
Sabrina melambaikan tangannya penuh kesedihan, yang semula kaila mau pergi dari rumah itu, saat ini ia histeris, ia menjerit seakan ia merasakan akan sebuah penderitaan yang dirasakan oleh Mama nya. Ia berontak, tak mau meninggalkan rumah mewah itu.
Sabrina tak kuasa lagi membendung air matanya, begitu pula dengan pak Abraham, laki laki tua, yang hampir berumur enam puluh tahun itu, terlihat sangat terpukul, tapi ia tak bisa memaksa Sabrina untuk tetap tinggal bersamanya, selain sudah bercerai dari Prasetya, ia tak punya hak apapun untuk melarang Sabrina, karena ia tahu Sabrina lebih berhak atas Kaila, putri kandungnya.
Perlahan, taksi itu akhirnya menghilang dari pandangan Pak Abraham, iapun masuk kedalam rumah dengan lesu.
Sementara itu, Sabrina masih terdiam, ia belum tahu akan kemana, karena ia sama sekali tak punya tujuan.
"Bu ... sebenarnya Ibu mau kemana?" Sabrina masih terdiam.
Masih asyik dengan lamunannya, sedang Kaila sudah tertidur karena kecapekan menangis.
Sudah lama supir taksi itu membawa Sabrina berkeliling, tapi tak juga tahu, kemana harus pergi.
Supir taksi itu, menghentikan taksinya, sehingga membuat Sabrina merasa terkejut, menatap kearah supir taksi itu.
"Kenapa berhenti, Pak?"
"Sejak tadi saya bertanya pada Ibu, kita akan kemana, tapi Ibu tak mendengar, ya ... terpaksa saya berhenti."
"Maaf, Pak!"
"Kita mau kemana?"
"Saya tidak tahu!"
"Tidak tahu, lalu saya harus bagaimana?"
"Sebenarnya saya mau cari rumah kontrakan, Pak ...." Kata Sabrina lirih, tapi supir taksi itu menatap dengan tatapan penuh iba. Ia tahu jika Sabrina saat ini dalam keadaan susah, tapi ia tak tahu akan melakukan apa.
"Ya sudah, Bapak jalan saja!"
"Bagaimana mungkin, ini ongkosnya sudah banyak, Buk ...."
"Jangan khawatir, aku akan membayar Bapak."
"Bukan masalah itu Bu ... jika tak punya tujuan, apa kita akan berjalan terus, tidak mungkin, kan?"
"Apa Bapak bisa membantu saya?"
"Bantu apa, Bu?"
"Bantu saya cari kontrakan."
"Kalau begitu, baiklah!"
"Apa Bapak tahu, dimana ada kontrakan?"
"Sebenarnya ada sih, Bu ...."
"Benarkah?"
"Ya, tapi jauh dari sini."
"Ayo, bawa saya kesana!"
Dalam perjalanan, Sabrina mencoba mencari tahu tentang kontrakan yang diceritakan oleh supir taksi itu.
"Apa Bapak kenal dengan pemilik kontrakan itu?"
"Ya, saya kenal."
"Menurut mu, pemilik kontrakan itu, bagaimana?"
"Pemilik kontrakan itu baik, saya aja yang nunggak sudah lima bulan, tidak diusir sama dia!"
"Kok menunggak nya sampai banyak banget?"
__ADS_1
"Bagaimana ya Bu, soalnya anak saya banyak."
"Apa hubungannya anak banyak dengan bayar kontrakan, Pak?"
"Ya jelas ada to, Bu ...." Jawab supir taksi itu sambil garuk-garuk kepala.
"Apa hubungannya?"
"Saya ... maksud saya pendapatan saya tak seberapa, kadang tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saya, makanya saya terpaksa nunggak bayar kontrakan."
Sabrina tersenyum mendengar penuturan supir taksi, yang menjelaskan masalah nya dengan ekspresi yang lucu.
Supir taksi itu, membawa Sabrina ketempat kontrakan, yang dia maksud.
Setelah sampai ditempat yang dituju, supir taksi itu, mengajak Sabrina untuk turun.
Sepasang mata menatap mereka penuh selidik, ia seperti tak suka melihat kehadiran Sabrina.
"Ini masih pagi pak, belum juga tengah hari, kenapa sudah pulang?"
"Anu Bu, ada _"
"Ada apa, jangan bilang dia akan tinggal bersama kita, kita tak kenal siapa dia!"
"La kok kebiasaan to, Buk, Buk ...."
"Kebiasaan gimana?"
"Belum tahu persoalan nya, sudah nyerocos saja, mbok basa basi, kek ...."
Sabrina tersenyum melihat supir taksi itu, dengan wanita yang ternyata adalah istri nya.
"Ayo ... ajak dia masuk, kasihan anaknya, tidur sejak tadi ...."
"Mari Buk ...."
Ajak wanita yang tadi mengomel, membawa Sabrina masuk kedalam.
Sabrina menelan saliva nya.
"Apa benar ... Ibu akan tinggal disini, maksud saya kontrakan ini?"
"Mungkin saja Bu ...." jawab Sabrina sambil membaringkan Kaila.
"Ibu kan ... orang kaya, kenapa tak di hotel saja?"
"Di hotel memerlukan uang banyak, apakah selamanya saya akan tinggal di hotel?"
"Alaaah, bukannya diambilkan minum, malah diajak ngobrol!"
"Tidak, tidak usah repot-repot, saya tidak haus."
"Mari saya antar menemui pemilik kontrakan ini!"
"Ya, baiklah!"
"Ibuk jaga dia!"
"Iya, iya pak ...."
"Saya nitip anak saya, saya permisi dulu."
Sabrina dan supir taksi itu, pergi meninggalkan rumah kontrakan yang kecil dan super sempit itu.
Tak jauh dari tempat itu, keduanya berhenti didepan sebuah rumah yang lumayan besar dan bagus.
Setelah mengucapkan salam, keduanya dipersilahkan masuk oleh pemilik rumah itu.
__ADS_1
"Pak Hardi ... ada apa?"
"Ada yang nyari kontrakan, Buk!"
"Apa Nona ini?"
"Iya." Jawab Sabrina sambil mengangguk kan kepalanya.
"Seperti yang pak Hardi tahu, kontrakan nya tinggal yang disebelah ujung itu."
"Ya, Buk."
"Kalau begitu, mari kita lihat!"
Mereka bertiga menuju rumah yang tadi dibicarakan oleh pemilik kontrakan.
"Nah ... inilah rumah itu, silahkan dilihat!"
Mereka masuk, Sabrina melihatnya seluruh ruangan, menelisik dan memperhatikan.
Bagaimana, apa ada minat tinggal disini?"
Setelah membicarakan masalah biaya, Sabrina menyetujuinya, ia tinggal di kontrakan itu, tapi kontrakan yang ditempatinya lain keadaan nya dengan kontrakan yang ditempati oleh pak Hardi, supir taksi itu.
Kontrakan yang ditempati Sabrina jauh lebih baik.
"Baiklah, saya akan menempati kontrakan ini."
Pemilik kontrakan itu tersenyum, kemudian menyerahkan kunci rumah itu, sembari memperkenalkan diri.
"Kenalkan, saya Laksmi, pemilik kontrakan ini, semoga kontrakan ini bisa memberikan kenyamanan."
"Saya Sabrina, terimakasih telah mengizinkan saya tinggal dirumah kontrakan Ibu."
"Mohon menjaga image kontrakan saya."
"Ya, saya akan berusaha."
Dengan dibantu oleh pak Hardi dan istrinya, serta anak anaknya, Sabrina memasukkan barang-barang miliknya.
Anak pak Hardi yang besar sudah tamat dari bangku SMP, tapi tak melanjutkan sekolah karena tak ada biaya. Sementara yang nomor dua masih duduk di SD kelas enam, dan dua lainnya masih kecil-kecil.
"Pak ... apakah boleh saya mengajak Naila tinggal bersama saya?"
"Apa ibu tak keberatan?"
"Ah, sama sekali tidak, apa bisa Bapak dan Ibu tidak memanggil saya dengan Ibu?"
"Terus kami panggil apa?"
"Panggil nama saja!"
"Kami panggil adek saja, itu lebih akrab, bukan?
"Ya, akan lebih baik seperti itu, siapa nama Ibu?"
"Saya Ana, tepatnya Ananta."
"Terus ... anak anak ibu yang tiga ini?"
"Yang kelas enam Aksa, yang enam tahun itu, Dinda dan yang kecil Wahyu."
Sabrina manggut-manggut, apakah ia akan mengingat nama nama itu, ya?
Sabrina kembali kerumah pak Hardi, menjemput Kaila yang masih tertidur, ia membopong nya, tapi mata Kaila seketika membuka matanya, ia melihat sekeliling, merasa asing, dengan keadaan yang baru tampak saat ini.
Kaila menangis, ia takut dengan suasana baru yang dia saksikan.
__ADS_1
Sabrina menenangkan Kaila, kemudian membawa Kaila ke rumah kontrakan yang ditempatinya saat ini.
"Terimakasih pada pembaca karyaku, semoga dukungan kalian akan menjadikan cerita ini menjadi lebih baik lagi, silahkan tinggalkan komentar kalian, di kolom komentar ya ....🌹🌹🌹