
Pak Abraham menghentikan mobilnya disebuah pekarangan yang tidak begitu luas, disebuah rumah elit, dikawasan kota Bandung. Prasetya yang sejak tadi penasaran, tidak tahan untuk segera mengetahui apa maksud dan tujuan papanya pergi ketempat ini.
"Pa, ini ... kenapa kita kemari?"
"Diamlah, nanti kau akan tahu sendiri."
Pak Abraham dan Prasetya langsung menemui seseorang yang sudah berdiri menyambut mereka, seorang lelaki setengah baya, tampak membungkukkan badannya di hadapan pak Abraham, kemudian membukakan pintu untuk mereka.
Pak Abraham masuk, diikuti oleh Prasetya dibelakang nya, terus menuju ruang tengah, ia melihat seorang wanita seusianya, mungkin hanya berbeda dua tahun, sedang tersenyum menatapnya, wanita itu adalah kakak satu satunya pak Abraham, bernama Wulan Ningsih.
"Kak ... bagaimana kabarmu?"
"Aku sehat dan baik-baik saja, kamu Pras, bagaimana kabarmu?"
"Aku baik, Bukde!" jawab Prasetya sambil mengulurkan tangannya menyalami kakak Ayah nya itu, tak lupa mencium tangannya.
"Aku dengar kau sudah menikah, Bukde kenapa tak diundang?"
"Kami tidak mengadakan pesta, pernikahan kami hanya dihadiri beberapa orang saja."
"Tidak apa-apa, yang penting kalian bahagia, bagaimana kabar istrimu, kenapa tak diajak kemari?"
"Istri saya sedang ada di rumah sakit, melahirkan kemaren."
"Ah, ternyata aku sudah memiliki seorang cucu, cewek atau cowok."
"Cewek, Bukde!"
"Oh ya, bagaimana kabar Arsen?"
"Itulah kenapa kami datang kemari, aku ingin menanyakan sesuatu pada kakak."
"Apakah sesuatu telah terjadi pada Arsen, keponakan kesayangan ku?"
"Ya, begitu lah, Arsen masuk rumah sakit jiwa, Kak." Perempuan yang masih tampak kecantikan nya itu terhenyak.
"Sejak kapan?"
"Kemaren!"
"Kalau boleh saya tahu, sebenarnya apa yang terjadi saat Kakak mengantarkan Arsen kembali kerumah saat itu?"
"Sebelumnya aku minta maaf, kenapa kau tanyakan itu?"
"Kata dokter, Arsen mengalami gangguan jiwa, karena kemungkinan sewaktu kecil, ia pernah mengalami trauma, sehingga menyebabkan ia depresi."
Seorang pembantu datang membawa minuman dan makanan ringan, menyajikan untuk mereka bertiga.
"Bik Surti, tetep disini, ada yang ingin kami bicarakan denganmu."
__ADS_1
"Baik, Nyonya!" Jawab nya sambil terus berdiri.
"Duduk sini, disebelah ku!" ucap majikannya, sambil menunjuk sofa panjang yang didudukinya.
Surti pun menuruti permintaan sang majikan.
"Abraham ... aku sangat menyesalkan kabar pahit ini, tapi kenapa baru sekarang kamu mengatakan semua ini padaku?"
"Kamipun baru mengetahuinya kemarin Bukde, sebelumnya kami sama sekali tidak mengetahui, mas Arsen sama sekali tidak pernah cerita kalau dia mengalami depresi, ia hanya menyimpan nya sendiri."
Pak Abraham menunduk, menyembunyikan kesedihannya, ia memang seorang lelaki yang tidak pernah mengeluhkan semua beban hidupnya pada siapapun, tapi kali ini, pak Abraham tidak bisa untuk menyembunyikan masalah ini.
"Aku mau tahu, apakah Arsen pernah mendapatkan perlakuan tidak baik selama tinggal disini?"
Kali ini, Wulan yang menunduk, ia tertegun, menelan ludahnya yang seketika terasa kering untuk ditelan. Ia menyadari, sepandai-pandainya menyimpan bangkai, suatu saat pasti akan tercium jua.
"Kak ...." Panggil pak Abraham.
"Ya, aku ... aku minta maaf sebelumnya." ucap Wulan sambil menatap kearah pembantunya yang saat ini pun merasa sangat ketakutan.
"Ada apa, Kak?"
Dengan menghela nafas berat, Wulan menceritakan kronologis kejadian pada saat ia pulang dari kantor.
Sore itu, Hartanto sedang berada dikamar mereka, ketika Wulan masuk kedalamnya, ia tak menyangka suaminya, telah membuka brangkas milik mereka, mengambil perhiasan beserta uang yang ada didalamnya. Karena tidak mengetahui kedatangan Wulan, Hartanto merasa sangat terkejut, dan tanpa berpikir panjang ia segera memasukkan uang dan perhiasan kedalam tas ransel yang sudah disiapkannya.
Wulan mendorong suaminya hingga terjatuh, dan kembali merebut ransel yang terlempar ke dekat nya, kemudian berlari kelantai bawah, menuju dapur mencari bantuan dari sana.
"Ada apa nyonya?"
"Mas Hartanto, mau mengambil perhiasan milik ku." jawab Wulan menyembunyikan ransel itu.
Hartanto berwajah garang menghampiri Wulan, sedangkan Bik Surti menggigil ketakutan. Wulan memegang sapu, tapi belum sempat ia memukulkan sapu itu, Hartanto terlebih dulu telah memegang tangan nya. mencengkram nya dengan begitu kuat, sehingga teramat sangat menyakitkan.
"Lepas, sakit tahu!"
"Berikan uang dan perhiasan itu!"
"Tidak, aku tidak akan memberikannya padamu, kau sesuka hatimu, demi wanita lain kau mengambil semua harta milik ku, sampai kapanpun aku tidak akan rela."
"Kalau begitu aku akan membunuhmu!" ucap Hartanto, sambil menjambak rambut Wulan kebelakang, hingga kepalanya terangkat.
"Lepas!"
"Kau berikan atau tidak, berikan padaku!"
"Kau sungguh laki laki biadab, aku menyesal menikah denganmu."
"Aku tidak peduli dengan semua perkataan mu, aku mau uang itu, sekali lagi aku katakan, berikan uang itu atau aku akan mempercepat ajalmu." Ucap Hartanto lagi semakin menarik kuat rambut Wulan.
__ADS_1
"Lebih baik aku mati saja, dari pada harus menderita menerima perlakuan mu."
Bik Surti mengendap endap, memegang sebuah kayu dan kemudian memukul Hartanto.
Buukkk, Hartanto melepaskan jambakan nya, ia memegangi punggungnya yang terasa sakit.
Wulan berlari menjauh disertai oleh Surti, sedangkan sikecil Arsen dari taman belakang masuk dengan Novi, baby sister yang sengaja dipekerjakan untuk mengawasinya. Arsen memang diaku sebagai anak oleh Wulan semenjak ibunya meninggal dunia sewaktu melahirkan Prasetya, sebab mereka tidak memiliki keturunan. Wulan sangat menyayangi Arsen.
Mereka tidak mengetahui keributan itu, masuk begitu saja, dengan santainya.
Hartanto yang merasa dirinya sudah tidak kesakitan lagi, meraih begitu saja tangan Arsen. Arsen menjerit ketakutan, apalagi Hartanto mengambil pisau dapur dan mengancam akan melukai Arsen.
Wulan berteriak teriak minta tolong, tapi alhasil sia sia belaka. Bik Surti lemas, kakinya tak bertenaga lagi, sedangkan Novi, berdiri disudut ruangan, didekat Hartanto tidak bisa melakukan apapun, mereka benar-benar tersudut.
"Mama ... Arsen takut Ma ...."
"Iya sayang ... tunggu Mama, Mama akan lepaskan, tunggu Mama sayang ...." Teriak Wulan sambil berurai air mata.
Novi bergerak sedikit, menuju tempat cuci piring, disana dilihatnya masih ada sisa piring kotor yang masih belum diselesaikan oleh Bik Surti saat Wulan datang ke dapur.
"Jangan bergerak, aku tidak segan-segan menghabisi anak ini!" Novi diam kembali, tapi ia sudah berhasil berdiri didekat tempat cucian piring itu.
"Cepat serahkan uang itu."
"Oke, baik, baik, aku akan berikan uang itu, lepas kan Arsen."
"Serahkan dulu, baru aku akan lepaskan."
Wulan berjalan mendekati Hartanto, sementara Novi mengambil air dari dalam tempat cucian piring, dengan menggunakan mangkuk kecil, mencari kesempatan bisa melakukan rencananya.
Disaat Hartanto menatap Wulan yang mendekatinya, Novi membuang air yang bercampur sisa sambal itu, tepat ke wajah Hartanto, seketika pisau dapur yang di pegang nya terjatuh. Hartanto menjerit.
"Aaauuu, periiiih." Ucapnya sambil memegangi kedua matanya.
Wulan mengambil tali, dibantu oleh Surti dan Novi , ia mengikat tangan Hartanto ke arah belakang, berikut kakinya.
Selang beberapa jam, polisi datang menangkap Hartanto.
Sejak saat itu Arsen tidak mau lagi tinggal bersamanya, ia ingin kembali kepada papanya, Abraham. Sejak saat itu pula, Arsen diantar kembali bersama orang tuanya.
"Maaf aku tidak menceritakan semua itu padamu."
"Aku sangat mengkhawatirkan keadaan Arsen saat ini, aku tak bisa bayangkan jika dia tak sembuh."
"Pa, kita pulang saja, bukankah kita harus mengetahui perkembangan mas Arsen, dan akupun tak bisa meninggalkan Sabrina terlalu lama."
"Ya, baiklah!"
"Aku ikut!"
__ADS_1
Akhirnya pak Abraham, Prasetya dan Wulan kembali ke Jakarta.