Ayah Anakku Kakak Kekasihku

Ayah Anakku Kakak Kekasihku
Bab 30


__ADS_3

"Den ... Den Pras ...."


Tok, tok, tok, panggil Mbok Minah sambil mengetuk pintu, perlahan pintu itu terbuka, seraut wajah yang kusut tersembul disana.


"Ada apa, Mbok?"


"Anu ... Den, tuan sakit. Badannya panas!" terang Mbok Minah.


"Ya, sebentar lagi aku kesana." Jawab Prasetya sambil menutup pintu kamar kembali. Sementara Mbok Minah pergi meninggalkan kamar itu.


Prasetya kekamar mandi, membasuh mukanya yang terasa kusam, karena ia semalam tak bisa tidur nyenyak, sama seperti Sabrina, iapun seakan tak pernah menyangka akan kehilangan wanita itu, ditambah dengan pengkhianatan yang sangat menyakitkan hatinya.


Tak berapa lama, Prasetya masuk kekamar Papa nya.


Setelah mengucapkan salam tapi tak ada sahutan, akhirnya Prasetya masuk begitu saja, sebuah tatapan kehampaan menusuk hatinya, baru satu minggu, ia dan Sabrina berpisah, tapi mampu membuat Papa nya stress, sehingga kelihatan sedikit kurus dan pucat.


"Pa ...." Panggil Prasetya sambil menempelkan tangannya ke kening Papa nya. Terasa sangat panas.


Mbok Minah masuk sambil membawa kompres.


"Sejak kapan Papa seperti ini, Mbok?"


"Entahlah Den, waktu saya mengantar kopi pagi ini, tuan sudah seperti ini, di tanya diam dan tak mau bicara."


Prasetya menatap Papa nya, ia tak habis pikir kenapa Papa nya bisa begitu.


"Pa ... ada apa?"


Bukannya mendapat jawaban, pak Abraham hanya menatapnya, disudut matanya keluarga air bening.


"Apa papa rindu pada Kaila?"


"Ya ...." Terdengar suara yang begitu parau, terasa cukup membuat Prasetya merasa sakit, tambah sakit, bukan pada Kaila, ia sendiri mengakui jika ia tak bisa memungkiri bahwa iapun sangat merindukan bocah kecil itu.


Ia sakit jika teringat akan Sabrina, ibunya, bukan hanya sakit, kini kebencian sudah bersarang dalam hatinya. Kebencian yang telah mengalahkan rasa cintanya, hanya karena kebenaran yang tak pernah diinginkan oleh Sabrina itu sendiri, tapi jangankan mendengar penjelasan Sabrina, karena kecemburuan yang sangat besar, akhirnya pertentangan telah memporak-porandakan rumah tangga yang telah mereka bina bersama. Yang hanya waktu semalam, hubungan itu kandas dan hanya menyisakan rasa sakit yang tak berkesudahan.


"Papa mau bertemu dengan Kaila?"


"Ya ...." Kembali terdengar sahutan.


"Kemana Prasetya akan mencarinya, Sabrina membawanya entah kemana."


Pak Abraham memalingkan wajahnya, seakan memberi jawaban atas kekecewaan akibat perkataan nya barusan.


Tak berapa lama, dokter pribadi mereka datang dan disuruh masuk oleh Prasetya.

__ADS_1


Setelah Pak Abraham diperiksa, Prasetya segera menanyakan keadaan Papa nya.


"Bagaimana, Dok?"


"Bapak, hanya demam, terlalu banyak pikiran, makanya seperti itu." Jawab dokter itu sambil memberikan obat pada Prasetya kemudian pamit pulang.


Hari ini Prasetya sengaja tidak pergi kekantor, ia ingin menemani Papa nya.


"Apa yang Papa pikirkan ... masak hanya memikirkan Kaila, Papa bisa sampai begini?"


Pak Abraham masih diam. Yang tampak hanya keputusasaan.


"Bicara lah, jangan membuat aku bertambah khawatir!"


"Papa merasa kesepian, kau telah membuat rumah ini begitu berwarna, indah ... tapi dalam sekejap kau juga merubah ini seperti kuburan, sepi hingga membuat Papa merasa kesepian."


"Kenapa Papa bicara seperti itu, bukan maksud aku seperti itu, aku sangat mencintai Sabrina, tapi pengkhianatan nya membuat aku tak mampu untuk bertahan, teramat sakit aku rasakan."


"Kau tak mau mendengarkan penjelasannya, kau menyudutkan dirinya, bagaimana mungkin kau melakukan semua itu padanya."


"Ternyata Papa membelanya?"


"Papa bisa membayangkan betapa dirinya jauh lebih terluka, jika dibandingkan dengan mu."


"Lalu apa salah Kaila, tak bisakah kau bertahan hanya untuk kaila?"


"Entahlah!"


"Pras ... untuk apa kau permasalahkan semua, bukankah kakakmu sudah pergi meninggalkan kita, jauh sebelum kau menikah kembali dengan Sabrina, lalu setelah itu apa pernah melakukan pengkhianatan lagi?"


"Mungkin!"


"Karena kebencian mu, kau tak menggunakan logika, kau terus saja menuduh orang lain tanpa bukti."


"Piyama itu buktinya, apa kurang jelas?"


"Sedangkan ia masih buta, dan dia tak mengetahui segalanya."


"Papa percaya ... sungguh Pa, betapa percayanya Papa padanya."


"Tak ada alasan kenapa Papa tidak percaya padanya."


"Apa Papa ingat ... ketika mas Arsen masuk RSJ, siapa kata dokter yang bisa membantu kesembuhannya, Sabrina ... lalu, apa itu juga bukan suatu bukti?"


"Tidak."

__ADS_1


"Dengan memeluknya, dan Mas Arsen merasa nyaman bersamanya, yang kutahu mereka pernah ada hubungan, mereka pernah mengkhianati aku, baik itu sebelum atau sesudah aku menikah kembali dengannya, yang jelas aku sakit dengan semua itu."


"Sudahlah, Papa tak mau berdebat lagi padamu, Papa hanya menyarankan, carilah Sabrina, sebelum kau akan menyesal."


"Aku ... menyesal ... itu tak akan mungkin, Pa!"


"Terserah, tapi saat itu tiba kau jangan menangis, Papa yakin Sabrina adalah wanita yang baik, sama ketika kau menganggap dia baik saat kau menjadikan dia istrimu, Papa tetap percaya, jika dia tak bersalah."


Setelah Pak Abraham sarapan, iapun meminum obatnya, kemudian berbaring kembali, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang terforsir karena ia selalu memikirkan masalah yang menimpa keluarganya, semua pergi meninggalkan dirinya.


Prasetya keluarga dari kamarnya, ia mencoba mencerna semua omongan Papa nya, mencoba untuk melupakan semua, tapi Prasetya tak bisa, yang datang justru rasa sakit yang kian bertambah.


Seandainya saja, ia bisa membuktikan, jika Sabrina tak bersalah, maka mungkin ia tak akan pernah menderita seperti ini.


Apakah benar, ia akan menyesal dikemudian hari?


Yang jelas saat ini, Prasetya hanya tahu satu, ia sangat membenci wanita yang bernama Sabrina.


Lalu untuk apa ia mencari mereka, "Biarkan saja ia enyah dari sini, justru itu yang terbaik, tentang Kaila ... biarkan saja, toh itu anak mereka, bukan anakku, masalah Papa ... dia nanti pasti akan lupa sendiri." Kata hati Prasetya menerima kenyataan pahit itu.


****


Sementara itu, Sabrina dan keluarga pak Hardi sedang bercengkrama, mereka mendengar semua penuturan Sabrina, karena mereka terus mendesak, akhirnya, ia menceritakan semua, Ananta meneteskan air mata nya, tak menyangka dalam keriangan dan kegembiraan yang selalu ditunjukkan oleh wanita dihadapannya ini, tersimpan betapa berat cobaan hidup.


"Makanya Kak ... aku ingin sekali bekerja, tapi aku tak tahu akan bekerja apa?"


"Kamu pasti tamatan sarjana, apa tak mungkin kamu melamar pekerjaan saja?"


Sabrina tersenyum, ia sama sekali tak terpikirkan akan hal itu, tapi ia kembali surut, ia ingat akan Kaila.


"Tapi Kaila gimana?"


"Itu jangan dipikirkan, kan ada aku dek ...." Jawab Ananta.


"Benarkah?"


"Ya, aku akan menjaga Kaila, aku berdoa semoga kau mendapatkan pekerjaan yang baik."


"Ya semoga saja, aku akan mengajukan lamaran besok."


"Ya, lebih cepat lebih baik, kau bisa melupakan masa lalu yang pahit itu."


"Ya, akupun berpikir seperti itu."


Akhirnya Sabrina menyiapkan berkas yang diperlukan untuk melamar pekerjaan besok, kali ini ia sangat bersemangat, ia akan mencari nafkah untuk menghidupi keluarga kecilnya, bagaimana pun, uang yang diberi oleh papa mertuanya tak akan cukup jika ia hanya bergantung saja, tanpa ada usaha yang lain.

__ADS_1


__ADS_2