Ayah Anakku Kakak Kekasihku

Ayah Anakku Kakak Kekasihku
Bab 40


__ADS_3

Sabrina melihat keseriusan diwajah Ananta, tapi ia tak habis pikir, Azmi yang baik, menurut Ananta adalah sosok yang penuh misterius.


Sedang asyik dengan pikirannya, terdengar suara ponsel berbunyi, Sabrina melirik ponselnya yang sedang digenggamnya.


"Ah, Mas Pras, ada apa lagi dia meneleponku?" batin Sabrina.


Sabrina mengangkat ponselnya.


"Ada apa?"


"Jangan ketus kayak gitu, Bri ...."


"Katakan, apa maumu?"


"Aku ingin mengajakmu kerumah, barusan aku pulang, dan Papa menanyakan mu."


"Aku ... sekarang belum bisa."


"Kenapa?"


"Aku masih ada pekerjaan."


"Pekerjaan apa?" tanya Prasetya karena ia belum mengetahui jika Sabrina membuka butik diarea perusahaan milik Arsen.


"Sekarang kamu dimana?"


"Aku _" Sabrina tak melanjutkan ucapannya.


"Apa kau ingin menutupi sesuatu dariku?"


"Apa aku wanita seperti itu?"


"Maaf sayang ... aku tak bermaksud seperti itu!"


"Sudahlah, aku mau pulang, aku matikan dulu ponselnya."


"Bri tunggu!"


"Apa lagi?"


"Kamu dimana, apa aku boleh mengantarkan mu, aku benar-benar minta maaf." Sabrina seakan luluh mendengar suara yang biasa didengarnya, lembut dan penuh pengharapan, sama seperti dulu, saat mereka belum pernah bertengkar.


"Baiklah, aku menunggu mu, jemput lah aku!" kemudian mengirimkan lokasi keberadaan nya pada Prasetya.


"Ini lokasi perusahaan Mas Arsen, kamu ngapain disana?"


"Mas mau jemput aku atau mau wawancara, aku keburu berubah pikiran."


"Iya sayang ... aku merasa kamu mudah sekali cepat ngambek!"


"Makanya cepetan."


"Oke."


Dari tempat yang tidak berapa jauh, diluar butik, Azmi sengaja menguping pembicaraan Sabrina, ia kelihatan tak suka, wajahnya kelihatan keruh, namun Sabrina tak menyadari keberadaannya.


ketika Prasetya datang, Azmi mengawasi mereka, ia benar-benar menunjukkan wajah yang tidak bersahabat.


Prasetya menghentikan mobilnya dihalaman butik itu, ia masuk kedalam, dan menemukan Sabrina disana.


Azmi yang mengetahui kedatangannya, mempertemukan gigi gigi nya, sehingga terdengar suara gemeletuk, karena kemarahannya.


Sebuah dendam kembali menyelimuti benak Azmi, karena Azmi sudah merasa tak asing dengan Prasetya, laki-laki yang paling dibencinya selama ia hidup dimuka bumi ini. Matanya terus mengawasi Prasetya dan sabrina.


"Sayang ... apa kamu lagi belanja?"


Sabrina tersenyum, senyum itu begitu manis, seakan mereka memang sudah ingin mengakhiri pertengkaran mereka.


"Iya ... tapi aku tak tahu apa yang akan aku beli!" jawab Sabrina tidak memberi tahu jika butik itu adalah miliknya.


"Apa kau ingin aku yang memilihkannya?"

__ADS_1


"Ah, tidak usah!"


"Kalau begitu apa kita sudah bisa pulang?"


"Ya, baiklah!"


Sabrina dan Prasetya keluar dari butik itu. Prasetya membukakan pintu mobil untuk Sabrina, benar benar seperti tak pernah ada pertengkaran antara mereka.


ketika dalam mobil Prasetya tak langsung menjalankan mobilnya, ia justru mendekati Sabrina, ia memeluk Sabrina dengan sangat hangat sehingga Sabrina tidak bisa untuk menolak, bahkan ia justru membalas pelukan itu.


Azmi yang sengaja masuk ke mobil itu dan berada di jok belakang, menyaksikan semua itu dengan begitu geram.


"Apakah kau tahu ... jika orang yang telah mendonorkan mata untuk _"


"Siapa Mas ... siapa orang yang telah mendonorkan matanya padaku?"


"Kau begitu bersemangat, kau begitu penasaran tampaknya?"


"Ya, aku sangat penasaran sekali."


"Katakanlah, siapa?"


"Mas Arsen!"


"Apa?" tanya Sabrina sambil melepaskan pelukannya.


"Mas Arsen?"


"Seperti yang aku pernah bilang, dia begitu mencintaimu, sehingga ia rela melakukan apa saja untuk kebahagiaanmu, bahkan Kaila adalah anak Mas Arsen!"


Sabrina menghela nafasnya, ia tak mengatakan apapun pada Prasetya jika dirinya telah tahu jika Kaila adalah anak Arsen.


"Apakah kau tak ingin tahu siapa yang telah melecehkan mu?"


"Apakah juga Mas Arsen?"


"Ya, tentunya begitu."


"Ya, akupun tak ingin membicarakan dia, tapi memang dia harus dibicarakan."


"Maksudnya apa?"


"Mas Arsen telah mewariskan seluruh kekayaannya padamu, kau adalah pemilik perusahaan Arsen group." Sabrina membelalakkan matanya.


"Lihatlah, kantornya yang berdiri menjilati tinggi itu, adalah milikmu!"


"Aku tak percaya."


"Apa kau mau bukti?"


"Aku tak mau bukti apapun, aku tak menginginkan perusahaan itu, aku cuma mau keluargaku."


"Benarkah?"


"Ah, aku sangat bahagia mendengarnya Sabrina."


"Apakah kau tak jadi mengantar aku, sepertinya mobil ini sejak tadi cuma berhenti, tak juga jalan."


"Oke, aku akan jalan." Prasetya mencolek dagu Sabrina, sambil tersenyum bahagia.


"Apakah kau tahu, aku tak pernah merasakan sebahagia ini, aku sangat bahagia."


"Kenapa kau bahagia?"


"Karena aku bisa bersamamu kembali."


"Siapa yang kembali, kau hanya mengantar aku, tak lebih!"


"Jadi kau belum kembali, jadi kau belum memaafkan aku?"


"Tak semudah itu!"

__ADS_1


"Ayolah sayang ... kita mulai dari awal lagi!"


"Apa aku kelihatan tidak serius?"


"Aku tahu, tapi apa aku tak boleh memaksamu untuk memaafkan aku?"


"Memaafkan kok dipaksa!"


"Karena kau adalah cinta yang tak akan pernah kubiarkan pergi jauh lagi."


"Sudahlah, jalankan mobilnya!"


"Baik, sayang ...."


Prasetya mengemudikan mobilnya, tangannya sebelah kiri tak mau lagi melepaskan tangan Sabrina, ia menggenggam erat tangan itu, dan Sabrina tak menolaknya, ia membiarkan Prasetya, bahkan saat Prasetya membawanya ke dekat bibirnya, dan mengecup lembut tangan itu.


Azmi yang sejak tadi memperhatikan, entah keberapa kalinya ia mengumpat dalam hatinya akibat rasa cemburunya yang telah bersemayam dalam hatinya.


Kemesraan Prasetya pada Sabrina, benar benar telah menyulut api kecemburuan nya. Ingin rasanya ia menghajar Prasetya habis habisan, tapi saat ini bukan waktu yang tepat. Azmi telah merencanakan sesuatu. Ia tak rela jika Sabrina akan bersama Prasetya, walaupun pada kenyataannya Sabrina adalah istri Prasetya.


Kendaraan yang dikemudikannya oleh Prasetya telah berhenti didepan gang, karena memang mobil tak bisa masuk di area kontrakan Sabrina.


"Kita sudah sampai, Mas ...."


"Disini?"


"Ya, disini, aku tinggal di sebelah sana." Jawab Sabrina sambil menunjuk kedalam gang.


"Oke!" Prasetya langsung turun, kemudian ia membukakan pintu untuk Sabrina, perhatian seperti itu lah yang tak bisa membuat Sabrina jauh dari Prasetya.


Seperti biasanya, Prasetya menggendong Sabrina ketika menurunkan Sabrina dari dalam mobil, seakan tak peduli semua orang menatap mereka dengan pandangan asing, dan penuh tanda tanya.


"Turunkan aku ... Mas, malu dilihat orang!"


"Biarkan saja mereka melihat kita, aku tak ingin membuang kesempatan untuk berdekatan dengan istriku." lagi lagi Sabrina tersenyum, ia mulai luluh.


"Mari, kita kesana!"


Prasetya mengikuti Sabrina, setelah menurunkan Sabrina dari gendongannya.


"Apa kau betah tinggal disini?"


"Ya, aku betah, Kaila juga betah, orang disini semua ramah tamah."


"Oh ya?"


Berjalan sambil ngobrol, tak terasa mereka berdua sudah sampai diteras rumah, Sabrina mengetuk pintu dan tampak seorang gadis kecil yang membukakan pintu, Naila!


Dibelakang nya terlihat Kaila yang sedang mengikuti nya.


"Papa ...." serunya girang menyaksikan kehadiran Prasetya.


"Kaila, sini sayang!" Prasetya langsung menggendong Kaila, ia mencium pipinya gemas, meletakkan semua kerinduan yang selama ini terpendam.


"Apa Mama dan Papa sudah baikan?" Prasetya tersenyum, menatap Sabrina meminta kepastian.


Sabrina mengerti apa maksud Prasetya, dan ia tak ingin mengecewakan putrinya, akhirnya ia mengangguk.


"Jadi, apa Mama akan pelgi kerumah eyang lagi?"


"Iya sayang ...."


"Sekalang?"


"Tidak, kapan kapan!"


"Mama janji?"


"Iya?"


"Hole hole ...."

__ADS_1


Prasetya membiarkan Kaila berteriak dalam pelukannya.


__ADS_2