
Dalam perjalanan pulang, Sabrina hanya diam, tidak berekspresi sama sekali, ia kelihatan sangat pasrah, ia hanya merasa bingung saja, dalam keadaan seperti ini, dalam keadaan raga yang sangat tidak mendukung, dalam keadaan yang sangat terbatas, dan dalam hati nya yang sangat ingin di manja oleh sang suami, justru ia harus hamil, hamil entah anak siapa.
"Brina ... kenapa masih diam?"
"Bawa pulang aku tempat mama saja, Mas ... aku ingin pulang!"
"Kenapa Sabrina?"
"Aku rasa, aku tak pantas berada di rumah kalian!"
"Kenapa sayang?" jawab Prasetya seakan menutupi perasaannya yang saat pun sedang tidak baik-baik saja.
"Dalam pandangan dan anggapan orang, aku adalah istrimu, sementara di mata agama, aku tidak sah menjadi istrimu."
"Aku berjanji Brina, aku tak akan menyentuhmu, sampai anak itu lahir, dan setelah lahir aku akan menikahi mu kembali, percayalah kau tidak akan macam-macam."
"Aku percaya Mas, tapi aku tidak enak hati, aku merasa berdosa dan bersalah padamu, aku ada di hadapanmu, tapi aku tak bisa kau apa apakan."
"Mungkin, ini adalah cara Tuhan ... agar aku menjadi manusia yang lebih sabar dalam menghadapi segala sesuatu didalam hidup ini."
"Mas ... aku tidak ingin orang bilang yang tidak tidak tentang kita!"
"Kenapa, mereka tidak tahu apa-apa, kecuali kau memberi tahu mereka, bahwa kau hamil entah anak siapa." Sabrina diam.
"Aku akan mengatakan, anak yang kau kandung, adalah anakku, masih kah kau merasa ragu akan ketulusan ku?"
"Sanggupkah aku menjalani semua ini, Mas?"
"Tuhan memberimu ujian ini, karena kau bisa dan kau sanggup menjalaninya."
"Tapi ... semakin lama, semakin bertambah berat saja, aku seakan tak kuasa menerima semua ini."
"Lalu ... kalau kau tidak kuat, apakah kau akan bunuh diri?"
"Tak dapat ku bayangkan, Mas ... bagaimana aku akan merawat bayiku, jangankan mengurus, melihat wajahnya saja, aku tak bisa."
"Apakah kau meragukan akan kebesaran Tuhanmu?"
__ADS_1
"Apa maksudmu, aku tak pernah sekalipun meragukan kebesaran dan kekuasaan Tuhan!"
"Lalu ... mengapa kau takut tak bisa merawat anak itu, bukankah aku ada bersamamu?"
"Ya, saat kau ada, kalau kau tidak sedang bersamaku, siapa yang akan membantuku?"
"Sabrina sayang ... mengapa semua kau jadikan rumit, kita bisa sewa baby sister, untuk merawat bayi itu, kenapa repot, sudahlah, jangan kau pikirkan semuanya!"
Sabrina terdiam, menatap dalam kegelapan matanya, saat ini ia hanya mampu melihat dari jendela mata hatinya, menerawang dalam kebisuan, menilai arti sebuah kehidupan, lewat kata dan pengharapan, ketulusan, kebaikan dan kebahagian, semua itu hanya dapat ia rasakan, lewat hantaran kata, tanpa melihat ekspresi wajah yang selama ini ia saksikan.
Lain halnya dengan sang penyejuk jiwa, Prasetya Abraham Dirja, entah terbuat dari apa, hati emasnya, tak ada rasa di hatinya selain rasa cinta dan kasih sayang buat Sabrina, setelah semua harapannya kandas dan pupus, menerima sang bunga cinta, yang telah terampas segalanya, dengan sangat lapang dada, ia rela mengorbankan jiwa raga demi kebahagiaan Sabrina, sang gadis tercinta, tanpa beban dan keterpaksaan.
"Mas ... apakah kita jadi kerumahnya Mama?"
"Tidak, biar nanti aku menelepon Lisa saja, biar dia datang ke rumah!"
"Ya sudah, kalau begitu, aku hanya butuh teman bicara," sambung Sabrina.
"Apakah aku kurang asyik jadi teman ngobrol?"
"Bukan asyik, tapi sangat asyik, karena saking asyiknya, aku sampai takut!"
"Takut kelepasan, aku takut melampaui batas, saat ngobrol denganmu, di pandangan orang, kita suami dan istri, tapi aku tak lain hanyalah seorang gadis yang ternyata hanya menopang kan diri padamu, berlindung di bawah ketiak mu saja."
"Kok, ngomong nya kayak gitu, aku tak pernah menganggap mu seperti itu, aku justru bahagia mampu melakukan semua ini untukmu, aku bahagia bisa membantu mu melewati masa masa sulit mu."
"Kau memang selalu seperti itu, dan itulah yang membuat aku semakin mencintai dirimu, alangkah bersyukur aku telah di pertemukan dengan seorang manusia berjiwa malaikat seperti dirimu."
"Jangan berlebihan, dan jangan sering-sering memuji aku, nanti yang semula aku ikhlas akan menjadikan aku ria, aku tak mau semua jadi sia sia."
"Kok, sia-sia?"
"Iya dong ... bukankah segala sesuatu yang di kerjakan mengandung unsur ria, akan menjadi sia-sia saja?"
"Kau ini, selalu saja, punya jawaban!"
Tak terasa, mereka sudah sampai di halaman rumah yang begitu mewah dan megah itu, sepasang mata selalu mengawasi, mulai dari kepergian sampai mereka kembali.
__ADS_1
Siapa lagi, yang mengawasi nya, kalau tidak Arsen.
Terus terang, Arsen merasa sangat cemburu melihat kebahagiaan antara Sabrina dan Prasetya.
Andai saja, ia mampu melakukan semua dengan sebuah kelembutan, ia pasti akan bertanggung jawab atas yang ia lakukan pada Sabrina,
kadang ia merasa benci pada dirinya sendiri, bagaimana tidak, ia tidak mampu melakukan sesuatu seperti yang Prasetya lakukan, sejak kecil ia selalu kalah dari Prasetya.
Arsen mendesah, menatap Sabrina dan Prasetya yang baru saja masuk, Arsen kadang merasa bersalah, menyaksikan Sabrina yang tidak bisa melakukan apapun, karena tidak bisa melihat, mungkin saat ini ia akan bertambah merasa bersalah bila ia tahu kalau tindakannya kala itu membuahkan benih dalam rahim Sabrina.
"Mas ... tidak keluar?"
"Lagi malas, lagi nggak mood."
"Heran ... biasanya tidak pernah dirumah, selalu bosen!"
"Apa salah kalau aku ingin dirumah?"
"Oh, sama sekali tidak, aku seneng malah, jangan jangan Mas pingin nikah kayak aku ya?" otomatis Arsen tersedak air minum yang sedang di minum nya.
"Apa kelihatan aku mau nikah?"
"Iya kayaknya, udah dulu ya, Mas, aku ke kamar dulu." Arsen mengangguk.
Setelah kepergian Sabrina dan Prasetya dari ruang tamu itu, Arsen kembali pada pikirannya, ia bertanya-tanya dalam hati, kemana Prasetya membawa Sabrina hari ini, satu hari setelah menikah, apakah mereka merencanakan bulan madu, kalau ia, kemana Prasetya membawa Sabrina, berbulan madu berbagi cinta dan kerinduan mereka.
Resah dan kegelisahan Arsen tidak sampai di situ, ia mulai merasa iri dengannya Prasetya, ia tidak suka Prasetya menikahi Sabrina, kebencian mulai mengakar di relung hati Arsen, entah faktor apa yang menyebabkan Arsen mulai tidak menyukai adiknya itu, seharusnya ia bersyukur, gadis yang telah di hancurkan masa depan nya itu, justru telah di selamatkan oleh adiknya sendiri, Arsen mulai muak dengan semuanya, ia berpikir, tak ada yang berpihak padanya, baik waktu, keadaan dan bahkan cinta.
"Mengapa aku harus jatuh cinta pada seorang gadis yang sama dengan adikku, aku tak pernah membayangkan, akan melakukan semua ini, menghancurkan segalanya, hidupku, cintaku!"
Prasetya tidak sengaja, melihat wajah kakaknya yang kusut itu, ia sendiri kurang dekat dengan kakaknya itu, sebab orangnya sedikit tertutup. Mereka jarang bersama, kadang mereka bertemu saat pagi, waktu mereka sarapan, dan malam saat pulang dari kantor.
Prasetya dan Arsen memiliki kantor sendiri sendiri, Prasetya memiliki perusahaan yang bergerak di bidang jasa dan transportasi, sedangkan Arsen, perusahaannya bergerak di bidang properti.
Dengan seksama Prasetya memandang kakaknya, tanpa banyak bicara, ia berlalu begitu saja, ia sendiri pusing dengan masalahnya kali ini.
"Untuk saat ini tidak kakak, biarkan aku menenangkan pikiran ku, mungkin lain waktu aku akan membantumu," pikir Prasetya.
__ADS_1
🌹 Tiada lain harapan Author, selain memberikan kepuasan kalian semua setelah membaca, makanya jangan lupa berikan dukungan kalian, berikan penilaian kalian, oke!🌹