Ayah Anakku Kakak Kekasihku

Ayah Anakku Kakak Kekasihku
Bab 35


__ADS_3

Sabrina terus memantau kemana Prasetya dan Pak Abraham akan pergi, serta dengan wanita yang sama sekali tidak dikenalnya itu.


"Ikuti mobil itu, Pak!"


"Baik, Bu." Sahut sopir taksi itu.


Dengan rasa penasaran, Sabrina terus menatap ke depan, tak ingin kehilangan jejak kendaraan yang ada di hadapannya.


Tepat di pemakaman, Prasetya dan Pak Abraham serta wanita yang tak lain adalah Lusi itu, akhirnya berhenti.


Setelah menurunkan Pak Abraham, Prasetya mendorong kursi roda Pak Abraham dengan pelan, tapi dengan sigap, Lusi mengambil alih, ia ganti mendorong kursi roda itu.


"Terimakasih Pak, saya turun disini aja." Kata Sabrina yang turun agak jauh dari perkuburan itu.


Semua itu dilakukannya karena ia tak ingin Prasetya mengetahui kedatangannya.


Sabrina berhenti disebuah makam orang lain, yang tidak jauh dari makam Arsen.


Dengan pakaian syar'i yang dipakainya, sama sekali tak menimbulkan kecurigaan bagi Prasetya dan mertuanya.


Sabrina mengetahui apa yang mereka bicarakan.


"Mas ... aku minta maaf, aku tidak bisa menjadi adik yang baik, aku tak bisa memahami dirimu, sekarang aku datang, dan aku akan menuruti semua perkataan mu."


Ucap Prasetya sambil mengelus batu nisan sang kakak tercinta.


"Mas ... yang sabar, pasti dia sudah bahagia dengan kedatangan mu disini."


Prasetya membaca surat Yasin, kemudian membacakan doa untuk Arsen, kemudian pulang meninggalkan tempat itu.


Sepeninggal Prasetya, Sabrina menuju kuburan Arsen, ia menggigit bibirnya, ia tak tahu apa yang harus dilakukannya, apakah ia harus bahagia atau sedih.


Bahagia karena orang yang telah menghancurkan masa depannya telah tiada, dan sedih karena ayah dari anaknya telah pergi untuk selamanya.


"Aku tak tahu harus bilang apa padamu, aku benci atas sikap dan kejahatan mu, tapi aku tahu, walaupun kau belum sempat mengatakan jika kau adalah ayah dari anakku, walaupun aku begitu kecewa, tapi aku berharap semoga Tuhan mengampuni seluruh dosa dan kesalahan yang kau lakukan." Isak tangisnya pecah, diatas perkuburan itu.


"Karena kau ... anakku harus kehilangan ayahnya, karena kau aku harus terpisah jauh dari Mas Prasetya, dan bahkan karena kau aku sempat kehilangan penglihatan ku, sehingga kesalahpahaman ini terjadi, sehingga aku harus pergi dari rumah itu." Keluh Sabrina sambil mengelus perutnya.


Sabrina semakin terisak, ia semakin sedih datang ke kuburan itu, ia seakan kembali melukis jelas semua yang pernah dialaminya.


Perlahan ia melangkahkan kakinya dengan gontai, meninggalkan tempat itu dengan hati penuh penderitaan.


Sambil memegangi perutnya yang mulai membesar, ia seakan pasrah, dengan nasib apa yang akan menimpanya.


Sabrina tak ingin lagi datang kerumah mertuanya, sejak ia melihat ada wanita lain dirumah itu, seakan hatinya merasa sakit, ia tak tahu, apakah semua itu karena kecemburuan atau sekedar rasa kecewanya karena baru dua bulan ia meninggalkan rumah itu, Prasetya sudah membawa wanita lain, padahal semua itu hanya kesalahpahaman saja.

__ADS_1


Sabrina berdiri didekat jalan raya, ia tak menyadari jika sebuah mobil telah berhenti didekatnya.


Prasetya turun dari mobil, ia tak sengaja menghentikan mobilnya, ia berhenti karena ia hampir menyerempet Sabrina yang berjalan terlalu ketengah.


"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Prasetya sambil mengejar Sabrina yang menepi akibat terkejut mendengar suara klakson.


Prasetya kembali karena ada keperluan didekat area pemakaman itu, yang alamatnya tidak seberapa jauh dari situ.


Sabrina menoleh, ia menyaksikan wajah tampan milik suaminya yang begitu sangat dirindukannya.


Alangkah terkejutnya Prasetya, ternyata wanita berpakaian muslimah itu tak lain adalah istrinya.


"Sabrina, untuk apa kau disini?"


Belum sempat Sabrina menjawab, Prasetya telah dulu melontarkan sebuah ejekan.


"Hebat, kau ternyata telah tahu semuanya, kau memang seorang kekasih yang begitu setia, sehingga sampai dia mati sekalipun kau masih setia melihatnya." Sabrina mencoba untuk bertahan, ia diam, karena menjawab pun tak akan ada gunanya.


"Oh, kau sudah berpakaian muslim ternyata, apa untuk mengelabui laki laki yang manjadi incaran mu?"


Tanpa menjawab sepatah katapun, Sabrina menghentikan taksi yang melewatinya. Tanpa basa basi, ia masuk kedalam taksi itu.


Sepeninggal Sabrina, Prasetya kembali teringat akan isi surat terakhir Arsen, ia baru menyadari bahwa ia sedang mencari Sabrina.


Prasetya melepaskan napas dengan gusar, ia menyesal, kenapa harus membiarkan Sabrina pergi.


Didalam taksi, Sabrina terus menangis, ia tak habis pikir, kenapa Prasetya begitu kejam mengatakan semua itu padanya, padahal ia begitu rindu dan mencintainya.


Sabrina kembali ke kontrakan, ia tak punya keinginan lagi untuk menemui Azmi hari ini.


Sesampainya dirumah, ia melihat sang buah hati, Kaila sedang tidur siang, ia mengusap rambut buah hatinya, ia memang tak pernah membenci putrinya walaupun putri nya itu bukankah bayi yang diharapkan oleh nya.


Sabrina segera mengambil air wudhu setelah puas menangis, hampir satu jam ia termenung sambil menangisi nasibnya.


Setelah mendengar suara azan ashar, ia segera pula menunaikan ibadah sholat ashar dengan khusuk, Sabrina mencurahkan penderitaan nya, menumpahkan tangisnya, menghilangkan segenap duka lara.


Kaila yang terbangun menatap wajah Mama nya penuh dengan air mata, iapun turun, mendekati Mama nya.


"Mama ... Mama ... kenapa Mama menangis?"


"Mama tak apa apa, sayang ...."


"Mama sedih ya, sampai menangis sepelti itu?"


"Mama hanya kangen sama Papa!"

__ADS_1


"Kita pulang aja, Ma ....


"Kita belum bisa pulang, sayang ...."


"Tapi Kaila juga lindu sama eyang ...."


"Ya, suatu saat nanti kita pasti pulang, kamu sabar ya ...."


"Kaila janji, tapi Mama jangan nangis lagi, Mama jangan sedih lagi ... Kaila jadi ikut sedih Ma ...."


"Maaf kan Mama ya sayang?"


"Iya Ma, apa Mama tak mau mengajak Kaila jalan jalan?"


"Kaila mau jalan jalan ke mana?"


"Kaila tak tahu, apa Mama mau mengajak Kaila ketaman hibulan?"


"ketaman hiburan?"


"Iya, Kaila mau main, Kaila mau naik bianglala."


"Apa Kaila sudah tak takut?" Kaila menggeleng gemes.


"Oke, Mama akan membawa mu ketaman hiburan manti malam, apa kak Naila diajak?"


"Iya, boleh kan?"


"Boleh ...."


"Hole ... hole ... Kaila nanti pelgi."


Sabrina memeluk Kaila dengan hangat, ia menyusut airmata nya, ia mencoba tersenyum, demi sang buah hati tercinta.


sementara itu, Prasetya yang telah sampai dirumah kembali, merasa bete dengan semua yang baru saja dialaminya.


Ia sangat heran, jauh di lubuk hatinya yang paling penting, ia sangat merindukan Sabrina, tapi karena rasa kecewanya yang begitu besar, ia tak ingat jika dirinya bertemu dengan Sabrina, maka akan membawanya pulang.


Saat ia terdiam, tiba-tiba ia tersenyum, ia kembali ingat wajah Sabrina yang saat ini semakin cantik dengan pakaian muslim.


Begitu ia semakin mengagumi istrinya itu.


Tampak Lusi masuk kerumah itu lagi, ia mengambil jas berwarna pink yang sengaja ia tinggal ketika pergi ke pemakaman Yadi.


Lusi merasa heran dengan tingkah Prasetya, ia mencoba mencairkan suasana, entah kenapa sejak ia pertama kali bertemu dengan Prasetya, ia seakan mempunyai perasaan lain pada adik dari mantan koleganya itu.

__ADS_1


__ADS_2