
Suara azan subuh mengusik ketenangan tidur Sabrina, ia perlahan membuka matanya, tangannya meraba raba di sebelahnya, ia tersenyum, di rabanya wajah Prasetya, masih tidur, batinnya.
Dengan sangat hati-hati Sabrina turun dari tempat tidurnya, menuju kamar mandi, membersihkan badannya, tentu nya mandi untuk menghilangkan hadas besar nya.
Di ujung relung hatinya, Sabrina merasa sangat bahagia, karena sekian lama setelah menikah dengan Prasetya, baru tadi malam ia merasakan betapa indahnya hubungan mereka. Cumbu an, rayuan, serta bisik bisik mesra ditelinga nya seakan membuat ia lupa segalanya, betapa Prasetya sangat perkasa, sungguh hati Sabrina sangat bahagia. Tapi di sisi lain, Sabrina merasa telah melakukan dosa, bagaimana tidak, ia merasa, kalau dirinya belum sah menjadi seorang istri, tapi telah berbuat demikian jauh, mengembara, melewati batas batas kewajaran. Meraup manisnya madu cinta yang demikian membuat dirinya candu dan selalu membayangkan nya, bagaimana saat Prasetya meminta untuk yang pertama kalinya, memberinya rasa cinta yang demikian memukau dan membuatnya merasa ingin dan ingin lagi.
Lalu, apakah ia akan sebahagia ini, seandainya ia tahu, jika Arsen lah yang telah memberinya kehangatan yang membuat dirinya merasa candu?
Apakah ia akan memaafkan dirinya, jika ia mengetahui bahwa dirinya telah mengkhianati cinta dan ketulusan hati Prasetya?
Sabrina bergegas keluar dari kamar mandi, kemudian menghadapkan dirinya kehadirat Ilahi Robbi. Ia menangis, meratapi nasibnya, yang saat ini telah berlumur dosa.
Prasetya yang mendengar suara isak tangis Sabrina terbangun, dan dengan segera ia duduk ditepi ranjang, memandangi Sabrina dan iapun segera menuju kamar mandi, mandi untuk menghilangkan segala penatnya, karena sejak kemarin ia tidak mandi.
Sabrina menantinya, sambil duduk diatas sofa, badannya tampak segar, tampak berseri, seakan menunjukkan kebahagiaan hatinya saat ini.
"Sayang ... kenapa kau tadi menangis sampai seperti itu, apa aku telah menyakiti hatimu?"
"Tidak ... aku hanya meratapi nasibku, aku tidak bisa membayangkan semuanya!"
"Sekarang, kau ingin aku melakukan apa untukmu?"
"Apa yang kamu lakukan sudah sangat membuat aku bahagia, kau sudah membuat aku memiliki segalanya."
"Brina ... aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin sedikit pun melihatmu menderita, tapi yang aneh, kamu menangis, tapi wajahmu tampak bahagia, apa kau menyembunyikan sesuatu?"
"Apakah gerangan yang aku sembunyikan, Mas ... aku tidak akan menyembunyikan apapun darimu."
"Semalam kau tidur dengan pulas, mungkin karena istirahat mu cukup, makanya kau terlihat segar pagi ini." Kata Prasetiya, membawa Sabrina ke dalam pelukannya, mengecup pucuk kepala Sabrina dengan sangat lembut, kemudian tangannya meraba perlahan ke arah perut Sabrina yang masih rata itu.
"Betapa aku menanti kehadiran bayi ini, aku terus terang mengharapkan nya, seperti anakku sendiri."
"Aku tidak bisa menggambarkan perasaan ku, aku merasa anak ini hanya sebatas titipan, entah aku menyayanginya atau tidak!"
__ADS_1
"Ssssttttt, tidak boleh bicara itu, kau harus menyayangi anak ini dengan segenap kasih sayangmu. Dia adalah darah dagingmu sendiri, walaupun kita tidak tahu siapa ayahnya."
"Mas ... kenapa sih tadi malam kau pulang terlambat?"
"Kendaraan dari perusahaan ada yang mengalami kecelakaan, proses evakuasi harus berjalan, mengingat penumpang yang harus segera diselamatkan."
"Aku sampai ketiduran menunggumu, maaf!"
"Tidak apa-apa, bukankah kau memang harus tidur, aku yang minta maaf, terlambat memberikan kabar, aku menelpon disaat kau sudah tidur."
"Oh ya, apa Mas, tidak lapar?"
"Aku sangat lapar, mari kita kebelakang, kita makan bersama, kita sarapan pagi bersama, sebelum papa dan mas Arsen pergi ke kantor." Sabrina mengangguk, mengikuti Prasetiya yang membimbingnya menuju ruang makan.
Sesampainya di ruang makan, papa nya tampak tersenyum menatap Prasetya, ia adalah sosok ayah yang tidak banyak bicara, yang penting tidak ada masalah, maka jarang laki laki berumur lima puluhan tahun itu, ada dirumah. Ia sangat rajin bekerja, apalagi saat ini, perusahaan yang dipimpinnya sangat maju, ia memimpin perusahaan properti, dan memiliki cabang perusahaan yang saat ini di kelola oleh Arsen dan sudah atas namanya, sementara Prasetya tidak memiliki minat untuk mengikuti jejak ayahnya, makanya ia mendirikan sebuah perusahaan di bidang transportasi, yang tidak kalah majunya di bandingkan perusahaan milik Arsen.
Mata Arsen tidak berkedip, menatap wajah Sabrina yang pagi ini, tampak berseri, ia tersenyum sendiri, tanpa ada yang tahu apa yang membuat laki laki itu tersenyum seperti itu, yang jelas semua itu sangat aneh di mata Papa dan Prasetya.
"Ehem, ehem, ada apa ya Mas, kok senyum senyum kayak gitu?"
"Nggak ... aku lagi senang aja, kemaren lagi menang tender, kali aja aku akan dapat jodoh, kan tidak sendirian lagi, kayak kamu Pras, pulang, ada yang menunggu, sementara aku, hanya ...." Arsen tidak meneruskan kalimatnya, ia hampir keceplosan, kalau ia ingin punya istri seperti Sabrina.
"Hanya apa, Mas?" tanya Sabrina ikut nimbrung.
"Tidak, tidak ada!"
"Gimana mau laku Mas, kerjanya cuma nyari uang!"
"Benar itu, Bri, Mas Arsen tidak pernah tuh bawa pacarnya kesini!"
Arsen hanya diam, sambil mengaduk aduk makanan yang ada di piringnya, ia sesekali mencuri pandang kearah Sabrina, ia masih ingat bagaimana mereka bergumul memadu kasih semalam, dan Arsen sangat menikmatinya. Karena terlalu menghayati, ia kadang senyum senyum sendiri. Mengkhayalkan nya, bahkan ia ingin membawanya kembali dalam kehidupannya, walau dalam mimpi sekalipun, karena ia sadar, meskipun ia punya waktu untuk berusaha mengulanginya, namun bagaimanapun Sabrina tetap istri dari adiknya sendiri, inilah saat ini yang menjadi polemik dalam hatinya, disaat ia sanggup dan belajar menjadi manusia normal, justru ia di hadapkan pada situasi dan kondisi yang rumit, walaupun ada sedikit rasa sakit, karena setiap hal yang di sukai nya, selalu Prasetya yang terlebih dulu yang mendapatkan nya.
Arsen hanya bisa berharap, seandainya ia dan Sabrina tak bisa bersama, ia bisa tetap menjadi manusia normal, tanpa harus mengkonsumsi obat setiap hari, ia ingin hidup normal, tanpa embel-embel apapun, murni tanpa bantuan apapun.
__ADS_1
Lalu bagaimana seandainya Prasetya tahu, kalau dirinya telah menodai cinta antara Sabrina dan Prasetya, mampukah Prasetya memaafkannya, mampukah Prasetya melepaskan untuk kakaknya itu, dan bagaimana pula Sabrina akan menyikapi masalah yang demikian rumit itu.
Arsen merasa puas, telah menghabiskan malam bersama Sabrina, mungkin menurutnya itu lah malam terindahnya, bersama dengan seorang wanita. Setelah itu mungkin ia belum tentu sanggup melewati nya dengan wanita manapun. Kenangan untuk kedua kalinya, dengan wanita yang sama, tapi dengan sensasi yang berbeda, suasana malam romantis yang tidak akan terlupakan sampai ia menutupkan mata, Sabrina adalah harapan terakhir baginya, untuk menyembuhkan penyakitnya, yang selama ini selalu menggerogoti jiwanya.
Hanya Sabrina yang mampu membuatnya bahagia, dan itupun tidak seorangpun yang tahu, baik Prasetya maupun Papa nya, bahkan mungkin mbok Minah, tak ada yang menyadari kalau sosok gagah Arsen adalah seorang penderita gangguan jiwa, yang mampu hidup normal dengan bantuan obat obatan yang tak lupa dikonsumsi nya setiap hari.
"Kalian tidak bulan madu, Pras?" tanya Arsen tiba-tiba.
Prasetya tersedak, dengan segera ia mengambil air minum, dan meminumnya.
"Kayak di interogasi saja, kalian kan sudah menikah, kok tidak bulan madu?" ulang Arsen.
"Bulan madu hanyalah masalah tempat dan waktu, kami sudah berbulan madu, dirumah, bagiku sama saja!"
"Ya, seperti kata Brina, kami bulan madunya dirumah saja."
"Wauuu, aku tersentuh, kalian memang pasangan yang kompak."
"Aku perhatikan, Mas sangat bersemangat akhir akhir ini, dari pendiam jadi banyak bicara."
"Betul itu, pras!" sahut Papanya.
"Apakah Mas, lagi jatuh cinta?" Arsen ganti tersedak, sangat sakit, karena Arsen sedang minum.
"Apa kelihatan?"
"Jadi benar, Mas lagi jatuh cinta?"
Arsen tersenyum, tapi tidak mengiyakannya.
"Katakan, siapa wanita yang mampu mencairkan bongkahan es di hatimu itu?"
Arsen hanya menggeleng, bagaimana ia akan menjawab, sedangkan wanita yang telah mampu membuatnya jatuh cinta itu, adalah sosok cantik yang ada di hadapannya, istri dari adik kandungnya sendiri.
__ADS_1
๐นKarya ini banyak memiliki kekurangan, mohon bantuan like vote dan komentarnya, serta favoritnya agar author semakin semangat dalam berkarya.๐น