
Arsen mengendarai mobil mewahnya dengan begitu santai, menuju kawasan rumah sakit, ia akan menemui dokter pribadinya, Prasetya yang tidak sengaja, menatap kearah mobil di hadapannya merasa terkejut, mengenali mobil kakaknya, membelokkan ke pelataran rumah sakit, siapa gerangan yang di jenguk nya, tapi akhirnya, tak ambil pusing, terus melaju meninggalkan tempat itu.
Arsen memasuki ruangan khusus, di mana dokter pribadinya sedang bertugas di rumah sakit x itu. Yang sebelumnya telah membuat janji.
"Selamat pagi, Pak Arsen!"
"Selamat pagi." Arsen duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Bagaimana, ada perubahan?"
"Lumayan, dari pada sebelumnya, saya sudah merasa agak tenang!"
"Syukurlah, nah ini resep obatnya." Kata dokter itu pada Arsen, sambil menyerahkan secarik kertas yang berisi resep obat.
Arsen telah menceritakan semua tentang dirinya pada dokter itu, tanpa ada yang di tutupi, kata dokter itu Arsen mengidap penyakit kejiwaan yang nama medisnya disebut penyakit sadisme yang menyebabkan ia berprilaku tidak wajar pada Sabrina saat itu.
Dalam kesendirian, kadang Arsen menyesali semua itu, tapi apa boleh buat, ia tak mampu mengendalikan dirinya. Apalagi sekarang orang yang teraniaya itu, justru telah di nikahi oleh adiknya sendiri.
Setelah berbincang sedikit banyak pada dokter itu, Arsen pamit untuk pulang, ia sengaja tidak masuk kantor hari ini.
Sesampainya di rumah, Arsen langsung begitu saja ke kamarnya, tapi sebelum sampai, ia berhenti sejenak mendengar ada percakapan di taman, yang ia lewati saat menuju kamarnya.
"Mbak Brina ... apa kata mas Prasetya, mengetahui kau hamil?" Arsen berdesir merinding, ketika mendengar kalimat itu, ia sangat terkejut, "Sabrina hamil, pasti itu adalah anakku," batin Arsen.
Arsen terus menguping pembicaraan Sabrina dan Lisa.
"Mas Prasetya akan tetap dengan keputusannya, ia kan menjaga anak ini sebagaimana anaknya sendiri!"
"Syukurlah, aku merasa sangat lega."
"Tapi ... bagaimana aku akan merawat anakku, sedang aku tidak mampu melakukan apapun, untuk diriku saja aku membutuhkan bantuan orang lain."
"Sudahlah, pasrahkan semua pada yang Maha Kuasa."
Arsen melanjutkan ke kamar, di sana ia merenungkan semua, saat ini ia tak tahu apakah merasa khawatir atau merasa bahagia, mengetahui bahwa Sabrina telah mengandung anaknya. Bagaimana pun Arsen ingin menjadi manusia normal seperti pada umumnya, tapi entah kenapa, ia harus memiliki penyakit itu.
Mungkin semua itu terjadi karena sejak kecil ia kurang mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, pada saat ia sewajarnya mendapatkan kasih sayang seorang ibu, saat itu, ibunya mengandung Prasetya, dan setelah itu, saat ibunya melahirkan Prasetya, justru nyawanya, tidak dapat tertolong, dan meninggal dunia. Kemudian ayahnya sibuk di kantor, ia dan Prasetya hanya di rawat oleh seorang pembantu. Pembantu itu adalah mbok Minah, yang sampai sekarang masih bekerja bersama dengan mereka.
__ADS_1
Arsen keluar dari kamarnya, ia menuju taman belakang, di mana Sabrina dan Lisa berada.
"Kalian sudah lama disini, Lis?"
"Sejak tadi pagi, mas Prasetya menelpon ku, aku di suruh nemenin Mbak Brina."
"Ooo, gimana kabarmu, Bri?"
"Aku baik, Mas!"
"Kalian kemaren kemana ... sih, aku perhatikan, kalian seperti dari mana gitu?"
"Mbak Brina dari ...." Belum selesai Lisa memberi tahu, Sabrina mencubit lengan Lisa, kecil dan pelan.
"Dari rumah kami, Ibu pengen ketemu sama, Mbak Brina!"
"Ooo, kirain kemana, kok cuman sebentar."
"Mas Arsen tidak kekantor?"
"Lagi males, aku pengen nenangin pikiran!"
"Semua orang pasti punya masalah bukan?"
"Tidak ... aku tidak punya masalah, aku sangat jauh dari masalah." Kata Lisa sambil tertawa.
"Ngomong ngomong, kemana kalian akan bulan madu, Brina?" Sabrina menggeleng, wajahnya yang semula nampak ceria, seketika berubah mendung.
"Mas Prasetya sedang sibuk, kami belum sempat untuk pergi!"
"Bagaimana kalau aku yang menemani mu bulan madu?" kata Arsen yang sengaja menggoda Sabrina. Sabrina tersenyum.
"Mas Arsen, sama aku aja, kita kan sama-sama jomblo!"
"Ha ... ha ... ha ...." Mereka tertawa bersama.
Andai mereka tahu, betapa saat ini Arsen sedang gelisah, karena belakangan ini ia senantiasa dihantui oleh bayangan dimana ia sedang melecehkan Sabrina kala itu, apalagi perbuatannya itu ia ketahui telah membuahkan janin di rahim Sabrina. Arsen benar benar tidak tahu akan melakukan apa.
__ADS_1
"Mas, kenalin dong ... sama pacarmu, pasti orangnya cantik kan?" celoteh Lisa.
"Iya, aku tak pernah sekalipun melihat mu membawa pacarmu, ke rumah ini."
"Aku tidak punya pacar, tidak ada yang suka padaku, aku pun tidak pingin punya pacar."
"Mas Arsen tidak normal kali?" Arsen mukanya berubah drastis, sangat terkejut dengan perkataan Lisa, namun dengan segera ia mampu menguasai keadaan. Bibirnya tersungging senyum yang begitu manis.
"Aku takut, menyakiti hati seorang gadis, aku kan Baek ...."
"Duh ... Mas Arsen ... bikin gemes aja!" ujar Lisa sambil spontan meninju halus dada bidang milik Arsen. Sabrina perlahan berdiri.
"Mau kemana Bri ...." Spontan Arsen ikut berdiri dan memegangi tangan Sabrina, Lisa pun ikut berdiri.
"Ya, kau mau kemana?" tanya Lisa lagi.
"Aku mau ke kamar saja, kalian di sini saja, semoga diantara kalian ada kecocokan."
"Ha ... ha ... ha ...." Arsen tertawa terbahak bahak yang tanpa sadar membuat Lisa merasa heran.
"Kok ketawa, ada yang aneh?" tanya Sabrina.
"Aku nggak mungkin naksir lah, sama cewek macam Lisa, nggak tipe aku." Lisa nyengir.
"Tipe Mas Arsen, macam Mbak Brina, jadi nggak bisa move on, saat Mbak Brina nikah sama Mas Prasetya, iya kan?, ngaku hayo ...."
Arsen tersenyum, dan tanpa disangka oleh Sabrina dan Lisa ia menjawab dengan begitu santai.
"Memangnya kalau aku memang cinta sama Brina, kenapa?"
"Pasti akan seru, kalian pasti akan perang dingin, yang jelas, mas Arsen, akan makan hati melihat kemesraan antara Mbak Brina dan mas Prasetya."
"Yang jelas, aku akan mengalahkan Prasetya, aku lebih tampan bukan?"
"Lebih tua, bukan tampan!"
"Sudahlah, kalian entah membicarakan apa, jangan bicara macam macam, bercanda boleh, tapi aku tidak suka kalian kami sebagai bahan bercandaan."
__ADS_1
"Nyonya cantik marah, tambah menarik tahu ...." Sabrina tak lagi menghiraukan mereka, ia berlalu dengan menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan. Sabrina sudah menguasai tata letak rumah itu, dengan tanpa bantuan orang lain.
Arsen tersenyum, dalam hatinya ia berniat untuk berusaha melewati hari harinya dengan bercanda dan mencari secercah perhatian, semoga dengan begitu, mungkin akan membuahkan hasil yang positif untuknya, seperti selama ini, ia jarang melakukan interaksi dengan sesama anggota keluarganya, akibatnya, ia kurang merasakan perhatian dan kasih sayang. Mungkin dengan adanya Sabrina di rumah ini, ia akan lebih betah dirumah, tapi apakah itu tidak akan berdampak lain pada hubungan mereka, apalagi saat ini Arsen tahu, Sabrina sedang mengandung darah dagingnya, tentu secara otomatis ia ingin memberikan perhatian lebih pada Sabrina dan calon bayinya, semua itu tentu tanpa sepengetahuan Sabrina dan Prasetya.