
"Halo, Pa ...."
"Apa kamu sudah pulang?"
"Ya, Pa ... aku sudah pulang."
"Apa kamu tidak berniat membawa Sabrina kesini?"
"Sebentar lagi, Pa."
"Ya udah kalau gitu, Papa nanti disini!"
"Papa sudah ada di sana?"
"Ya, Papa disini sudah setengah jam yang lalu."
"Baiklah, aku mandi dulu."
Prasetya mengakhiri pembicaraan mereka, dan kembali menatap ke wajah Sabrina yang masih terbaring diatas kasur. Prasetya mendekatkan bibirnya, mengulum lembut dengan sangat hangat, keduanya terhanyut dalam kehangatan yang mereka ciptakan.
"Nyonya ... Kaila menangis!" panggil suster Rina sambil menggendong dan mendiamkan sang bayi kecil yang imut itu, dimuka pintu.
Sabrina tersenyum menatap Prasetya, sedang Prasetya mendengus kesal, menyadari Sabrina harus pergi menenangkan sang bayi kecilnya.
"Awas kau ya, papa minjam mama saja tak kamu izinkan, nih Papa cium." Kata Prasetya sambil mencium pipi kaila dengan begitu gemasnya.
"Aku ingin cepat cepat menghalalkan kamu, aku tak sabar untuk membuat adik buat Kaila."
"Mas ... yang bener aja, aku tak mau kaila cepat cepat punya adik."
"Harus itu!"
"Cepat mandi sana, papa sudah menunggu kita."
"Baik sayang ... kamu setelah memberi asi kaila, segera bersiap juga, supaya kita segera pergi."
"Iya, Mas ...."
Prasetya mengambil handuk dan segera membersihkan seluruh badannya yang terasa penat, sebab dari kemaren ia tak mandi, karena ngambek, cemburu pada Sabrina, tapi setelah bertemu dengan wanita yang begitu dicintainya itu, hatinya telah kembali berbunga.
Ketika Prasetya keluar dari kamar mandi, ia menyaksikan Sabrina yang memang demikian cantik, kembali muncul perasaan cemburu dihatinya, hanya untuk menemui Arsen, kenapa Sabrina berdandan secantik itu.
"Kamu kenapa dandan secantik ini?"
"Jadi aku harus bagaimana, Mas?"
"Kamu biasa aja kenapa?"
"Aku hanya memakai bedak tipis, itupun aku tak tahu bagaimana bentuknya, aku kan tak bisa melihat rata atau tidak, cantik atau tidak, kenapa kau kembali cemburu?"
"Maaf, tapi kamu memang benar benar cantik, aku mencintaimu."
"Sudahlah, aku tak mau kita bertengkar lagi, aku tak bermaksud membuatmu cemburu."
Prasetya tak mau juga berdebat dengan Sabrina lebih lama, ia akhirnya memutuskan untuk segera berangkat kerumah RSJ, sebab papanya sudah lama menanti mereka.
Dengan mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan sedang, Prasetya tak melepaskan genggaman tangannya, ia seperti benar benar ketakutan dengan perasaan nya.
"Mas ... aku tulus mencintaimu, maka hilangkan lah rasa was-was dalam hatimu, aku akan menjaga cinta kita, jadi kau tak perlu cemburu atau curiga padaku."
__ADS_1
"Iya sayang ...." Jawab Prasetya sambil mengecup pucuk kepala Sabrina.
Tak terasa mereka sudah sampai di RSJ, Prasetya menggandeng tangan Sabrina dengan begitu mesra.
Disebuah bangku panjang, tampak pak Abraham sedang menanti mereka.
"Papa ... bagaimana keadaan mas Arsen?"
"Sudah sedikit tenang, dia memanggil manggil mama!"
Prasetya segera mengajak Sabrina menemui Arsen, dan tanpa diduga, setelah mengetahui kedatangan Sabrina, Arsen segera berdiri menyambut Sabrina, menggapai gapai kan tangannya kearah Sabrina.
"Mama ... Mama ... aku takut ...."
Sabrina perlahan menggenggam tangan Arsen, tampak gurat ketenangan diwajah Arsen, senyum terbias di bibirnya, serta merta menggenggam erat tangan Sabrina dan seperti tak ingin melepaskan nya.
"Tenanglah, aku disini ...."
"Mama jangan pergi lagi, aku takut!"
"Iya, aku akan menemanimu disini!"
"Aku ingin keluar, aku ingin bersamamu, aku ingin bersamamu ...."
Prasetya meminta izin untuk membawa Arsen ketaman belakang rumah sakit, dan iapun mendapatkan persetujuan.
Ketika Arsen dikeluarkan dari dalam ruang yang seperti tahanan itu, seketika ia berlari mendekati Sabrina dan langsung memeluk dengan erat badan Sabrina, dan sabrina yang menyadari Arsen memeluknya merasa sangat terkejut serta tanpa sengaja melepaskan pelukannya itu.
"Kenapa ... apakah Mama tak mau lagi memeluk aku?"
"Bukan, aku tak bermaksud demikian, aku hanya ...."
"Peluklah dia, tenangkan dia!"
Dengan gemetar, Sabrina mendekatkan dirinya, ia memeluk tubuh Arsen yang tetap memegangi tangannya. Ia merasakan kehangatan tubuh Arsen, ia ingat seperti kehangatan malam itu.
Tubuhnya terasa bergetar, ia semakin yakin, jika Arsen lah orang yang bersamanya.
"Mari kita kesana, kita lihat bunga yang indah itu, apa kamu mau?" tanya Prasetya.
"Siapa kamu, kamu yang akan membunuh aku, iya, kan?" Prasetya terkejut mendengar pernyataan Arsen.
"Pembunuh ... dia bukan pembunuh sayang ... dia saudara kamu, yang melindungi kamu dari berbagai ancaman apapun, jadi jangan takut ... ya!" ucap Sabrina sambil mengusap rambutnya, yang sekarang berada di sampingnya, duduk sambil menyandarkan kepalanya di bahu Sabrina, seperti layaknya seorang anak yang bermanja-manja pada ibunya.
"Jangan panggil sayang padanya ... bisa nggak?" bisik Prasetya ditelinga Sabrina.
"Jangan dekati Mamaku, menjauh lah, aku tak suka kau dekat dekat dengan Mamaku!"
"Brengsek!" umpat Prasetya dalam hati, ia merasa tertekan dengan situasinya saat ini.
"Sabar Mas ... tak apa apa, biarkan dia lebih tenang."
"Terserah!" Prasetya meninggalkan mereka berdua, dengan wajah jengkel.
"Mas ... mau kemana?"
"Disitulah kalian, aku akan menantimu didepan."
Sabrina terus membelai belai lembut rambut Arsen, ketenangan yang ia berikan benar mampu membuat Arsen merasa damai, perlahan Arsen memejamkan matanya, tertidur pulas di dekapan nya.
__ADS_1
Tubuh Arsen yang berat, membuat Sabrina merasa kebas di bagian tangannya, tiba tiba seorang petugas mendekati nya.
"Apa lbu perlu bantuan?"
"Tolong, bawa dia ketempat nya."
"Baik, Bu ... saya akan memanggil teman saya dulu."
"Ambil kursi roda aja!"
"Baiklah, saya akan mengambilnya."
Tak berapa lama, petugas itu sudah kembali membawa kursi roda, mereka mendudukkan Arsen di kursi roda itu dan membawanya keruang tempat biasa Arsen berada.
Sabrina sangat terkejut saat Prasetya sudah berada didekatnya, dan dengan segera menarik tangan Sabrina jauh dari ruang itu.
"Sampai dirumah, cuci tanganmu, aku tak mau ada bekas mas Arsen di tubuhmu."
"Mas ... bukankah perkataan mu itu sudah keterlaluan?"
"Kenapa, kau sudah memeluk dan membelai belai dia, apa aku keterlaluan, kau adalah istriku, laki laki manapun tak akan rela melihat pasangan bersama laki laki lain."
"Dia lagi sakit, Mas ...."
"Aku tak peduli, ayo kita pulang."
Sabrina menurut saja saat Prasetya menarik tangannya.
Pak Abraham yang menyaksikan semua itu, hanya menggeleng kan kepalanya, ia memahami perasaan Prasetya.
"Apa kamu tahu, dengan melihatmu seperti itu, aku ingin segera menikahi mu kembali, aku ingin memberikan kehangatan padamu, agar kau tak berpikir macam-macam pada Mas Arsen."
"Oke, siapa takut!"
"Jadi kau sudah siap?"
"Apa yang tidak untuk mu Mas ..."
"Aku akan segera mengurusnya."
"Baiklah, tapi bagaimana caranya mengatakan pada Papa, beliau tahunya kan kita sudah resmi."
"Aku akan jujur, kalau Kaila bukan anakku."
"Apakah itu tidak akan membuat papa marah?"
"Lantas ... bagaimana?"
"Bagaimana kalau kita menikahnya ditempat lain?"
"Tidak, begini saja, kita buat resepsi pernikahan saja, agar dunia tahu, kalau kita sudah resmi menjadi pasangan yang bahagia."
"Tapi sudah ada Kaila?"
"Ah ... nanti aja kita pikirkan, yang jelas sekarang aku sangat berambisi untuk membuatmu bertekuk lutut dihadapan ku."
"Memangnya aku pernah melawan mu?"
"Kau selalu melawan ku, melawan gairahku."
__ADS_1
Sabrina tersenyum, sambil membalas genggaman tangan Prasetya dengan begitu mesra.