Ayah Anakku Kakak Kekasihku

Ayah Anakku Kakak Kekasihku
Bab 44


__ADS_3

Prasetya menanti Sabrina diperiksa oleh dokter kandungan, Prasetya duduk didekat ranjang pasien, ia mendengar setiap perkataan dokter.


"Ibu tidak boleh capek dan banyak pikiran, kandungan Ibu saat ini sangat lemah, harus ekstra hati-hati."


"Apa Dok, kandungan istri saya lemah?"


"Iya Bapak, selaku suami Bapak harus memperhatikan kesehatan dan menjaga istri agar tak banyak pikiran."


"Iya, saya akan mengusahakan nya, Dok!"


"Untuk hari ini saya rasa sudah cukup, Ibu harus rajin meminum vitamin agar kesehatan Ibu tetap terjaga."


"Iya Dok!"


Prasetya dan Sabrina meninggalkan rumah sakit, mereka merasa sangat bahagia.


"Ayolah Bri ... kita kerumah, aku rasanya tak sabar mengabarkan pada Papa tentang kehamilan mu."


"Aku tak sempat hari ini, Mas ...."


"Inikan hari minggu, aku pasti tak sibuk jika hari minggu seperti ini, aku bisa menemanimu seharian."


Ponsel Sabrina berbunyi, dan ternyata dari Ananta.


"Halo kak, ada apa?"


"Barang barang yang dipesan kemaren sudah datang, apakah kau bisa datang?"


"Aduh ... aku lagi bersama Mas Pras, Kakak saja yang memeriksanya, Kakak bisa, kan?"


"Oke, aku akan memeriksa nya jika kau percaya!"


"Aku selalu percaya padamu."


Sabrina menutup ponselnya, ia kembali menghampiri Prasetya.


"Sayang ... aku baru saja dapat kabar, truk yang digunakan oleh karyawan untuk mengantarkan barang pelanggan saat ini bermasalah, dan aku harus segera menyelesaikan nya, aku pergi dulu!"


"Tapi, bagaimana dengan Papa?"


"Aku nanti akan mengabari Mbok Minah, aku pergi dulu, oke?"


"Baiklah, Mas hati hati!"


"Iya, kamu jaga anak kita, jangan terlalu capek."


Sabrina mengangguk, Prasetya mengecup pucuk kepala Sabrina lalu meninggalkan nya.


tak lama setelah kepergian Sabrina, Azmi datang, ia turun dari mobilnya, mendekati Sabrina.


"Hai ... Bri?"


"Hai, kamu dari mana?"


"Aku lagi ada sedikit keperluan, aku lihat kamu berdiri sendiri disini, habis check up?"


"Iya!"


"Sendiri?"


"Tidak, sama Mas Prasetya tadi?"


"Kok dia meninggal kan mu sendirian, dia kemana?"


"Dia ada keperluan mendadak, dan harus segera pergi!"


"Dengan meninggalkan kamu sendiri disini?"


"Ah, tidak ... aku yang menolak untuk diantar, aku yang memaksanya untuk pergi saja." Kata Sabrina menutupi kebenarannya.


"Oh begitu, kirain ... dia meninggalkan mu begitu saja."


"Tidak ...."

__ADS_1


"Sekarang kamu mau kemana?"


"Ke butik, barang baru sudah datang, aku harus mensurvei nya."


"Mari kalau begitu, kita kesana bersama, sekalian aku mengantarmu!"


"Oke, ayo!"


Azmi membuka pintu mobil untuk Sabrina, kemudian membungkukkan badannya seperti seorang pelayan yang tunduk pada majikannya. Sabrina tersenyum kemudian masuk.


Azmi mengemudikan mobilnya dengan santainya.


"Bagaimana kandungan mu Sabrina?"


"Sudah ada perkembangan, tapi kata dokter masih lemah, aku tidak boleh terlalu capek dan banyak pikiran."


"Oooo." Azmi mengerucutkan bibirnya.


"Kalian sudah lama menikah?" tanya Azmi setelah beberapa saat.


"Sudah dua tahun!"


"Tentu kau bahagia bersama dengan Pras?"


"Bahagia, sangat bahagia?"


"Tapi aku perhatikan kenapa kau seakan menyembunyikan sesuatu?"


"Sesuatu apa?"


"Ayolah, jujur saja, jangan pura pura tak mengerti!"


"Aku memang tak mengerti apa maksudmu."


"Aku menangkap sebuah kecemburuan di matamu."


"Cemburu?"


"Ya, apa aku salah tafsir?"


"Kenapa, apa aku benar?"


"Aku cemburu sih, tapi aku mulai percaya pada Mas Pras!"


"Cemburu pada orang yang ada di foto yang aku kirimkan waktu itu?"


"Iya, aku memang agak curiga."


"Dan kau tak ingin mencari tahu siapakah wanita itu?"


"Kata Mas Pras, dia adalah pengacara Mas Arsen."


"Lalu kau percaya begitu saja?"


"Ya, bukankah sebuah hubungan akan baik jika ada saling kepercayaan?"


"Ya, memang." Jawab Azmi kemudian diam. Menyembunyikan pertanyaan nya tentang siapa Arsen.


Sabrina tak mau melanjutkan jawabannya, ia melirik Azmi sekilas lalu. Sedangkan Azmi terbawa oleh pikiran nya yang jauh menerawang, dimana ia dan Sabrina bisa mengarungi hidup bersama.


Azmi kecewa, ternyata Sabrina adalah istri dari Prasetya, laki-laki yang sangat dibencinya, ia tak ingin sedikitpun melepaskan Sabrina lagi, jika Sabrina bukan istri dari Prasetya, mungkin ia akan merelakan nya, tapi karena Sabrina adalah istri Prasetya, maka dendam lama seakan teringat kembali.


Prasetya yang selalu terlebih dulu memiliki cinta dari orang yang dikagumi dan di cintai nya.


Zahra, istri Azmi yang telah meninggal dalam sebuah tragedi pembunuhan sadis, telah menambah luka hati Azmi, apalagi ia tahu di ujung kematian nya, istrinya itu masih menyebutkan nama Prasetya.


Jangan kan cinta Zahra, tubuh nya pun tak bisa ia menyentuh nya.


Perasaan dendam kian merajai hatinya, ia tak akan memaafkan Prasetya sampai ia menghembuskan nafas yang terakhir. Itu adalah janji Azmi pada dirinya sendiri.


"Hai, Azmi kamu melamun ... kita sudah hampir sampai, kenapa kau diam saja?"


"Ah, tidak apa apa.

__ADS_1


"Apa ada yang lagi kamu pikirkan?"


"Tidak, aku tidak sedang memikirkan apapun, cuma aku ingat Prasetya, dia ada berapa bersaudara?"


"Kok kamu mau tahu tentang Mas Prasetya, ada apa?"


"Apa tak boleh?"


"Bukannya begitu, bukankah kalian tak ada hubungan pertemanan sama sekali?"


"Jangan salah, aku dan Prasetya adalah teman satu kampus dulu, aku lumayan mengenalnya, tapi ya tak terlalu akrab."


"Begitu?" Azmi mengangguk.


"Apa dia punya saudara?"


"Punya, satu, Mas Arsen ... Dan sekarang sudah meninggal."


"Oh jadi Arsen pemilik perusahaan terkenal itu ... kakak beradik dengan Prasetya?"


"Ya!"


"Aku baru tahu sekarang, ternyata kau adalah seorang menantu dari keluarga tajir melintir."


"Memang kenapa, yang kaya adalah keluarga suami ku, aku mah tidak ada sangkut paut nya, bagiku kaya miskin seseorang tak terlepas dari usaha mereka dan termasuk suratan takdir dari Sang Pencipta."


"Ya kau benar, aku pun sependapat dengan mu."


Azmi memasuki tempat parkir didekat butik milik Sabrina, ia kemudian menghentikannya, tapi tak segera membuka pintu mobilnya.


Azmi sedikit kurang ajar, ia mendekatkan tangannya, kemudian mencoba mengelus perutnya Sabrina yang sedikit lebih membesar. Otomatis Sabrina menepisnya.


"Kenapa Bri?"


"Jangan lancang kamu!"


"Bukankah aku juga pernah menggendong mu, kenapa mengelus perut saja tak boleh?"


"Tetaplah dalam batasan!"


"Wah ternyata kau adalah wanita yang tegas!"


"Menurut mu?"


"Aku cuma bercanda, gitu aja kok sewot!"


Azmi membuka mobilnya dan mempersilahkan Sabrina untuk turun.


"Aku minta maaf jika kau tersinggung, aku hanya ingin memastikan kau tipe wanita yang mudah berpaling atau tidak."


"Lalu?"


"Aku ternyata salah, kau adalah wanita yang tak mudah goyah."


"Aku adalah wanita yang setia pada pasangan ku."


"Alangkah bahagianya jika aku adalah laki-laki yang menjadi pasangan mu."


"Apa maksudmu?"


"Tidak ada, aku cuma berpikir ... kenapa sampai saat ini, aku belum juga mendapatkan pasangan hidup, apa aku kurang tampan?"


"Aku tak menilai seseorang dari ketampanannya."


"Lalu, apa dari kekayaaan nya?"


"Tidak juga!"


"Lalu dari apa nya?"


"Dari kebaikan nya mungkin!"


"Oh ...."

__ADS_1


Keduanya akhirnya masuk ke dalam butik dan terlibat kesibukan didalamnya.


__ADS_2