
Prasetya menemui dokter yang menangani Arsen, setelah ia melihat keadaan kakaknya, tampak raut sedih diwajahnya, rasa bersalah dan penyesalan menggelayut dalam hatinya.
"Bagaimana keadaan kakak saya, dok?"
"Sebenarnya keadaan nya sudah lumayan parah, cuma ...."
"Cuma apa, dok?"
"Kemungkinan bisa disembuhkan, asal ada orang yang tepat yang bisa mendukung penyembuhan nya."
"Maksudnya?"
"Apakah Bapak kenal dengan seseorang yang bernama Sabrina?"
"Ya dok, saya kenal, dia istri saya!"
"Sebelumnya dia pernah bercerita tentang Sabrina, dan sejak itu dia banyak mengalami kemajuan, sampai dia tidak mengkonsumsi obat lagi. Jadi ... menurut saya, tolong bawa Sabrina untuk melihat bagaimana reaksinya."
"Ya ... saya akan membawa istri saya untuk menemuinya."
Dengan wajah murung, Prasetya keluar dari ruang dokter itu, ia saat ini berada dalam sebuah dilema, ternyata apa yang di pikirkan oleh nya selama ini, benar, bahwa kakaknya menaruh hati pada Sabrina.
Yang menjadi pertanyaan nya saat ini adalah, apakah ia akan merelakan Sabrina untuk kakaknya, atau akan tetap mempertahankan hubungan mereka.
Prasetya duduk ditempat duduk yang tersedia di sudut ruangan rumah sakit jiwa itu, dengan meremas rambutnya, kepalanya benar benar pusing, bagaimana pun ia tak rela, kalau Sabrina dekat dengan kakaknya.
Tapi, mengingat kakaknya yang menyedihkan saat ini, rasanya ia tak tega.
"Ada apa, Pras?"
"Kata dokter, kemungkinan besar mas Arsen akan sembuh kalau ada perhatian orang yang dekat dengannya."
"Lalu, siapa yang dekat dengannya?"
"Kata dokter, orang yang sering diceritakan oleh mas Arsen adalah ...."
Prasetya berhenti, tidak melanjutkan perkataannya, ia merasa tak sanggup membayangkan betapa Sabrina akan merawat kakaknya, sekali lagi, Prasetya benar benar tidak rela.
"Siapa?" Prasetya masih diam.
"Katakan Pras, siapa?"
"Sabrina, Pa!"
"Apa?" pak Abraham tak kalah kagetnya dibandingkan dengan Prasetya. Mulutnya menganga, mewakili keterkejutannya.
"Apa mereka begitu dekat?"
"Aku sendiri tidak tahu, tapi apakah tidak salah kalau aku menanyakannya pada Sabrina, Pa?"
"Tidak, lagi pula apa salahnya kalau Sabrina yang memberikan perhatian itu pada Arsen, kan hanya sebatas perhatian, dia tetap istrimu, kan?"
"Apakah suatu saat nanti, tidak akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, terus terang, aku tidak ingin kehilangan Sabrina."
"Tenanglah, jangan berfikir yang tidak tidak, Sabrina hanya mencintai mu, jadi tak mungkinlah dia akan mengkhianatimu, apalagi dengan kakakmu sendiri."
"Baiklah, aku akan membawa Sabrina kemari, semoga membuahkan hasil yang baik."
Prasetya meninggalkan RSJ itu dengan hati yang bercampur aduk, tapi ia akhirnya membulatkan tekad, apapun yang terjadi akan membujuk Sabrina untuk mendampingi Arsen.
Sesampainya di rumah, Prasetya menyaksikan Sabrina sedang memberi asi untuk kaila, putrinya.
Wajah cantik Sabrina membuat Prasetya tersenyum, walaupun senyum itu tidak dilihat oleh Sabrina, betapa ia membayangkan akan segera menikahi Sabrina, dan mereka akan menjadi sepasang suami istri yang normal pada umumnya.
"Selamat siang sayang ...."
"Eh, Papa ... sudah pulang?"
__ADS_1
"Baru saja, boleh aku menggendong Kaila?"
"Boleh dong, Pa ...."
Sabrina menyerahkan kaila kepangkuan Prasetya. Mereka bercanda, seakan kali ini kebahagiaan hanya lah milik mereka berdua saja. Mereka bercanda sambil sesekali Prasetya mencium mesra bayinya berikut Sabrina. Tawa berderai, menghiasi kebersamaan mereka.
Sampai akhirnya, Prasetya mengutarakan apa yang dibicarakan oleh dokter dengan nya tadi.
"Bri ... kamu tidak tanya kabar Mas Arsen?"
"Ya ... aku sampai lupa, gimana kabarnya, Mas?"
"Kata dokter, Mas Arsen akan sembuh jika didampingi oleh orang yang dekat dengannya."
"Bagus kan ... itu kabar baik!"
" Ya ... tapi ...."
"Tapi apa?"
"Orang yang dekat dengan Mas Arsen itulah penyebabnya."
"Kenapa dengan orang itu?"
"Karena orang itu ... kata dokter ... adalah ...."
"Siapa, Mas?"
"Kamu, sayang!"
Sabrina terbelalak, merasa sangat terkejut, tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Kenapa dokter itu berkesimpulan seperti itu?"
"Karena sebelumnya, Mas Arsen banyak bercerita tentang dirimu, dan karena kamulah, dia sempat membaik beberapa bulan terakhir ini."
"Entahlah, aku juga tidak mengerti."
"Lalu, apa rencana mu selanjutnya?"
"Aku ingin Mas Arsen sembuh, jadi aku minta bantuan darimu!"
"Aku?"
"Ya, kamu akan pergi ke RSJ untuk memberikan dukungan buat mas Arsen."
"Tidak, itu tidak mungkin!"
"Kenapa tidak mungkin?"
Sabrina terdiam, ia mulai mengambil kesimpulan, ia berasumsi, secara diam-diam Arsen telah mencintai dirinya. Atau ... dua pertemuannya dengan seorang laki-laki, ya, kisah dua malam itu, Sabrina kini benar benar yakin, Arsen lah yang bersamanya.
Berawal dari itulah, mungkin Arsen menunjukkan kemajuan.
"Hei sayang ... kamu kok malah bengong?"
"Rasanya aku belum percaya, kalau dia sempat membaik karena aku."
"Aku minta kamu bersedia, besok kita kesana!"
"Aku takut, Mas ...."
"Tidak apa-apa, aku yakin kamu bisa!"
"Apakah Mas tidak cemburu, melihat aku dekat dengan Mas Arsen?"
Prasetya menunduk, ia tak ingin menunjukkan rasa cemburunya yang teramat sangat itu, tapi Sabrina mengerti akan semua itu.
__ADS_1
"Kenapa kau lakukan, kalau kau sendiri tersiksa dengan rasa cemburu mu itu?"
"Dia kakakku, bagaimana pun aku ingin dia sembuh, aku tak kuat melihat penderitaan nya."
"Baiklah, kalau memang itu sudah menjadi keputusan mu."
"Tapi ... aku minta dengan sangat padamu, tolong jaga cinta kita!"
"Aku janji, aku akan selalu setia padamu."
Keesokan harinya, Prasetya ikut ke RSJ, ia langsung menemui Arsen, semula Arsen hanya tersenyum senyum sendiri, tapi setelah mengetahui Sabrina, ia langsung berdiri, menghampiri Sabrina.
"Hai ... sayang ...." Prasetya mengepalkan tinjunya, ia emosi seketika. Tapi Sabrina yang memegang tangan Prasetya, berbisik pada Prasetya, agar prasetya tidak terbawa emosi.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja."
Prasetya melepaskan kepalan tangan nya.
"Kau kemari, mana ... mana ... anak kita?" Sabrina terkejut mendengar perkataan Arsen, ia menatap Prasetya yang juga tak kalah kagetnya.
"Apa maksudnya?" Kata Sabrina pada Prasetya.
"Tenanglah Pak, di bicara tanpa kesadaran, jadi apa yang dikatakannya belum tentu benar." Kata seorang dokter yang tiba-tiba muncul di antara mereka.
Prasetya justru beranggapan lain, ia saat ini menganggap bahwa Sabrina dan Arsen telah menjalin hubungan tanpa sepengetahuan nya.
Prasetya melepaskan pegangan tangan Sabrina dengan kasar, iapun meninggalkan Sabrina begitu saja.
"Mas ... Mas Arsen baik baik saja kan?"
"Aku akan baik, aku baik."
"Kenapa Mas Arsen jadi seperti ini, apakah kau tak ingin sembuh?"
"Aku tidak apa-apa, aku cuma ... rindu ... rindu pada anakku, anak kita."
"Mas ... sadarlah, kita tidak punya anak, aku ini istri adikmu, kita ipar."
Sabrina terus mengajak Arsen bicara, tak peduli saat ini Prasetya telah meninggalkan dirinya.
Seorang dokter yang menangani Arsen datang menemui Sabrina, ia tersenyum, mengatakan bahwa untuk hari ini, sudah cukup untuk mengajak Arsen bercengkrama.
Dari jarak yang cukup jauh, pak Ujang, supir pribadi keluarga Abraham, memanggil manggil Sabrina, dan Sabrina yang mendengar suara itu, berjalan menuju suara itu, pak Ujang pun mendekati Sabrina dan memandunya menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari mereka saat ini berdiri.
Sesampainya di rumah, Sabrina tak mendapati Prasetya, kaila kecil sedang bersama baby sister, dan mengatakan kalau Prasetya belum juga kembali sejak mereka berdua pergi tadi.
Tiba-tiba suara ponsel berdering, Sabrina segera mengangkat nya.
"Halo, Mas pras?"
"Ya, apa kamu sudah pulang?"
"Aku baru saja nyampe, sekarang Mas ada dimana?"
"Aku dimana itu tak ada urusannya denganmu, yang penting kamu sudah sampai dirumah."
"Kenapa kau bicara kasar seperti itu, apa aku salah?"
"Kamu tahu sendiri apa alasanku, yang membuat aku menjadi marah."
"Aku tidak mengerti, aku tak paham, apa karena perkataan Mas Arsen tadi?"
"Nah lho, kamu paham!"
"Mas, kamu tahu kan Mas Arsen lagi tidak sadar, tolonglah Mas, pulanglah!"
Tanpa basa-basi, Prasetya menutup ponselnya begitu saja, sementara Sabrina menangis tersedu-sedu merasakan betapa dirinya tersiksa atas perlakuan Prasetya padanya, setelah Prasetya sendiri yang memintanya untuk menemui dan menenangkan Arsen, kini pergi karena rasa cemburunya.
__ADS_1