
Matahari di ufuk timur mulai meninggi, cahayanya menembus kamar Sabrina, lewat kaca jendela, dan celah celah konsen.
Sabrina masih bertahan untuk tidak membangun kan Prasetya, ia hanya duduk dibawah sofa, disamping Prasetya tidur.
Perlahan mata Prasetya terbuka, ia menarik dirinya menjauh dari Sabrina, Sabrina yang mengetahui akan hal itu, menatap Prasetya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Kenapa Mas ... apakah hingga sebegitu nya, kau bahkan tak mau tersentuh olehku."
"Kau kotor, menjauh lah kau dariku."
"Aku tak percaya, sampai hati kau mengatakan itu padaku."
"Kenapa ... Kau memang menjijikkan, bukan?"
"Mas!"
"Apa?"
"Aku tak terima kau katakan semua itu padaku."
"Kenapa kau tak terima, kau memang wanita murahan, bukan?"
"Aku bukan wanita murahan!"
"Lalu ... tidak murahan bagaimana ... kau rela tidur dengan dua kakak beradik sekaligus, bukan murahan lagi, kau jauh lebih rendah dari itu."
"Maaas!" Sabrina menukik.
"Sudahlah Sabrina, akui saja, aku akan lebih lega kalau kau mengakuinya."
"Oke, oke ... aku akui, tapi aku tak sengaja melakukannya."
"Tak ada sebuah pengkhianatan yang tidak disengaja, kau sengaja mengkhianati cinta kita, karena kau terlalu haus untuk mendapatkan jamahan."
"Terus saja kau caci maki aku, aku kan menerima, meski sangat sakit."
"Kau memang pantas untuk dicaci, wanita j*lang!"
Setelah mengatakan itu, Prasetya meninggalkan Sabrina begitu saja.
Prasetya membersihkan dirinya dikamar mandi, ia membiarkan Sabrina menangis.
Sehabis mandi, Prasetya mengambil kunci mobil, kemudian pergi meninggalkan rumah.
"Kau mau kemana, Mas?" tanya Sabrina mengejar Prasetya. Pak Abraham yang berada di mobil segera turun kembali, ia punya perasaan tidak enak.
"KALIAN, BERTENGKAR DI LUAR, MASUK!" Pak Abraham membentak Prasetya dan Sabrina.
Prasetya akan bersikeras untuk tetap masuk ke dalam mobil, tapi Pak Abraham kembali bersuara.
"JANGAN PERNAH PERGI JIKA KAU BERTENGKAR DENGAN ISTRI MU, MASUKLAH, SELESAI KAN!"
Akhirnya Prasetya masuk kembali, ia tak menghiraukan Sabrina yang mengejarnya.
"Mas ... apa yang harus aku lakukan!"
"Pergilah, enyah kau dari hadapanku."
Pak Abraham yang berdiri didepan pintu, karena membuntuti mereka, merasa terkejut mendengar perkataan Prasetya yang begitu kasar dan menyakitkan.
"Pras, apa aku tak pernah mendidik mu berbicara yang baik, apalagi dia adalah istri mu."
__ADS_1
"Untuk apa aku berbicara baik dengan wanita murahan seperti dia, dan sekarang dia bukan istri aku lagi, Papa dan Mbok Minah yang jadi saksi, bahwa saat ini, jam delapan pagi, aku menceraikan Sabrina."
Pak Abraham, Mbok Minah dan Sabrina membuka mulutnya, menganga, sangat tidak menyangka Prasetya akan berkata seperti itu, akan dengan tiba tiba menjatuhkan talak pada Sabrina.
"Apa kau sadar mengucapkan itu?" tanya Pak Abraham emosi.
"Aku sadar, sangat sadar ... aku tak mau lagi melihat dia dirumah ini."
Setelah mengucapkan kalimat talak cerai tersebut, dengan tanpa perasaan berdosa ia meninggalkan Sabrina begitu saja.
Sabrina terjatuh dilantai, badannya lemah lunglai tak berdaya, ia dibantu oleh Mbok Minah, untuk kembali berdiri dan duduk di sofa, Pak Abraham menanyakan apa penyebab semua itu, Sabrina menceritakan semuanya, bermula dari piyama yang ditemukan oleh Prasetya dikamar Arsen, Dengan berat iapun menghela nafas, memang masalahnya begitu rumit.
Sabrina pergi kekamar, ia menangis sedih, menyadari kenyataan bahwa dirinya sudah tidak lagi menjadi istri dari Prasetya, laki-laki yang amat sangat dicintainya.
"Apa yang harus aku lakukan, Mbok?" tanya Sabrina pada mbok Minah yang mengikuti nya kekamar.
"Non yang sabar ... Den Pras hanya terbawa emosi," bujuk Mbok Minah.
"Tapi dia sudah menalak aku mbok ...."
"Jadi apa rencana mu, Non?"
"Aku akan pergi, Mbok?"
"Pergi kemana, bukankah rumah mu sudah dijual?"
"Kemana saja, aku harus pergi, disini bukan rumahku lagi."
"Apakah Kaila akan kau ajak?"
"Ya ... aku akan membawanya, kalau boleh aku minta tolong, bantu aku mengemas barang barang Kaila ya, Mbok."
"Apa Non yakin?"
Mbok Minah pergi kekamar Kaila, ia menuruti kemauan Sabrina untuk mengemas pakaian Kaila.
"Mbok ... Kaila akan diajak kemana, kok pakaian nya yang dikemas banyak banget?"
"Kaila akan di bawa pergi oleh Mama nya, apa kau tak tahu, kalau Den Pras sama Non Sabrina bertengkar, mereka pisah."
"Apa?"
"Iya, Non Sabrina akan pergi."
"Yang bener aja, baru kok ... mereka baik baik saja!"
"Bertengkar nya tadi pagi, Rina!"
"Apa masalahnya Mbok?"
"Aku sendiri kurang jelas, sudahlah, mari bantu aku mengemas baju Kaila."
"Tak ada yang boleh dikemas!" tiba-tiba pak Abraham muncul di pintu kamar itu.
"Tapi tuan?"
"Sabrina tak akan pergi dari rumah ini, aku tak mau jika cucuku pergi, aku mau mereka tetap ada disini."
"Tak akan ada yang bisa menghalangi aku, Pa ...."
"Aku akan menghalanginya."
__ADS_1
"Aku bukan siapa-siapa lagi dirumah ini, aku hanya mantan istri dari Prasetya, jadi sebagai mantan tak seharusnya aku tetap dirumah ini."
"Kau mantan istri, tapi tak ada yang namanya mantan cucu, Brina!"
"Dia bukan cucumu!" jawab Prasetya yang entah kapan sudah berada di antara mereka.
"Dia tetap cucuku, kalau kau tak mau menganggap dia, aku yang akan menganggap dia, dia adalah keturunan Abraham, jadi mau tidak mau dia harus tetap berada disini."
"Terserah, Papa!"
"Buk ... jika Ibu pergi, lalu aku akan sama siapa?"
"Pergilah, aku sudah tak punya uang untuk menggaji, kau boleh pulang!"
Tanpa menghiraukan himbauan Pak Abraham, Sabrina membawa Kaila pergi.
"Ma ... Mama, kita mau kemana?"
"Kita akan pergi sayang ... kita cari mainan yang banyak, ya ...."
"Cari mainannya dimana, Ma?"
"Disana, jauh ... Kaila mau kan pergi sama Mama?"
"Iya, Ma!"
Akhirnya, Pak Abraham berdiri didepan Sabrina, ia seakan memohon untuk tidak pergi, tapi iapun sadar, jika Sabrina merasa sakit hati atas perlakuan Prasetya padanya.
"Maafkan Brina, Pa ...."
"Papa yang seharusnya minta maaf, Papa tidak bisa mendidik putra Papa menjadi orang yang baik."
"Mas Pras baik, ia sangat baik, hanya saja aku yang kurang beruntung, percayalah Pa, aku tak sengaja melakukannya, aku tak tahu semua kejadian itu."
"Aku percaya padamu, Papa berdoa, semoga kalian akan di dipersatukan kembali."
"Terimakasih, Pa ...."
"Aku selalu mengharap kau tak melupakan aku!"
"Tidak, Papa!"
Dengan diantar oleh Pak Abraham, Sabrina menuju ke halaman, Kaila di gendong oleh Pak Abraham.
"Kaila nanti jangan lupa sama eyang, ya?" ucap Pak Abraham sambil menciumi wajah Kaila.
Bagaimana pun, ia sangat menyayangi cucunya itu, ia tak akan mampu berpisah lama lama dengan bocah kecil itu.
"Maaf kan aku, Papa?" sekali lagi Sabrina menyalami Papa mertuanya. Pak Abraham mengelus lembut rambut Sabrina, bagaikan pada putrinya sendiri. Kemudian Pak Abraham mengambil sebuah kartu dan menyerahkan nya pada Sabrina.
"Jangan menolak, pakailah untuk keperluan mu mengurus cucuku!"
Sabrina menatap Pak Abraham, laki laki itu membalas tatapannya, kemudian mengangguk Sabrina pun tak mampu untuk menolak pemberian kartu kredit itu.
"Jaga Kaila untuk ku!"
"Ya, kami pergi dulu."
Sabrina masuk kedalam taksi yang dipesan oleh Sabrina.
Pak Abraham kelihatan sangat sedih, begitu pula dengan Mbok Minah dan suster Rina.
__ADS_1
Tak kuasa ke-tiga nya membendung air mata mereka.
Melepaskan Sabrina yang entah akan pergi kemana.