
Hari ini, Arsen kelihatan dirumah, ia sengaja tidak masuk kantor, entah mengapa ia sama sekali tidak ingin pergi, sedang Prasetya sudah sejak subuh pergi.
Arsen tersenyum menatap Sabrina, bagaimana tidak, ternyata dirinya akan menjadi seorang ayah, walaupun tidak ada yang mengetahuinya sampai detik ini.
Sabrina yang semakin hari semakin bertambah kesulitan karena perutnya yang sudah semakin membesar, selain pandangan nya yang terbatas, juga kondisi badannya yang saat ini mudah merasa capek, membuat wanita cantik itu hanya melakukan kegiatan kegiatan yang terbatas saja.
Sabrina duduk di teras sambil mengelus lembut perutnya, berbicara pada si jabang bayi yang sebentar lagi akan lahir ke dunia, yang berjenis kelamin perempuan itu.
"Sayang ... jangan nakal, mama capek tahu, kamu tendang perutnya sejak tadi." Kata Sabrina seakan berbicara dan bayinya yang masih dalam perutnya mendengar nya.
Arsen yang memperhatikan dari jauh itu betapa ingin mengelus calon bayinya itu, tapi apa daya, semua itu hanya lah harapan yang tidak mungkin akan terkabulkan.
Hari berjalan seakan demikian cepat, dengan menghabiskan waktu untuk memantau seluruh kegiatan yang dilakukan oleh Sabrina hari ini, tak terasa, sore sudah tiba, Arsen tersenyum, membayangkan dirinya yang sibuk mengurusi Sabrina dengan bayinya. Ia memperhatikan Sabrina yang saat ini sedang menjijitkan kakinya, berusaha mengambil kunci diatas pintu, yang diletakkannya beberapa hari yang lalu, tapi tangannya tidak berhasil meraih kunci tersebut, bahkan membuatnya oleng dan terseok, akan terjatuh, Arsen yang memperhatikannya sejak tadi, dengan sigap menangkap tubuh Sabrina, menyelamatkan Sabrina agar tidak jatuh, dan entah bagaimana ketika akan melepaskan Sabrina, leher Sabrina tercekik karena kalung yang di kenakan oleh Sabrina menyangkut di kancing baju yang di pakai oleh Arsen.
Saat itu, Sabrina seakan diingatkan akan sesuatu, "Kehangatan ini, ya kehangatan ini, sama persis saat aku bersama laki laki itu, jadi benar, yang bersamaku waktu itu adalah Mas Arsen." Kata hati Sabrina.
Dengan mendekatkan badannya dengan badan Sabrina, Arsen berusaha melepaskan kalung itu.
"Masih lama, Mas?"
"Tidak, sebentar lagi, kamu tahan ya!"
"Ya, hati hati!"
"Maaf, mungkin aku harus sedikit memelukmu, untuk melepaskan bagian yang menyangkut, tak apa kan?"
"Tidak, lakukanlah!"
Ketika Arsen memeluk Sabrina untuk melepaskan kalung yang melilit di kancing bajunya, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, dengan sangat keras.
Braaaak, Prasetya mendorong pintu itu dengan paksa, hingga menghantam dinding disebelahnya, Arsen dan Sabrina yang baru saja berhasil melepaskan kalung yang menyangkut tadi, terkejut dengan kehadiran Prasetya yang demikian marah itu.
Tanpa bertanya apapun, Prasetya menarik kerah baju Arsen dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya mengayun sebuah kepalan dan melayangkan nya tepat di wajah Arsen, membuat Arsen terjerembab kebelakang.
__ADS_1
"Jadi ini kelakuan kalian, kalau aku tidak ada dirumah, kau ... kakak yang selama ini aku sayang, tega sekali kamu menyakiti aku!"
Bug, bug, beberapa pukulan kembali mendarat di perut dan bagian tubuh yang lain dari tubuh Arsen, yang belum sempat memberikan pembelaan.
"Cukuuup, hentikan Mas, aku mohon hentikan, ini hanya salah paham." Teriak Sabrina mencoba menghentikan Prasetya, sambil meraba-raba kan tangannya dan tanpa sadar ia mendekati Prasetya yang siap akan menghajar kembali kakaknya itu, tanpa bisa dielakkan, pukulan Prasetya mengenai Sabrina dan menyebabkan Sabrina terjatuh.
Aauuu, Sabrina meringis terjatuh, kesakitan sambil memegang perutnya yang tiba-tiba merasa keram, Prasetya yang melihat Sabrina menderita kesakitan langsung menghampiri Sabrina, ia begitu panik, sambil mengelus perut Sabrina. Tanpa banyak berfikir, menyaksikan Sabrina yang semakin kesakitan, iapun membawa Sabrina kerumah sakit, meninggalkan Arsen yang terduduk, menyaksikan kepergian mereka dengan diam dan seperti telah tidak sadar lagi dengan apa yang barusan terjadi.
Dengan perasaan tidak menentu, melihat keadaan Sabrina saat ini, Prasetya semakin melajukan laju kendaraannya, sehingga tidak memerlukan waktu lama, akhirnya mereka sampai kerumah sakit, dan Sabrina langsung di tangani oleh dokter.
***
Sementara itu, Arsen masuk kedalam kamarnya, ia mencari-cari sesuatu, tampak sebuah kotak obat, dan Arsen membuka kotak itu dengan mulut yang mendesis desis, sambil menahan tubuhnya yang gemetar, tapi ia melempar kotak obat itu karena obat itu sudah dalam keadaan kosong.
Aaaahk, Arsen menjambak rambutnya sendiri, kemudian membentur benturkan kepalanya Kedinding, sambil mengerang kesakitan, tak lama setelah itu, Arsen terduduk di lantai dengan terkulai, lemas tak berdaya.
***
Kembali kerumah sakit, Sabrina telah melahirkan dengan selamat, Prasetya yang melihat bayi kecil yang begitu imut itu meneteskan air mata, ia segera mengambil air wudhu dan melantunkan bacaan iqomat pad bayi perempuan itu. Ia kini telah merasakan seperti benar benar menjadi seorang ayah, dengan suara terdengar sangat merdu, ia membisikkan kata-kata yang begitu mesra ditelinga Sabrina.
"Terimakasih Mas, telah menjadi ayah bagi anakku."
Pak Abraham tampak tersenyum melihat kebahagiaan Prasetya, perlahan ia memegang kedua pundak Prasetya dari belakang.
Prasetya menoleh, menyaksikan papanya yang tersenyum, ikut bahagia menyaksikan kebahagiaan nya.
"Papa, sudah lama?"
"Betapa bahagianya dirimu, sehingga papa datang kamu tidak menyadarinya," olok pak Abraham.
"Ya, pa, aku sangat bahagia, lihat ... betapa cantiknya anakku!" jawab Prasetya sambil menyerahkan bayi kecil dalam bedung itu ke Papa nya.
"Mas ...."
__ADS_1
"Iya, sayang ... ada apa?"
"Mas Arsen ...."
"Aku tidak mau kau bicara tentang dia, aku benci dia!"
"Dia tidak bersalah Mas ... dia hanya membantuku mengambil kunci dari atas pintu."
"Dengan memelukmu?"
"Dia tidak bermaksud memelukku, dia hanya mencoba untuk melepaskan kalungku yang tersangkut dikancing bajunya, saat memegangi tubuhku yang nyaris jatuh, itu saja."
"Kamu mencoba membela dia, kan?"
"Tidak, aku tidak membela, tidak ada untungnya aku membelanya, aku cuma mengatakan yang sesungguhnya, dia cuma menolong aku, percayalah!"
Pak Abraham menatap Prasetya, menggeleng, seolah mengatakan untuk tidak membatah perkataan Sabrina, dan mendengar serta mempercayainya.
"Papa juga percaya, kalau Mas Arsen tidak punya niat lain?"
"Apa sih susahnya mencoba untuk percaya?"
"Tapi, aku ragu, kebaikan Mas Arsen pasti mempunyai maksud lain, aku tidak percaya kalau Mas Arsen itu tulus."
"Kenapa sekarang kau begitu membenci kakakmu sendiri, bukankah kau yang mengajari aku untuk tidak terlalu curiga pada orang lain, lalu kenapa sekarang kau sendiri yang tidak percaya, ketidak percayaan mu itu, berarti sama dengan tidak mempercayai aku." Kata Sabrina ketus.
"Aku tidak bermaksud demikian!"
"Kalau begitu, pulang lah, lihatlah keadaan mas Arsen, apakah sekarang dia baik baik saja, kabar kan padanya, kalau anak kita sudah lahir, bagaimana pun juga, anak ini adalah keponakan dia."
"Benar apa yang dikatakan oleh Sabrina, mari kita pulang dulu, kita lihat keadaan Arsen."
"Baiklah, Pa!"
__ADS_1
Pak Abraham dan Prasetya, pergi meninggalkan Sabrina seorang diri, sedangkan bayinya telah diletakkan di tempat khusus bayi. Tampak binar kebahagiaan terpancar di raut wajahnya yang kelihatan sangat cantik itu.