
Arka akhirnya benar-benar mengantarkan Kanaya ke kostnya kali ini, setelah sebelumnya pria itu malah membawa gadis itu ke rumahnya dan diajak menemui kedua orangtuanya. Tentu saja niat Arka adalah untuk mengerjai Kanaya, sebab ia yakin pasti Kanaya akan mengira jika dirinya menyukai gadis itu dan tidak lagi ada kata musuh diantara mereka. Padahal nyatanya Arka masih menyimpan rasa kesal pada Kanaya, yang dianggap sudah terlalu dalam ikut campur ke dalam urusannya kemarin.
Kini Kanaya turun dari motor milik pria itu dan melepas helmnya, tak lupa Kanaya mengembalikan helm tersebut kepada si pemilik agar tidak ada alasan lagi bagi Arka untuk bisa kembali dan menemuinya disana. Kanaya pun berniat langsung pergi sesudah mengucap kata terima kasih pada Arkana, namun pria itu seolah tidak ingin berpisah dengan Kanaya dan kembali menahan tangannya dari posisi masih di atas motor.
"Tunggu Kanaya! Mau kemana sih lu buru-buru amat? Ini kita udah di depan kost lu loh, santai aja kali gausah ngebut gitu!" kekeh Arka.
Kanaya memutar bola matanya malas, ia langsung menarik tangannya lepas dari genggaman pria itu karena ia sudah berulang kali mengatakan kalau dirinya paling anti disentuh oleh pria manapun itu. Akan tetapi, Arka tak kehabisan akal untuk menggoda wanita di hadapannya. Ya Arka kini turun dari motornya dan berjalan mendekati Kanaya, membuat gadis itu reflek bergerak mundur.
"Lo mau ngapain? Jangan macam-macam ya Arka, gue bisa teriak nih sekarang!" ucap Kanaya ketakutan dan terus berjalan mundur berupaya menjauhi Arkana.
"Hahaha, lu ngapain takut sih? Gue cuma pengen benerin rambut lu ini yang berantakan tadi gara-gara helm," ucap Arka sembari tertawa dan merapihkan rambut gadis itu dengan satu tangannya, tindakan ini lah yang membuat jantung Kanaya berdebar-debar.
"Ish gak perlu, gue bisa sendiri kok kalo cuma gini!" sentak Kanaya menyingkirkan tangan Arka.
Arka tersenyum melihat reaksi Kanaya yang menurutnya amat menggemaskan, terlebih saat gadis itu berusaha membenarkan ikat rambut yang dia kenakan. Entah mengapa tampilan Kanaya saat ini begitu menggoda baginya, Arka seperti tengah melihat sosok bidadari di depan matanya yang mampu menyihir hati dan pikirannya.
"Lo kenapa bisa secantik ini sih Kanaya? Gue jadi pengen milikin lu deh," gumam Arka yang masih dapat didengar oleh Kanaya.
"Maksud lu apa? Emangnya gue barang yang bisa lu balikin? Jangan sembarangan deh!" ketus Kanaya.
"Yah elah galak amat sih! Maksud gue tuh bukan gitu Naya, dengerin dulu makanya!" ucap Arka ikut terpancing.
"Ah udah lah, gue mau masuk!" kesal Kanaya.
__ADS_1
Namun, lagi-lagi Arka menahan gadis itu dengan cara menggenggam tangannya cukup kuat. Kanaya pun mendengus kesal, langsung mengarahkan pukulan ke dada si pria bertubi-tubi sampai akhirnya pria itu melepaskan tangannya. Tapi tetap saja, Arka terus menghalangi jalan Kanaya seolah tak membiarkan gadis itu pergi darinya.
"Lo gak boleh masuk, gue tuh masih pengen sama lu tau. Eee gimana kalau gue ikut ke dalam deh? Gue haus nih, numpang minum ya?" ucap Arka.
Kanaya mengernyitkan dahinya, "Hah? Gak mau, lu gak boleh masuk ke dalam! Ini tuh kostan cewek, apa kata orang nanti kalau tahu gue bawa cowok ke dalam?" ucapnya menolak.
"Gapapa kali, lagian disini gak ada orang tuh. Ayolah, kali ini aja kok biarin ya gue masuk ke kost lu buat minum sebentar!" bujuk Arka.
"Arka, lu tuh gila apa gimana sih? Emang lu kira gue bakal biarin lu gitu aja buat masuk ke dalam kamar gue gitu? Gak bakal ya, apalagi lu tuh cowok berandal yang suka bully orang!" ucap Kanaya.
"Buset, nyelekit amat tuh kata-kata! Gue udah berubah kali, gue gak kayak gitu lagi. Semuanya gue lakuin demi bisa deket sama lu," ucap Arka.
"Bohong! Gue lebih percaya Christiano Ronaldo lahir di Aceh, daripada sama omongan lu barusan! Mana mungkin cowok kayak lu bisa dipercaya? Dah ah sana pulang lu!" cibir Kanaya.
"Yeh gitu amat lu sama gue, awas nanti naksir loh!" goda Arka.
Disaat mereka sedang berbincang, tiba-tiba sebuah motor dan mobil datang ke depan sana lalu berhenti tepat di dekat mereka. Arka serta Kanaya sangat terkejut dibuatnya, apalagi yang datang kesana adalah Wahyu bersama dua orang wanita yang tak lain ialah Zee dan Gloria. Kedua wanita itu kini turun dari mobil, mereka langsung menghampiri Kanaya dengan wajah lesu dan menunduk.
"Eh Ka, lu ternyata disini juga? Oh gue tau, pasti lu abis anterin Kanaya pulang ya? Bagus deh, gue senang lihat lu makin dekat sama Kanaya!" ucap Wahyu sambil tersenyum.
"Iya dong, lu doain aja ya supaya Kanaya mau hilangin gengsinya dan terima gue buat jadi pacar dia!" ucap Arka sembari menatap Kanaya dan tersenyum lebar.
"Apaan sih? Gausah ngarep deh lu, gue gak mungkin suka sama lu apalagi mau jadi cewek lu!" ucap Kanaya protes.
__ADS_1
"Yaudah, mungkin Kanaya cuma butuh waktu buat sadar sama perasaannya. Lu sabar aja dulu, Ka!" ucap Wahyu terkekeh.
Arka tersenyum lebar mendengarnya, sedangkan Kanaya tampak memutar bola mata karena malas sekali harus meladeni ucapan dua orang pria yang tidak jelas itu. Lalu kemudian, Arka beralih menatap Zee dengan tatapan tajamnya disertai dua tangan terlipat di bagian depan tubuhnya. Jujur Arka tak senang melihat kehadiran dua gadis itu disana, ia pun sontak bertanya apa maksud mereka.
"Ini kalian berdua ngapain kesini? Mau cari gara-gara lagi sama Kanaya? Oh atau lu gak suka lihat gue dan Kanaya dekat-dekat begini, iya?" tanya Arka pada mereka dengan ketus.
"Bukan gitu, Ka. Kita kesini karena dipaksa sama Wahyu kok," jawab Zee gugup.
Arka tersentak lalu beralih menatap sahabatnya, "Maksudnya apa? Beneran lu yang paksa mereka dan bawa mereka kesini?" tanyanya penasaran.
"Iya Ka, tapi gue cuma pengen minta mereka berdua buat minta maaf sama Kanaya secara langsung. Karena kan setelah apa yang mereka lakukan saat itu ke Kanaya, mereka belum sempat minta maaf loh sama dia," jelas Wahyu.
"Iya gue tahu niat lu baik, tapi ini bisa jadi bahaya buat Kanaya. Sekarang nih dua cewek murahan ini jadi tahu dimana Kanaya tinggal, gimana kalau mereka apa-apain Kanaya, ha?" ujar Arka.
"Lo tenang aja Arka, kita gak mungkin celakai Kanaya lagi kok! Kita kesini cuma mau minta maaf sama Kanaya, dan kita janji gak akan mengulangi kesalahan itu!" ucap Zee.
"Iya, Kanaya lu mau kan maafin kita berdua?" sahut Gloria dengan sedikit lesu.
Kanaya menatap dua gadis itu dengan bingung, sejujurnya ia masih belum bisa melupakan kejadian yang ia alami saat itu dimana dirinya benar-benar dibuat terluka oleh keduanya. Ada rasa dendam dan amarah yang kuat di dalam dirinya, tetapi kini Kanaya harus melupakan semua itu karena niat baik dari Zee maupun Gloria untuk meminta maaf.
Arka serta Wahyu pun kompak menatap wajah Kanaya dari tempat mereka masing-masing, seolah menantikan apa jawaban dari gadis itu. Sedangkan Zee perlahan mulai melangkah maju mendekati Kanaya, diikuti Gloria dari belakangnya. Tanpa diduga, kedua gadis itu membungkuk lalu mencium kaki Kanaya seperti yang diminta Wahyu tadi.
Deg!
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...