Arkana

Arkana
Bab 40. Mulai nyaman


__ADS_3

Cahaya baru selesai membuat teh hangat di dapur dan berniat duduk di sofa ruang tamu sambil menunggu seseorang yang akan datang, perlahan Cahaya meletakkan cangkir teh itu di atas meja lalu membuka laptop miliknya. Disana ia sudah menyediakan berbagai persiapan dalam pertemuan nanti dengan seorang klien, hanya saja Cahaya tak tahu jika tamu yang datang kali ini adalah Topan.


Tak lama kemudian, bik Mumun yang merupakan pekerja di rumahnya itu datang menghampirinya membawa kabar mengenai tamu yang sudah datang kesana. Sontak Cahaya segera mempersilahkan tamu itu untuk masuk, dan ia juga meminta pada bik Mumun agar tamu di luar sana disegerakan masuk ke dalam menemuinya karena ia memang sudah siap dan menunggu kehadiran tamu itu daritadi.


Setelahnya, seseorang itu pun muncul di dekatnya dan menemuinya. Bik Mumun langsung memberitahu pada Cahaya bahwa saat ini tamunya sudah berada disana, sontak Cahaya mendongak menatap si tamu yang ia tunggu itu. Namun, betapa kagetnya Cahaya saat menyadari yang datang kesana dan berdiri di hadapannya adalah Topan dan bukan tamu yang sedari tadi ia tunggu.


"Eee bu, saya ke dapur dulu ya? Saya mau buatin minum buat tamu ibu," ucap Mumun.


"I-i-iya bik, silahkan!" ucap Cahaya gugup.


Bik Mumun pun pergi ke dapur membuatkan minuman, sementara Topan kini mulai melangkah mendekati Cahaya dan berhenti tepat di depannya. Topan sungguh senang dapat melihat Cahaya kembali melalui kedua bola matanya, ini merupakan momen yang ia nanti-nantikan sejak lama. Namun, Cahaya justru merasa kesal lantaran Topan menyamar sebagai tamu di rumahnya.


"Hai Cahaya! Aku senang banget bisa lihat dan ketemu kamu lagi sekarang, jujur aku kangen sama kamu!" ucap Topan lirih.


"Mau ngapain kamu disini? Tahu darimana kamu rumah aku, ha? Perasaan aku gak pernah kasih tahu kamu dimana alamat aku, kenapa bisa kamu tiba-tiba datang dan ngaku sebagai tamu aku?" sentak Cahaya menahan emosi.


"Aya, kamu tenang dulu ya! Aku gak pernah ngaku jadi tamu kamu, aku cuma bilang kalau aku pengen ketemu kamu. Eh satpam kamu sendiri yang bilang kalau aku ini tamu kamu," jelas Topan.


"Dari dulu aku gak pernah percaya sama kamu, Topan!" ucap Cahaya kesal.


"Oh ya, aku ingat itu kok Aya. Sampai sekarang juga pasti kamu masih cinta sama aku kan?" ucap Topan dengan percaya diri.


Cahaya terkekeh sembari menggelengkan kepalanya, "Hahaha, pede banget ya kamu Topan! Kata siapa aku masih cinta sama kamu? Padahal sejak dulu, aku juga gak pernah jatuh cinta atau apalah itu sama kamu!" ucapnya mengelak.


"Kamu gak perlu mengelak, aku tahu kok kalau sampai saat ini kamu masih single dan belum menikah. Pasti itu karena kamu gak bisa lupain aku kan Aya?" ujar Topan.


Deg!


Cahaya begitu terkejut mendengarnya, ia tak menyangka jika Topan telah tahu banyak mengenai dirinya saat ini. Rupanya pria itu memang sempat mencari tahu terlebih dahulu semua tentang Cahaya, sehingga Topan bisa mendapatkan informasi kalau Cahaya memang belum menikah sampai saat ini dikarenakan gagal moveon.


"Kamu gausah kepedean deh, aku belum menikah itu gak ada hubungannya sama kamu!" elak Cahaya.


Topan tersenyum saja mendengarnya, lalu perlahan ia mendekati wanita itu dan meraih tangannya untuk digenggam. Langsung saja Cahaya mengelak karena tak suka dengan itu, Topan pun merasa sedih tapi tetap berusaha tenang di hadapan Cahaya. Topan sadar jika Cahaya mungkin masih kecewa padanya, setelah kejadian beberapa tahun lalu.


"Kamu jangan pernah berani pegang-pegang tangan aku! Ingat ya Topan, kita udah gak ada hubungan apa-apa dan kamu juga sudah punya istri serta anak! Jadi, sebaiknya kamu pergi dari sini!" ucap Cahaya.


"Kenapa sih kamu segitunya benci sama aku? Padahal aku kesini cuma mau jadi teman kamu loh, apa salah?" ucap Topan heran.


"Jelas salah, gak seharusnya laki-laki yang sudah beristri mendatangi rumah perempuan seperti ini! Kamu lebih baik pergi, atau aku panggil security buat usir kamu!" ucap Cahaya.


"Enggak Cahaya, aku masih mau tetap disini. Kamu tolong jangan usir aku, aku janji aku gak akan ganggu kamu kok!" paksa Topan.


"Apa sih Topan? Mau apa lagi coba kamu disini? Hubungan kita sudah berakhir, dan diantara kita tidak ada apa-apa lagi. Kamu juga udah punya anak, jadi tolong kamu pergi sekarang dari rumah aku dan jangan pernah datang lagi!" ucap Cahaya.


"Kalau aku gak mau pergi, gimana?" goda Topan.


Cahaya menggeram kesal, segala ingatan masa lalunya yang muncul di kepala membuat wanita itu justru semakin emosi dan tidak tahan melihat keberadaan Topan di depannya. Kedua tangan Cahaya mengepal kuat, lalu mendorong tubuh Topan sampai terhuyung ke belakang dengan sekuat tenaga hingga membuat pria itu terkejut.


Tak lama kemudian, sang satpam di rumahnya pun datang bersama Santoso yang merupakan tamu asli Cahaya. Sontak satpam itu bergegas menemui Cahaya dan meminta maaf padanya karena telah salah menyuruh orang masuk, dan Cahaya pun terpaksa menahan emosinya karena tidak enak di hadapan tamunya yaitu pak Santoso.


"Permisi bu," ucap satpam itu menegur majikannya dengan sopan.


Cahaya sontak beralih menatap satpamnya itu, "Ah iya, ada apa?" tanyanya singkat.


"Begini bu, saya mau minta maaf. Tadi saya salah orang bu dan saya malah mengizinkan bapak ini untuk masuk kesini, padahal seharusnya pak Santoso itu yang ini bu," jelas satpam itu.


"Halo bu Cahaya, selamat siang!" sahut Santoso menyapa wanita itu.

__ADS_1


"Ya siang, silahkan duduk pak! Oh ya, kamu tolong bawa pria gak jelas ini keluar ya Gibran! Saya ada urusan penting dengan pak Santoso," ucap Cahaya.


"Baik Bu!" satpam bernama Gibran itu bergerak mendekati Topan dan berniat menggiringnya pergi.


"Maaf pak, mari ikut saya keluar! Bapak tidak seharusnya berada disini," ucap Gibran.


"Apaan sih? Lepasin! Saya bisa keluar sendiri, singkirkan tangan kamu itu dan jangan coba-coba sentuh saya lagi!" geram Topan.


"Baiklah, silahkan pak!" ucap Gibran menurut.


Topan melirik Cahaya sekilas, namun wanita itu justru membuang muka seolah tak ingin melihatnya. Topan pun terpaksa keluar dari rumah itu karena tak ingin membuat Cahaya merasa terganggu, meski sebenarnya Topan masih ingin berada di dekat Cahaya karena ia amat merindukan wanita itu. Namun, untuk kali ini ia memilih sabar dan mengalah saja lebih dulu.


Saat di luar, Topan masih terus memandangi rumah besar itu dengan senyum terlukis di wajahnya. Pria itu ingat betul saat-saat kebersamaan dirinya dengan Cahaya kala itu, walaupun hubungan mereka harus kandas karena satu hal. Jujur saja Topan menyesal telah meninggalkan Cahaya, andaikan waktu bisa diputar maka pasti Topan tidak akan pernah pergi dari Cahaya.


"Maafkan aku, Cahaya. Tapi, aku janji akan menebus semua kesalahan itu dan bikin kamu bahagia!" batin Topan sebelum pergi dari sana.




Kanaya tersenyum dan bersalaman dengan Fadli dengan gugup, tak lama ia melakukan itu karena setelahnya Kanaya langsung saja melepas tangan Fadli dan kembali membuang muka. Namun, tiba-tiba Dolly pun ikut menyodorkan tangannya begitu juga dengan teman-temannya yang lain. Tentu Kanaya tak ada pilihan lain, ia terpaksa menyalami mereka semua satu persatu disana.


Karena tempat tinggalnya sudah dekat, Kanaya pun meminta sang supir berhenti dan segera turun dari angkot itu setelah membayarnya. Kanaya melangkah dengan tergesa menuju kostnya, ya sebab dari jalan raya ia masih harus jalan beberapa meter lagi ke depan sebelum sampai di tempatnya. Namun, tanpa ia sadari rupanya Fadli beserta rombongannya ikut turun disana dan berjalan perlahan di belakangnya.


Kanaya masih belum sadar akan hal itu, ia terus saja berjalan ke depan tanpa menoleh ke belakang. Sehingga Kanaya tak tahu jika saat ini ia sedang diikuti oleh para lelaki tadi, apalagi Fadli dan yang lainnya semakin mendekat dan tampak tersenyum lebar memperhatikan tubuh Kanaya yang berada tepat di depan mereka. Kanaya baru sadar saat Fadli sudah berada di sampingnya, bahkan pria itu menyapanya serta mencolek pipinya.


"Hai Kanaya! Jadi, lu tinggal di daerah sini ya? Pas banget dong, kita juga sering main kesini loh," ucap Fadli sambil tersenyum lebar.


Deg!


Kanaya terkejut bukan main melihatnya, "Kalian kok ikutin gue sih? Ka-kalian mau apa? Jangan macam-macam ya, gue teriak nih supaya kalian dihajar warga!" ucapnya gugup.


"Iya Kanaya, santai aja kali gausah ketakutan gitu! Kita ini kan senior lu, kita pasti gak bakal apa-apain lu kok!" sahut Dolly.


Kanaya menggeleng ketakutan, "Enggak, gue gak percaya sama kalian. Sana kalian pergi dan jangan ikutin gue terus!" ucapnya tegas.


Namun, bukannya pergi justru mereka semua berdiri mengelilinginya sambil tertawa puas. Sontak Kanaya bertambah panik, ia tak tahu harus melakukan apa untuk bisa menghindar dari mereka semua. Apalagi Fadli berada sangat dekat dengannya, bahkan pria itu dengan berani mulai meraih tangan Kanaya dan mengusapnya perlahan.


"Mulus banget sih tangan lu, wajar lah ya orang Bandung emang cantik-cantik. Harusnya gue kenal lu dari lama," ujar Fadli.


"Cukup, jangan kurang ajar!" Kanaya menarik tangannya dari genggaman Fadli dan langsung memukul wajah pria itu dengan keras.


Bugghhh


"Awhh sialan! Lo emang harus dikasih pelajaran!" geram Fadli.


Sekumpulan pria itu mulai mendekatinya dan memegangi tubuhnya, Kanaya berusaha berontak sekuat tenaga untuk menghadapi mereka semua. Akan tetapi, usahanya sia-sia karena tenaganya tentu jauh jika dibandingkan ketujuh pria itu. Beruntungnya sebuah motor muncul dan membuat semua terkejut, akhirnya Dolly serta yang lain melepaskan Kanaya karena pemotor itu menerobos kumpulan mereka.


TIN TIN TIN...


Kini Kanaya berhasil lepas dari kerumunan orang itu, ia menoleh ke arah pemotor yang tadi datang menolongnya dan terkejut bukan main. Ya pemotor itu rupanya adalah Arka, entah bagaimana bisa dia ada disana Kanaya pun tak tahu. Apalagi tadi seingat dirinya, Arka datang ke sekolah menggunakan mobil. Namun, kali ini tanpa diduga pria itu justru datang menemuinya dengan motor miliknya.


"Arka?" lirih Kanaya yang masih terus memandangi wajah si pria di dekatnya.


"Ayo Kanaya, cepat naik! Lo gak mau kan jadi santapan orang-orang itu?" suruh Arka.


"Hah? Eee..."

__ADS_1


"Udah gausah banyak mikir, cepetan naik!" Arka langsung memotong ucapannya dan menarik tangan gadis itu agar mau menurut padanya.


"I-i-iya deh.." akhirnya Kanaya terpaksa naik ke atas motor Arka karena tak memiliki pilihan lain.


Kanaya pun berhasil dibawa kabur oleh Arka, sedangkan Fadli serta teman-temannya merasa kesal lantaran mereka gagal menemukan dimana tempat tinggal Kanaya. Tapi setidaknya, mereka sudah tahu daerah tempat tinggal gadis itu. Dan sewaktu-waktu nanti, mereka bisa saja datang kembali kesana untuk mencari keberadaan Kanaya.


"Sial! Kenapa sih Arka mesti datang segala? Bikin kacau aja tuh anak!" umpat Fadli tampak jengah.




Singkat cerita, Kanaya tiba di kostnya bersama Arka yang tadi datang menolongnya. Gadis itu segera turun dari motor dan dapat bernafas lega karena ia telah lepas dari kerumunan orang tadi, padahal ia sempat panik dan berpikir yang tidak-tidak karena sudah tak punya cara lagi untuk melepaskan diri. Apalagi ia hanya sendiri, sedangkan laki-laki tadi semua berjumlah tujuh orang.


Arka pun tersenyum menatapnya, mengusap wajah gadis itu secara tiba-tiba hingga sang empu terkejut lalu beralih ke arahnya. Kali ini Kanaya tak protes karena memang ia menikmati sentuhan itu, terlebih Arka sudah menolongnya tadi sehingga ia rasa tak ada salahnya kalau ia membiarkan Arka menyentuhnya kali ini. Meski rasa benci di dalam hatinya masih belum hilang sepenuhnya, karena Arka merupakan anggota gangster liar.


"Lo gausah panik lagi, mereka udah gak ngejar kita kok! Sekarang lu bisa tenang dan jangan cemas!" ucap Arka lembut.


Kanaya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis, "Iya Arka, thanks banget ya udah bantuin gue tadi! Eee lu mau minum gak? Masuk dulu yuk, biar gue buatin minum!" ucapnya.


Arka yang tengah asyik mengusap wajah Kanaya pun tersentak kaget begitu mendengar ucapan si gadis, ia mengernyitkan dahinya serta membulatkan mata seolah tak percaya jika baru saja Kanaya mengajaknya masuk ke dalam kostnya. Padahal sebelumnya saat ia meminta itu, Kanaya dengan keras menolak dan tidak membolehkannya.


"Hah? Ini serius nih lu bolehin gue masuk? Perasaan waktu itu pas gue mau mampir, lu langsung tolak keras banget," tanya Arka tak percaya.


"Ahaha, iya sorry soalnya waktu itu kan gue masih takut sama lu!" jawab Kanaya.


"Oh sekarang udah enggak nih ceritanya? Atau malah lu udah nyaman ya sama gue, hm?" Arka langsung turun dari motor dan mendekati Kanaya bermaksud menggodanya.


"Apaan sih? Udah intinya lu mau mampir dulu apa enggak nih? Kalau enggak, ya gapapa gue gak masalah!" ucap Kanaya merasa malu.


"Eh eh eh, jangan ambekan gitu dong jadi cewek! Jelas lah gue mau, yakali ditawarin masuk ke rumah cewek cantik gue malah tolak! Apalagi disuguhin minuman, beuh tambah pengen!" ujar Arka.


Kanaya menggeleng seraya memutar bola matanya, "Terserah lu, yaudah ayo!" ucapnya ketus.


"Jangan galak-galak dong Kanaya! Yang lembut gitu sama gue, kan tadi gue udah tolongin lu! Apa lu lupa, hm?" ucap Arka.


"Hadeh, perasaan gue daritadi juga biasa aja deh. Lo aja tuh yang baperan amat jadi cowok!" ucap Kanaya.


"Nay cantik, lu kalo galak begitu malah jadi tambah gemes tau!" goda Arka.


Kanaya tak menggubris ucapan pria itu, ia langsung saja melangkah ke dalam tempat kostnya dan menuju kamarnya. Tentu saja Arka tersenyum lebar melihat tingkah Kanaya yang seperti itu, tanpa basa-basi Arka juga bergegas mengejar Kanaya sampai keduanya telah berada di dalam kamar kost Kanaya yang lumayan besar itu karena hampir mirip apartemen versi mini.


"Lu duduk aja dulu, gue pengen ganti baju terus buatin minuman buat lu!" perintah Kanaya.


"Siap cantik! Jangan lama-lama ya! Dan kalau boleh, gue mau minumnya itu pake es biar seger," ucap Arka sambil duduk di sofa.


"Haish, iya bawel!" kesal Kanaya.


Gadis itu pun melangkah pergi ke kamarnya dan tak lupa menutup pintu, sehingga Arka tidak dapat melihat apa yang ada di dalam sana karena Kanaya memang ingin berganti pakaian. Arka hanya bisa menunggu di ruang tamu kali ini, pria itu duduk-duduk santai sambil menatap sekeliling dan tersenyum sendiri. Kemudian, suara ketukan pintu dari arah luar mengejutkannya.


TOK TOK TOK...


"Permisi, neng Kanaya!!" terdengar teriakan seorang wanita dari luar sana, yang sontak membuat Arka bingung tak tahu harus apa.


"Waduh, siapa tuh? Gimana ini ya? Kalau tuh orang tahu Kanaya bawa cowok ke kostnya, kira-kira Kanaya bakal dimarahin gak ya?" gumam Arka merasa cemas dan bingung.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


...♥️...


__ADS_2