
"Mas ... apakah tak mengantarkan aku sampai di depan Mas Arsen?"
"Tidak, kamu aja!"
"Mas, mau kemana?"
"Aku mau pergi, ada urusan."
"Tapi Mas ...."
"Kamu aja yang kesana, lagi pula aku tak dibutuhkan disana, dia cuma ingin bersamamu, tapi ingat, jangan peluk peluk dia!"
"Iya, Mas cepat kembali!"
"Kamu nanti dijemput pak Ujang."
Sabrina berjalan dengan menggunakan tongkatnya, ia sudah hafal tempat itu, karena sudah hampir setiap hari ia selalu mengunjungi Arsen.
Setelah ia sampai, benar saja, Arsen langsung memanggilnya, seperti seorang anak yang mendapatkan ibunya.
"Kenapa Mama pergi, seharusnya Mama tetap disini bersamaku."
"Tapi aku ada urusan ...."
"Kenapa kau tidak memeluk ku, apakah kau tak sayang lagi padaku?"
"Tidak, bukan begitu ... aku tidak bisa memelukmu lagi, kau sudah besar, kau tak boleh dipeluk."
"Jadi kalau udah besar tidak boleh dipeluk?"
"Iya ... bolehnya hanya diperhatikan, diajak bicara."
"Lalu Mama akan pergi lagi?"
"Tidak, aku akan disini sampai kamu tidur."
"Benarkah?"
Sabrina dan Arsen terus saja berdialog, mereka memang bisa saling memahami. Arsen, walaupun masih sama dengan sebelumnya, tapi ia lebih tenang setiap bersama dengan sabrina.
Tak terasa sudah hampir satu tahun Sabrina pulang pergi kerumah sakit, dan pernikahan nya dengan Prasetya belum juga terlaksana, itu disebabkan oleh keputusan pak Abraham yang mengizinkan mereka menikah nanti setelah Arsen dinyatakan sembuh dari sakitnya.
Prasetya sempat menolak permintaan papanya itu, karena merasa papanya sengaja memperlambat pernikahan mereka karena tidak menyetujuinya.
"Bagaimana mungkin, papa memutuskan untuk mengizinkan pernikahan kami, setelah Mas Arsen sembuh, bagaimana kalau dia tak sembuh?"
"Yakinlah, dia pasti sembuh, aku percaya itu."
Sehingga mau tak mau pernikahan mereka harus tetap di tunda, karena syarat yang diberikan oleh pak Abraham itu.
Hari ini Sabrina sengaja datang ke RSJ sendiri, tak menunggu supir atau Prasetya, ia naik taksi.
Sesampainya didekat tempat Arsen, ia tak menemukan Arsen yang menggapai gapai kan tangannya, suasananya sangat berbeda, akhirnya ia menemui dokter yang menangani Arsen.
Tak seperti biasanya, Arsen hanya diam, ia hanya menatap Sabrina, memperhatikan setiap lekuk tubuh wanita itu, yang dicintainya dalam diam.
Sabrina merasa heran, kenapa Arsen tak bereaksi seperti biasanya.
Sikap seperti itu berlalu selama satu minggu, tak pernah memberi reaksi, hanya bermain dengan kaila, jika Sabrina mengajaknya.
Untuk kesekian kalinya, ia pergi kerumah sakit dengan sendiri, tapi pagi ini, Prasetya kembali mengantarkan dirinya, karena sabrina menceritakan sikap Arsen padanya.
"Apakah dokter melihat Mas Arsen?"
"Tidak ... bukankah dia sudah dijemput oleh seseorang yang kalian utus?"
"Tidak, kami tak ada menyuruh orang untuk menjemputnya."
__ADS_1
"Kenapa dokter mengizinkan dia pergi?"
"Karena pihak RSJ telah menyatakan dia sudah sembuh sejak dua minggu ini."
"Mas Arsen sudah sembuh, lalu kenapa dokter tak memberi tahu kami?"
"Dia minta untuk merahasiakannya."
"Seharusnya dokter tidak melakukan itu, kalau sampai terjadi sesuatu padanya, aku akan menuntut rumah sakit ini." Ucap Prasetya kesal.
"Dengan sangat merasa menyesal, kami mohon maaf."
Prasetya mengajak Sabrina meninggalkan rumah sakit itu, tapi sebelum mereka beranjak dari tempat itu dokter itu menghentikan mereka.
"Oh ya, sebelum dia pergi, ia menitipkan ini pada kami." Kata dokter itu sambil menyerahkan amplop putih.
Dengan segera ia membuka amplop putih itu, dan membaca pesan yang ada didalamnya. Pesannya sangat singkat, mengatakan sesuatu yang cukup membuat Prasetya terkejut.
"Aku pergi, dan aku sudah dinyatakan sembuh, jangan mencariku, aku tak mau menyusahkan dirimu lagi, Prasetya, aku akan melakukan sesuatu untuk kebaikanmu."
Selamat tinggal."
Prasetya menghela nafas berat, kembali merasa menyesal, mengetahui kakaknya telah pergi, entah kemana.
Prasetya menggenggam tangan Sabrina, kemudian meninggalkan RSJ itu.
Tak ada yang bisa dilakukannya oleh Prasetya selain membicarakan masalah itu pada papanya.
Sama halnya dengan Prasetya, pak Abraham hanya bisa menunduk, ia tak tahu kemana akan mencarinya.
"Apakah mas Arsen pernah mengatakan sesuatu pada, Papa?"
"Sesuatu yang tidak berarti, tapi dia pernah bilang, kalau dia sangat menyayangi kaila, dan setelah itu ia meminta untuk membawa kaila menemuinya."
"Mas Arsen meminta untuk membawa Kaila?"
"Ya."
"Aku suka anak kecil, apa kamu punya adek untuk dibawa kemari?"
"Ya, aku punya anak kecil, namanya Kaila, apakah kau mau berteman dengannya?"
"Ya, aku mau, aku mau!"
"Keesokan harinya, Sabrina aku suruh untuk membawanya, dan setelah kejadian itu, ia sering diam, saat bermain dengan kaila pun ia seperti sudah berbeda."
Prasetya mendengus jengkel, ia merasa telah di bodohi oleh kakaknya.
"Setelah begini, kemana kita akan mencari nya?"
Pak Abraham hanya diam ikut menyalahkan dirinya sendiri.
Hari demi hari, minggu demi minggu, bahkan bulan berganti bulan, Prasetya terus melakukan pencarian, tapi tak juga membuahkan hasil. Arsen tak ditemukan.
Prasetya menyudahi pencariannya, ia ingin berkonsentrasi menata kehidupannya, mempersiapkan pernikahannya, kalau ia sudah tak ingin lagi menundanya.
Prasetya membopong tubuh sabrina, ia sangat tidak sabar menanti malam tiba, Sabrina yang merasa terkejut, menjerit sambil tertawa bahagia.
"Kamu jahat Mas ... aku hampir saja jantungan, turunkan aku, nanti malam saja, apa kau tak sabar menanti nanti malam?"
"Aku sabar saja, aku cuma melakukan pemanasan, agar aku tak terkejut mengarungi bahtera samudera bersamamu."
"Ih, Mas Prasetya genit."
"Aku akan lebih genit, nanti setelah menikah, apa kau berani?"
"Aku?"
__ADS_1
"Ya ... kau berani?"
"Siapa takut?"
"Bisa berapa ronde?"
Sabrina mencubit tangan Prasetya, yang cengengesan.
"Aduh, sakit tahu!"
"Makanya, jadi orang jangan usil!"
Prasetya menurunkan Sabrina, ketika suster Rina masuk dari depan membawa kaila.
"Hai sayang ... Dari mana anak Papa?"
"Kaila dari depan Papa ...." Jawab kaila dengan suara merdu dan lucu.
"Kaila bawa apa?"
"Kaila bawa mainan, kaila bawa boneka, boneka Barbie, apa Papa mau main dengan kaila?"
"Malas ah, papa tak mau ... Kaila belum mandi, kaila bau."
"Kaila udah mandi Papa ... Kaila haluuum banget."
"Masak, sini Papa cium!"
"Apanya?"
"Pipinya dooong!"
"Ah, nggak selu!"
"Lalu apanya yang seru?"
"Pantatnya, hi hi hik ...."
"Hus, tak boleh ngomong gitu, siapa yang ngajarin?"
"Sustel Lina!"
"Tidak Pak ... saya tidak mengajarinya."
"Nah ... udah pinter bo'ong!"
Kaila kecil memonyongkan mulutnya, ia tersenyum menggoda Prasetya.
"Sini Papa bilangin." Kata Prasetya sambil membawa kaila kepangkuan nya.
"Kaila tidak boleh jadi tukang bohong, nanti kalau tukang bohong masuk neraka, apa Kaila mau masuk neraka?"
"Nelaka itu apa, Pa?"
"Neraka itu adalah tempat yang ada api besarnya."
"Hiiii taaakuuut."
"Makanya jangan pernah bohong lagi."
"Iya Papa."
"Janji?"
"Janji!"
"Pintar, itu baru anak Papa."
__ADS_1
Sabrina merasa bahagia melihat kedekatan antara Prasetya dengan kaila, begitu juga antara pak Abraham dengan cucunya itu, mereka sangat menyayangi dan memanjakan kaila, layaknya putri mereka sendiri.
Kebahagiaan keluarga mereka begitu tampak lengkap, dan kaila adalah pelengkap Kebahagiaan itu.