
Hari sudah pagi, Sabrina dan Prasetya belum juga beranjak dari tempat tidur mereka. Sabrina masih terlelap dalam dekapan suaminya. Prasetya yang tidak pernah bangun siang pun, pagi ini seakan tak ingin pergi meninggalkan istri tercinta nya, Prasetya dan Sabrina merasa sangat nyaman, untuk pertama kalinya mereka tidur dengan ditemani, biasanya hanya berdamping kan bantal guling saja.
Sabrina, perlahan membuka matanya, walaupun masih sama gelapnya, tapi ia merasakan saat ini ia begitu nyaman.
Tiba-tiba, Sabrina merasa mual, ia langsung duduk, dan hendak turun dari ranjang, Prasetya langsung mendekati Sabrina, memegang bahunya.
"Kamu ngapain?"
"Aku mual, Mas." Prasetya terkejut, jangan jangan Sabrina hamil, pikirnya.
"Aku mau ke kamar mandi Mas ... bisakah kau mengantarkan aku?" Prasetya membimbing Sabrina menuju kamar mandi.
uek ... uek ... terdengar suara muntah, Sabrina beneran muntah sebanyak-banyaknya, sampai gemetar karena perutnya benar benar kosong saat ini.
Prasetya menemani Sabrina dengan setia, mengarahkan Sabrina kemana harus memuntahkan isi perutnya, kemudian Prasetya pun membersihkan bekas muntah Sabrina, dengan menghidupkan kran air di hadapannya, setelah itu Prasetya membersihkan wajah Sabrina, dengan menggunakan handuk kecil.
Saat ini, Prasetya setelah beristri, bukannya bisa bermanja-manja, melainkan tambah repot, karena keterbatasan Sabrina dalam melakukan segalanya.
"Sudah muntahnya?" Sabrina mengangguk.
"Kamu sebaiknya mandi sekalian, nih sudah aku hidupkan shower nya, disini ...." Prasetya mendekat kan Sabrina kearah shower.
"Ini letak shower nya, kalau kau sudah selesai mandi, kamu matikan ... ya, aku keluar dulu." Kata Prasetiya tak lupa menyediakan handuk untuk Sabrina, kemudian keluar.
Sabrina perlahan lahan membuka pintu kamar mandi, dengan meraba raba ia menuju tempat tidur, Prasetya sengaja membiarkan Sabrina, dipandang nya Sabrina dengan seksama, matanya yang tajam seakan terbelalak melihat kemolekan tubuh Sabrina, bagaimana pun Prasetya adalah pria normal, tapi Prasetya dengan segera menepis perasaannya, karena ia tahu, ia tidak mungkin melakukan sesuatu yang tidak diinginkan oleh Sabrina, bukankah saat ini pun Sabrina mungkin sedang mengandung anak laki-laki lain?
Prasetya mendesah, mungkin aku tidak bisa bertahan, kalau setiap hari harus menyaksikan Sabrina seperti ini, tidak ... aku harus melakukan sesuatu. Akhirnya iapun terkejut, saat Sabrina memanggil nya.
"Mas ... kamu disini?"
"I_ iya sayang ...." Jawab Prasetya kaku.
"Bisa tolong ambilkan pakaianku?"
"Ya ... sebentar!" Prasetya mengambil semua kebutuhan pakaian Sabrina, dari mulai daleman sampai pakaian luar.
"Aduuuh, sampai kapan ya aku akan kuat, aku pengen sayang ...."
"Mas ... kamu ngomong sama siapa?"
"Nggak ... aku lagi nggak ngomong sama siapa siapa!"
__ADS_1
"Kok, aku dengar, kamu kayak ngomong?"
"Ini lo, aku berpikir akan mencarikan pembantu yang khusus merawat kamu, ngambil baju kamu, dan yang lain lain."
"Maafkan aku Mas ... aku tidak bermaksud merepotkan mu."
"Nggak apa-apa, sayang ... cuma aku tidak tahan ...."
"Tidak tahan kenapa, Mas?"
"Melihatmu seperti ini, aku berpikir yang aneh-aneh, terus terang, pikiran aku mesum sama kamu, aku takut ... aku lama lama tidak kuat!" bisik Prasetya didekat telinga Sabrina.
"Maaf, Mas ...."
"Sudahlah, pakailah, atau kau mau aku memakai kan nya?"
"Tidak ... aku bisa sendiri!"
"Ya sudah ... aku keluar dulu!"
Sabrina mengenakan pakaian yang di ambilkan oleh Prasetya, dengan susah payah Sabrina membedakan antara yang mana muka, dan yang mana belakang, akhirnya ia pun bisa menyelesaikan nya.
"Ini aku, sayang ...." Kata Prasetya, mencium pipi Sabrina lembut.
"Aku mencari sisir, Mas!"
"Sini, aku sisirin!" Sabrina menurut, membiarkan suaminya menyisir rambutnya yang panjang bergerai. Aroma wangi pada rambut Sabrina benar benar menimbulkan jiwa kejantanan Prasetya, dengan perlahan Prasetya membalikkan badan Sabrina, memandangnya, tanpa sadar, iapun ******* bibir seksi Sabrina, Sabrina hanya menikmati nya, tapi akhirnya Prasetya tersadar dan menghentikan semuanya.
"Maaf ...." ujarnya pada Sabrina.
"Tidak Mas, seharusnya akulah yang harus minta maaf!" Prasetya mengikat rambut Sabrina, kemudian mengajaknya sarapan.
"Mari makan, aku akan menyuapi mu."
"Seharusnya aku yang harus memanjakan mu Mas ... tapi aku justru selalu merepotkan mu, lama lama aku nggak enak sendiri!"
"Sungguh ... aku pun maunya di manja sama kamu, tapi mungkin memang Tuhan berkehendak, aku yang memanjakan mu, apa boleh buat!"
"Kau selalu bisa membuatku tersenyum, Mas ...."
"Oh ya, setelah kita sarapan, kita ke dokter ya ...."
__ADS_1
"Ngapain?"
"Kita periksa, mana tahu kamu benar benar hamil!" Sabrina hanya diam.
"Kok, diam?"
"Aku takut, Mas ...."
"Nggak usah takut, aku selalu bersamamu," ujar Prasetya.
Sarapan pagi pun selesai, Prasetya memanggil pembantu mereka untuk membersihkan tempat dan peralatan yang di bawanya tadi, ia kasihan pada mbok Minah yang harus mengerjakan semuanya sendiri.
Prasetya sudah menganggap pembantunya itu adalah Ibunya sendiri, bagaimana tidak, ia di rawat dan di besarkan oleh mbok Minah sejak masih kecil, sebab ibu kandungnya meninggal setelah melahirkan dirinya.
"Den ... ada yang perlu Mbok lakukan lagi?"
"Tidak, Mbok ... terimakasih!"
Perempuan itupun keluar, meninggalkan Prasetya dan Sabrina.
Melihat tuan besarnya memperistri seorang gadis buta, kadang mbok Minah merasa kasihan, tapi karena mbok Minah sudah lama mengenal Sabrina adalah seorang gadis yang begitu baik, iapun berusaha untuk tidak mempermasalahkan.
🌻🌻🌻🌻🌻
Prasetya dan Sabrina pergi ke dokter dengan mengendarai mobil mewah milik Prasetya, di sepanjang perjalanan, Sabrina hanya diam, begitu juga dengan Prasetya, mungkin mereka sama-sama takut, dengan apa yang ada dalam pikiran mereka. Sabrina sangat takut, kalau dirinya hamil, begitu juga dengan Prasetya, mereka benar-benar tidak siap.
Tak berapa lama, mereka sampai di rumah sakit, Prasetya mengajak Sabrina ke dokter kandungan, setelah beberapa menit menanti antrian, terdengar suara memanggil nama Sabrina.
Sabrina dan Prasetya masuk, Sabrina pun di periksa oleh dokter, dan dokter itupun tersenyum, kemudian menyuruh Sabrina turun dari ranjang pasien.
"Sudah ya, Bu ...." Dokter itu tersenyum ramah, dan Prasetya langsung membimbingnya untuk duduk di sampingnya.
"Bagaimana, Dok?" tanya Prasetya sangat cemas. Sabrina sangat ketakutan, tangannya begini dingin saking takutnya.
"Selamat ya, Pak, Bu ... kalian akan segera menjadi orang tua, istri anda saat ini sedang hamil enam minggu."
Tak ada ucapan yang keluar dari mulut mereka berdua, entah benci atau bahagia, kalau benci ... apa salah anak dalam kandungan Sabrina, kalau senang atau bahagia mereka sama-sama tidak mengharapkan bayi itu. Sabrina terisak, tanpa sadar menangis.
"Aduuuh, pasti ibu bahagia kan ... orang tua mana yang tidak bahagia, dapat anugerah sebesar ini, bersyukurlah Pak, Bu ... anda telah di percaya oleh Tuhan untuk memiliki bayi."
Prasetya tersadar, mungkin ini adalah anugerah Tuhan, walaupun anak yang ada di rahim Sabrina bukanlah darah dagingnya, mungkin dialah yang di percaya Tuhan untuk merawat dan membesarkan bayi itu. Bagaimana pun bayi itu tidak bersalah. Prasetya memeluk Sabrina dan membawanya pulang, ia tahu bagaimana keadaan jiwa Sabrina kali ini, dengan segala ketulusan dan keikhlasan, Prasetya berjanji akan memberikan yang terbaik untuk Sabrina.
__ADS_1