
Wajah Lusiana terlihat lesu, ia masih tak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya harus terjebak oleh permainan Azmi, seorang pengusaha yang telah berhasil memperdaya keluarga nya, dengan iming-iming uang pinjaman yang diberikan oleh Azmi pada ibunya.
Lusiana bukankah gadis dari kalangan orang berada, oleh karena itu maka orangtuanya yang hanya tinggal ibunya itu harus meminjam uang pada Azmi, untuk keperluan kuliah adiknya. Sedangkan ayahnya sudah lama meninggal.
Azmi termasuk famili nya, karena orang tua Azmi, ayahnya, adalah adik dari ibunya.
Azmi menatap wajah kuyu Lusiana.
"Bagaimana, apakah kau berhasil?"
"Ya, seperti yang kau minta!"
"Aku akan menganggap hutang ibumu lunas jika kau bisa melakukannya dengan baik, aku harus pastikan, jika Prasetya telah bertengkar dengan Sabrina."
"Kau bisa pastikan, mereka sudah tak bersama lagi, aku menyaksikan dengan kepala ku sendiri, jika Sabrina telah pergi meninggalkan Prasetya."
"Ha ha ha, aku puas telah membuat mereka bertengkar, aku akan lebih menghancurkan Prasetya, seperti dia telah membuat aku hancur."
Lusiana menatap Azmi dengan pandangan bergidik, ia tak menyangka jika sepupunya itu punya sifat yang sangat menakutkan.
"Lusiana, aku mau kau menuntut Prasetya, dengan tuduhan pelecehan."
"Apa kau sudah gila, mana ada bukti nya."
"Aku tak mau tahu, yang aku mau Prasetya mendekam di penjara."
"Aku yang terkena imbasnya, nama baikku yang akan menjadi taruhannya."
"Aku tak suka ditolak, aku akan melakukan sesuatu pada ibumu jika kau menolak ku."
"Jangan mengancam ku!"
"Aku bisa melakukan apa saja pada ibumu, atau adikmu."
"Jangan sakiti mereka!"
"Lakukan jika kau tak mau aku melakukan sesuatu pada keluarga mu."
"Kau sungguh kejam, aku menyesal telah berhutang padamu."
Azmi terkekeh, mendengar Lusiana, ia merasa menang telah menguasai keluarga sepupunya itu.
***
Sehari sebelum Prasetya tidur bersama Lusiana.
Masih teringat oleh Lusiana, saat ia akan pulang dari kantor tempat ia bekerja, ia dihadang oleh Azmi, karena keterkejutannya ia sampai mundur beberapa langkah.
"Ada apa, Azmi?"
"Aku mau kau melakukan sesuatu untuk ku!"
__ADS_1
"Apa?"
"Aku ingin kau menjebak Prasetya tidur denganmu."
"Kau tak waras, tidak ... aku tak mau!"
"Atau kau harus melunasi hutang ibumu?"
"Hutang?"
"Iya."
Lusiana menelan ludahnya.
"Tapi kenapa, aku harus menjebak Prasetya?"
"Itu bukan urusanmu, kau hanya menjalankan perintah ku."
"Tapi ...."
"Tapi apa, kau tak mau?"
"Aku takut, bukankah semua itu akan bertolak belakang dengan pekerjaan ku sebagai pengacara?"
Ancaman demi ancaman terus di berikan oleh Azmi, jadi mau tak mau, akhirnya Lusiana menuruti kemauan Azmi, walaupun hatinya tidak ingin melakukan semua itu, ia tak pernah berpikir jika ia akan menghancurkan rumah tangga orang lain. Ia tak pernah bermimpi untuk merusak kebahagiaan orang lain. Apalagi Prasetya adalah sosok yang begitu baik, meskipun ia akui ia telah jatuh cinta pada laki-laki itu, tapi ia tak berani untuk berharap sedikitpun karena Prasetya telah beristri.
Setelah menyanggupinya, Lusiana di instruksikan untuk menemui Prasetya disebuah tempat, dimana Prasetya menyelesaikan kasus kendaraan milik perusahaan yang bermasalah, yang berurusan dengan polisi waktu itu.
Seusai Prasetya menemui panggilan polisi, Lusiana telah berada di dekat mobilnya, ia sengaja berpura-pura sedang berada di lokasi itu, dan seakan menabrak Prasetya.
"Mas Pras!"
"Hei ... kamu Lusi!"
"Iya, Mas lagi ngapain ada disini?"
"Aku ada keperluan, kamu?"
tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun, mereka saling bicara.
"Aku ada kasus yang sedang aku selesaikan, tapi ya ... sudah selesai, tinggal akan pulang."
"Oh, mari kalau gitu kita bareng aja."
"Apa nggak ngerepotin?"
"Ah, tidak sama sekali."
"Tunggu sebentar ya Mas, aku beli minuman ringan dulu, aku haus, apa Mas mau?"
"Boleh, aku tunggu di mobil ya?"
__ADS_1
"Oke."
Lusiana meninggalkan Prasetya, ia membeli minuman ringan, satunya untuk dirinya dan yang satu lagi tentu untuk Prasetya, disitulah awal kejadian itu, Lusiana memasuk kan sesuatu dalam botol yang akan diberikan untuk Prasetya.
Ditengah perjalanan, Prasetya sudah kehilangan keseimbangan akibat minuman itu, ia seperti sedang mabuk.
"Mas ... berhentilah, apa kau baik-baik saja?"
"Entahlah." Jawab Prasetya sambil memijat kepalanya.
"Aku sangat pusing."
"Apa Mas masih bisa nyetir, kalau kau tak sanggup aku akan menggantikan mu, jika tidak nanti bisa terlambat, kita bisa malam sampai rumah."
"Baiklah, turunlah, biar aku pindah ketempat mu."
"Ya, aku turun."
Akhirnya keduanya turun, Lusiana mengganti kan Prasetya mengemudikan mobilnya.
"Aku sangat pusing, kepalaku berat sekali, apa kau mengijinkan aku tidur?"
"Ya, tidurlah!" selang setengah jam kemudian, Lusiana berhasil memarkir mobil itu dipekarangan luas milik keluarga Abraham, ia dibantu oleh Sofian membawa Prasetya masuk kedalam rumah, sesampainya didekat kamar Sofian berkata.
"Biar saya saja yang membawa pak Prasetya masuk, Mbak!"
"Tidak, biar aku saja, aku tak akan melakukan apa apa padanya, pergilah."
"Tapi Ibu Sabrina ada disini!"
"Apa urusannya dia dengan Sabrina, apa kau tak tahu jika mereka sedang tidak baik-baik saja, pergilah, atau aku akan mengatakan pada Prasetya jika kau telah melakukan sebuah keteledoran?"
"Apa maksudmu?"
"Ah, kau tak perlu tahu apa maksudku, pergilah, aku bisa sendiri."
Sepeninggal Sofian, Lusiana berhasil membawa Prasetya kedalam kamarnya, dengan susah payah ia membaringkannya diatas tempat tidur karena ukuran badan Prasetya yang padat berisi, dengan postur tubuh yang atletis.
Lusiana sempat bingung, apa yang bisa dilakukan nya, ia mondar mandir kesana kemari, memikirkan cara untuk bisa terlihat seolah-olah memang telah melakukan sebuah pergumulan.
Lusiana tersenyum, ia menghampiri Prasetya, dan segera membuka baju kemeja yang dipakai oleh Prasetya, berikut kaus dalam dan Lusiana berhenti, ia memperhatikan wajah yang tampan itu masih terkapar tak berdaya, entah pingsan atau tidur.
Lusiana yang tak pernah sekalipun menyentuh laki-laki, merasa gemetar, ia merasa tangannya panas dingin, bahkan keringat dingin pun mulai keluar tanpa di undang.
Dengan memberanikan diri, perlahan Lusiana membuka celana panjang yang dipakai Prasetya, ia kelihatan takut, dan sempat mundur beberapa langkah, dengan sedikit menutup mulutnya, Lusiana beranjak disisi tempat tidur yang lain, ia membuka bajunya sendiri, masih dengan badan gemetar.
Lusiana sempat mengurungkan niatnya, tapi kembali ingatan nya pada ibunya, ia kembali ingat pada ancaman yang diberikan oleh Azmi.
Akhirnya mau tak mau, sanggup tak sanggup, Lusiana membaringkan tubuhnya disamping Prasetya, menarik selimut besar dan menutupi semua bagian tubuhnya yang setengah polos itu, sehingga tubuh Prasetya pun masuk dalam satu selimut.
Hampir pagi, Lusiana tak bisa memejamkan matanya, ia bahkan menangis pilu, tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya, setelah itu.
__ADS_1
Sampai pagi menjelang, masuklah Sabrina ke kamar itu.