Ayah Anakku Kakak Kekasihku

Ayah Anakku Kakak Kekasihku
Bab 34


__ADS_3

Hari ini, Sabrina pergi ke pengajian bersama dengan Ananta, ia tak tahu akan melakukan apa untuk masa depan nya, setelah kejadian ia dikejar oleh suruhan orang yang tidak bertanggung jawab, ia sering ketakutan, ia seakan dikejar kejar perasaan takut.


Setelah acara pengajian selesai, Sabrina mengkhususkan diri untuk menemui ustadzah yang memberikan kajiannya kali ini, ia sengaja ingin meminta saran untuk langkah yang akan ia lakukan selanjutnya.


Setelah menerima jawaban atas semua pertanyaan yang diajukannya, Sabrina pamit meninggalkan rumah seorang warga. pengajian itu rutin diadakan seminggu sekali, dan Sabrina selalu aktif menghadirinya, selain belajar hidup sederhana, dilingkungan itu Sabrina mendapatkan sambutan yang baik, tanpa prasangka apapun.


Keesokan harinya, Sabrina tersenyum menatap dirinya didepan cermin, kemudian ia meraba perutnya yang mulai menonjol, usia kandungannya saat ini sudah memasuki bulan keempat, dan berarti sudah dua bulan ia meninggalkan rumah mertuanya.


Sabrina memakai pakaian syar'i, berwarna coklat muda dan memakai jilbab berwarna senada, ia tak ingin melepaskan jilbabnya itu, ia berniat untuk menutupi auratnya mulai saat ini.


Ananta yang mengantarkan makanan, merasa terpana melihat keanggunan Sabrina kali ini, ia terkesima melihat Sabrina yang berbeda.


"Astaghfirullah, subhanallah ... kau begitu cantik Bri, kau mau kemana, bukankah kita tak ada pengajian hari ini?"


"Tanya nya satu satu kak ... agar aku bisa jawab dengan mudah."


"Apa kau mau pergi?"


"Tidak, aku memutuskan, mulai hari ini aku akan memakai hijab, aku yakin aku akan semakin aman dengan pakaian seperti ini."


"Amiiin, memang kau punya tubuh yang mampu menghipnotis para laki-laki yang melihatnya."


"Benarkah?"


"Ya, aku berdoa semoga Tuhan senantiasa menjaga mu, dan seluruh keturunan mu."


"Amiiin, semoga Kak!"


"Ayo dimakan keburu dingin."


Saat asyik dengan perbincangan mereka, terdengar suara pintu diketuk dari luar, Sabrina dan Ananta menoleh, Sabrina pergi menuju pintu itu, ia menyaksikan Azmi berdiri dimuka pintu itu.


"Azmi, ada perlu apa?"


"Aku ...." Azmi menghentikan perkataan nya, ia menatap Sabrina lekat, dari atas sampai bawah.


"Apakah ini kau, Sabrina?"


Sabrina tersenyum, ia mengangguk.


"Apa kau akan pergi?"


"Oh tidak, aku tidak akan pergi, mari silahkan masuk!"


"Aku jadi tidak enak hati ngobrol sama kamu, apa kata orang, jika aku masuk?"


"Ada Kak Ananta disini."


"Apakah boleh aku masuk?"

__ADS_1


"Masuklah, aku sedang bersama kak Ananta." Ananta keluar keruang tamu.


Azmi pun masuk, ia merasa segan saat ini berbincang dengan Sabrina, mungkin karena Sabrina sudah berpenampilan lain.


"Aku mau membicarakan masalah bisnis yang akan kamu buka, insyaallah aku bisa menyuplai kebutuhan yang kamu perlukan."


"Benarkah?"


"Ya, aku akan membantumu, semoga usahamu berjalan dengan lancar."


Sabrina dan Azmi berniat menjalin kerjasama untuk mendirikan sebuah butik yang bisa dibeli dengan online maupun offline, butik itu khusus pakaian muslimah, dan semua itu murni ide Sabrina, Azmi cuma membantu mewujudkan nya, karena kebetulan Azmi adalah pengusaha ekspor impor barang.


Mendengar perkataan Azmi, Sabrina merasa sangat bahagia, ia tak pernah membayangkan akan memulai sebuah bisnis yang sama sekali tidak pernah digelutinya.


Kaila masuk bersama dengan Naila, ia menyapa Azmi dengan ramah.


"Halo Om ...."


"Halo sayang ... kamu apa kabar?"


"Kaila baik, Om ...."


"Sini, sama Om, Om kangen sama Kaila!" bagai mendapatkan seorang ayah kembali, Kaila dengan manjanya langsung duduk dipangkuan Azmi.


"Azmi, aku ingin segera mencari tempat untuk memulai usahaku, apa kau bisa membantu?"


"Ya, aku punya tempat, maksudku punya temanku, kau setuju atau tidak itu terserah nanti, yang jelas kita lihat dulu."


"Ya, lebih cepat lebih baik bukan?"


"Oke, aku akan mengambil tasku dulu."


Sabrina menggunakan tas selempang, ia memakainya, menambah keanggunan nya, dalam hati Azmi semakin mengagumi Sabrina, tapi ia sadar jika Sabrina adalah istri orang, bahkan saat ini ia sedang mengandung.


Azmi membawa Sabrina dikawasan perkantoran milik keluarga Abraham, ia tak mengatakan itu, karena ia yakin Azmi tidak mengetahui jika keluarga kaya tersebut adalah bagian dari masa lalunya.


"Oke, aku mau yang disana saja!"


"Padahal yang ini lebih strategis."


"Tapi yang ini lebih kecil."


"Memang iya sih, tapi apa kau tak keberatan jika dekat dengan perkantoran milik keluarga Abraham?"


"Memangnya kenapa?"


"Aku dengan pemiliknya sangat tampan, siapa ... Arsen?"


"Ya, namanya pak Arsen, kau kenal?"

__ADS_1


"Tidak, aku tidak kenal, hanya pernah dengar." Sabrina manggut-manggut.


"Tapi aku pernah dengar, katanya pemilik perusahaan itu, telah meninggal mengalami kecelakaan!"


"Apa, dari mana kau tahu akan berita itu?" tanya Sabrina sontak saking terkejutnya.


"Kebetulan tetangga ku adalah salah satu karyawan di perusahaan itu, makanya aku tahu walaupun hanya sedikit."


Sabrina tercekat, ia sangat kaget mendengar berita yang baru saja disampaikan oleh Azmi.


"Apakah serius kau mau mengambil tempat ini?"


"Ya, aku serius, masalah harga dan urusan lainnya aku mohon bantuan mu, apa kau bisa?"


"Ya, aku bisa, hari ini akan kelar, dan besok kita langsung bisa mengisinya."


"Oh ya, secepat itu?"


"Ya, bukankah kita tak boleh menunda kebaikan?"


"Ya, aku setuju."


"Apa kau akan pulang sekarang?"


"Tidak, aku masih ada urusan, aku harus pergi ke suatu tempat, jadi aku meninggalkan mu sekarang, apakah kau keberatan?"


"Oh, tentu saja tidak, apa aku perlu mengantarkan mu?"


"Tidak, aku sudah pesan taksi, nah itu taksinya sudah datang, aku permisi."


Sabrina terlihat begitu terburu buru, ia sedikit merasa heran, tapi ia kembali menepis perasaan nya, bagaimana pun Azmi tak ingin terlalu ikut campur urusan Sabrina, lebih tepatnya ia ingin menjaga isu miring yang mungkin akan ditudingkan pada Sabrina apabila dirinya terlalu dekat dengannya.


Sabrina memberikan alamat yang akan ditujunya kepada supir taksi, ia dengan perasaan penuh kecemasan, menuju rumah mertuanya, sampai di depan pintu gerbang, sebelum sempat turun, Sabrina melihat tiga orang yang hendak masuk kedalam mobil pribadi milik Prasetya, ia melihat pak Abraham yang masih duduk di kursi roda, yang akan diturunkan dan siap dimasukkan kedalam mobil dibantu oleh pak Ujang.


"Papa duduk di kursi roda, apa papa stroke?" batin Sabrina.


Kemudian Sabrina menatap seorang yang saat itu yang sempat dilihat oleh Sabrina saat akan datang kerumah itu, pengacara Arsen.


Sabrina menyaksikan dengan seksama, ia tak ingin lagi turun dari taksi itu, ia yakin akan melihat saja kemana mereka akan pergi.


"Buk ... apa Ibu tak jadi turun?"


"Anu Pak ... kita ikuti saja mobil itu!"


"Baik, Bu!"


Supir taksi itu akhirnya mengikuti kemana arah mobil Prasetya melaju, Sabrina penuh tanda tanya, ia semakin penasaran, siapa sebenarnya wanita yang saat ini tengah bersama dengan Prasetya itu.


"Masih saja dua bulan aku pergi, kau sudah bersama wanita lain, lalu apa aku akan tetap memberitahukan perihal kahamila ku?"

__ADS_1


Sabrina terus fokus mengikuti jejak mobil Prasetya, ia sungguh tak mau kehilangan jejak itu.


__ADS_2