
Azmi tampak mengikuti Prasetya mengemudikan mobilnya, ia sekarang sekarang sengaja memesan taksi untuk menjalankan rencana nya, ia ingin mengetahui dimana Prasetya tinggal.
Setelah sampai di gerbang rumahnya, tampak seorang wanita yang berdiri menyambut nya, siapa lagi jika tidak Lusiana.
"Kamu, ada disini?"
"Aku sengaja menunggu mu, aku ingin mengajakmu makan malam."
"Maaf, aku baru saja makan, bersama istriku."
"Kau bertemu Sabrina?"
"Ya, besok aku akan menjemputnya untuk pulang."
"Oh ... begitu?"
Jawab Lusi kecewa, jelas ia telah jatuh cinta pada Prasetya, tentu ia tak menginginkan Sabrina kembali kerumah itu.
Azmi mengambil ponselnya, ia tak menyia-nyiakan kesempatan, ia segera mengambil gambar Prasetya dan Lusi, saat mereka terlihat begitu dekat.
tanpa menunggu waktu lagi, Azmi mengirimkan hasil gambarnya kepada Sabrina.
Ting!
suara pesan masuk, Sabrina penasaran, pesan apakah gerangan yang dikirimkan oleh Azmi padanya. Ia segera membukanya, semula ia menyangka, Azmi mengirimkan gambar baju yang akan dikirimkan nya, tapi alangkah terkejutnya Sabrina setelah membuka gambar itu. Lusiana tengah menggandeng mesra lengan Prasetya, membuat Sabrina kembali termenung.
Tanpa pikir panjang, ia menghubungi Azmi, ia ingin memastikan darimana Azmi mendapatkan gambar itu.
"Halo, Bri ... ada apa?"
"Sekarang kamu dimana?"
"Aku didepan rumah Prasetya."
"Apa yang kau lakukan disana?"
"Aku hanya mau mencari bukti, apakah suami kamu benar benar serius padamu atau tidak, dan aku melihat semuanya, bahkan wanita itu sekarang ada disini!"
"Aku tak mau kau terlalu ikut campur urusan ku, aku tak meminta mu datang kesana, tapi kenapa kau kesana, apa maumu?" tanya Sabrina ketus, ia ingat pesan Ananta, agar ia berhati hati.
"Bri ... kenapa kau justru marah, aku hanya ingin membantu mu!"
"Aku tak mau bantuan mu."
"Brina ... berpikirlah, suamimu lagi bersama dengan wanita lain, dan kau tak cemburu, jangan jangan dia mengusirmu karena wanita itu, apakah selama ini kau terbiasa dengan datangnya para wanita dirumah itu?"
"Jaga mulut kamu!"
"Aku tidak sembarang bicara!"
"Pikir kan apa yang aku katakan."
Sabrina terdiam, ia mulai terhasut, ia kembali ragu akan kembali kerumah itu.
"Ya, aku akan memikirkannya nya."
Sabrina mengakhiri panggilan nya, ia kembali menatap gambar yang dikirimkan oleh Azmi sekali lagi.
Sabrina menghubungi Prasetya, ia tak mau menunda segalanya, ia ingin kembali kerumah mertuanya dan kembali merajut kebahagiaan bersama Prasetya.
Ponsel Prasetya tak diangkat, ia menghubungi nya lagi, Lusiana yang sengaja masuk ke dalam kamar, mendengar ponselnya berbunyi. Ia melihat nama istriku, dilayar ponsel itu. Lusiana segera menyentuh warna hijau dan menggeser nya ke kanan
tanda ia menerima panggilan itu.
"Halo, ada apa?"
"Ini siapa?"
"Ini calon istri Mas Prasetya, ini siapa?"
__ADS_1
Sabrina terdiam, baru tadi ia memeriksa ponsel Prasetya, dan ia tak menemukan sesuatu yang mencurigakan, ia melihat namanya tetap bertuliskan "ISTRI KU"
tapi kenapa saat ini malah wanita yang mengangkat nya.
"Apakah itu adalah wanita yang dikirim oleh Azmi?" tanya Sabrina dalam hati.
"Mas Pras nya lagi mandi!"
Jlek, jantung Sabrina seakan berhenti berdetak, ia tak habis pikir, siapa sebenarnya wanita itu.
Sabrina memutuskan ponselnya secara sepihak, ia tak ingin berpikir macam-macam.
Prasetya keluar dari kamar mandi, ia terkejut menyaksikan Lusi berada didalam kamarnya.
"Kamu _ "
"Aku masuk, aku lihat pintu kamar mu, tak dikunci!"
"Siapa yang mengijinkan kamu masuk dikamar ku?"
Prasetya mengambil ponselnya, ia memeriksa panggilan telepon, tapi ia tak menemukan Sabrina telah menghubungi nya. Sebab Lusiana telah menghapus panggilan masuk itu.
"Jangan berani nya kau menyentuh barang barang ku!"
"Kenapa sih Mas ...."
Ujar Lusi sambil memeluk Prasetya dari belakang. Prasetya mendorong Lusi dengan keras ke arah sofa, dan Lusi terjatuh di sofa begitu saja.
"Keluar kau, keluar!"
"Apa salahnya jika aku disini?"
"Aku tak mau jika istriku kembali salah paham, kau bukan siapa-siapa ku."
"Aku memang bukan siapa-siapa, tapi aku adalah calon istri mu, kau adalah orang yang telah mampu membuat aku jatuh cinta."
Lusiana tetap tak mau keluar, ia bersikeras tak mau beranjak dari kamar Prasetya, akhirnya Prasetya mendorong Lusi dengan kuat dan Lusiana pun terjatuh dilantai.
Terduduk, diam ....
Sabrina terisak, ia tak tahu akan melakukan apa lagi, yang jelas ia kembali merasakan betapa dirinya cemburu pada wanita ini.
Ananta masuk kerumah, ia mau memberikan berkas berkas yang tinggal di butik tadi siang.
"Sabrina, ada apa?'
"Kak ... siapakah yang telah bersama suamiku sekarang?"
"Apa dia bersama wanita lain?"
"Bagaimana jika dia mengkhianati cinta ku?"
"Tenanglah, kita ajak bicara saja Prasetya, suruh dia kemari!"
"Baiklah!"
Sabrina menelpon Prasetya lagi, ia mencoba untuk berbicara.
"Percayalah, banyak orang yang tidak suka melihat kebahagiaan kita." Hibur Ananta.
"Halo sayang ... aku lagi dikamar Papa, apakah kau baik-baik saja?"
"Bagaimana keadaan Papa!"
"Papa ingin melihat wajahnya mu!"
Prasetya mengarahkan ponselnya kewajah Papa nya, Pak Abraham terlihat gelap, pak Abraham tersenyum menatap Sabrina.
"Sa ... Sab" ucap pak Abraham berusaha berbicara.
__ADS_1
"Halo Pa ... Papa apa kabar?"
Sabrina hanya menyaksikan keadaan mertuanya yang sangat memprihatinkan.
"Mas, apakah Papa bisa sembuh?
" Untuk sementara belum, tapi mudah mudahan Papa bisa sembuh."
"Apakah Mas bisa kesini?"
"Jika kau menginginkan, aku akan datang, memang itu yang aku harapkan."
"Oke aku tunggu!"
"Iya sayang ... OTW."
Prasetya dengan semangat kembali kerumah kontrakan nya.
Sesampainya disana, Prasetya menyaksikan Sabrina sudah berdiri
di depan pintu, memakai busana muslim berwarna kuning keemasan, memancarkan kecantikan Sabrina yang alami.
"Apa kau rindu padaku?"
"Aku ingin bicara serius padamu?"
"Kenapa tidak tadi sore?"
"Aku tak ingat, tapi jika Mas keberatan maka aku tak akan bertanya.
"Kamu akan tanya apa, sayang?"
"Aku ingin bertanya, tentang ini Mas!" jawab Sabrina sambil menyerahkan ponselnya, sambil mengajak Prasetya masuk kedalam.
Prasetya terkejut melihat gambar itu, ia heran dari mana Sabrina mendapatkannya.
"Siapa dia, Mas?"
"Aku minta, jangan cemburu, dia adalah pengacara Mas Arsen, ia sengaja datang kerumah untuk menyerahkan surat penyerahan kepemilikan perusahaan yang baru milik mas Arsen padamu, namanya Lusiana."
"Apakah kalian juga punya hubungan?"
"Aku berani bersumpah, aku tak pernah mencintai wanita lain selain dirimu, makanya segera lah pulang, ku tak ingin semakin banyak cobaan untuk rumah tangga kita, sayang ...."
"sepertinya dia suka padamu?"
"Aku tak peduli, tapi apapun yang terjadi, mari kita saling menjaga kepercayaan kita, kau percaya padaku, dan aku percaya padamu."
"Bukankah kau yang tak percaya padaku?"
"Maaf, aku telah salah, tapi sekarang aku sadar, tak ada kesalahpahaman yang tak bisa diselesaikan jika kita saling percaya."
"Iya, aku tahu itu!"
"Ayolah sayang ... kita pulang ...."
"Aku akan pulang, secepatnya!"
"Benarkah?"
"Apakah itu arti nya kau memaafkan aku?"
Sabrina tersenyum, wajah yang terbalut jilbab itu terlihat berbinar bahagia.
"Nantikan, aku akan kembali!"
"Ya, aku akan menantikan mu."
Prasetya membawa Sabrina dalam pelukannya, ia seakan tak ingin melepaskan lagi.
__ADS_1