Ayah Anakku Kakak Kekasihku

Ayah Anakku Kakak Kekasihku
Bab 25


__ADS_3

Tak terasa sudah dua tahun sejak kepergian Arsen dari rumah, tapi karena kedekatannya dengan sang buah hati, ia selalu menyempatkan diri untuk datang hanya sekedar untuk melihat dan memberinya sebuah ciuman kasih sayang.


Namun malam ini, Arsen tak lagi datang, Kaila yang merasa telah begitu dekat dengan Papanya, ia merasa sangat kehilangan.


"Sustel Rina ... mana Papa tampan?"


"Papa tampan entah kemana, besok Papa tampan pasti datang melihat kaila."


"Tapi Kaila maunya sekalang ...."


"Ya, kita nanti dulu sebentar ya ...."


Sehari dua hari, bahkan satu bulan, Kaila tak bisa lagi untuk dibujuk, ia terus menanyakan Papa tampannya.


Hingga suatu malam, Kaila tak bisa lagi di bujuk atau di bohongi, badan nya panas, ia terus memanggil manggil Papa tampannya.


Sabrina dan Prasetya yang tidak mengetahui akan hal itu, merasa heran saat mendengar Kaila menyebut nyebut papa tampan.


"Siapa Papa tampan itu sayang?"


"Papa tampan yang selalu datang menemani Kaila ...."


"Namanya siapa?"


"Namanya aku tak tahu, tapi dia menyuruh Kaila, memanggilnya papa tampan."


Prasetya menatap suster Rina, berikut Mbok Minah, seakan menuntut jawaban pada mereka berdua, keduanya bukannya memberi jawaban, tapi justru menunduk dalam.


"Suster, apa kau tahu?" suster Rina tak menjawab, Prasetya mengalihkan pertanyaannya kepada Mbok Minah.


"Apa Mbok juga tak tahu?"


"Anu Den ...."


"Apa Mbok, jelaskan pada kami, katakan siapa papa tampan?" tambah Sabrina.


"Papa tampan ... Itu ... adalah ... tu_ tuan Arsen, Den ...."


"Apa?" Prasetya sangat terkejut mendengar pengakuan Mbok Minah.


"MAS ARSEN DATANG KALIAN TIDAK BILANG, APA KALIAN TIDAK BERFIKIR?"


"Ma_ maaf Den ...."


"Apa kalian menanyakan dimana dia tinggal?" tanya Sabrina.


"Dia tak mau memberi tahu, Buk ...."


Jawab suster Rina, ketakutan.


"Apa kalian minta nomor ponselnya?"


"Ti_ tidak!"


"Sekarang apa yang harus kita lakukan, kemana kita harus mencari dia, sedang Kaila terus mencarinya."


"Keadaan kamar Kaila semakin dingin, Sabrina mengelus elus rambut putrinya, ia semakin cemas, karena semakin lama badan Kaila semakin bertambah panas, serta terus menyebut nama Papa tampan.


Malam semakin larut, kompres di kening Kaila entah berapa kali mengering, namun ia masih terasa panas, hampir pukul dua dini hari, Kaila tertidur, ia mengigau, melambai-lambai kan tangannya, seakan mengucapkan kata perpisahan.


Pagi tiba, keadaan Kaila masih kurang membaik, akhirnya Prasetya dan Sabrina memutuskan untuk membawa Kaila kerumah sakit.

__ADS_1


Dengan segera iapun mendapatkan pemeriksaan dari dokter anak yang ada di rumah sakit itu.


Setelah Kaila terbangun, Sabrina mengajak Kaila berbicara tentang papa tampan dengan begitu sangat hati-hati.


"Kaila sayang ... tadi Kaila mimpi apa?"


"Tadi Kaila mimpi bertemu dengan Papa tampan, tapi Papa tampan pergi jauuuh sekali, meninggalkan Kaila."


"Perginya kemana?"


"Telbang ... Ma."


"Papa tampan terbang, terus apa dia kembali lagi?"


"Tidak ... Papa tampan melambaikan tangannya pada Kaila, katanya Kaila harus jadi anak baik."


Sabrina menatap kearah Prasetya, mereka sama-sama merasa was-was, jangan jangan terjadi sesuatu pada kakaknya itu.


Keesokan harinya, Kaila sudah diizinkan untuk dibawa pulang.


Suasana kembali semula, perlahan Kaila bisa melupakan sang Papa tampan.


Tak berapa lama mereka asyik bercengkrama di ruang tamu, terdengar suara telpon rumah berbunyi, Prasetya segera mengangkatnya.


"Halo, ini siapa?"


"Ini dari rumah sakit, mengabarkan bahwa sudah ada donor mata yang cocok untuk Sabrina."


"Oh ya ... benarkah?"


"Ya, kami harap pihak keluarga bapak segera datang mengurusnya, karena operasi akan dilakukan sore hari ini juga."


"Ya, baiklah ... kami akan segera kesana."


"Mas ... lepaskan, malu sama Papa!"


"Apakah kamu tahu, aku sangat bahagia, ada donor mata yang cocok untuk kamu!"


"Benarkah?"


"Iya ... ayok segera berangkat kerumah sakit, sebab hari ini juga akan dilakukan operasi nya."


Tak menunggu waktu lama, Sabrina dan Prasetya serta Pak Abraham, pergi kembali kerumah sakit.


Kaila tidak diajak karena ia baru saja pulang dan harus menanti pemulihan.


Sesampainya di rumah sakit, Prasetya langsung menemui dokter yang akan menangani Sabrina.


Proses nya tidak begitu lama, dan Sabrina langsung masuk ruang operasi, dan operasi pun langsung dilakukan.


Keesokan harinya, Sabrina telah siap untuk dibuka perban matanya, ia rasanya sudah tak sabar akan segera melihat kembali. Sungguh ia sangat merasa penasaran, apakah operasi nya berhasil atau tidak. Beberapa menit kemudian, akhirnya dokter telah selesai membuka perban, dan secara perlahan Sabrina disuruh membuka matanya.


Perlahan namun pasti, Sabrina melihat cahaya terang kembali di dapatinya, operasi nya berhasil.


Ditemukannya, Prasetya yang tersenyum, dengan wajah tampan yang begitu sangat dirindukannya.


"Mas ... aku bisa melihat kembali."


"Syukurlah, akhirnya kau bisa melihat aku kembali."


"Aku tak akan melewatkan sedetikpun untuk menatapnya."

__ADS_1


"Nah ... udah bisa gombal ...." Canda dokter sambil membereskan peralatan yang dipakainya barusan.


Sabrina hanya tersenyum menyeringai, ia sangat bahagia.


Pak Abraham datang dan tersenyum melihat Sabrina.


"Selamat ya Bri ... kau sudah bisa melihat kembali."


"Iya, Pa!"


"Mantap Pa ... aku akan mendapat perlakuan istimewa dari istri ku."


"Ya, aku yakin pasti dia akan memanjakan dirimu."


"Aku akan berusaha sebisaku."


"Aku yakin kau adalah istri yang sempurna."


"Mudah mudahan, Pa ... Mas ...."


"Kata dokter kau belum boleh pulang, agar kau beristirahat dulu disini."


"Tapi aku kepengen bertemu Kaila, Mas ...."


"Tapi kemarin kan baru ketemu?"


"Aku ingin melihat wajahnya."


"Oh ya, kau belum melihat wajahnya, tapi besok aja, mudah mudahan aku bisa untuk bersabar."


Sabrina memanyunkan bibirnya, rasanya ia sangat kesal karena tak di izinkan bertemu Kaila.


"Ajak dia kesini, Mas ...."


"Tidak bisa, dia baru aja sakit, apa kau tak bisa bertahan sebentar saja?"


"Ya, baiklah."


Akhirnya Sabrina mengalah, ia menurut apa yang di katakan oleh Prasetya.


Keesokan harinya, Sabrina dan Prasetya berkemas untuk pulang, Sabrina sangat antusias, ia tak pernah membayangkan akan bisa melihat dunia yang indah ini lagi.


Segala harapan kembali hadir di relung hatinya yang paling dalam.


Harapan untuk bisa membuat Prasetya bahagia, tanpa harus terus menggantungkan dirinya pada suaminya itu.


Sesampainya di muka kamar Kaila, Sabrina membuka pintunya dengan sangat perlahan, karena Kaila sedang tidur, tapi betapa ia terkejut melihat Kaila, buah hatinya itu, tatkala matanya menyapu seluruh bentuk tubuh Kaila.


Mulai dari badannya, kemudian matanya, bibirnya, hidungnya, SEMUANYA, begitu mirip dengan Arsen.


Bukan nya haru, ia justru terduduk lemas, karena ia sangat yakin, kalau Arsen lah pelaku pelecehan yang terjadi padanya.


"Apakah Mas Prasetya tahu?"


Sabrina tampak mengeluarkan air mata, ia tak pernah membayangkan, hidupnya ternyata begitu rumit.


Kini terjawab sudah, kenapa Arsen saat sakit selalu ingin bersamanya, menganggap dirinya adalah orang paling dekat dengannya.


Sungguh di luar nalar Sabrina, Arsen telah melakukan sesuatu yang sama sekali tidak di ketahui oleh siapapun, betapa pintar menyembunyikan sesuatu, termasuk selalu menemui Kaila tanpa sepengetahuan mereka berdua.


Sekarang dimana mas Arsen, rasanya Sabrina ingin menuntut semua kejahatan yang telah dilakukan oleh laki-laki itu.

__ADS_1


Sabrina kian tersedu-sedu, ia tak sanggup membayangkan betapa Prasetya akan sakit mengetahui jika kakaknya berada di balik semua ini.


__ADS_2