Arkana

Arkana
Bab 39. Salah tamu


__ADS_3

Sepulang sekolah, Kanaya yang tak memiliki cukup uang untuk memanggil taksi pun terpaksa menaiki angkot dari depan sekolahnya. Kanaya duduk di kursi paling pojok tepat sebelah seorang wanita dewasa yang sepertinya habis berbelanja, dan tempat yang lain terlihat masih kosong. Namun, tak lama kemudian rombongan laki-laki murid SMA harapan indah naik ke dalam angkot tersebut dan membuat penuh suasana disana. Kanaya pun sedikit gugup dibuatnya, tapi ia memilih bersikap santai.


Awalnya semua biasa-biasa saja, karena masih ada satu orang wanita dewasa duduk di sebelahnya. Lalu, para lelaki itu juga terlihat bersikap santai dan saling mengobrol satu sama lain tanpa perduli dengannya. Namun, semua berubah ketika si ibu penumpang itu turun dan menyisakan Kanaya saja sebagai satu-satunya wanita disana. Sontak salah seorang lelaki menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat dengan Kanaya dan tersenyum ke arahnya disertai siulan menggoda.


"Cantik amat dek, lu anak harapan indah juga kan? Kelas berapa sih, kok gue baru lihat lu ya? Mana montok lagi," goda pria bernama Fadli.


Kanaya memilih diam dan membuang muka, kebetulan saat ini ia duduk di pojok sambil memeluk tas miliknya di pangkuan. Akan tetapi, tindakan Fadli semakin membuatnya geram. Ya pria itu dengan sengaja menempelkan tubuhnya sehingga diantara mereka tidak ada jarak, bahkan sesekali Fadli juga berupaya menggodanya dengan membelai rambut milik gadis itu.


"Lo jangan kurang ajar bisa gak!" Kanaya yang kesal pun membentak pria itu dengan keras.


"Wuih galak amat nih cewek! Eh dek, asal lu tahu ya kita ini senior lu di sekolah dan harusnya lu takut sama kita! Bukan malah berani bentak kayak gitu, dasar cewek aneh!" cibir Fadil.


"Tau, lagian lu emang kelas berapa? Sepuluh ya? Nama lu siapa sih? Gak kelihatan tuh name tag ketutupan sama tas lu," timpal Dolly.


"Gue anak baru, pindahan dari Bandung dan sekarang gue kelas sebelas. Tolong kalian jangan gangguin gue, gue cuma pengen pulang!" ucap Kanaya gemetar menahan takut.


"Hahaha.." dirinya malah ditertawakan oleh Fadli beserta rombongannya itu, sontak Kanaya pun semakin ketakutan kali ini.


"Duh, gimana ini ya? Nyesel deh gue naik angkot, mending tadi gue terima aja tawaran Arka buat pulang bareng dia!" batin Kanaya.


"Heh dek cantik, mukanya lihat kesini dong jangan kesana mulu! Kita kan pada disini tau, udah santai aja gausah takut!" ucap Fadli berusaha menarik wajah Kanaya agar menatap ke arahnya.


"Ish, jangan kurang ajar ya!" sentak Kanaya.


"Buset tenang dong, kalem! Makanya kalau gak mau dipegang, lu ngeliat kesini dong! Kita cuma mau kenalan sama lu kok," ucap Fadli.


"Apa sih? Gue gak mau!" tolak Kanaya.


"Eits, sombong amat nih cewek! Untung cantik, kalo enggak udah kita hajar lu rame-rame!" ucap Dolly.


"Gak jelas!" cibir Kanaya.


"Nama lu siapa sih, hm? Kasih tahu lah, nanti kita semua juga bakal kasih tahu nama kita masing-masing deh," pinta Fadli.


"Iya, lu tenang aja karena kita gak bakal apa-apain lu kok!" sahut Dolly.


Kanaya terdiam bingung, menatap sekeliling yang mana saat ini dirinya sudah dikepung oleh tujuh orang pria sekaligus di dalam sana. Meski ia tahu ketujuh pria itu adalah kakak kelasnya di sekolah, namun tetap saja Kanaya khawatir karena tampaknya para pria itu ingin melakukan sesuatu yang buruk padanya.


"Na-nama gue Kanaya.." akhirnya gadis itu mau menjawab dan mengenalkan dirinya kepada tujuh orang pria tersebut.


Sontak baik Fadli maupun teman-temannya langsung tersenyum mendengar ucapan gadis itu, mereka merasa senang karena Kanaya mau memberitahu namanya. Fadli pun menyodorkan tangannya ke arah Kanaya seolah mengajak gadis itu bersalaman, tak lupa ia juga mengenalkan diri dengan ramah disertai senyum manisnya.


"Oh Kanaya, nama yang cantik. Kalo gue Fadli, salam kenal ya!" ucap Fadli.


Gadis itu tersenyum dan bersalaman dengan Fadli dengan gugup, tak lama ia melakukan itu karena setelahnya Kanaya langsung saja melepas tangan Fadli dan kembali membuang muka. Namun, tiba-tiba Dolly pun ikut menyodorkan tangannya begitu juga dengan teman-temannya yang lain. Tentu Kanaya tak ada pilihan lain, ia terpaksa menyalami mereka semua satu persatu disana.


Karena tempat tinggalnya sudah dekat, Kanaya pun meminta sang supir berhenti dan segera turun dari angkot itu setelah membayarnya. Kanaya melangkah dengan tergesa menuju kostnya, ya sebab dari jalan raya ia masih harus jalan beberapa meter lagi ke depan sebelum sampai di tempatnya. Namun, tanpa ia sadari rupanya Fadli beserta rombongannya ikut turun disana dan berjalan perlahan di belakangnya.

__ADS_1


Kanaya masih belum sadar akan hal itu, ia terus saja berjalan ke depan tanpa menoleh ke belakang. Sehingga Kanaya tak tahu jika saat ini ia sedang diikuti oleh para lelaki tadi, apalagi Fadli dan yang lainnya semakin mendekat dan tampak tersenyum lebar memperhatikan tubuh Kanaya yang berada tepat di depan mereka. Kanaya baru sadar saat Fadli sudah berada di sampingnya, bahkan pria itu menyapanya serta mencolek pipinya.


"Hai Kanaya! Jadi, lu tinggal di daerah sini ya? Pas banget dong, kita juga sering main kesini loh," ucap Fadli sambil tersenyum lebar.


Deg!


Kanaya terkejut bukan main melihatnya, "Kalian kok ikutin gue sih? Ka-kalian mau apa? Jangan macam-macam ya, gue teriak nih supaya kalian dihajar warga!" ucapnya gugup.


"Hahaha, lu gak perlu takut Kanaya. Kita gak ada niat buat nyakitin lu kok, orang kita cuma mau tau dimana rumah lu," ucap Fadli.


"Iya Kanaya, santai aja kali gausah ketakutan gitu! Kita ini kan senior lu, kita pasti gak bakal apa-apain lu kok!" sahut Dolly.


Kanaya menggeleng ketakutan, "Enggak, gue gak percaya sama kalian. Sana kalian pergi dan jangan ikutin gue terus!" ucapnya tegas.


Namun, bukannya pergi justru mereka semua berdiri mengelilinginya sambil tertawa puas. Sontak Kanaya bertambah panik, ia tak tahu harus melakukan apa untuk bisa menghindar dari mereka semua. Apalagi Fadli berada sangat dekat dengannya, bahkan pria itu dengan berani mulai meraih tangan Kanaya dan mengusapnya perlahan.


"Mulus banget sih tangan lu, wajar lah ya orang Bandung emang cantik-cantik. Harusnya gue kenal lu dari lama," ujar Fadli.


"Cukup, jangan kurang ajar!" Kanaya menarik tangannya dari genggaman Fadli dan langsung memukul wajah pria itu dengan keras.


Bugghhh


"Awhh sialan! Lo emang harus dikasih pelajaran!" geram Fadli.


Sekumpulan pria itu mulai mendekatinya dan memegangi tubuhnya, Kanaya berusaha berontak sekuat tenaga untuk menghadapi mereka semua. Akan tetapi, usahanya sia-sia karena tenaganya tentu jauh jika dibandingkan ketujuh pria itu. Beruntungnya sebuah motor muncul dan membuat semua terkejut, akhirnya Dolly serta yang lain melepaskan Kanaya karena pemotor itu menerobos kumpulan mereka.


TIN TIN TIN...




Topan pun berdiri tepat di depan pagar yang tinggi itu, ia menundukkan wajahnya sembari memejamkan mata. Segala ingatan mengenai masa lalunya bersama Cahaya pun kembali muncul di kepalanya, sungguh pria itu menyesal karena dulu telah meninggalkan Cahaya demi menempuh hidup barunya yang ternyata tak bisa membuatnya bahagia seperti ketika bersama Cahaya.


Tiba-tiba saja, seorang petugas yang berjaga di rumah itu muncul dan mengejutkan Topan. Ya wajar memang Cahaya memiliki petugas keamanan, sebab rumahnya lumayan besar dan harus dijaga jika tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk. Apalagi Cahaya adalah seorang wanita, dan dia belum menikah sampai saat ini. Banyak kabar beredar yang menyatakan jika Cahaya memilih menyendiri, karena dirinya belum bisa melupakan sosok Topan.


"Maaf pak, lagi apa ya di depan rumah majikan saya? Kalau ada kepentingan, bisa saya bantu pak!" ucap sang satpam menegurnya.


"Eh iya, maaf kalau saya mengganggu. Saya kesini mau bertemu dengan Cahaya, dia ada kan di dalam? Soalnya ada yang ingin saya bicarakan dengan dia saat ini," jelas Topan.


"Oh begitu, jadi bapak ini tamunya bu Cahaya? Kalau begitu bapak sudah ditunggu di dalam oleh bu Cahaya, silahkan masuk pak!" ucap satpam itu.


Deg!


Topan terbelalak mendengarnya, bagaimana bisa ia dianggap sebagai tamu dan Cahaya sudah menunggunya saat ini. Sedangkan dirinya saja datang kesana diam-diam tanpa mengabari Cahaya terlebih dahulu, bahkan ia baru mengetahui alamat rumah wanita itu dari asistennya. Namun, Topan tak ingin melewatkan kesempatan itu dan langsung masuk begitu saja ke dalam rumah tersebut.


Setelah Topan masuk, satpam itu pun kembali menutup pintu pagar dan menguncinya. Akan tetapi, kemudian sebuah mobil datang dan berhenti tepat di hadapannya. Seseorang keluar dari dalam mobil tersebut, bergerak mendekati sang satpam lalu mengatakan bahwa dirinya adalah tamu Cahaya yang sedang ditunggu. Tentu saja satpam itu merasa bingung dan heran, ia tak mengerti mana sebenarnya yang merupakan tamu majikannya.

__ADS_1


"Hadeh, ini apaan sih sebenarnya? Bapak yang tadi bilangnya tamu bu Cahaya, lah terus ini dia juga. Saya kok jadi bingung banget ya? Siapa coba yang benar ini?" gumam si satpam.


"Eee kenapa ya pak?" tamu pria bernama Santoso itu terheran-heran mendengar ucapan si satpam.


"Ah enggak, ini saya cuma bingung aja. Tadi tuh udah ada cowok bapak-bapak yang bilang mau ketemu bu Cahaya, saya kira dia orang yang ditunggu sama bu Cahaya. Eh ini sekarang malah ada yang datang lagi," ujar satpam itu.


Santoso mengernyit keheranan, "Loh pak, yang ada janji dengan bu Cahaya itu saya, Santoso Sulistyawan. Kalau anda gak percaya, silahkan hubungi majikan anda sekarang!" ucapnya.


"Nah iya bener, kayaknya tadi bu Cahaya juga bilang kalau tamunya itu namanya pak Santoso. Terus kira-kira cowok yang tadi datang siapa ya?" ucap satpam itu keheranan.


"Ya mana saya tahu pak, terus gimana ini? Saya bisa gak ketemu sama bu Cahaya?" tanya Santoso.


"Eh iya iya, ayo pak silahkan masuk!" jawab satpam.


Akhirnya satpam itu kembali membuka pintu pagar dan membiarkan Santoso masuk kesana, sekaligus ia juga ingin menemui Topan yang tadi mengaku sebagai tamu Cahaya. Tentu saja satpam itu sangat cemas kali ini, ia khawatir jikalau Topan ternyata adalah seorang penjahat yang ingin melukai majikannya di dalam sana.




Cahaya baru selesai membuat teh hangat di dapur dan berniat duduk di sofa ruang tamu sambil menunggu seseorang yang akan datang, perlahan Cahaya meletakkan cangkir teh itu di atas meja lalu membuka laptop miliknya. Disana ia sudah menyediakan berbagai persiapan dalam pertemuan nanti dengan seorang klien, hanya saja Cahaya tak tahu jika tamu yang datang kali ini adalah Topan.


Tak lama kemudian, bik Mumun yang merupakan pekerja di rumahnya itu datang menghampirinya membawa kabar mengenai tamu yang sudah datang kesana. Sontak Cahaya segera mempersilahkan tamu itu untuk masuk, dan ia juga meminta pada bik Mumun agar tamu di luar sana disegerakan masuk ke dalam menemuinya karena ia memang sudah siap dan menunggu kehadiran tamu itu daritadi.


Setelahnya, seseorang itu pun muncul di dekatnya dan menemuinya. Bik Mumun langsung memberitahu pada Cahaya bahwa saat ini tamunya sudah berada disana, sontak Cahaya mendongak menatap si tamu yang ia tunggu itu. Namun, betapa kagetnya Cahaya saat menyadari yang datang kesana dan berdiri di hadapannya adalah Topan dan bukan tamu yang sedari tadi ia tunggu.


"Eee bu, saya ke dapur dulu ya? Saya mau buatin minum buat tamu ibu," ucap Mumun.


"I-i-iya bik, silahkan!" ucap Cahaya gugup.


Bik Mumun pun pergi ke dapur membuatkan minuman, sementara Topan kini mulai melangkah mendekati Cahaya dan berhenti tepat di depannya. Topan sungguh senang dapat melihat Cahaya kembali melalui kedua bola matanya, ini merupakan momen yang ia nanti-nantikan sejak lama. Namun, Cahaya justru merasa kesal lantaran Topan menyamar sebagai tamu di rumahnya.


"Hai Cahaya! Aku senang banget bisa lihat dan ketemu kamu lagi sekarang, jujur aku kangen sama kamu!" ucap Topan lirih.


"Mau ngapain kamu disini? Tahu darimana kamu rumah aku, ha? Perasaan aku gak pernah kasih tahu kamu dimana alamat aku, kenapa bisa kamu tiba-tiba datang dan ngaku sebagai tamu aku?" sentak Cahaya menahan emosi.


"Aya, kamu tenang dulu ya! Aku gak pernah ngaku jadi tamu kamu, aku cuma bilang kalau aku pengen ketemu kamu. Eh satpam kamu sendiri yang bilang kalau aku ini tamu kamu," jelas Topan.


"Dari dulu aku gak pernah percaya sama kamu, Topan!" ucap Cahaya kesal.


"Oh ya, aku ingat itu kok Aya. Sampai sekarang juga pasti kamu masih cinta sama aku kan?" ucap Topan dengan percaya diri.


Cahaya terkekeh sembari menggelengkan kepalanya, "Hahaha, pede banget ya kamu Topan! Kata siapa aku masih cinta sama kamu? Padahal sejak dulu, aku juga gak pernah jatuh cinta atau apalah itu sama kamu!" ucapnya mengelak.


"Kamu gak perlu mengelak, aku tahu kok kalau sampai saat ini kamu masih single dan belum menikah. Pasti itu karena kamu gak bisa lupain aku kan Aya?" ujar Topan.


Deg!

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2