
Prasetya dan pak Abraham meninggalkan rumah sakit, mereka dengan tergesa-gesa berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju parkiran kendaraan, dengan perasaan bersalah, Prasetya berharap kakaknya masih berada dirumah.
Kali ini Prasetya tidak membawa mobilnya, ia ikut bersama dengan papanya, sedang mobilnya, ia menyuruh sopirnya untuk menjemputnya.
Tak berapa lama, merekapun sampai kerumah mereka, Prasetya langsung masuk, berteriak teriak memanggil nama Arsen, namun tak ada sahutan, mbok Minah berlari dari dapur, seakan akan menyampaikan sesuatu.
"Den, Mas Arsen ...."
"Mana Mas Arsen, Mbok?"
"Mas Arsen ... di kamar Den, saya takut melihat keadaannya, tadi saya menghubungi Aden, tapi tidak di angkat."
Prasetya langsung menghampiri kamar Arsen yang berada di lantai dua dengan berlari, pak Abraham mengikuti dari belakang.
Prasetya masuk kekamar itu begitu saja, karena kamar itu tidak di kunci, tapi alangkah terkejutnya Prasetya mendapatkan Arsen yang menggigil ketakutan melihat kedatangannya. Ia merambat kan tangannya, seakan ingin menghindar dan lari dari hadapan papa dan adiknya, tapi karena ada dinding, akhirnya iapun tak bisa beranjak sedikitpun.
"Tidak ... aku tidak bermaksud ... aku tidak ber_ ber_ mak_ mak_ sud." Ucap Arsen terbata bata.
Prasetya mendekatinya, jongkok dan memegang kakaknya, tapi di tepis dengan kuat oleh Arsen.
"Mas ... ada apa denganmu, kenapa kau jadi seperti ini, aku hanya tidak ingin kau mendekati Sabrina, itu saja!"
Sekarang mulut Arsen mendesis desis, seakan menghilangkan rasa takut yang teramat sangat pada dirinya.
"Papa, apa yang harus kita lakukan, ada apa dengan Mas Arsen?"
"Sebaiknya kita bawa dia kerumah sakit, kita akan periksakan dia."
Prasetya menggendong kakaknya yang lumayan berat itu, karena antara Prasetya dan Arsen, memiliki postur ideal yang sama, dengan sekuat tenaga, Prasetya berhasil membawa Arsen masuk kedalam mobil, sedang pak Abraham mengemudikan mobilnya.
"Mas ... sadarlah, ada apa denganmu?" ucap Prasetya sambil menggenggam erat pergelangan tangan Arsen, sejuta rasa takut menghampiri dirinya, ia takut kalau terjadi apa-apa pada kakaknya.
Disepanjang perjalanan, Prasetya terus memanggil manggil kakaknya, tapi reaksinya tetap sama, hanya menggigil ketakutan dan mendesis, dengan sesekali menutupi mukanya.
Yang membuat Prasetya terkejut, kakaknya tertawa cekikikan, Prasetya menatapnya tak berkedip tidak percaya.
"Apakah Mas Arsen ... gila?" Prasetya bicara dalam hati, dan belum sempat mengutarakan pada papa nya yang sedang konsentrasi menyetir, tiba tiba Arsen kembali menangis, meraung-raung, mendorong tubuh Prasetya dengan kuat.
"Kenapa kau mengambil milikku, kemari kan milikku!"
"Papa, ada apa dengan Mas Arsen?" saat ini Prasetya tak kuasa membendung air mata kesedihannya, ia menangis, melihat sikap kakaknya. Sedangkan pak Abraham hanya menggeleng sedih sambil terus melajukan kendaraan, dengan hati yang tidak menentu.
"Apa kita sudah sampai?"
"Ya, mari kita bawa Mas mu!"
"Kenapa kita kerumah sakit jiwa, Pa?"
"Papa saja tidak tahu, tapi mungkin ini yang terbaik, semoga kakakmu tidak apa-apa."
__ADS_1
Prasetya menggendong Arsen kembali, sekarang tambah sulit karena Arsen melakukan perlawanan. Terpaksa pak Abraham memegangi Arsen agar tidak terjatuh.
Sesampainya didalam, Arsen langsung di bawa kesebuah ruangan, karena saat ini dirinya belum diperiksa.
Pak Abraham dan Prasetya langsung menemui dokter yang bertugas hari ini.
"Ada apa ya, Mas, Pak?"
"Kakakku, ada apa dengannya?"
Dokter itu pun pergi ketempat dimana Arsen berada, sekarang ia sudah merasa tenang, setelah diberikan obat penenang.
"Oh, pak Arsen ternyata, apa yang terjadi sampai ia seperti ini?"
"Dokter kenal dengan Kakak saya?"
"Ya, pak Arsen adalah pasien saya, sudah sekitar lima tahun ini."
"Lima tahun?" sahut pak Abraham dan Prasetya secara bersamaan.
"Ya, pak Arsen menderita depresi, dan sekitar dua bulan ini banyak sekali mengalami kemajuan, dan memang kelihatan membaik, makanya saya mengizinkan saat dia tidak mau mengkonsumsi obat lagi, dan ternyata seperti ini."
Prasetya terkejut sekali, sekian lama kakaknya menderita namun tak seorangpun yang mengetahuinya, bahkan ia justru bersikap tak wajar pada kakaknya itu. Rasa sesak menyeruak dalam hatinya, ia meninju dinding yang ada disampingnya, ia merasa dirinya bukanlah seorang saudara yang baik, yang tidak mengetahui penderitaan kakaknya sendiri.
Begitu pula dengan pak Abraham, ia sangat menyesalkan kejadian ini, mengapa sejauh ini Arsen tak mau membagi masalahnya.
"Mungkin karena pak Arsen pernah merasakan trauma, di masa kecilnya barangkali, apakah Bapak tidak mengingat sesuatu?"
"Seperti nya saya tidak ingat apa-apa."
"Baiklah, sekarang biarkan dia tenang terlebih dahulu, nanti saya akan menanganinya, Bapak bisa meninggalkan pak Arsen, agar bisa menjalani perawatan disini."
"Baiklah, saya permisi dulu, kalau ada apa-apa tolong beri kabar pada kami."
Pak Abraham dan Prasetya meninggalkan rumah sakit jiwa tersebut dengan perasaan yang tak menentu.
"Itu pasti, Pak."
Di perjalanan Prasetya tak berhenti memikirkan kakaknya, sejauh ini ia tetap tak habis pikir, kakaknya yang kelihatan sangat sehat wal afiat, ternyata menderita depresi dan lebih payahnya ia dan keluarganya sama sekali tidak mengetahui. Kenapa Prasetya tidak memperhatikan sedikit pun adanya gangguan pada kakaknya, ia sangat benar benar menyesali nya.
"Pa, aku singgah di rumah sakit saja, aku ingin melihat anakku."
"Jadi, Papa mengantarkan mu dulu?"
"Apakah, Papa keberatan?"
"Tidak, Papa pikir kamu akan menemani Papa!"
"Kemana?"
__ADS_1
"Ke Bandung, ada yang ingin papa pastikan disana."
"Tentang apa?"
"Tentang kakakmu, kau ikut?"
"Apakah tidak lebih baik, kita bilang dulu pada Sabrina?"
"Oke, kita beri tahu Sabrina dulu."
Akhirnya pak Abraham menuju rumah sakit tempat Sabrina dirawat, sesampainya di sana, Prasetya seperti tidak sabar menemui Sabrina, ia berlari, sedangkan pak Abraham tidak turun, ia menanti Prasetya didalam mobilnya.
"Ada apa Mas, kok nafas mu kelihatan memburu, kedengarannya ngos-ngosan kayak gitu?"
"Iya sayang ... Mas Arsen, Mas Arsen ternyata selama ini, dia ...."
ucap Prasetya sambil memegang wajah Sabrina.
"Kenapa Mas Arsen?"
"Ternyata Mas Arsen menderita depresi, dia depresi."
"Apa!" Sabrina terhenyak, iapun sama sekali tidak percaya pada pendengaran nya.
"Benarkah?"
"Iya, ternyata dia sudah lima tahun menjalani pengobatan pada salah satu dokter, dirumah sakit jiwa, tempat kami membawa Mas Arsen, tadi."
"Terus, sekarang mas Arsen bagaimana keadaannya?"
"Waktu kami pergi, dia masih dalam keadaan tenang dengan obat penenang, dia akan dirawat di sana."
"Sungguh tak pernah aku membayangkan masalah tragis seperti ini tak ada yang mengetahuinya."
"Ya, akupun sangat menyesal, aku telah berbuat kasar sehingga membuat dia kambuh dari depresi nya."
"Sudahlah Mas, yang penting sekarang kita berusaha untuk pengobatan mas Arsen, dan mudah-mudahan kita belum terlambat mengetahui semuanya."
"Ya, semoga, bagaimana keadaan anak kita?"
"Baru saja dokter membawanya kemari untuk minum asi, sekarang dia tidur."
"Sekarang aku pergi dengan Papa dulu, nanti akan aku suruh suster Rina untuk menemanimu."
"Mas, akan pergi kemana?"
"Entahlah, sekarang aku pergi dulu, setelah aku kembali, aku akan menceritakan semuanya, jaga dirimu." Kata Prasetiya sambil mengecup puncak kepala Sabrina.
Prasetya kembali keluar, menemui Papanya yang menantinya di dalam mobilnya.
__ADS_1