Ayah Anakku Kakak Kekasihku

Ayah Anakku Kakak Kekasihku
Bab 12


__ADS_3

Tak terasa perut Sabrina sudah tampak membesar, bulan ini adalah bulan kelima dari kehamilannya, segala bentuk perhatian senantiasa Arsen tunjukkan, semua itu kadang menimbulkan rasa cemburu pada Prasetya, ia merasa perhatian yang Arsen berikan pada Sabrina melebihi perhatian yang ia tunjukkan.


Seperti hari ini, Arsen membawa satu set perlengkapan bayi, mulai dari handuk kecil, kasur kecil, hingga pernak-pernik kecil lainnya.


"Mas, kenapa sekarang di belinya, kan masih lama proses persalinan Sabrina?" tanya Prasetya kurang suka.


"Aku ingin membelikan untuk calon keponakan aku, apakah salah?"


"Tidak salah, tapi Mas terlalu terburu-buru."


Arsen diam, ia kesal, tapi kekesalannya itu hanya dapat ia simpan dalam hati. Bagaimana tidak, Prasetya tidak tahu kalau anak yang di kandung oleh Sabrina adalah buah hatinya, bagaimana mungkin ia membiarkan orang lain membelinya terlebih dahulu, padahal ia, selaku ayahnya, ada di dekat mereka, jelas saja, Arsen sangat antusias membeli perlengkapan bayi itu.


"Kamu kenapa sewot?"


"Aku tidak sewot, aku tidak apa-apa, cuma kan masih ada aku mas, aku ayahnya, jadi kalau kamu ingin membeli sesuatu untuk anak aku, tanyakan dulu!"


"Aneh, mau ngasih kok nanya dulu, memangnya kalau aku nanya, kamu akan mengiyakan, aku tahu kamu, Pras, kamu akan menolak pemberian siapapun, kalau kamu bisa membelinya."


"Jadi, kapan aku punya waktu dan kesempatan untuk membeli perlengkapan bayiku, semua sudah kamu beli!"


Sabrina yang sejak tadi hanya diam, ikut bicara.


" Kenapa harus bertengkar sih Mas ... ngalah salah satu kenapa?"


"Aku adalah suami kamu, maka seluruh kebutuhan kamu adalah tanggung jawab aku, kalau dia mau punya urusan tentang bayi, makanya dia harus nikah, ini kerjanya ganggu istri orang."


"Apakah kau menganggap aku ini orang lain, aku kakakmu, apakah salah seorang kakak memberi perhatian pada adiknya?"


"Pada Sabrina, bukan padaku!"


"Kamu cemburu, ha?" Kata Arsen tertawa terkekeh, seolah menutupi perasaannya yang mulai bisa di baca oleh Prasetya.


"Mas Prasetya, cemburu, benarkah?" tanya Sabrina heran.


"Ya, aku cemburu, aku tidak suka kau dekat dengan dia!"


sungguh jawaban yang membuat Sabrina sangat terkejut.


Hep, Arsen membungkam mulutnya, menahan tawanya, menunjukkan rasa geli, seolah-olah ia tidak punya perasaan sedikit pun pada Sabrina.

__ADS_1


"Kenapa kau tertawa, semua ini tidak lucu, aku peringatkan, aku tidak suka melihat Mas, dekat dengan Sabrina, aku tidak mau lagi, melihat Mas, membeli apapun, tanpa minta izin dari ku." Mata Prasetya memerah, menatap Arsen, seakan menunjukkan kalau saat ini dirinya tidak main-main.


"Kenapa urusannya jadi rumit, seperti ini, Mas?"


"Aku merasa, ini tidak rumit, aku hanya tak suka, semuanya mas Arsen yang beli, kamu istriku, kenapa tidak aku yang menyediakan semua, kenapa harus dia?"


"Ya sudah, mulai sekarang mas Arsen, tidak usah membeli apapun untuk aku atau bayi aku, biar kami yang membelinya, kita cari amannya, kalau Mas Arsen, mau membeli juga, bicara dulu pada mas Pras, oke!"


"Oke!" jawab Arsen kecewa, kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Prasetya dan Sabrina.


Arsen terus berjalan sambil menggerutu, tanpa memperhatikan apa yang di lalui nya, sehingga iapun menabrak papanya yang sedang berdiri di dekat nya.


"Arsen, kamu ini kenapa, jalan tidak lihat lihat!"


"Tidak ada!" jawab nya terkesan sangat dingin, membuat pak Abraham menggeleng keheranan.


Tampak Sabrina dan Prasetya pun masuk, mereka menuju kamar, tapi pak Abraham segera menghentikan langkah mereka.


"Apa kalian tahu apa masalah Arsen?" Prasetya berhenti, menatap wajah papanya, kemudian menunduk.


"Ada apa, Pras?"


"Mas Pras, tidak suka kalau Mas Arsen membeli semua keperluan bayi kami, Pa." Jawab Sabrina.


"Kenapa, kayak gitu aja ... jadi masalah, nggak salah dong ... kalau dia perhatian sama Sabrina, anak kalian kan keponakan dia juga, seorang paman wajar sajalah, memberi perhatian pada keponakannya, apalagi anak kalian adalah cucu pertama keluarga ini, kamu jangan berlebihan, Pras!"


"Aku sih, boleh boleh saja, asal dia izin sama aku, aku adalah suami Sabrina, aku juga ingin membeli untuk anakku, Pa ... tapi Mas Arsen, membelikan semua keperluan bayiku, jadi aku tidak punya kesempatan untuk membelinya, padahal aku sangat berharap bisa memberikan yang terbaik untuk anakku."


"Kamu beli saja apa yang belum di beli, kan banyak tuh, keperluan bayi lainnya yang belum terbeli."


"Pokoknya aku tidak suka, aku tidak mau mas Arsen, terlibat banyak dalam rumah tanggaku."


"Pras ... kamu itu cuma dua kakak beradik, masak hal kecil seperti itu jadi masalah?"


" Bagiku, ini bukan hal kecil Pa, aku akui, aku tidak suka kalau Sabrina terlalu dekat dengan mas Arsen, titik." Prasetya berlalu, mengajak Sabrina meninggalkan Papanya.


"Apakah kau marah, Bri?"


"Aku harus marah kenapa, Mas?

__ADS_1


"Aku sangat mencintaimu, Bri ... aku tidak ingin laki laki lain dekat dekat denganmu, meski itu adalah kakakku sendiri."


"Apakah Mas, tidak berlebih-lebihan?"


"Kenapa berlebihan, seorang kakak tidak akan menjamin tidak jatuh cinta, meski dengan istri adiknya sendiri, kau paham?"


"Jadi ... Mas, benar benar cemburu?"


"Ya, aku cemburu ... aku menangkap gelagat tidak baik darinya, aku melihat cara dia menatapmu, sangat berbeda."


"Mungkin itu hanya perasaan, Mas saja."


"Aku punya firasat yang berbeda, bagaimana seandainya dia benar benar suka dan mencintaimu?"


"Itu tidak mungkin!"


"Kenapa tidak mungkin, kau tidak dapat melihat, oleh karena itu aku berusaha dan mencoba untuk melindungi cinta kita, aku tidak mau sampai cinta kita ternoda, aku tidak ingin kehilanganmu, Bri ...."


"Apa maksudmu, mengatakan cinta kita akan ternoda, aku tidak akan mengkhianati cinta kita, aku tidak dapat melihat tapi aku bisa merasakan dan membedakan mana kekasih, dan mana orang lain."


"Walaupun sampai saat ini aku belum menyentuh dirimu, tapi sungguh Bri, aku akan menjaga mu dari jamahan tangan lain, aku merasa cemburu, walaupun mas Arsen adalah kakakku sendiri, kuharap mengertilah akan diriku."


Sungguh terhenyak Sabrina mendengar penuturan Prasetya, ia bagai di tampar sekuat-kuatnya, mana mungkin Prasetya tidak pernah menyentuhnya, sementara ia pernah merasakan itu beberapa bulan yang lalu.


Lalu siapa yang menggaulinya malam itu, siapa yang telah memberinya kehangatan dan kenikmatan yang membuat dia merasa candu, Sabrina menutup mukanya, sembari terus menanyai hatinya, ia menggeleng geleng kan kepalanya.


Melihat Sabrina yang seketika berubah ekspresi nya membuat Prasetya merasa heran, ia memeluk Sabrina, dan otomatis Sabrina menyentak kan tangan kekarnya, deh membuat Prasetya semakin keheranan.


"Ada apa denganmu, Bri?" Sabrina benar benar bingung, ia tidak habis pikir, ada apa ini sebenernya, apakah Sabrina ya mimpi atau Prasetya yang tidak mengingat semua itu, atauuuu


memang orang lain yang telah mencumbui dirinya.


"Ada apa, Bri ... apakah aku menyakiti hati mu?" Sabrina menggeleng.


"Lalu kenapa kau tiba-tiba seperti ini, wajah mu menggambarkan sebuah kecemasan, aku bersamamu, Bri ... aku akan menjagamu."


"Maaf kan aku yang meragukan ketulusan mu, aku sangat yakin, kau sangat mencintaiku, walaupun sampai saat ini aku masih merasa tidak pantas menjadi pendamping hidupmu, aku janji, mulai detik ini, aku akan jauhi mas Arsen, aku akan buktikan, kalau aku akan menanti malam terindah, setelah kita menikah lagi, aku juga akan menanti kapan malam indah itu tiba."


"Terimakasih, sayang ... kau memang selalu mengerti akan aku." Jawab Prasetya sambil menarik lembut tubuh Sabrina dan membawanya kedalam pelukan hangatnya.

__ADS_1


🌹Hai teman-teman, dukungan kalian adalah motivasi terbesar untuk author, jadi mohon bantuan dukungannya, semoga karya ini sukses sampai tamat, oke, ayo berikan vote, komentar dan like nya.🌹🌹🌹


__ADS_2