
Prasetya tak mau melewatkan kesempatan untuk berbicara dan membuat perhitungan dengan Lusiana, ia segera kembali, dan benar saja, Lusiana masih berada dikamar nya, bahkan dengan santainya mengenakan pakaian Sabrina, sehabis mandi.
"Apa apaan kau, buka baju Sabrina, aku tak suka kau memakai nya."
"Seharusnya aku yang marah, Pras!"
"Apa maksudmu?"
"Kau telah meniduri aku semalam, dan sekarang kau seakan tak mengingat semua itu."
"Kau sudah gila, aku tak bakal melakukan itu, kau tak waras."
"Hei ... enak saja kamu, setelah puas kau menikmati tubuh ku, kau tak mau bertanggung jawab, ha?"
"Aku tak akan melakukan apa yang tak mungkin aku lakukan."
"Tapi kenyataannya kau telah melakukan nya!"
"Pergi kamu, pergi!"
"Kau bisa mengusir aku dari sini, dan akupun bisa menuntut mu, dengan tuduhan telah melecehkan aku."
"Jika kau punya bukti."
"Aku akan tuntut kamu!"
"Silahkan, dan pergi lah dari sini, aku muak melihat mu."
"Oke, aku pergi."
Lusiana dengan tanpa berdosa, pergi keluar dari kamar Prasetya.
Prasetya tersungkur tak berdaya di pintu kamar nya, ia benar-benar hancur, harapan nya untuk kembali bersama Sabrina kembali pupus.
"Seandainya kau mau mendengarkan penjelasan ku Bri ...." kata Prasetya lirih.
Keputusasaan Prasetya dikarenakan rasa cinta yang seakan tak mungkin untuk terbalas lagi, apalagi kini Sabrina telah benar benar marah terhadap dirinya, ia tak pernah melihat Sabrina histeris seperti tadi.
Prasetya masih terdiam dalam isak tangisnya, tangis yang menggambarkan betapa hatinya telah hancur berkeping, sehingga ia tak sadar, jika dirinya telah membiarkan Papanya, terduduk dilantai sekian lama.
" Papa!" Prasetya bangkit, ia berlari menuju kamar Papa nya.
Masih sama seperti tadi, saat Prasetya dan Sabrina masih bertengkar diruang tamu, pak Abraham masih duduk tak berdaya.
"Papa ... maaf kan Pras, Pa ...."
"Ada apa, Pras?"
"Papa bisa bicara?" Prasetya kaget mendengar Papa nya bicara dengan lancar.
"Ya, ada apa?"
"Aku di jebak, Pa!"
"Dijebak bagaimana?"
"Aku tidak tahu, saat aku bangun aku sudah bersama dengan Lusiana, aku tak memakai apapun kecuali dalaman, aku tak sadar kapan aku pulang."
"Dan Sabrina melihatnya?"
"Iya, Pa."
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Aku tak tahu, aku bingung, Pa!"
"Sabarlah, segera temui Sabrina kembali."
"Ya, aku akan menemuinya lagi, nanti."
__ADS_1
Prasetya membimbing Papa nya, untuk duduk di atas kursi roda.
"Aku akan mengambil makanan untuk Papa."
"Apa Sabrina sudah masak?"
"Apa mbok Minah gak ada?"
"Mbok Minah pulang, ada saudaranya yang meninggal, dan suster Rina juga pulang, anaknya masuk rumah sakit."
"Bareng?"
"Ya, untung saja Sabrina pulang, dia yang memasak untuk Papa kemarin."
"Baiklah, aku akan melihat ke dapur."
Prasetya meninggalkan pak Abraham, menuju dapur, mencari makanan yang bisa untuk dijadikan sarapan pagi ini.
Prasetya melihat hidangan yang telah lengkap, ia menatap nya tak berkedip, kembali kesedihan bergelayut didalam hatinya, ia mengambil tempe goreng kesukaannya, saat menggigit nya, ia tak kuasa membendung air matanya, bukan karena tempe itu, tapi karena itu adalah masakan Sabrina, mungkin itu adalah masakan terakhir Sabrina yang akan dinikmatinya, itulah yang membuatnya menangis.
"Apakah aku akan mendapatkan maafmu?"
Bukannya mengambil makanan untuk Papa nya, ia justru terduduk lemas diatas kursi meja makan.
Ia Menelungkup kan kepalanya diatas meja, sambil tangannya memukul mukul meja melepaskan segenap perasaan gundah nya.
Pak Abraham dengan menggunakan kursi rodanya, perlahan menjalankannya, ia menuju dapur karena Prasetya tak kunjung datang membawa sarapan untuk nya.
"Prasetya, ada apa denganmu?"
"Papa ...."
"Seharusnya kau tak bersikap seperti ini, kau harus tenang."
"Bagaimana aku bisa tenang, Pa ... bagaimana aku bisa tenang jika aku tahu Sabrina pergi meninggalkan aku, dia sedang hamil, dia mengandung anakku, Pa!"
"Ya, aku memang harus yakin, ini adalah ujian cinta kami."
"Pras, kau adalah lelaki yang kuat, kau pasti bisa melewati semuanya."
"Tapi aku jujur Pa, apa aku akan kembali mendapatkan maaf darinya, apakah aku akan bisa menikmati kembali masakannya, seperti ini, atau ... ini yang terakhir?"
Pak Abraham turut sedih, ia tak tahu kenapa putranya terus diuji, padahal mereka tak pernah menyakiti orang lain.
Prasetya mengambil makanan yang telah dimasak oleh Sabrina, untuk Papa nya.
Saat ia hendak menyuapi Papa nya, Papa nya menolaknya, ia mengambil piring yang berisi nasi dan beberapa iris tempe goreng dan sambal ikan yang dipegang oleh Prasetya.
"Aku bisa sendiri."
Prasetya membiarkan Papanya makan sendiri.
"Sebentar Pa, aku keluar sebentar!"
Prasetya meninggalkan Papa nya diruang makan, mencari cari sesuatu entah apa.
Tapi saat ia melihat pak Ujang, ia memanggil nya.
"Sini Pak!"
Pak Ujang menghampiri Prasetya, ia kelihatan penasaran kenapa pagi pagi sekali dipanggil oleh tuannya itu.
"Ada apa, den?"
"Anu ... apa Bapak melihat aku pulang semalam?"
"Aku ... tidak Den, yang membuka pintu adalah Sofian."
Sofian adalah satpam yang berjaga dirumah Prasetya.
__ADS_1
"Mana dia?"
"Anu ... lagi kebelakang?"
"Baiklah, suruh dia menemui aku setelah dia kembali."
"Ya!"
Prasetya kembali masuk, ia duduk diruang tamu, begitu tak sabar menunggu Sofian datang menemuinya.
"Ada apa Pak?" tanya Sofian yang datang menemui Prasetya.
"Kemari, duduklah disini!"
"Baik!" jawab Sofian dan duduk di depan Prasetya.
"Apa kau tahu saat aku pulang semalam?"
"I_ iya ... aku tahu!"
"Bersama siapa?"
"Dengan Lusiana, dan Bapak dalam keadaan mabuk."
" Mabuk ... lalu apa yang terjadi?"
"Saya ingin mengantarkan Bapak, tapi saya ditolak oleh Lusiana, dia bersikeras mengantarkan Bapak kekamar."
"Lalu?"
"Lalu Lusiana tak keluar, sampai tadi pagi, sampai Bu Sabrina melihat Bapak!"
"Kenapa kau tak menyuruh Lusiana keluar?"
"Sudah Pak, tapi ia tak mau, malah dia marah padaku."
"Hanya itu?"
"Iya!"
"Selebihnya?"
"Aku tak tahu!"
"Ya sudah, aku hanya ingin tahu bagaimana semuanya bisa terjadi, kamu boleh pergi."
Prasetya menghembuskan nafas panjang, ia masih penasaran, apakah ia telah melakukan perbuatan yang tidak seharusnya pada Lusiana atau ia hanya sekedar dijebak.
"Haaah, mimpi apa aku semalam?"
Desah Prasetya kesal.
Pak Abraham mendekati Prasetya, ia telah selesai makan. Prasetya menoleh menatap Papa nya.
"Maaf Pa, aku bukannya tak mau menemani Papa, tapi aku baru saja menemui Sofian, tapi kayaknya dia tak tahu apa-apa."
"Aku mengerti dan paham bagaimana kondisi dan situasi mu. Santai aja!"
"Makasih Pa!"
Pak Abraham mengangguk, ia tak bisa mengatakan apa apa, ia hanya pasrah pada apa yang akan terjadi, tapi ia yakin jika semua itu hanya pewarna cinta yang akan menambah kehangatan bagi Prasetya dan Sabrina.
Prasetya mencoba menghubungi Sabrina, tak diangkat, bahkan di tolak, Prasetya sadar jika Sabrina pasti masih marah, kemudian ia mengirim kan pesan.
"Sabrina, mohon waktunya, aku akan menjelaskannya padamu."
Dibaca, tapi tak dibalas.
Kembali Prasetya menghela nafasnya berat, dan meletakkan ponselnya begitu saja, serta langsung merebahkan dirinya diatas sofa dimana ia duduk.
__ADS_1