Arkana

Arkana
Bab 24. Kasar & kejam


__ADS_3

Kanaya dibawa paksa oleh Zee serta Gloria ke dalam toilet wanita di lantai dasar, Kanaya diseret serta dijambak kasar dan tidak bisa melakukan perlawanan karena ia hanya seorang diri. Lalu, Zee juga mengusir orang-orang yang ada di dalam toilet agar dia bisa leluasa melakukan apa yang ingin dia lakukan kepada Kanaya di dalam sana.


Zee benar-benar kejam, ia menghempaskan tubuh Kanaya begitu saja ke lantai toilet sampai gadis itu merintih dan menjerit. Air mata sudah tak dapat terbendung lagi, Kanaya yang dikenal kuat justru tidak bisa menghadapi kekejaman Zee dan juga Gloria yang memang sering sekali merundung wanita-wanita lemah di sekolah itu.


"Heh cewek sok kecakepan! Lu dengerin gue baik-baik ya, anggap ini sebagai pelajaran buat lu supaya lu gak berani deketin Arkana lagi! Karena, dia itu cuma boleh sama gue!" ucap Zee.


Kanaya hanya diam memalingkan wajahnya, ia ingin bangkit tetapi kakinya seperti terkilir akibat dorongan yang diberikan Zee tadi. Matanya kembali membulat, ketika ia melihat Zee mengambil satu buah ember berisi air dan mendekatinya. Senyuman di wajah Zee seolah mengisyaratkan bahwa dia akan menyiram air itu ke tubuh Kanaya.


"Ja-jangan! Gue gak bakal deketin Arka, gue juga gak mau sama dia!" ucap Kanaya memelas.


"Hahaha, kenapa Kanaya? Lu takut sama gue? Bagus deh, itu artinya lu masih tau batasan. Tapi, gue tetap bakal kasih pelajaran buat lu!" ucap Zee.


"Ayo Zee, gausah kebanyakan ngomong! Keburu nanti ada yang datang dan lihat kita!" tegur Gloria.


"Iya iya, sabar napa sih! Buruan lu rekam, kita harus abadikan momen ini supaya dia gak akan berani macam-macam sama gue lagi!" ucap Zee.


"Oke!" Gloria setuju dan mulai mengambil ponselnya untuk merekam semua kejadian itu.


"Ahaha, lu rasain ini gadis kampung!" tanpa banyak bicara lagi, Zee langsung menuang seluruh air di ember itu ke tubuh Kanaya tanpa jeda.


Byurrr


Sontak tubuh Kanaya basah kuyup dibuatnya, ia juga terlihat gelagapan karena harus menahan dinginnya air yang membasahi tubuhnya. Sedangkan Zee dan juga Gloria malah asyik tertawa sambil terus mengabadikan momen tersebut, mereka seolah tak perduli dengan Kanaya yang sudah mulai pucat.


"Makan tuh air!" ejek Zee sambil tertawa.


"Eh eh Zee, kayaknya kurang lengkap deh kalo kita gak buka bajunya juga. Biar dia bisa lebih ngerasa dingin," usul Gloria.

__ADS_1


"Oh bener juga lu," Zee tersenyum setuju dan langsung bergerak mendekati Kanaya untuk melepas seragam yang digunakan gadis itu.


Kanaya masih berusaha berontak dan menutupi tubuhnya dengan dua tangan agar Zee tidak bisa melepas seragamnya, namun tenaganya yang sudah mulai melemah membuat Kanaya tidak dapat mempertahankan tubuhnya. Zee pun berhasil merobek paksa seragam Kanaya dan membuangnya ke sembarang arah, akibat dorongannya juga kepala Kanaya terbentur dinding kamar mandi yang membuat darah mengalir di keningnya.


"Awhh!!" Kanaya reflek merintih memegangi keningnya, ia lihat ada darah menempel di jarinya saat coba memeriksa.


"Eh Zee, gimana nih? Kening tuh cewek berdarah lagi, bisa abis kita kalo ketahuan!" ucap Gloria panik.


"Udah santai aja, gak bakal ada yang lihat kok! Mending lu fokus rekam deh!" ucap Zee santai.


"I-i-iya deh, tapi lu hati-hati ya Zee! Gue gak mau kita kena kasus pidana gara-gara ulah lu itu," ucap Gloria ketakutan.


"Iya, bawel lu ah!" kesal Zee.


Zee kembali menghampiri Kanaya dan tersenyum penuh arti, Kanaya hanya bisa menutupi tubuhnya dengan kedua tangan karena saat ini ia benar-benar merasa kedinginan setelah baju seragamnya dilepas paksa oleh Zee.




Perlakuan itu sebenarnya disaksikan oleh banyak murid, tetapi mereka hanya bisa melihat tanpa ada niatan untuk menolong Cempaka. Ya kebanyakan dari mereka memang tidak ingin ikut campur pada masalah orang lain, sebab mereka tidak mau terlibat dan nantinya malah membuat urusan menjadi panjang atau mereka akan terseret.


"Hahaha, rasain tuh! Sekarang lu gak bisa tolongin temen lu yang kegenitan itu, suruh siapa dia berani deketin Arka!" ucap Mawar.


"Kalian itu salah paham, Kanaya gak pernah deketin kak Arka! Justru kak Arka yang selalu dekat-dekat dia, jadi kalian jangan salahin Kanaya dong!" sentak Cempaka.


"Itu bukan urusan kita, intinya tetap aja Kanaya udah dekat-dekat sama Arka. Jadi, dia harus dikasih pelajaran!" ucap Mawar menggeram.

__ADS_1


"Bener tuh, dia harus tau diri kalau dia itu cuma murid baru disini dan gak seharusnya dia berani macam-macam sama Zee!" sahut Indah.


"Kalian itu kenapa sih? Mau Kanaya anak baru atau bukan, kalian gak ada hak buat larang dia dekat sama siapapun, termasuk kak Arka! Lagipula, gue yakin Kanaya gak bakal begitu kok!" ucap Cempaka.


"Berisik ah lu, mending lu diam disini dan jangan kemana-mana! Lu gak boleh ikut campur urusan Zee sama Kanaya!" sentak Mawar.


Cempaka menatap geram wajah kedua gadis itu, ingin sekali rasanya ia membalas perlakuan mereka, tetapi apa daya dirinya tidak bisa melakukan apapun karena ia sadar akan kemampuannya. Lagipun, ia kini hanya sendiri sedangkan dua gadis itu memiliki jumlah lebih banyak darinya.


"Hey hey, ada apa ini??!" tiba-tiba saja, tanpa diduga oleh mereka suara teriakan seorang pria terdengar dan membuat ketiganya terkejut.


Mereka langsung menoleh ke asal suara, dan betapa kagetnya Cempaka karena ternyata yang datang adalah Topan alias ayah dari Arkana selaku pemilik sekolah tersebut. Bahkan, Topan langsung mendekat ke arah tiga gadis itu dan menatap heran ketika melihat Cempaka terduduk dengan luka di sikutnya.


"Loh loh, itu kamu kenapa duduk disitu? Terus kok siku kamu terluka?" tanya Topan keheranan.


"Eee ini..."


"Dia jatuh pak, tadi kayaknya sih kesandung. Ini kita berdua baru mau tolongin dia, ya kan?" sela Mawar.


"Iya pak, kita kasihan sama dia!" sahut Indah.


"Bohong pak! Mereka berdua bohong! Mereka yang sengaja dorong saya tadi pak, sampai saya jadi begini!" ucap Cempaka dengan lantang.


Topan terkejut mendengarnya, ia langsung menatap tajam ke arah Mawar dan Indah yang tampak ketakutan. Topan benar-benar tak menyangka kalau masih ada kasus perundungan di sekolahnya saat ini, padahal ia sudah berkali-kali mengatakan pada seluruh murid disana untuk menghindari perilaku bullying karena itu sama sekali tidak benar.


"Apa benar kalian sudah melakukan itu? Kalian yang mendorong Cempaka sampai dia terjatuh dan terluka begitu?" tanya Topan pada keduanya.


"Umm ki-kita..." Mawar dan Indah sama-sama kebingungan, mereka tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya dan mengakui perbuatan mereka di depan Topan.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2