berdiri sosok pria yang sangat ia benci. Ya tampak Arkana ada di hadapannya saat ini dan tengah memandangnya sambil tersenyum, tentunya Kanaya merasa risih serta khawatir karena ia tahu Arka sempat mengancam akan membuat hidupnya menjadi tidak tenang jika ia tidak mau bergabung dengan gengnya disana.
"Eh kak Arka, ada apa ya kak? Aku udah serahin uang setoran kok tadi pagi, anak-anak yang lain juga kayaknya udah," ucap Cempaka.
Arkana menggeleng sambil tersenyum dan beralih menatap wajah Kanaya, "Bukan soal itu, gue pengen bicara sama gadis di samping lu ini. Mending lu pergi duluan, biar gue bisa bicara berdua sama dia," ucapnya.
"Hah? Maksudnya kakak mau bicara sama Kanaya? Waduh, kak tolong jangan apa-apain Kanaya ya! Dia itu murid baru disini," ucap Cempaka khawatir.
"Gak perlu ngajarin gue, udah sana lu pergi dan jangan ikut campur!" sentak Arka.
"I-i-iya kak.." dengan gugup akhirnya Cempaka terpaksa pergi meninggalkan mereka, tapi sebelumnya ia sempat berbicara sejenak pada Kanaya dengan berbisik.
"Eh Kanaya, lu hati-hati ya! Kak Arka itu orangnya seram dan suka jahil," bisik Cempaka di telinga sahabatnya itu.
"Okay," lirih Kanaya singkat.
Setelahnya, barulah Cempaka pergi dari sana dan membiarkan Kanaya berada disana bersama Arka. Meskipun Cempaka sedikit merasa khawatir pada sahabat barunya itu, makanya Cempaka pun memilih bersembunyi dari jarak jauh untuk mengamati Arka dan Kanaya disana.
__ADS_1
Sementara Arkana kini tampak menghampiri Kanaya dan tersenyum menatapnya, sedangkan Kanaya sendiri malah memalingkan wajahnya seolah menunjukkan ketidaksukaannya pada sosok pria yang ada di hadapannya. Namun, Arka dengan mudahnya berhasil menarik wajah Kanaya agar menatap ke arahnya.
"Lu jangan sok cuek gitu sama gue! Pulang bareng yuk!" ucap Arka dengan ramah.
Kanaya mengernyit heran, "Maksud lu gimana? Kenapa tiba-tiba lu ngajakin gue pulang bareng kayak gini?" tanyanya tak percaya.
"Gak ada maksud apa-apa kok, gue cuma pengen ngajakin lu pulang bareng aja," jawab Arka.
"Haish, gue gak percaya sama lu. Gue yakin pasti ada yang lu rencanain kan!" sentak Kanaya.
Arka menggeleng seraya mengusap lembut pipi Kanaya dengan jarinya, "Gak ada kok, percaya sama gue. Udah ayo kita pulang sekarang!" ucapnya sambil hendak menggandeng tangan Kanaya.
Namun, dengan cepat Kanaya menepisnya dan mendorong tubuh Arka menjauh darinya. Gadis itu tampak sangat tegas dan tidak mau jika ada siapapun lelaki menyentuh tubuhnya, tapi tentu Arka tidak semudah itu untuk gentar dan akan terus berusaha menaklukkan kerasnya hati Kanaya.
"Tapi, gue yang gak senang Kanaya," ucap Arka.
"Bodoamat!" Kanaya menghentak kesal dan langsung berjalan melewati tubuh pria itu, akan tetapi dengan cekatan Arka mencekal lengan Kanaya dan mencengkeramnya kuat.
"Mau kemana sih Kanaya? Ayo lu ikut gue, gue gak bakal apa-apain lu kok!" ucap Arka memaksa.
__ADS_1
"Kenapa lu maksa gue sih? Gue jadi makin yakin, pasti lu ada sesuatu kan!" geram Kanaya.
Arka menggeleng, "Enggak, gue cuma pengen ajak lu pulang bareng. Emang salah ya kalau gue begitu?" ucapnya mengelak.
"Halah gue gak percaya, lu itu kan orang jahat!" ucap Kanaya tegas.
"Kata siapa? Gue baik kok, buktinya gue gak nyakitin lu sekarang," ucap Arka.
"Ish, yaudah lepas!" pinta Kanaya sembari berusaha melepaskan diri.
"Okay gue lepasin, tapi lu harus mau pulang bareng sama gue!" paksa Arka.
Kanaya terdiam selama beberapa saat, ia berpikir dan akhirnya menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Arkana. Meskipun Kanaya masih belum yakin seratus persen bahwa pria itu tidak akan menjahilinya nanti, tapi saat ini Kanaya tak memiliki pilihan lain karena Arka terus saja memaksanya.
"Iya iya, gue mau dianterin sama lu!" ucap Kanaya pasrah dan membuat Arka tersenyum.
"Nah gitu dong, yaudah ayo ikut sama gue!" ucap Arka dengan semangat.
Kanaya memutar bola matanya, setelah tangannya dilepas ia pun melangkah lebih dulu meninggalkan Arka yang masih senyum-senyum disana. Sepertinya pria itu memang memiliki rencana terhadap Kanaya, namun Kanaya belum mengetahui apa yang sedang ada di dalam pikiran Arka saat ini.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...