Ayah Anakku Kakak Kekasihku

Ayah Anakku Kakak Kekasihku
Bab 37


__ADS_3

Sesampainya dirumah, Prasetya menemui Papa nya, ia bersimpuh di hadapan Papa nya yang kebetulan belum mau tidur. Prasetya merengkuh kaki pak Abraham yang tak berdaya itu.


Pak Abraham yang tak bisa melakukan apapun, hanya bisa mewek, menyaksikan penderitaan putra nya itu.


"Pa, papa bener, aku sekarang menyesal Pa, aku menyesal telah mengusir Sabrina dari sini, aku sekarang sangat merindukan dia, Pa ...." Adu Prasetya pada pak Abraham.


Terdengar suara tangis Prasetya yang serak, menahan perasaannya.


Mbok Minah yang dari belakang mencoba mengelus rambut Prasetya yang sudah dianggap nya sebagai putranya sendiri, bagaimanapun perempuan tua itu sangat sedih melihat keadaannya.


"Den ... yang sabar, jika memang dia masih jodoh Aden, dia pasti akan kembali." Prasetya menoleh, ia memeluk pembantunya itu, pembantu yang merawatnya sejak masih kecil.


"Aku salah telah mengusir nya, Mbok ... aku menyesal."


"Sekarang tenanglah, berusaha lah untuk meyakinkan dirinya bahwa Aden masih mencintainya."


"Aku tadi sudah bertemu dengannya, Mbok ... tapi dia benci padaku!"


"Dia bilang apa padamu?"


"Dia menolak bertemu dengan ku, bahkan dia melarang Kaila untuk tidak bertemu dengan ku."


"Aden apa bersama wanita lain?"


"Aku bersama Lusi."


"Cobalah untuk bertemu dengannya tanpa bersama dengan siapapun, bicara dari hati kehati, Aden jangan cepat terbawa emosi, mengalah lah karena kau memang salah."


"Ya, aku akan mencoba, semoga ia mau bertemu denganku."


"Sekarang tidurlah, sudah malam, besok kau harus segera bangun untuk menemui Sabrina."


"Iya Mbok, aku akan tidur."


Prasetya pergi ke kamar, ia merebahkan dirinya, ia kembali menatap seluruh ruangan yang ada di kamarnya itu, senyum dan tawa Sabrina seakan mewarnai kamar itu.


Prasetya mengambil sebuah bingkai foto yang terletak disudut meja kerjanya. Perlahan jari tangannya menyapu wajah yang ada dipermukaan foto itu.


Kerinduan semakin memenuhi jiwanya, ia ingin segera menemui istrinya itu.


"Kemana aku harus mencari mu, Bri ...."


Prasetya menghembuskan nafas panjang, ia seakan sesak, menyadari perpisahan mereka yang telah terjadi.

__ADS_1


Nasi telah menjadi bubur, Prasetya tak mampu lagi menghilangkan kesedihannya karena kesalahannya sendiri, ia tak bisa membawa Sabrina kembali untuk saat ini.


Prasetya mencoba menghubungi nomor ponsel Sabrina, beberapa kali, tapi tak ada sahutan, terus dicobanya, dan akhirnya terhubung.


"Halo, Bri ...." Tak ada sahutan, ponsel itu hanya didengar saja.


"Bri ... bicara lah, aku ingin mendengar suara mu, aku tahu aku salah ... tapi apakah kau tak bisa memaafkan aku?"


Kembali diam


"Bri ... ayolah, ajak aku bicara, aku rindu padamu, apa kau tak rindu padaku?" terdengar Isak tangis.


"Bri ... apakah kau menangis?" suara isak tangisnya semakin keras, Prasetya tak mampu membendung juga air matanya.


"Katakan Bri ... apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan maafmu." Sama, tetap tak menyahut.


"Jangan semakin membuatku tersiksa dengan mendiamkan aku seperti ini, aku rindu padamu."


Sabrina membungkam mulutnya, ia tersedu, ia tak mampu menahan kerinduan yang juga dirasakan oleh nya, tapi melihat Prasetya sudah punya wanita lain, ia seakan tak mampu menguasai hatinya yang hancur.


"Aku ingin rasanya mengungkapkan jika aku sedang hamil anakmu, Mas ... tapi aku tak bisa ...." Batin Sabrina sambil terus mendengarkan perkataan demi perkataan yang di sampaikan oleh Prasetya.


"Apa kau tahu, saat ini aku sedang memeluk bantal guling, aku ingin sekali memelukmu, aku ingin kita bersama kayak dulu, apakah kau tak mau memberikan satu kesempatan terakhir?" tak ada juga jawaban.


"Apakah kau mengijinkan aku untuk bertemu dengan mu, besok?"


Kali ini, bukan mendapatkan jawaban, Sabrina justru mematikan ponselnya.


Keduanya sama terisak, keduanya sama tersiksa, Prasetya semakin merasa tersiksa karena ia menyadari semua itu terjadi karena kesalahan yang diperbuat nya.


Sedangkan Sabrina, ia tersiksa karena cemburu yang datang melanda hatinya.


Ia tak ingin bertemu dengan Prasetya, ia benci karena sikap dan perbuatannya yang menyebabkan Sabrina sakit hati, dan sekarang Prasetya ingin menemuinya justru ia sedang bersama wanita lain.


Isak tangis Sabrina sampai membangun kan Kaila yang sedang nyenyak dalam tidurnya.


"Mama ... Mama kenapa, diamlah Ma, nanti Kaila ikut nangis, apa Kaila jahat ... sampai Mama menangis, Kaila akan baik kok, Kaila akan jadi anak yang sayang sama Mama."


"Maaf kan Mama sayang ... Mama telah membuatmu terbangun."


"Nggak apa-apa Ma, Kaila mau Mama diam." Bukan diam justru Sabrina kian menangis, ia tak punya siapa-siapa kecuali putrinya itu.


Sementara itu, Prasetya masih asyik dengan lamunannya, ia terpaku menatap dinding kamarnya, ia seakan segan beranjak dari sofa, tapi karena ada ponsel yang berbunyi, dengan sigapnya ia berlari menuju tempat tidur, karena ia tadi melemparkan ponselnya sesaat Sabrina setelah mematikan ponselnya.

__ADS_1


Prasetya masih berharap jika Sabrina kembali menghubungi nya, tapi harapan nya itu kandas, ia menatap nomor lain dilayar ponselnya.


"Ya, ada apa?" tanya Prasetya dingin.


"Apa kamu sudah tidur, aku kepikiran!"


"Aku ... belum!" jawab Prasetya singkat dan jutek.


"Mas ... apa ada yang salah, sehingga kau begitu ketus padaku?" tanya sang penelepon, yang tak lain adalah Lusi.


"Apa kau tak tahu jika ini sudah larut malam, tidak baik menelpon suami orang."


"Suami, jika kau seorang suami, mana ... tak ada tuh istri kamu disamping kamu!"


"Jaga omongan kamu!"


"Nah, aku bicara sesuai dengan kenyataan bukan, mana istri kamu, dia telah pergi bukan?"


"Bodo, aku mau tidur!" jawab Prasetya mematikan ponselnya.


Prasetya menghempaskan tubuhnya di atas kasur yang kosong dan hampa itu, biasanya ia selalu bersenda gurau dengan Sabrina.


"Masih adakah waktu yang akan aku lewati bersama mu, Sabrina sayangku ...." Rintih hati Prasetya.


Jam menunjukkan pukul dua dini hari, namun kedua mata Prasetya dan Sabrina sama sama tak bisa untuk diajak kompromi, sama sama tak bisa untuk diajak tidur.


Sabrina perlahan mengambil ponselnya, ia ingin sekali berbicara dengan Prasetya, tapi ia tak sanggup untuk mengungkapkan perasaannya yang demikian sangat merindukannya.


Sabrina kembali meletakkan ponselnya, ia mengurungkan niatnya, begitu pula dengan Prasetya, ia kembali meraih ponselnya, kembali memencet nomor Sabrina, tapi sebelum terhubung, ia menghentikan panggilan nya, ia merasa takut akan ditolak lagi oleh Sabrina.


Saat ini Prasetya merasa rendah diri dihadapan Sabrina, ia merasa jika Sabrina akan semakin membenci dirinya.


Terdengar suara pesan masuk.


Ting!


Prasetya melihatnya dengan cuek, tapi setelah ia mengetahui pesan itu dari Sabrina ia kemudian duduk seketika.


"Aku ingin menemui mu besok, dicafe biasanya."


Prasetya bangkit dari duduknya, ia jingkrak-jingkrak saking senangnya.


Terbayang wajah Sabrina yang cantik, yang berjalan penuh keanggunan dibalik pakaian syar'i yang kini selalu dikenakannya.

__ADS_1


Prasetya tak mampu lagi untuk menyembunyikan kebahagiaannya, sampai menjelang pagi, ia tak mampu menutup matanya, rasanya ia tak sabar akan bertemu dengan Sabrina, ia tak sabar akan memeluk istri yang sangat di cintai nya itu.


__ADS_2