Ayah Anakku Kakak Kekasihku

Ayah Anakku Kakak Kekasihku
Bab 49


__ADS_3

"Please Bri ... Percayalah padaku, aku cuma dijebak, aku yakin tak melakukan apapun." Kata Prasetya sambil memegang kedua tangan Sabrina.


"Apa untungnya dia menjebak mu?" menarik tangan nya dari tangan Prasetya.


"Apa yang harus aku lakukan untuk membuat mu percaya."


"Sayang sekali, ada yang bisa membuat aku percaya lagi padamu, kecuali wanita itu yang datang dan menjelaskan semuanya."


"Bagaimana itu mungkin!"


"Jika menurut mu itu tak mungkin, maka jangan harap aku percaya padamu."


"Coba saja kau ingat, kenapa Mbok Minah dan suster Rina mendadak anaknya sakit, dan saudaranya meninggal, tapi ternyata apa, anak suster Rina tak sakit, dan tak ada juga keluarga dari Mbok Minah yang meninggal, bukankah itu sangat mencurigakan?"


"Lalu apa hubungannya dengan ku?"


"Agar kau datang kerumah, agar kau beranggapan aku memang mengkhianati cinta kita." Sabrina mendesah kesal.


"Mana mungkin aku ngantuk, jika aku tak meminum sesuatu, dan mana mungkin aku mabuk sedang aku tak mengkonsumsi apapun, aneh kan?" Kata prasetya kembali meraih tangan Sabrina, tapi Sabrina menghindar.


"Yang aku ingat, aku hanya minum air yang diberikan oleh Lusiana, tak ada yang lain lagi."


"Alasan!"


"Aku serius Bri ... aku jujur!"


"Tapi, mataku yang terlanjur menyaksikan semua itu, membuat aku benar-benar hancur, aku tak bisa menerima mu untuk saat ini, tapi lain kali aku tak tahu!"


"Jadi kau tetap menolak aku?"


"Ya, aku tak membutuhkan mu, pergilah, aku bisa hidup sendiri tanpa dirimu."


"Lalu, bagaimana dengan anak kita?"


"Lupakan semuanya, aku tak mau melihat mu lagi. Bagiku kau memang sengaja membalas sakit hati karena kejadian dimasa lalu kita, dan aku menyadari jika aku memang pernah melukai hatimu, tapi karena dendam aku tak menyangka, didepan mataku kau tega bersama dengan wanita lain, bahkan diatas ranjang kita."


Prasetya menatap penuh pengharapan, sedang Sabrina menangis tersedu-sedu.


Prasetya mencoba memeluk Sabrina, tapi justru tangan itu ditepis oleh Sabrina.


Prasetya masih saja berusaha meyakinkan Sabrina, tapi tak juga membuahkan hasil, Sabrina menutup pintu rumahnya dan membiarkan Prasetya tetap berdiri diluar, sedang Sabrina semakin terisak dibalik pintu.


Prasetya meninggalkan kontrakan Sabrina, setelah sekian lama tak di hiraukan oleh Sabrina, menuju kontrakan Ananta, ia mencoba membicarakan masalah itu pada Ananta, yang menurutnya Ananta bisa membantu nya.


Kebetulan Prasetya melihat Ananta baru pulang, mungkin dari butik.


"Assalamualaikum," ucap Prasetya.


"Wa'alaikumsalamm, silahkan masuk!"


Prasetya masuk dengan wajah lesu.


"Kamu Pras, ada apa?"


"Aku bingung An!" kata Prasetya pada Ananta, ia memanggil nama karena Ananta sebaya dengan nya.


"Mari duduk!" Ananta mempersilahkan Prasetya duduk di kursi yang ada didekatnya.


"Aku apa bisa meminta bantuan darimu?"


"Oh ya, tentu saja, apa yang bisa aku bantu?"


"Tentang Sabrina, aku bingung dan sedih dia tak mau percaya padaku."


"Masalah apa?"


"Masalah rumah tangga kami."

__ADS_1


Prasetya menceritakan semua kejadian itu, baik yang janggal maupun yang tidak dimengerti oleh nya.


"Ooo, pantas saja ia kelihatan murung beberapa hari ini, dia belum menceritakan masalah ini padaku, ia masih sering mengurung diri dikamar."


"Menurut mu bagaimana?"


"Aku tak tahu, apa yang harus aku lakukan, aku takut semua ini adalah ulah seseorang yang sengaja ingin memisahkan kami."


"Apa?"


"Ya, itu saat ini yang aku rasakan."


"Apa ini ada hubungannya dengan Azmi?" tanya Ananta pada dirinya sendiri, dan Prasetya sedikit mendengar.


"Apa, kau ngomong apa?"


"Ah, tidak ... mungkin semua itu hanya perasaan ku saja."


"Tolong katakan sekali lagi, aku seperti mendengar kau menyebut nama Azmi."


"Kau kenal Azmi?"


"Ya, dia orang yang sangat berbahaya, aku pernah hampir mendekam di penjara gara gara dia."


"Benarkah?"


"Kalau gitu, berarti ini konspirasi yang direncanakan oleh nya."


"Aku sempat berpikir kearah itu, tapi karena aku tak punya alasan, maka aku menepis perasaan itu."


"Mungkin dia masih dendam denganmu."


"Bisa jadi!"


"Nah, aku rasa kau mulai menyelidiki tentang dia, jangan sampai kita terlambat."


"Semoga kecurigaan kita tak benar adanya." Kata Ananta.


"Apakah kau bisa menceritakan tentang Azmi padaku, kenapa kau sampai hampir masuk penjara?"


Prasetya mengangguk.


************


Kejadian beberapa tahun sebelumnya.


Pagi pagi sekali, ketika Prasetya akan pergi kuliah, terdengar suara pintu diketuk.


Tok tok tok, Prasetya bergegas membuka pintu itu, dan ia sangat terkejut melihat ada dua orang polisi tengah berdiri tegap didepan pintu rumahnya.


"Ada apa Pak?"


"Apa ini kediaman Pak Abraham Dirja?"


"Ya, Pak!"


"Apakah ada anaknya yang bernama Prasetya?"


"Ya, saya sendiri, ada apa?"


"Kami dari pihak kepolisian, membawa surat penangkapan atas saudara, atas kasus pembunuhan saudari Zahra, istri Azmi!"


"Apa hubungannya dengan saya, Pak?"


Pak Abraham keluar, ia heran ada suara terdengar didekat ruang tamu."


"Ada apa, Pras?"

__ADS_1


Pak Abraham terkejut melihat polisi didepan rumahnya bersama anaknya.


"Mohon kerjasamanya!"


Tanpa menunggu, Prasetya bisa memberikan penjelasan pada Papa nya, polisi itu langsung membawa Prasetya.


Sesampainya di rumah kepolisian, Prasetya diminta untuk memberikan penjelasan terkait hubungan nya dengan korban, Zahra.


"Saya hanya sebatas kenal pada korban, Pak!"


"Tidak ada hubungan spesial?"


"Tidak, Pak!"


"Kapan terakhir anda bertemu korban?"


"Bahkan saya tak pernah bertemu dengannya."


"Lalu kenapa korban memegang foto anda ditangannya?"


"Entahlah."


Setelah Prasetya dimintai keterangan, sejumlah pemeriksaan lainpun dilakukan, tapi Prasetya dinyatakan terbukti tidak bersalah.


Keesokan harinya, ia bertemu dengan Azmi, dan Azmi sengaja menemuinya.


"Apa kau tahu, aku yang sengaja membunuh Zahra?"


Tentu saja, pengakuan itu membuat Prasetya terkejut, ia bahkan tak menyangka, jika ada orang yang tega membunuh istrinya sendiri.


"Kau?"


"Ya, aku!" aku Azmi sambil terkekeh.


"Kenapa?"


"Karena aku sakit hati karena dia tak mencintaiku, dia mencintai laki-laki lain, yaitu kamu."


"Bahkan aku tak pernah mengenalnya secara dekat, bagaimana bisa?"


"Dia mengagumi mu, kau adalah siswa paling berkharisma disekolah kalian, dan dia mencintaimu dengan diam diam."


"Astaghfirullah, sampai seperti itu."


"Aku benci padanya, juga padamu, tapi dengan hanya melihat foto mu ditangannya, tidak bisa menjadi cukup bukti, untuk membuat mu masuk penjara."


"Jadi, semua itu ulah kamu?"


"Menurutmu, siapa?"


Prasetya menggeleng kan kepalanya, ia sama sekali tak pernah membayangkan sekalipun, seorang Azmi yang pendiam telah mampu melakukan segalanya.


"Kenapa kau begitu kejam?"


"Aku akan lebih kejam, jika aku melihatmu suatu saat nanti kau hidup bahagia, aku akan membuatmu tak bahagia disepanjang sisa kehidupan mu."


"Kenapa, aku tak pernah menyakiti mu, lalu kenapa kau begitu dendam padaku?"


"Karena kau telah merampas semua kebahagiaanku, cintaku dan juga hidupku."


"Tapi aku tak pernah melakukan apapun."


"Gara gara kamu, Zahra tak pernah mencintaiku, karena kau, dia bahkan tak mau aku sentuh sama sekali, padahal dia adalah istri ku."


"Aku tak habis pikir dengan jalan pikiran mu."


"Apapun itu, aku tak peduli, yang aku tahu, aku menderita karena kau, dan aku tak akan pernah tinggal diam, melihat mu bahagia, sampai kapanpun, ingatlah selalu kata kata ku."

__ADS_1


Setelah mengatakan semua itu, Azmi pergi meninggalkan nya. Dan sudah sekian tahun tak pernah sekalipun menampakkan batang hidungnya, hingga gari ini, Azmi telah kembali membawa konspirasi baru.


__ADS_2