Arkana

Arkana
Bab 31. Pacar atau bukan?


__ADS_3

Setelah berpikir lumayan lama, Kanaya akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran Arka dan ikut bersamanya. Lagi-lagi Kanaya terpaksa luluh pada perkataan pria itu, meski sudah berulang kali Arka mengecewakannya dan membohongi dirinya. Namun, kali ini Kanaya berharap kalau Arka tidak akan lagi melakukan hal itu. Sebelumnya Arka juga sudah berjanji kalau dia akan mengantar Kanaya sampai tempat kostnya, tapi tetap saja Kanaya masih merasa khawatir dan cemas.


Sepanjang perjalanan, Kanaya terus memperhatikan jalan untuk memastikan semuanya aman. Jujur Kanaya sangat takut Arka akan kembali membawa ia ke markas geng pria itu, sebab terakhir kali mereka kesana adalah Kanaya dipaksa untuk menari dan menghibur mereka semua. Awalnya semua tampak baik-baik saja, Kanaya masih merasa tenang karena jalan kali ini benar menuju kostnya.


Akan tetapi, tak berapa lama kemudian Kanaya mulai merasa aneh dengan jalan yang dilalui pria itu. Kanaya yakin sekali kalau ini bukanlah jalan menuju tempat kostnya, karena sudah berulang kali Kanaya melintasi jalanan sekitar sana dan ini memang bukan jalan yang benar. Tentu saja Kanaya hendak protes, ia langsung melayangkan pukulan ke arah punggung Arka dan berteriak-teriak meminta pria itu berhenti. Namun, Arka tak mendengar dan tetap fokus melajukan motornya tanpa perduli dengan teriakan Kanaya di belakang sana.


Protes yang dilakukan Kanaya secara terus-menerus itu tetap tak digubris oleh Arka, pria itu justru tampak fokus mengendarai motornya dan tidak mau mendengarkan rengekan Kanaya. Arka memang ingin membawa gadis itu ke suatu tempat, tapi kali ini bukanlah menuju markas gengnya karena ia sendiri sudah tidak mau mempermalukan Kanaya lagi di hadapan teman-temannya. Meski begitu, tak menutup kemungkinan kalau Arka masih akan melakukan itu di suatu waktu nanti.


Akhirnya mereka kini tiba di tempat tujuan, sebuah rumah besar nan mewah yang membuat Kanaya terperangah melihatnya. Arka memasuki halaman rumah itu dengan santainya, lalu ia menghentikan motornya dan meminta Kanaya turun. Namun, Kanaya masih tampak bingung karena ia tak tahu rumah siapakah itu. Sedangkan Arka sudah menatap wajahnya dari depan, pria itu terlihat heran dengan kondisi Kanaya yang hanya diam kali ini. Padahal sepanjang jalan tadi gadis itu terus berteriak protes.


"Heh! Kenapa lu diam aja cewek galak? Kita udah sampe nih, atau jangan-jangan lu kehabisan suara ya gara-gara tadi?" kekeh Arka.


Kanaya pun tersadar saat Arka menyentil keningnya, "Ish, apaan sih sentil-sentil gue! Iya ini gue sadar kali, tadi tuh gue heran aja ini rumah siapa. Terus lu ngapain juga bawa gue kesini coba? Lu salah alamat apa gimana?" ucapnya.


"Hahaha, enggak kok ini benar tempat yang mau gue tuju. Udah ayo lu turun, gue pengen kenalin lu sama nyokap bokap gue di dalam!" ucap Arka.


Sontak Kanaya tersentak kaget mendengar itu, "Apa? Jadi, ini rumah lu?" tanyanya seolah tak percaya.


Arka mengangguk sambil tersenyum, "Iya Nay, ini rumah gue. Gue sengaja bawa lu kesini supaya nyokap dan bokap gue kenal sama lu, udah yuk kita masuk!" jawabnya santai.


"Ih bentar, lu tuh gak waras apa gimana sih? Ngapain coba lu mau ngenalin gue ke ortu lu?" ujar Kanaya.


"Gak waras dari segi mananya sih, Kanaya? Apa salah ya kalau gue mau kenalin sahabat gue ke ortu gue, hm?" goda Arka.


"Sahabat?" Kanaya mengernyitkan dahinya seolah tak percaya, lalu ia pun turun dari motor itu.


Sembari melepas helmnya, Kanaya pun terus mengoceh tak terima dirinya dibilang sahabat oleh Arka. Ya sebab Kanaya merasa tidak ingin memiliki sahabat seperti pria itu, apalagi ia tahu betul bagaimana sikap Arka ketika di sekolah yang mana pria itu selalu saja membully murid yang lemah. Namun, Arka tak perduli dengan itu dan malah santai saja mendorong motornya masuk ke garasi.


"Eh Arka, lu kok malah ninggalin gue sih? Dengerin dulu gue ngomong kali, dasar gak sopan!" ucap Kanaya dengan kesal.


Arka yang mendengarnya geleng-geleng saja sambil terus mendorong motornya, setelah itu barulah Arka kembali menemui Kanaya dan mengajaknya langsung masuk ke dalam. Tak ada pilihan lain bagi Kanaya, gadis itu pasrah saja dan mengikuti kemauan Arka karena sudah terlanjur berada di tempat tersebut. Tentunya tidak mungkin jika Kanaya kabur, sehingga ia memutuskan untuk masuk saja bersama Arka menemui orang tua pria itu di dalam sana, walau ia cukup deg-degan.




Singkat cerita, Arka dan Kanaya sudah berada di dalam rumah dan mereka pun juga sudah bertemu dengan kedua orang tua pria itu. Tampak Arka dengan bangganya mengenalkan Kanaya sebagai sahabatnya kepada papa serta mamanya disana, tentu Topan selaku ayah telah mengenal gadis yang dibawa putranya itu. Dan Topan tampak bahagia melihat kehadiran Kanaya di rumahnya, terlebih gadis itu dibawa langsung oleh Arkana.


"Wah Arka, papa gak nyangka loh sama kamu! Ternyata secepat ini ya kamu bawa Kanaya ke rumah? Padahal papa kira kalian masih proses pendekatan," ujar Topan.


Kanaya sontak terkejut mendengarnya, ia menatap wajah Arka kebingungan seolah meminta jawaban. Akan tetapi, Arka sendiri sama bingungnya dengan gadis itu karena dia pun tak tahu apa yang dimaksud papanya barusan. Ya Topan memang mengira jika putranya sudah berpacaran dengan Kanaya, sebab Arka telah membawa Kanaya datang kesana.


"Maksud papa gimana ya? Kanaya ini teman aku, pa. Aku bawa dia kesini karena tadi kami kebetulan bareng aja pas pulangnya, jadi aku pikir ya sekalian aja kita mampir dulu kesini. Lagian kasihan Kanaya kayaknya haus nih," ucap Arka.


"Oh iya ya, yaudah ayo kalian duduk! Nanti biar bibik yang buatkan minuman buat kalian," ucap Topan.


Arka mengangguk pelan, kemudian menyuruh Kanaya duduk di sofa bersamanya. Mereka berdua pun duduk berhadapan dengan Topan dan Mika, yang tak lain ialah orang tua Arkana. Mika merupakan istri Topan yang dia nikahi beberapa saat setelah berpisah dari Cahaya kala itu, Topan memang tidak mencintai Mika seperti dulu dia mencintai Cahaya. Namun, Topan tetap berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengkhianati Mika.


Setelah minuman yang diminta Topan datang, kini mereka kembali fokus ke pembicaraan awal mengenai niat Arka membawa Kanaya kesana. Jujur Topan masih tak percaya dengan penjelasan Arka tadi yang mengatakan jika Kanaya hanyalah temannya, menurut Topan alasan Arka sungguh tidak logis dan dia yakin kalau putranya itu memang memiliki rasa pada Kanaya saat ini.


"Nah Arka, kamu sama Kanaya ini udah pacaran berapa lama? Atau ini malah baru hari pertama kalian jadian ya? Dan kamu langsung bawa Kanaya buat ketemu kami?" tanya Topan.

__ADS_1


Deg!


"Uhuk uhuk!!" Kanaya tersentak sampai nyaris tersedak karena mendengar ucapan Topan barusan.


"Eh Nay, lu gapapa?" tanya Arka cemas.


Kanaya menggeleng sambil tersenyum, "I-i-iya, gue gapapa kok. Tadi ini gue cuma keselek aja," jawabnya lirih.


"Oh okay, lain kali hati-hati dong lu! Gausah buru-buru minumnya, santai aja!" ucap Arka.


Kanaya hanya menganggukkan kepalanya dengan perlahan, lalu kembali meminum minuman miliknya karena memang ia sangat haus. Sedangkan Topan dan Mika yang melihat itu tampak saling memandang dan tersenyum senang, mereka tahu jika putra mereka itu memendam rasa pada Kanaya. Tetapi, entah kenapa Arka belum berani mengungkapkan perasaannya itu.


"Ehem ehem, ini kenapa masih pada pake gue-elu sih ngomongnya? Gak romantis banget sih kalian ini!" cibir Topan.


Arka dan Kanaya kini saling bertatapan karena bingung, mereka sama sekali tak mengerti mengapa Topan masih saja menganggap mereka sudah memiliki hubungan. Padahal berulang kali mereka tadi mengatakan jika diantara mereka tidak ada hubungan apa-apa, namun tampaknya Topan serta Mika memang tidak mau percaya pada ucapan mereka yang dikira bohong itu.


"Pa, aku sama Kanaya ini gak pacaran. Kami cuma teman aja, masa papa gak percaya sih? Jangan gitu lah pa, nanti Kanaya malah risih dan gak mau diajak kesini lagi tau!" ucap Arka.


"Ah kamu ini Arka, biasanya pacar kamu yang dibawa kesini tuh langsung kamu kenalin sebagai pacar. Kenapa yang ini mesti dibilang teman segala? Udah lah gausah malu-malu gitu, Kanaya cantik kok banget malah!" sahut Mika.


"Benar itu, harusnya kamu bangga dong punya pacar seperti Kanaya!" timpal Topan.


Arka menepuk jidat dibuatnya, "Mama sama papa ini abis minum obat apa sih? Ngomongnya kok jadi pada ngelantur kayak gini? Ayolah, Kanaya ini bukan pacar aku!" ucapnya mulai kesal.


"Masa? Beneran kalian gak pacaran? Atau Arka cuma belum ungkapin perasaannya aja?" tanya Topan penasaran.


"Umm iya pak, eh om. Ki-kita gak ada hubungan apa-apa kok, tadi saya juga kaget waktu Arka bawa saya kesini tanpa bilang apa-apa. Padahal sebenarnya Arka ngomong katanya mau antar saya pulang ke kostan," jawab Kanaya.


"Hah? Apaan sih pa? Ya jelas enggak lah, yakali aku bisa suka sama cewek galak kayak dia!" elak Arka.


Kanaya menatap tak terima saat Arka mengatakan dirinya galak, namun ia baru ingat kalau kali ini ia berada di rumah orang tua pria itu dan ia harus menjaga sikapnya. Jika tidak, pastinya Kanaya akan menanggung malu yang amat sangat. Maka dari itu, Kanaya pun memilih mengurungkan niatnya dan terdiam saja menerima kenyataan.




Tin Tin Tin...


Berkali-kali Wahyu membunyikan klakson motornya saat mengejar mobil yang ditumpangi Zee serta teman-temannya, pria itu memang berniat menemui Zee dan rombongannya karena ia masih tak terima dengan apa yang mereka lakukan kepada Kanaya. Bagi Wahyu, masalah itu tidak bisa selesai begitu saja sebelum Zee menerima akibatnya.


Akhirnya mobil Zee terpaksa meilipir sejenak ke pinggir karena tak ada pilihan lain, ia bersama Gloria pun turun dari mobil dan menemui Wahyu yang baru saja melepas helmnya. Begitu menyadari yang mencegat mereka adalah Wahyu, sontak kedua gadis itu langsung tercengang tak percaya. Terutama bagi Gloria, sebab gadis itu amat menyukai Wahyu dan ingin bersamanya.


"Eh Wahyu, lu ngapain cegat mobil kita sih? Kalau lu mau ketemu sama gue, kan bisa chat lewat wa. Lu tinggal bilang aja pengen ketemu dimana dan kapan waktunya, pasti gue bakal datang kok!" ujar Gloria.


"Bukan soal itu, gue kesini karena gue ada perlu sama kalian berdua dan ini penting!" ucap Wahyu.


"Emangnya lu mau ngomongin apaan?" tanya Zee.


"Begini Zee, gue cuma pengen mastiin aja kalau kalian berdua gak akan melakukan hal keji itu lagi ke Kanaya. Karena jujur, gue sebagai seorang sahabat gak terima kalau Kanaya digituin sama kalian. Apalagi Kanaya sampai terluka seperti itu," jawab Wahyu dengan tegas.


"Ohh, jadi ini semua tentang Kanaya? Hadeh Wahyu, lu kok mau aja sih dibego-begoin sama dia? Asal lu tahu ya, dia itu cuma mau manfaatin lu doang harusnya lu sadar dong Yu!" ucap Zee.

__ADS_1


"Lo jaga bicara lu ya! Gue gak ngerasa dimanfaatin apa-apa sama Kanaya, dan kalaupun itu terjadi gue rela-rela aja kok asal bisa bermanfaat buat Kanaya. Intinya gue tetap bakal bela dia sampai kapanpun!" ucap Wahyu.


Gloria pun bergerak menghampiri Wahyu dan memegang tangannya, "Duh Wahyu, udah lah lu gausah mikirin Kanaya terus! Disini ada gue yang setia dan selalu nungguin lu," ucapnya manja.


"Cukup ya Gloria! Gue juga masih kecewa sama lu!" ucap Wahyu menghentak kasar tangannya.


"Awhh sakit tau Wahyu! Lo kok tega banget sih giniin gue? Emang salah gue apa sama lu?" protes Gloria sembari memegangi tangannya yang sakit.


"Gausah lebay deh lu, itu gak seberapa dibanding apa yang udah lu lakuin ke Kanaya! Masih mending gue cuma tepis tangan lu, coba kalau gue jedotin pala lu juga tuh ke kaca mobil. Supaya lu bisa ngerasain yang Kanaya rasain," ujar Wahyu.


"Wahyu, udah deh ya gue gak mau debat lagi sama lu! Sekarang lu singkirin motor lu dan biarin kita berdua lewat!" ucap Zee.


Wahyu menggeleng disertai seringaian iblisnya, "Enggak bisa, motor gue akan terus ada disini sampai lu berdua mau ikut sama gue ke tempat Kanaya sekarang juga!" ucapnya.


"Hah? Mau ngapain lu bawa kita kesana?" tanya Zee keheranan.


"Pake nanya lagi lu, ya jelas lah gue pengen kalian berdua minta maaf sambil cium kaki Kanaya disana! Karena apa yang udah kalian lakuin itu, udah bikin Kanaya hampir kehilangan nyawa!" jawab Wahyu.


"What? Yang bener aja dong lu Wahyu, masa iya kita cium kaki si anak baru itu? Ogah banget, kita gak mau ngelakuin itu!" ucap Zee.


"Iya sama, gue juga gak mau. Yakali seorang Gloria yang elit dan cantik jelita ini, cium kaki si anak baru yang songong itu!" sahut Gloria.


"Terserah kalian, kalau kalian gak mau maka gue siap bawa kasus ini ke jalur hukum. Kalian tahu kan kalau bokap gue itu pengacara?" ancam Wahyu.


Deg!


Seketika Zee dan Gloria terkejut bukan main mendengar ancaman yang keluar dari mulut Wahyu saat ini, mereka yakin jika pria itu memang tidak main-main dengan ancamannya. Apalagi ayah Wahyu memang benar adalah seorang pengacara, dan hidup mereka bisa dalam bahaya jika sampai kasus ini dibawa ke jalur hukum nantinya.


"Eh Wahyu, lu jangan gila deh! Masa cuma perkara gue gak sengaja dorong Kanaya aja, terus gue sama Gloria bisa masuk penjara sih?" ucap Zee.


"Why not? Tindakan lu itu udah bikin Kanaya celaka, dan gue gak bisa mentolerir itu ya Zee! Mau lu sengaja atau enggak, intinya lu tetap punya niat buat celakai dia!" ucap Wahyu.


Zee menggeleng pelan, "Enggak, lu gak bisa masukin gue ke penjara! Kasus ini tuh udah kelar, kita juga udah dapat hukuman kok," ucapnya.


"Iya Wahyu, kepala sekolah udah kasih kita surat peringatan kemarin. Disitu tertulis kalau sekali lagi kita berbuat kesalahan, maka kita bisa dikeluarkan dari sekolah. Apa itu gak cukup?" sahut Gloria.


"Jelas enggak, gue yakin orang kayak kalian berdua itu gak mungkin bisa jera cuma dengan hukuman kayak gitu! Apalagi kalian sebentar lagi lulus, jadi hukuman itu gak bakal berlaku!" ucap Wahyu.


"Ya terus lu maunya gimana?" tanya Zee.


"Sesuai yang tadi gue bilang ke kalian, kalian berdua harus minta maaf ke Kanaya sekarang juga sambil cium kaki dia!" jawab Wahyu.


"Ayolah Wahyu, masa gak ada syarat lain? Gue mau lakuin apa aja deh, asalkan jangan cium kaki tuh anak baru!" ucap Zee merengut.


"Gak ada penawaran Zee, gue maunya kalian ngelakuin itu!" ucap Wahyu kekeuh.


Kedua gadis itu kini saling memandang wajah satu sama lain, mereka terlihat kebingungan dan tidak tahu harus menjawab apa. Namun, pada akhirnya mereka pun sepakat untuk mengikuti kemauan Wahyu demi kelangsungan hidup mereka. Zee serta Gloria pun pergi bersama Wahyu menuju lokasi tempat tinggal Kanaya, nantinya mereka disana akan meminta maaf dan mencium kaki Kanaya.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2