
Kriiingg Kriiingg...
Bel istirahat sudah berbunyi, Kanaya bersiap pergi ke kantin bersama Cempaka karena perut mereka sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Ya sedari tadi mereka menahan lapar, akhirnya kini keduanya pun bisa segera menikmati makanan yang tersedia di kantin untuk menghilangkan rasa lapar itu. Mereka pun berjalan bergandengan keluar dari kelas.
Akan tetapi, di luar dugaan ternyata Arka sudah berdiri tepat di depan kelas mereka. Pria itu tersenyum menatap Kanaya sembari menyimpan satu tangan di saku celananya, lalu kemudian Arka mengulurkan tangannya yang lain ke arah Kanaya seolah mengajak gadis itu bersamanya. Respon Kanaya hanya diam saja, dia tak mengerti apa maksud Arka dan juga tampak kebingungan.
"Arka, lu ngapain di depan kelas gue? Gu-gue mau ke kantin sama Cempaka, tolong minggir dong!" ucap Kanaya terlihat gugup dan gemetar.
"Sama pacar sendiri kok masih pake lu-gue sih bicaranya? Yang bener dong sayang!" ujar Arka.
Kanaya terbelalak mendengar ucapan pria itu, padahal tadi pagi ia sudah meminta pada Arka untuk merahasiakan hubungan mereka ketika di sekolah. Namun, laki-laki itu malah dengan seenaknya berkata demikian di hadapan Cempaka kali ini. Tentunya hal itu membuat Cempaka sangat terkejut, dia tak menyangka kalau ternyata sahabatnya sudah berpacaran dengan Arkana.
"Apa? Jadi, lu udah pacaran beneran sama kak Arka, Nay?" tanya Cempaka menyela.
"Eee i-itu kak Arka tuh bercanda, Cempaka. Lu jangan percaya sama ucapan dia, kan lu tahu sendiri kalau dia itu gak jelas orangnya!" jawab Kanaya.
"Masa sih?" Cempaka masih tak mempercayainya.
"I-i-iya Cempaka, masa lu gak percaya sama gue? Kak Arka mah gausah didengerin, dia tuh suka aneh!" ucap Kanaya.
Arka terkekeh saja mendengarnya dan langsung meraih satu tangan gadisnya, "Kamu gausah pake malu-malu gitu sayang, bilang aja ke teman kamu ini kalau kita udah jadian tadi pagi!" ucapnya pelan.
"Ih apa sih kak? Gue tuh malu!" sentak Kanaya.
"Malu? Berarti bener dong kalau kalian emang udah pacaran?" tanya Cempaka lagi.
"Umm..."
"Udah lah sayang, akui aja di depan Cempaka! Aku juga gak masalah kalau semua orang tahu hubungan kita, malahan bagus. Jadinya gak ada lagi tuh cowok yang berharap sama kamu," sela Arka.
"Apaan sih? Sana deh lu pergi, gue mau makan sama Cempaka!" ketus Kanaya.
Arka tampak memberikan kode pada Cempaka melalui matanya, Cempaka yang mengerti langsung menganggukkan kepalanya dan melepas tangan Kanaya dari genggamannya. Tentu saja Kanaya dibuat heran dengan sikap Cempaka, ia menoleh ke arah sahabatnya itu dan bertanya kebingungan. Namun, Cempaka hanya senyum-senyum saja seolah menggoda Kanaya.
"Lo kenapa sih Cempaka? Ayo kita ke kantin sekarang!" ucap Kanaya.
"Nay, lu sama kak Arka aja gih! Kasihan dong masa baru pacaran tadi pagi terus kak Arka gak ditemenin!" ucap Cempaka.
"Hah??" Kanaya tersentak mendengarnya.
"Tuh kan sayang, Cempaka aja udah ngertiin kita loh. Udah ayo kamu sama aku aja ya, kita nikmati hari pertama kita pacaran!" sela Arka.
"Arka, lu tuh apaan sih? Mana janji lu tadi pagi? Katanya lu setuju mau rahasiain hubungan kita, kenapa lu malah ember kayak gini?" protes Kanaya.
__ADS_1
"Cieee akhirnya lu ngaku juga kalo lu emang ada hubungan sama kak Arka," goda Cempaka.
"Eh eee..." Kanaya sontak terkejut dan memukul mulutnya sendiri atas apa yang ia bicarakan tadi tanpa berpikir lebih dulu.
Sementara Arka justru tersenyum senang melihat ekspresi gadis itu, langsung saja ia kembali mendekati Kanaya dan merangkulnya erat seolah tak ingin melepasnya. Tanpa banyak berpikir, Arka pun bergegas melangkah dari sana bersama Kanaya di sampingnya. Ya Kanaya tidak bisa menolak, sebab tubuhnya didekap begitu erat oleh sang kekasih. Sedangkan Cempaka hanya memperhatikan saja sepasang kekasih itu sambil tersenyum senang.
•
•
Kini pasangan kekasih itu telah berada di kantin, Arka langsung memesankan makanan serta minuman untuk dirinya dan juga Kanaya. Pria itu tak bertanya lebih dulu apa keinginan gadisnya, ia mengatakan pesanan itu pada pelayan sampai membuat Kanaya melongok. Ya Kanaya tak percaya kalau ternyata selama ini Arka terus memperhatikan dirinya, bahkan pria itu sampai hafal apa yang selalu ia pesan ketika makan di kantin sekolah.
Setelah selesai menyampaikan pesanan mereka, Arka kembali fokus menatap gadisnya itu dan meraih serta menggenggam dua telapak tangan Kanaya yang begitu halus rasanya. Sesekali bahkan Arka juga mengecupnya, membuat Kanaya merasa gugup dan tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Ya semua tindakan yang dilakukan pria itu terhadapnya, sungguh berhasil membuatnya merasa bahagia sekaligus tersipu malu.
"Arka, lu bisa berhenti gak cium-cium tangan gue? Lebay banget tau lu, kita ini kan baru pacaran dan belum nikah!" ucap Kanaya.
"Ya emang kita belum nikah, tapi kan gak lama lagi juga aku bakal lamar kamu kok," ucap Arka.
"Hah? Lo gila ya Arka? Gue masih sekolah, begitu juga lu. Yakali lu mau ngelamar gue secepat ini, gue aja belum yakin sepenuhnya kalau lu bisa jadi suami yang baik buat gue!" ucap Kanaya.
"Sayang cukup dong, jangan pakai lu-gue lagi sekarang!" pinta Arka.
"Bodo!" ucap Kanaya singkat dan ketus.
"Nay, kayaknya kalo begini terus aku gak bisa tahan diri deh buat gak nikahin kamu. Mungkin setelah aku lulus nanti, aku bakal langsung temui orang tua kamu dan lamar kamu secara resmi di depan mereka!" ucap Arka tersenyum lebar.
"Hahaha, ada-ada aja lu! Ibu sama ayah gue udah gak ada, lu gak bakal bisa temuin mereka buat lamar gue kocak!" ucap Kanaya.
"Ya ampun, ma-maaf Nay aku gak tahu! Soalnya kamu kan belum pernah cerita tentang ini ke aku, omong-omong kenapa orang tua kamu bisa gak ada?" ucap Arka berubah ekspresi.
"Eee..."
Kanaya menundukkan wajahnya, seketika bayangan mengenai kejadian kelam yang menimpa orangtuanya kembali teringat di kepalanya. Semua itu adalah ulah para geng motor liar yang kejam, dan itulah juga alasan mengapa Kanaya sempat membenci Arka si ketua geng itu. Namun, sepertinya kini Kanaya telah sadar kalau tak seharusnya ia membenci Arka karena tidak semua geng motor jahat dan suka menggangu orang lain.
"Kayaknya itu gak perlu dibahas lagi deh, yang ada gue nanti bakal keinget sama mereka dan sedih lagi," ucap Kanaya.
"Oh iya iya, aku paham kok. Sorry ya kalau aku jadi bikin kamu sedih tadi?" ucap Arka.
Kanaya menggeleng perlahan, "Gapapa, tapi please jangan bahas soal nikah sekarang! Gue masih mau terusin pendidikan gue, dan gue belum ada rencana buat nikah dekat-dekat ini!" ucapnya.
"Kenapa sih? Kan bisa tuh kamu tetap terusin pendidikan kamu walau kita udah nikah, aku gak akan halangi kamu kok," ucap Arka.
"Gak bisa Arka, udah ya stop bahas soal itu! Atau gue pergi nih karena gak mood," ancam Kanaya.
__ADS_1
"Eh eh, iya iya aku minta maaf. Okay, aku gak akan bahas itu lagi deh demi kamu!" bujuk Arka.
Kanaya menghela nafas singkat sembari memalingkan wajahnya, tampak sekali perubahan ekspresi dari wajah gadis itu yang semula banyak tersenyum kali ini jadi lebih kecut. Sepertinya Kanaya memang tidak suka dengan pembahasan Arka tadi, karena gadis itu belum menginginkan yang namanya pernikahan di usianya saat ini.
•
•
Saat pulang sekolah tiba, Arka dengan cekatan langsung mengajak Kanaya untuk pergi bersamanya karena ia memiliki rencana untuk membawa gadis itu ke suatu tempat yang istimewa. Ya rencananya Arka akan merayakan hari jadian mereka saat ini, sebab ini adalah momen yang pas bagi mereka karena keduanya baru saja resmi menjadi sepasang kekasih setelah beberapa kali saling membenci.
Namun sialnya, rencana yang sudah disusun oleh Arka terpaksa harus batal karena terlihat sosok Cahaya yang merupakan tante dari Kanaya itu sudah berada di depan sekolah dan seperti tengah menunggu kehadiran gadis itu. Sontak Arka merasa jengkel dengan hal itu, tapi kemudian ia coba menenangkan diri dan mengikuti Kanaya untuk menemui tantenya disana sekaligus berkenalan.
"Tante Aya!" Kanaya langsung menyapa tantenya itu begitu sampai di dekatnya.
Karena terkejut, Cahaya pun menoleh ke asal suara seraya membuka kacamatanya. Wanita itu tersenyum lebar saat melihat keponakan cantiknya telah berada di depan matanya, dan tentunya Kanaya tak lupa untuk mencium tangan tantenya itu sebagai rasa hormat. Tapi, sedetik kemudian Cahaya baru sadar kalau ada sosok laki-laki di sebelah Kanaya yang membuat merasa penasaran.
"Loh bu Cahaya?" tiba-tiba saja Arka menyela dan merasa mengenali wanita di hadapannya itu, ya Arka ingat betul siapa dia karena dahulu dirinya begitu dekat dengan Cahaya saat di sekolah dasar.
Cahaya sontak mengernyitkan dahinya karena bingung, "Eee kamu siapa ya? Kok bisa kamu kenal sama saya?" tanyanya keheranan.
"Ahaha, wajar kalau ibu lupa sama saya, kita kan udah lama banget gak ketemu. Saya aja masih gak nyangka, ternyata kita bisa ketemu disini dan bu Cahaya ini tantenya Kanaya," ucap Arka tersenyum.
"I-i-iya saya tantenya Kanaya, tapi kamu itu siapa? Temannya Kanaya ya?" heran Cahaya.
"Ya tante, selain itu saya juga mantan murid bu Cahaya loh waktu di sekolah dasar dulu. Saya Arkana bu, semoga aja ibu masih ingat setelah dengar nama saya!" jelas Arka.
"Hah? Arkana??" Cahaya begitu syok dibuatnya, bagaimana bisa ia bertemu kembali dengan putra dari Topan itu disana saat ini.
"Betul bu, ibu ingat kan?" tanya Arka.
Cahaya hanya terdiam dan terus memandangi wajah pria itu, pantas saja menurutnya beberapa waktu lalu ia sempat bertemu dengan Topan di sekolah itu. Rupanya disana juga merupakan tempat Arka bersekolah, sungguh Cahaya tak menyangka kalau dunia sesempit ini. Padahal semua ini tidak disengaja, dan Cahaya juga tak ingin bertemu kembali dengan Topan maupun Arkana.
"Tante, jadi dulunya tante itu guru? Terus Arka ini muridnya tante?" Kanaya menyela dan turut mengajukan pertanyaan pada tantenya itu.
"Eee haha i-i-iya Kanaya, tante emang sempat ngajar dulu pas masih agak muda," jawab Cahaya gugup.
"Wow tante keren banget deh!" ucap Kanaya memujinya.
"Emang iya Nay, tante kamu ini luar biasa keren! Dulu juga tante kamu yang selalu temenin aku waktu dijauhin sama teman-teman," sahut Arka
"Itu masa lalu Arka," ucap Cahaya lirih.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...