Ayah Anakku Kakak Kekasihku

Ayah Anakku Kakak Kekasihku
Bab 29


__ADS_3

Hari ini, Sabrina ditemani oleh pak Hardi, berbelanja keperluan rumah, perabotan dan yang lainnya.


Istri pak Hardi sengaja tidak ikut, karena ia menjaga anak-anak dirumah.


Bukan hanya keperluan Sabrina yang dibelinya, melainkan keperluan keluarga pak Hardi yang telah begitu baik padanya. Sabrina laksana mendapatkan sebuah keluarga baru, sehingga pertemuan mereka membuat Sabrina tak larut dalam kesedihannya, begitu juga dengan kaila, ia tak lagi rewel, karena banyak mendapatkan teman, yaitu anak anak pak Hardi.


Pak Hardi kewalahan menuruti Sabrina, belanjaannya begitu banyak. Mobil L- 300 yang disewa Sabrina hampir tak muat membawa belanjaan itu.


Sesampainya dirumah, Ananta, merasa keheranan dengan begitu banyaknya belanjaan itu.


"Dek, kamu belanjaannya habis uang satu Bank ya?"


"Tidak kok, hanya sedikit ...."


"Ini sedikit, ini gaji suamiku seumur hidup."


"Hus, masak kayak gitu, nggak boleh, pamali tahu!"


Ananta tertawa cengengesan. Kemudian membantu Sabrina mengeluarkan barang barang yang ada di dalam mobil itu.


Tak semua barang diturunkan dirumah kontrakan nya, tapi diturunkan dirumah pak Hardi.


"Kok diturunkan disini, Dek?"


"Yang aku turunkan disini, berarti untuk kalian."


"Yang bener?"


"Ya, bener ...." jawab Sabrina sambil tersenyum.


"Ini apa Tante?"


"Itu baju sayang ... untuk kamu dan adek adek kamu!"


"Benarkah?" Aksa jingkrak jingkrak kegirangan, sebab sudah lama sekali ia tak dibelikan baju baru oleh ibunya. Tak beda halnya dengan Dinda dan Wahyu, keduanya sama-sama senang.


Ananta meneteskan air mata, ia haru akan kebaikan Sabrina padanya, padahal mereka baru bertemu kemarin, tapi seolah-olah mereka telah mempunyai ikatan yang begitu dekat sudah lama.


"Kok kamu nangis, Kak?"


"Aku bahagia sekali, kau sungguh baik, aku tak pernah bertemu orang sebaik kamu sebelumnya."


"Ah, jangan berlebihan, aku melakukan apa yang harus aku lakukan."


"Tidak ... bagiku kau memang baik, kau sudah membayar sewa kontrakan kami, membeli perlengkapan semua ini, dan baju anak-anak, dan masih banyak lagi, aku ...."


Hiks, hiks, Ananta kian menangis, Sabrina mendekati nya dan kemudian memeluknya, sambil berbisik menggoda.

__ADS_1


"Tapi bagaimana kalau pak Hardi sebagai gantinya?" spontan Ananta mencubit Sabrina.


"Auuu, sakit tahu!"


"Biarin, kamu asal bicara!"


"Apa kak Ananta tidak cemburu padaku?"


"Tidak, sama sekali tidak."


"Yakin?"


"Ya, sangat yakin!"


"Kenapa bisa seyakin itu?"


"Mas Hardi orangnya butek, sedang kamu kinclong."


"Kan butek bisa dipermak!"


"Iya kan, Dek?" Pak Hardi ikut nimbrung. Ananta melempari suaminya dengan sandal.


"Tidak sadar anak sudah banyak ... dasar edan!"


Sabrina tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan mereka, ia benar-benar bahagia, bisa bersama keluarga itu saat ini.


Tak terasa, sore sudah datang, Sabrina memang mengajak Ananta untuk masak ditempatnya saja, dan makan malam bersama disana.


Sungguh lengkap rasanya kebahagiaan Sabrina kali ini.


Setelah semua makan, dan membersihkan semua piring dan tempat yang kotor, Ananta dan Pak Hardi pamit dengan ketiga anaknya, sedang yang sulung, Naila tidur bersama Sabrina.


Kaila tampak beberapa kali menguap, menandakan jika ia sudah mengantuk berat, Sabrina menidurkan Kaila, dengan membacakan cerita, seperti kebiasaannya selama ini.


Setelah Sabrina berhasil menidurkan Kaila, iapun merebahkan tubuhnya, mencoba menghilangkan kepenatan, dan kesedihannya.


Tanpa sengaja, ia memperhatikan Naila, gadis kecil itu tampak garuk-garuk kepala, sangat asyik seperti dilanda kegatalan yang luar biasa.


"Kamu kenapa, kok dari tadi garuk-garuk kepala terus?"


"Kepalaku rasanya gatal, Tante!"


Sabrina duduk, ia menyanggul rambutnya yang panjang, kemudian mendekati Naila.


"Sini Tante lihat!" Naila menurut saja, ketika Sabrina melihat rambutnya, dan tanpa sengaja, Sabrina menyentak kepala Naila.


"Hi ... rambut kamu penuh kutu!"

__ADS_1


"Eh, he, he, iya ...."


"Sekarang gimana ini, Tante tak mau ketularan kutu kamu, kamu tidur diranjang itu dulu ya, besok kita cari obat untuk membasmi kutu kamu itu." Kata Sabrina sambil menunjuk ranjang kecil tak jauh darinya. Naila pun mengangguk.


Sabrina kembali berbaring, setelah hampir setengah jam, Naila sudah memejamkan matanya, tapi ia tak bisa, bayangan Prasetya kembali menari di pelupuk matanya, kembali membalurkan luka, kembali menyakitkan, betapa Sabrina kian tersiksa, airmata yang tak diundang pun telah datang begitu saja.


"Aku rindu padamu ... Mas!" lirih Sabrina sambil menggigit bibirnya.


Sabrina semakin terisak, semakin pilu, dan semakin pula terlarut dalam kesedihan yang panjang.


Hingga sampai pagi menjelang, mata Sabrina tak jua mau terpejam.


Suara azan sayup-sayup terdengar, Sabrina duduk, menatap wajah Kaila, anak yang tak berdosa yang ikut terseret dalam masalah yang begitu membuat hati iba.


Sudah tak berayah, terbuang lagi. Semua itu di karenakan nasib diri yang kurang beruntung.


Sabrina mengelus pelan kepala putrinya, sambil berucap.


"Kasihan kau, Nak ...." Sambil mengecup pipi Kaila lembut.


Perlahan ia turun dari ranjang, menuju kamar mandi, untuk mengambil air wudhu, dan kemudian menunaikan shalat subuh.


Sabrina kembali terisak, untuk saat ini ia hanya bisa mengadukan masalahnya pada Sang Kuasa, yang selalu menjaga dirinya dalam keadaan bahagia maupun dalam keadaan duka.


Terdengar suara pintu diketuk, Sabrina menoleh kearah pintu, kemudian membuka mukenanya dan membukakan pintu.


Didapatinya Ananta sedang berdiri di sana, membawa semangkok sup yang masih mengepulkan asap, pertanda sup itu baru saja masak.


"Kak ... pagi pagi sudah kemari, membawa sup lagi!"


"Ah tak apa ... ini untuk sekedar menghangatkan perut, apakah kau tak merasa kedinginan?"


"Ya, lumayan dingin."


Ananta meletakkan sup itu diatas meja makan, kemudian pamit pulang.


"Aku pulang dulu, Mas mu mau berangkat!"


Sabrina mengerutkan keningnya.


"Mas ku ... siapa?"


"Pak Hardi, suamiku!"


"Ooo, apa aku harus memanggil nya dengan Mas?"


"Ya, Mas Hardi." Kembali keduanya tertawa, sungguh Sabrina tak ingin ada malam, karena malam ia hanya bisa sendiri, menangisi nasib, sedang jika malam berlalu, ia bisa tertawa lepas seperti tak ada beban. Setidaknya ia terhibur.

__ADS_1


Ananta kembali meninggalkan Sabrina, Sabrina yang masih malas untuk melakukan kegiatan apapun, kembali naik keatas ranjang, ia mengutak atik ponselnya, membuka foto foto dalam galerinya, tampak sekali kemesraan mereka seakan tak akan mungkin akan berpisah seperti sekarang ini, tapi ternyata semua hanya harapan, tak sengaja ia menemukan sebuah foto yang didalamnya ada Arsen, seketika Sabrina ingin menghapus foto itu, tapi kembali ia mengurungkan, mengingat itu adalah satu-satunya foto Arsen yang dirinya miliki, bukan apa-apa, Sabrina tak jadi menghapusnya karena ia harus menunjukkan pada Kaila suatu hari nanti, jika ia menanyakan tentang siapa ayahnya.


__ADS_2